NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Bahasa Kayu

Pagi berikutnya, Old Bo mengajak Ji Ming ke bengkelnya sebelum yang lain terbangun, meja kerjanya sudah dipenuhi berbagai jenis kayu—dari yang ringan dan lentur hingga yang keras dan berat, masing-masing tersusun rapi berdasarkan jenis dan usia.

"Manualmu mengajarkan bahasa jiwa," Old Bo berkata, mengangkat sebongkah kayu kemuning tua dengan hati-hati. "Tapi kalau wadahnya sendiri lemah, secanggih apa pun jiwa yang kau tanamkan, ia akan rapuh seperti rumah dibangun di atas pasir. Itu yang tak pernah diajarkan manual mana pun—karena itu bukan seni jiwa, itu seni tangan."

Ji Ming duduk memperhatikan dengan saksama saat Old Bo menunjukkan cara memilih kayu yang tepat, bagaimana membaca urat-urat alami di dalamnya, bagaimana satu potongan yang salah bisa membuat seluruh struktur boneka rapuh di titik yang tak terduga.

"Guruku dulu selalu bilang," Old Bo melanjutkan sambil mulai mengukir sebuah pola dasar untuk mendemonstrasikan, "seni pengukiran jiwa dan seni kerajinan biasa itu seperti dua tangan dari tubuh yang sama. Satu memberi kehidupan, satu memberi bentuk yang layak menampungnya. Tanpa keduanya bersama, hasilnya tak akan pernah sempurna."

Selama beberapa jam, Ji Ming belajar teknik dasar pengukiran fisik yang selama ini terlewat dari fokusnya pada kekuatan jiwa semata—cara memegang pahat dengan benar, cara membaca serat kayu agar boneka bisa bergerak lentur tanpa mudah patah, cara memperkuat titik-titik sendi yang paling rentan.

Xiao Yu, boneka burung kecil ciptaan pertamanya, menjadi contoh nyata betapa jauh masih harus ia pelajari—struktur sayapnya, meski berfungsi, jauh dari sempurna dibanding standar seorang pengrajin berpengalaman seperti Old Bo.

"Boleh aku memperbaikinya?" Old Bo bertanya, menunjuk Xiao Yu yang bertengger di bahu Ji Ming. "Bukan mengubah jiwanya—itu bagianmu sepenuhnya. Hanya memperkuat strukturnya, agar ia bisa bertahan lebih lama dalam pertarungan yang akan datang."

Ji Ming mengangguk, dan menyaksikan dengan kagum bagaimana tangan terampil Old Bo bekerja dengan presisi luar biasa, memperbaiki sendi-sendi kecil Xiao Yu tanpa mengganggu cahaya kehijauan lembut yang menjadi tanda kehidupan jiwanya.

Saat matahari mulai tinggi, Su Mei dan Yun Xia bergabung di bengkel, membawa kabar bahwa mereka sudah menyiapkan bekal secukupnya untuk perjalanan ke pegunungan.

"Aku ikut," Old Bo berkata tiba-tiba, meletakkan pahatnya dengan tegas begitu Su Mei menyebutkan rencana keberangkatan.

"Kau tidak harus—" Su Mei mulai berkata, tapi Old Bo menggelengkan kepala.

"Guruku menunggu lima belas tahun untuk seseorang datang membawa tanda ini. Aku tidak akan tinggal diam di bengkel sementara warisannya akhirnya menemukan jalannya." Old Bo mulai mengemasi beberapa alat pahat kecil ke dalam kantung kulit, tangannya bergerak cepat dengan tekad yang tak terbantahkan. "Lagipula, kalian akan butuh seseorang yang bisa memperbaiki boneka kalian di tengah jalan kalau rusak dalam pertarungan. Aku mungkin bukan kultivator hebat, tapi aku tak akan jadi beban."

Yun Xia tersenyum melihat ketegasan itu. "Kami tidak akan menolak bantuan seorang pengrajin sepertimu, Old Bo. Tapi perjalanan ini berbahaya."

"Hidupku sudah cukup aman dan membosankan selama bertahun-tahun," Old Bo menjawab, senyum kecil terselip di wajahnya yang biasanya serius saat bekerja. "Mungkin sudah waktunya aku belajar sesuatu yang baru."

Su Mei menatap muridnya yang telah dewasa itu—muridnya, meski bukan muridnya secara langsung, tapi warisan dari kakaknya yang telah tiada—dengan mata yang berkaca-kaca, sebuah kebanggaan tersembunyi yang tak sepenuhnya bisa ia ucapkan dengan kata-kata.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi kau ikut aturanku selama di jalan. Aku sudah kehilangan cukup banyak orang untuk berani kehilangan lebih banyak lagi karena kecerobohan."

Rombongan yang kini bertambah satu orang berangkat menjelang siang, meninggalkan desa kecil di kaki pegunungan menuju jalur curam yang ditandai dalam peta lama Su Han sebagai jalan menuju reruntuhan sekte pengukir jiwa.

Xiao Yu, dengan sendi-sendi yang kini jauh lebih kokoh berkat sentuhan Old Bo, terbang lebih lincah dari sebelumnya, mengitari rombongan dengan semangat baru yang seolah ikut merasakan kebanggaan pembuatnya.

Jalur pegunungan yang mereka lalui semakin curam dan sunyi seiring mereka mendaki lebih tinggi, pepohonan mulai menjarang digantikan bebatuan besar dan kabut tipis yang menggantung di antara celah-celah gunung, seolah alam sendiri enggan membiarkan sembarang orang mendekati tempat yang telah lama disembunyikan dari dunia.

"Berapa jauh lagi?" Ji Ming bertanya, napasnya mulai terengah oleh medan yang semakin menantang.

Su Mei menatap peta di tangannya, lalu ke arah puncak gunung tertinggi yang menjulang di kejauhan, puncaknya tersembunyi di balik awan tebal.

"Menurut catatan kakakku, reruntuhan itu berada tepat di bawah puncak itu, tersembunyi dalam lembah yang hanya bisa dicapai lewat satu jalur sempit." Su Mei menghela napas panjang, matanya menyimpan campuran kerinduan dan ketakutan akan apa yang mungkin menanti di sana. "Dua hari lagi, mungkin tiga kalau medannya lebih sulit dari yang kuingat. Bersiaplah, karena begitu kita memasuki lembah itu, tak ada jalan mudah untuk mundur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!