Lanjutan dari Novel KETULUSAN CINTA SALWA
Ditya harus hidup dalam dua pilihan, antara memilih perjodohan nya yang sudah dari kecil di rencanakan keluarganya. Atau memilih wanita yang sangat di cintanya dan dinikahi secara diam diam dari keluarganya.
Langsung baca saja 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Tiara terbangun sebelum adzan subuh. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Suaminya benar benar tidak ada kepuasan sampai melakukan nya beberapa kali semalam.
"Awww" Tiara mearasa bagian bawah perutnya sakit dan perih saat Dia bergerak mencoba untuk bangun
"Sayang, kenapa?" Ditya pun terbangun saat mendengar suara Tiara
"Gak papa Tia mau ke kamar mandi dulu Mas" tidak mungkin Tiara menjawab jujur kalau bagian kewanitaannya terasa sakit, Tiara terlalu malu.
"Masih sakit" tentu saja Ditya tahu apa yang di rasakan istrinya. Karna semalam Dia melihat kewanitaan istrinya merah dan sedikit lecet akibat ulahnya
Tiara hanya mengangguk malu, Ditya pun langsung turun dari tempat tidur dan menggendong istrunya ke kamar mandi.
"Mas Tia bisa sendiri gak usah di gendong" teriak Tiara
"Sudah diam, kita mandi bersama" kata Ditya
Tiara merasa takut saat Ditya mengatakan akan mandi bersama. Apalagi kewanitaan nya masih terasa sakit dan perih.
"Hanya mandi sayang, tidak akan melakukan apapun" kata Ditya yang tahu apa yang di fikirkan istrinya
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Mas gak kerja?" tanya Tiara
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan. Tiara melihat suaminya yang malah bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Gak sayang, Mas kan masih cuti" jawab Ditya sambil menepuk paha nya mengisyaratkan untuk Tiara duduk di pangkuan nya
Tanpa di duga Tiara malah berbalik dan akan kembali berjalan ke arah dapur. Untung saja Ditya lebih dulu menahan lengan nya dan menduduk kan Tiara di pangkuan nya.
"Mas Tia barat loh, turun aja ya. Malu ihh nanti ada yang lihat "kata Tiara mencoba untuk turun dari pangkuan suaminya
"Diamalah sayang, jangan bergerak atau kau akan membangunkan sesuatu di bawah sana" kata Ditya
Tiara pun langsung diam mematung, takut kalau suaminya akan menyerang nya lagi. Ditya tersenyum melihat pipi merah istrinya dan wajah nya yang menegang saat mendengar ucapan nya.
"Sayang mau cium" kata Ditya manja
"Hah" Tiara malah melongo karna tidak fokus dan terlalu kaget mendnegar ucapan suaminya.
"Aku mau cium" masih sengan nada yang manja
Tiara tidak menjawab, Dia malah menundukan kepalanya karna malu. Wajahnya sudah bersemu merah mendengar ucapan suaminya.
"Boleh ya" kata Ditya lagi, masih senang menggoda snag istri
Tiara hanya mengangguk kan kepalanya masih dengan wajah menunduk malu.
Ditya pun meraih dagu istrinya dan mengangkat wajahnya agar menatap padanya. Dutya mulai mendaratkan ciuman di bibir sang istri yang selalu membuatnya ingin lagi, lagi dan lagi.
Ciuman itu terasa sangat manis, apalagi Tiara mulai membalas ciuman nya. Sampai Tiara merasa kehabisan nafas baru Ditya melepasakan pangutan nya.
"Terimakasih Sayang. Aku mencintaimu" bisik Ditya
Tiara hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengusap bibirnya yang basah.
"Mas Tia mau ke makam ayah sama ibu" kata Tiara
Ditya menatap wajah sang istri yang tersenyum manis padanya. Tapi Ditya tahu kalau banyak sekali luka di balik senyuman itu.
"Boleh sayang, memang dimana makam orang tuamu?" tanya Ditya
"Di TPU ***"
"Baiklah nanti kita kesana ya" kata Ditya mencium kening sang istri
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Menatap pada batu nisan yang berjajar. Tiara mulai melangkah menuju makan kedua orang tuanya. Biasanya Dia datang hanya seorang diri. Tapi sekarang ada yang menggandenga tangan nya memberi kekuatan penuh padanya.
Ayah Ibu aku datang
Tiara berjongkok di depan pusara kedua orang tuanya. Mencoba menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi. Ditya dengan setia merangkul pundaknya dengan sekali mencium kepala sang istri. Menunjukan pada almarhum kedua orang tua sang istri bahwa Dia snagat mencintainya.
Setelah selesai berdoa dan membacakan ayat ayat suci. Taira mulai mencabuti rumput yang tumbuh di pusaran ayah dan Ibunya.
Ayah, Ibu Dia suamiku. Doakanlah pernikahan Tia agar langgeng dan selalu di ridhoi Allah.
Tiara mengusap pipi nya saat air mata lolos begitu saja. Bayangan tawa dan canda kedua orang tuanya kembali hadir di pelupuk mata. Membuat Tiara tidak bisa menahan tangisnya lagi.
Ditya mengelus punggung istrinya mencoba menenangkan sang istri.
Ayah, Ibu aku Ditya suami putri kalian yang cantik ini. Terimakasih telah memberikan bidadari surga untuk ku. Aku akan selalu menjaganya.
"Sudah sayang, ayo kita pulang. Tidak baik terus berlarut dalam kesedihan" Ditya menghapus air mata Tiara
Tiara mengangguk " Ayah, Ibu Tia pulang dulu"
Mereka pun kembali ke mobil mereka.
Bersambung