NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 — Malam Sebelum Pernikahan

Malam sebelum pernikahan mereka, tradisi lama keluarga mafia Italia mengharuskan Gerald dan Yao untuk tidak saling bertemu, dipisahkan di kediaman berbeda sesuai adat yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Yao menghabiskan malam itu bersama Sofia dan beberapa wanita keluarga Moretti yang telah menjadi teman dekatnya selama bulan-bulan terakhir, tertawa dan berbagi cerita dalam suasana hangat yang jarang ia rasakan sepanjang hidupnya yang penuh pelarian dan kesendirian.

"Kau gugup?" tanya Contessa, mengisi ulang gelas champagne Yao dengan senyum jahil.

"Sangat," jawab Yao jujur, tertawa kecil. "Tidak pernah kubayangkan hidupku akan berakhir seperti ini — menikahi putra dari orang yang menghancurkan keluargaku, dikelilingi oleh wanita-wanita yang dulu kuanggap sebagai musuh."

"Takdir memiliki cara aneh untuk menulis ceritanya sendiri," jawab Contessa bijak. "Terkadang jalan menuju kebahagiaan sejati harus melewati kehancuran yang paling gelap terlebih dahulu."

Di kediaman lain, Gerald menghabiskan malam terakhirnya sebagai lajang bersama Marco dan beberapa kapten setianya, suasana lebih tenang namun sama hangatnya, dipenuhi kenangan tentang perjalanan panjang yang telah membawa mereka ke titik ini.

"Kau yakin tentang keputusan ini?" tanya salah satu kapten senior, meski pertanyaannya lebih bersifat formalitas daripada keraguan sungguhan.

"Aku tidak pernah seyakin ini tentang apa pun dalam hidupku," jawab Gerald tegas, matanya berkilat penuh kepastian. "Yao bukan hanya wanita yang kucintai. Dia adalah bukti bahwa bahkan di tengah dunia paling gelap sekalipun, kebenaran dan cinta sejati masih bisa menemukan jalannya."

Marco tersenyum, meski di balik senyumnya tersembunyi kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang tentang ancaman dari keluarga Russo. "Besok akan menjadi hari yang indah," katanya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri sama seperti meyakinkan Gerald. "Kalian berdua pantas mendapatkan kebahagiaan ini, setelah semua yang telah kalian lalui."

Malam itu, di bawah langit Milan yang dipenuhi bintang, dua jiwa yang telah menemukan cinta di tengah dendam dan pengkhianatan bersiap menyambut hari yang seharusnya menjadi awal baru paling indah dalam hidup mereka — tidak menyadari bahwa bayangan gelap dari masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan sedang bergerak mendekat dalam kesunyian malam, menunggu momen sempurna untuk menghancurkan segalanya.

Yao, sebelum akhirnya tertidur malam itu, menulis sepucuk surat pendek untuk Gerald yang akan diberikan padanya keesokan pagi sebelum upacara dimulai — sebuah tradisi kecil yang ia ciptakan sendiri, terinspirasi dari kisah-kisah cinta yang dulu ia baca diam-diam selama bertahun-tahun hidup dalam pelarian, ketika satu-satunya pelarian dari kenyataan pahit adalah cerita-cerita tentang cinta yang mengatasi segala rintangan.

Gerald,* tulisnya, *besok kita akan mengucapkan janji yang akan mengikat kita selamanya. Aku ingin kau tahu, sebelum kata-kata itu diucapkan di hadapan dunia, bahwa aku sudah memilihmu jauh sebelum aku menyadarinya — sejak malam pertama matamu bertemu mataku di Ombra, sejak saat itu aku sudah tahu hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Ia melipat surat itu dengan hati-hati, menyimpannya di bawah bantal untuk diberikan keesokan paginya, sebelum akhirnya tertidur dengan senyum tipis di wajahnya — senyum seseorang yang, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, benar-benar merasa aman dan bahagia.

Hari pernikahan tiba dengan langit Milan yang cerah tanpa awan, seolah alam semesta sendiri memberikan restu untuk hari yang telah dinantikan begitu lama. Kebun anggur keluarga Moretti disulap menjadi lokasi pernikahan yang megah namun elegan — ribuan bunga putih dan emas menghiasi setiap sudut, kursi-kursi tertata rapi menghadap altar sederhana yang dihiasi lampu-lampu kecil berkelap-kelip meski masih siang hari.

Yao berdiri di depan cermin besar di kamar persiapan pengantin, menatap pantulan dirinya dalam gaun pengantin putih yang jatuh sempurna di tubuhnya, dihiasi detail bordir halus yang menggambarkan bunga anggur — simbol keluarga yang kini menjadi bagian dari hidupnya.

"Kau terlihat seperti mimpi yang menjadi nyata," bisik Sofia, matanya berkaca-kaca menatap gadis yang telah ia besarkan sejak kehilangan segalanya di masa kecilnya. "Ferdinand pasti akan sangat bangga."

"Terima kasih, Sofia," bisik Yao, memeluk wanita yang telah menjadi ibu keduanya erat-erat. "Untuk segalanya. Untuk tidak pernah menyerah padaku, bahkan ketika dunia memberi kita semua alasan untuk menyerah."

Di sisi lain kebun, Gerald berdiri gugup mengenakan setelan hitam formal, dasi putih yang serasi dengan tema pernikahan, menunggu momen yang akan mengubah hidupnya selamanya.

"Kau terlihat seperti orang yang akan pingsan," goda Marco, menepuk bahunya yang masih sedikit kaku karena bekas luka tembak yang belum sepenuhnya pulih.

"Aku tidak pernah segugup ini bahkan saat menghadapi ancaman kematian langsung," jawab Gerald jujur, tertawa gugup. "Aneh, bukan? Betapa cinta bisa membuat seorang Don mafia paling ditakuti merasa seperti anak remaja yang gemetar."

"Itu bukan aneh," jawab Marco bijak. "Itu manusiawi. Dan setelah semua yang telah kau lalui, Gerald, kau pantas mendapatkan momen kemanusiaan ini."

Tamu-tamu mulai berdatangan — perwakilan dari empat keluarga besar Aliansi yang tersisa, para kapten dan sekutu keluarga Moretti, serta beberapa kontak lama Yao dari kehidupan pelariannya yang berhasil dilacak dan diundang sebagai kejutan oleh Sofia.

Musik lembut mulai mengalun, menandakan bahwa upacara akan segera dimulai. Di balik senyum bahagia dan air mata haru yang mulai mengalir di antara para tamu, tidak seorang pun menyadari bahwa di luar batas kebun anggur yang terjaga ketat, bayangan-bayangan gelap mulai bergerak mendekat dalam kesunyian yang mengancam.

Sofia, yang bertugas sebagai salah satu pendamping pengantin, memberikan sentuhan terakhir pada gaun Yao, merapikan lipatan-lipatan kain sutra dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi. "Aku tidak pernah membayangkan hari ini akan tiba," katanya, suaranya bergetar menahan tangis bahagia. "Setelah semua yang telah kita lalui bersama, Yao — malam pelarian itu, tahun-tahun penuh ketakutan, semua pengorbanan — melihatmu berdiri di sini, secantik ini, sebahagia ini... ini adalah hadiah terbesar yang bisa kuminta."

"Kau adalah alasan aku masih hidup untuk merasakan kebahagiaan ini, Sofia," jawab Yao, memeluk wanita yang telah menjadi seluruh dunianya. "Apa pun yang terjadi setelah ini, aku ingin kau tahu betapa besarnya rasa terima kasihku padamu."

Kata-kata itu, yang diucapkan tanpa firasat apa pun tentang apa yang akan terjadi hanya beberapa jam kemudian, akan menjadi salah satu kenangan paling berharga yang disimpan Yao selamanya.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!