DARK RONIN
Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.
Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Hadiah dan Panah
Cahaya fajar baru saja menyelinap masuk melalui celah jendela kayu toko Karya Baja, menyinari debu halus yang menari perlahan di udara. Kakashi sudah bangun sejak lama — menyalakan tungku, membersihkan lantai, dan menata kembali peralatan yang semalam ia pakai hingga larut malam. Di atas meja kerjanya, terhampar hasil karyanya: busur Yurika yang kini tali dan lengkungannya kembali kokoh, serta selusin anak panah yang ia buat sendiri dari awal hingga akhir, dengan ketelitian yang tak pernah ia berikan pada benda lain sebelumnya.
Ia tidak tidur banyak semalam. Setiap ujung besi ditempa berulang kali, setiap batang kayu dipilih yang paling lurus dan ringan, setiap helai bulu yang menempel di pangkal panah dipasang dengan presisi agar arah terbangnya stabil. Ia ingat betul apa yang Yurika butuhkan — panah yang mampu menembus dedaunan lebat tanpa kehilangan tenaga, namun tidak terlalu berat. Dan ia tahu, tanpa keseimbangan yang sempurna, bahkan pemanah terbaik pun akan kesulitan mengarahkannya.
Bel pintu berbunyi lembut, lebih pelan dibandingkan kedatangannya kemarin.
Kakashi menoleh. Di ambang pintu berdiri Yurika, rambutnya yang pendek sedikit berantakan tertiup angin pagi, kedua tangannya menyembunyikan sesuatu di balik punggung. Wajahnya berseri-seri, namun kali ini ada sedikit keraguan di tatapan matanya.
"Selamat pagi," sapanya pelan, melangkah masuk.
"Selamat pagi, Yurika," jawab Kakashi sambil tersenyum tipis, meletakkan kain lap yang dipegangnya. "Sudah pagi sekali kau datang."
Yurika mengangguk, lalu perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari balik punggung — di sana tergenggam sepotong roti hangat yang masih mengepulkan uap tipis, dibungkus kertas bersih.
"Aku... aku lewat di kedai roti di ujung jalan, baunya harum sekali," ucapnya sambil menyodorkan roti itu dengan kedua tangan, pipinya sedikit merona. "Aku pikir kau mungkin belum sarapan. Anggap saja tanda perkenalan yang benar. Terima kasih sudah bersedia mengerjakan pesananku."
Kakashi tertegun sejenak, lalu menerima pemberian itu dengan hati-hati. Panasnya roti terasa menembus kertas, menghangatkan telapak tangannya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memberinya makanan hanya karena memikirkannya.
"Terima kasih," ucapnya lembut, menatap gadis itu dengan pandangan yang tulus. "Ini sangat baik darimu."
"Makanlah selagi hangat," Yurika tersenyum lega, lalu matanya tertuju pada meja di sudut ruangan tempat bungkusan kain bersih tergeletak rapi. "Itu... sudah selesai?"
"Ya," Kakashi melangkah mendekat dan membuka kain penutupnya. "Sudah selesai sejak fajar."
Mata Yurika melebar. Busurnya kini tampak berbeda — tali yang baru dipasang tampak kokoh dan lentur, kayu yang tadinya mulai kusam kini kembali berkilau halus, terawat dengan baik. Dan di sebelahnya, berjejer rapi selusin anak panah yang tampak lebih ramping, lebih lurus, ujung besinya tajam namun tidak kebesaran, seakan diciptakan khusus untuk tangannya.
"Wah..." Yurika mendekat perlahan, segan menyentuhnya seolah benda itu rapuh. "Kau mengerjakannya semalaman?"
"Tidak lama," jawab Kakashi pelan. "Aku hanya ingin memastikan semuanya pas."
Ia menyerahkan busur itu kepadanya. Yurika menarik napas, lalu memegang gagangnya — beratnya pas, seimbang, seakan bagian dari tubuhnya sendiri. Ia mengangkatnya, menarik tali pelan, dan merasa ketegangannya persis sesuai dengan kekuatan tarikan tangannya, tidak terlalu keras, tidak terlalu longgar.
"Sempurna..." bisiknya takjub.
"Ayo ke ruang uji coba," ajak Kakashi. "Ada di bagian belakang, tempat khusus menembak tanpa mengganggu siapa pun. Cobalah panahnya."
Yurika mengangguk antusias, mengikuti Kakashi melintasi lorong kecil menuju ruangan tertutup yang dindingnya dilapisi kayu tebal agar aman. Di ujung ruangan, papan sasaran dipasang tegak, berjarak sekitar tiga puluh langkah — jarak yang biasa dipakai untuk menguji ketepatan bidikan.
"Silakan," kata Kakashi sambil berdiri di sisi pintu.
Yurika mengangguk, mengambil satu anak panah, memasangnya di tali busur, lalu mengangkat lengannya. Ia tidak menarik napas panjang, tidak menutup salah satu matanya, hanya berdiri tegak, menatap sasaran dengan tenang — persis seperti orang yang sudah melakukan hal ini ribuan kali.
Tali busur berdenting lembut.
Panah itu melesat membelah udara — tidak ada suara desingan yang keras, hanya gerakan yang cepat dan tenang. Ia menghantam tepat di tengah titik sasaran, menembus lapisan kayu depan, lalu... terus menembus hingga ujungnya muncul di sisi belakang papan, dan separuh batang anak panah itu tertancap di dinding batu di baliknya.
Hening menyelimuti ruangan itu.
Yurika menatapnya takjub, mulutnya sedikit terbuka. Ia berjalan mendekat, menyentuh batang panah yang masih bergetar pelan, lalu menoleh ke arah Kakashi.
"Ini..." suaranya tercekat. "Kekuatan apa ini? Panah biasa tidak mungkin menembus papan setebal ini dan menancap separuhnya ke dinding. Bagaimana kau membuatnya? Paman Kara sendiri belum pernah membuat panah sedahsyat ini!"
Dari ambang pintu, terdengar suara berdeham pelan — ehem! — Kara muncul sambil tersenyum samar, menatap ke arah mereka dengan tatapan yang seakan menahan sesuatu.
Kakashi sedikit tersipu. "Aku... aku hanya memodifikasi sedikit bentuk ujung besinya," jawabnya pelan, mencoba merendahkan hasil karyanya. "Memelintirnya sedikit agar membelah udara lebih mudah. Tidak kusangka daya tembusnya sekuat ini. Mungkin... itu karena tanganmu, karena bidikanmu yang tepat."
Yurika menatapnya lekat-lekat, wajahnya perlahan merona merah.
"Jangan memuji aku begitu," katanya tertunduk malu sambil memutar ujung jubahnya. "Padahal tadi aku hanya menarik busur biasa, tidak mengeluarkan tenaga lebih sedikit pun. Seandainya aku benar-benar mengerahkan kekuatannya... entah akan sampai ke mana panah ini terbang."
"Itulah sebabnya," ucap Kakashi lembut. "Benda yang baik akan tampak lebih hebat di tangan orang yang tepat. Panah ini hanya sebaik pemegangnya."
Yurika menatapnya, lalu tersenyum lebar — senyum yang malu namun bangga. Ia mencabut panah itu dari dinding, memeriksanya, dan melihat ujungnya masih tajam, tidak rusak sedikit pun.
"Aku sangat menyukainya," ucapnya tulus. "Terima kasih, Kakashi. Ini akan sangat membantuku di hutan."
Kembali ke ruang depan, Yurika membayar pesanannya, namun kali ini ia menambahkan sedikit lebih banyak dari harga yang disepakati — dengan alasan ia sangat puas. Kakashi menolak, namun Kara mengangguk pelan memberi isyarat agar ia menerima.
"Kalau begitu ini sebagai tabunganmu untuk beli bahan lain," kata Yurika menutup pembicaraan.
Ia melipat tangan di dada, menatap ke arah jendela yang memperlihatkan jalanan kota yang mulai ramai, lalu menoleh ke arah Kakashi.
"Hei, Kakashi..." panggilnya ragu-ragu. "Kalau kau tidak sibuk... bolehkah aku mengajakmu berkeliling kota? Aku ingin menunjukkan tempat-tempat yang indah di sini. Sebagai ucapan terima kasihku."
Kakashi menoleh ke arah Guru Kara, menunggu persetujuannya. Pria tua itu tersenyum hangat, mengangguk pelan.
"Pergilah," ucapnya lembut. "Pekerjaan hari ini sudah cukup. Lebih baik kau melihat kota ini daripada hanya melihatnya dari balik jendela toko."
Mata Yurika berbinar cerah. "Ayo! Aku janji akan mengajakmu ke tempat yang paling indah!"
Kakashi tersenyum, menyimpan sisa roti pemberiannya di rak, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku ikut."
Mereka melangkah keluar bersama, menyambut cahaya matahari pagi yang kian terang. Kakashi merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak lama — bukan beban, bukan kesepian, bukan rindu yang menyakitkan, melainkan cahaya yang lembut, hangat, dan menyambutnya. Di sampingnya, Yurika berjalan riang, bercerita tentang tempat-tempat yang akan mereka kunjungi, suaranya terdengar ceria di antara hiruk-pikuk kota yang mulai beraktivitas. Ia tidak tahu ke mana perjalanan ini akan bermuara, namun untuk saat ini, ia tahu satu hal: langkah kakinya kini tidak lagi berat sendirian.