Lilian Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kakek Zhou
Langit telah benar-benar menggelap ketika Wu Zetian akhirnya tiba kembali di kediamannya yang tersembunyi di tengah hutan. Cahaya bulan menggantung redup di antara dedaunan, sementara suara serangga malam menyambut langkahnya dengan irama yang akrab. Begitu ia menurunkan kakinya dari punggung kuda, pintu rumah kayu sederhana itu terbuka.
“Nak, kau sudah pulang?”
Suara itu penuh kelegaan. Kakek Zhou berdiri di ambang pintu dengan mata bersinar hangat. Di tangannya ada lentera kecil yang cahayanya bergetar tertiup angin malam.
“Iya Kek, aku sudah pulang.” jawab Wu Zetian sambil tersenyum tipis.
Syukurlah… batin Kakek Zhou.
Ia melangkah cepat mendekat, menepuk-nepuk bahu Wu Zetian dengan cemas, seolah memastikan gadis itu benar-benar utuh.
“Kau baik-baik saja? Tidak ada yang melukaimu?” tanyanya bertubi-tubi seperti berhadapan dengan cucunya sendiri.
“Aku baik, Kek. Hanya sedikit lelah,” jawab Wu Zetian jujur.
“Masuklah cepat, angin malam tidak baik untuk tubuhmu.” Ujar Kakek Zhou.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Api di perapian kecil masih menyala, menyebarkan kehangatan yang menenangkan. Wu Zetian melepas cadarnya, menggantungkannya di dekat pintu, lalu duduk di bangku kayu seperti biasanya.
"Apakah mereka menyambutmu dengan baik disana?" ujar Kakek Zhou sambil menuangkan air hangat ke dalam cangkir tanah liat. “Aku sempat khawatir.”
Wu Zetian menerima cangkir itu dengan kedua tangan. “Banyak hal terjadi, Kek.”
Ia menyesap air hangat itu perlahan, membiarkan kehangatan menyebar hingga ke dadanya. Untuk beberapa saat, hanya suara kayu terbakar yang terdengar.
Lalu, Wu Zetian seakan teringat sesuatu. Tangannya masuk ke dalam saku jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil. Kainnya halus, jelas bukan barang biasa. Di salah satu sudutnya, terjahit benang emas membentuk simbol seekor singa yang gagah.
“Kek, aku menemukan ini di hutan tadi. Apakah kau tahu simbol apa ini?” ucap Wu Zetian sambil menyerahkan sapu tangan itu.
Begitu mata Kakek Zhou menangkap simbol itu, tubuhnya menegang seketika sepersekian detik. Dalam waktu singkat, wajahnya kembali datar. Ia menerima sapu tangan itu, menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada biasa,
“Aku juga baru melihat simbol itu.”
Wu Zetian mengamati wajah kakek itu dengan seksama. Ia tidak melewatkan bagaimana jari-jari Kakek Zhou sedikit bergetar saat memegang kain tersebut, atau bagaimana napasnya sempat tertahan sebelum menjawab.
Namun Wu Zetian memilih diam.
“Oh… begitu, aku pikir Kakek mungkin tahu simbol ini." ucapnya akhirnya sambil mengangguk kecil tanpa bertanya jauh.
Ia menarik napas pelan, lalu berdiri.
“Aku akan ke kamar dulu. Aku sangat lelah.”
“Pergilah, istirahat yang cukup.” jawab Kakek Zhou cepat.
Wu Zetian masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Kakek Zhou akhirnya membiarkan ekspresi aslinya muncul. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal kuat, sapu tangan itu masih berada di genggamannya.
Kenapa mereka bisa berada di sini… Apa tujuan mereka datang sejauh ini.. gumamnya pelan.
Bayangan masa lalu kembali menghantam pikirannya. Kakek Zhou tidak ingin mereka mengetahui keberadaannya disini. Iapun menghela napas panjang.
Aku tidak ingin Zetian terlibat.
Ia tidak ingin gadis itu terseret ke dalam urusan kekaisaran disana. Wu Zetian sudah cukup menderita sepanjang hidupnya.
Dengan langkah berat, Kakek Zhou memadamkan lentera, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Malam ini… aku harus lebih waspada,” gumamnya sebelum merebahkan diri.
_____________________
Keesokan paginya, udara terasa segar. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan, menerangi kebun kecil di samping rumah.
Setelah selesai dengan ritual sarapan, Wu Zetian dan Kakek Zhou memandang ke arah kebun depan rumah.
“Nampaknya tanamanmu sekarang semakin subur,” kata Kakek Zhou sambil melirik ke arah kebun.
Wu Zetian tersenyum kecil. “Syukurlah.”
Setelah itu, Wu Zetian mengambil keranjang kecil dan berjalan menuju kebun. Ia memeriksa satu per satu tanaman. Seketika pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah bangunan tua tak jauh dari sana.
Rumah kecil milik Kakek Zhou.
Ia berhenti, lalu menoleh ke arah kakek itu.
“Kek, apakah aku boleh masuk ke dalam rumahmu?”
Kakek Zhou dengan tenang menjawab
“Tentu saja, tapi hati-hati akan ada banyak debu di sana.” jawabnya.
“Tidak apa-apa Kek, aku hanya ingin melihat-lihat.” balas Wu Zetian.
Wu Zetian melangkah perlahan ke arah rumah itu. Tanpa sadar, kakinya kini sudah mulai memasuki rumah kecil itu. Begitu pintu kayu tua itu terbuka, aroma debu dan kayu lama menyambutnya. Cahaya matahari masuk melalui celah atap, menciptakan garis-garis cahaya di udara.
Matanya langsung tertuju pada sebuah benda di sudut ruangan. Sebuah pedang. Gagangnya berukir harimau dengan detail yang sangat halus.
“Itu adalah ambang Kekaisaran Tang.” gumamnya pelan.
Ia melangkah lebih dalam. Di ruang tengah, terdapat sebuah baju besi perang yang mulai usang dan penuh dengan goresan, namun terawat dengan baik. Lalu, di atas meja kayu tua, sebuah buku tebal tergeletak. Sampulnya usang. Namun di atasnya nampak bordir timbul simbol singa.
Wu Zetian membeku.
Simbol ini…
Aku seperti pernah melihatnya.
Ia teringat sapu tangan tadi malam. Matanya membinar. Ia membuka buku itu perlahan.
Judulnya tertulis rapi dalam Hanzi:
“Dinasti Zhou”
Dinasti Zhou? Aku belum pernah mendengarnya… Gumam Wu Zetian bingung
Ia membuka halaman pertama. Sebuah lukisan besar terpampang. Sebuah kerajaan megah dengan bendera berlambangkan singa yang gagah.
Halaman berikutnya ia melihat sebuah lukisan keluarga. Matanya terpaku pada salaj satu wajah di lukisan itu. Ia merasa familiar dengan wajah itu.
Kakek Zhou…? batinnya terkejut.
Sementara itu, di luar, Kakek Zhou mulai merasa gelisah.
“Mengapa dia belum keluar?” pikirnya.
Ia pun melangkah masuk.
“Nak, apa yang kau lihat?”
Suara itu membuat Wu Zetian tersentak. Ia dengan cepat berbalik. Tatapan mereka bertemu. Wu Zetian menatap Kakek Zhou… lalu kembali ke buku… lalu ke wajah Kakek Zhou lagi.
“Kek, apakah wajah di buku ini adalah kau?” Ucapnya perlahan.
Kakek Zhou terdiam cukup lama. Dan akhirnya, ia menghela napas panjang.
“Benar, itu adalah aku.” Katanya pelan.
Wu Zetian menahan napas.
“Dan semua wajah dalam lukisan itu adalah keluargaku.” lanjut Kakek Zhou.
“Jadi… kau, kau benar-benar berasal dari anggota kerajaan?.”
Kakek Zhou mengangguk.
“Benar. Aku berasal dari Dinasti Zhou.”
Wu Zetian tersenyum kecil, penuh pemahaman.
“Pantas saja… kau punya sihir.”
“Benar,” jawab Kakek Zhou tak ingin menutupi.
Dan di titik itu, rahasia yang terkubur puluhan tahun akhirnya mulai terkuak. Kakek Zhou memutuskan untuk mulai menceritakan semua tentang Dinasti Tang kepada Wu Zetian.
______________
Yuhuuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓