Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN DIATAS KERTAS.
Pukul empat sore tepat, Adam mengetuk pintu ruangan CEO yang terbuat dari kayu jati mahal. Tanpa menunggu lama, suara dingin Aurel mempersilakannya masuk. Di atas meja kerja yang bersih, sudah tersedia beberapa lembar dokumen yang nampaknya baru saja dicetak.
Aurel tidak ada berbasa-basi. Ia mendorong dokumen itu ke arah Adam. "Kontrak pernikahan. Baca dengan teliti. Jika setuju, tanda tangani. Aku tidak suka membuang waktu untuk negosiasi ulang." ujar Aurel dengan nada suara tegas dan dingin.
Adam mengambil dokumen itu. Ia langsung membaca Poin-poin di dalamnya yang sangat menguntungkan Aurel: tidak ada hubungan fisik tanpa persetujuan, harta gono-gini ditiadakan, dan Adam harus siap dipanggil kapan saja untuk berperan sebagai suami yang setia di depan keluarga besar Syaputra.
"Satu tahun?" ucap Adam tiba-tiba sambil menatap mata Aurel.
"Apa?"
"Kontrak ini berlaku selama satu tahun. Setelah satu tahun, kita bisa mengevaluasi apakah akan lanjut atau berpisah secara baik-baik." ujar Adam terlihat begitu tenang, "Dan satu hal lagi, Aurel... maksud saya, Bu Aurel. Saya ingin meminta akses ke arsip lama perusahaan Ayah tahun 2015 sebagai bagian dari 'tunjangan' saya." ujar Adam, dengan wajah yang tampak serius.
Aurel mengerutkan kening. Mengapa seorang anak magang tertarik pada arsip lama perusahaan Ayahnya sepuluh tahun lalu? Namun, karena rasa terdesaknya untuk segera lepas dari perjodohan Denis Subandi, ia mengangguk. "Terserah. Arsip itu hanya tumpukan kertas berdebu. Sekarang, tanda tangan." balas Aurel terdengar tegas
Dengan goresan pena yang mantap, Adam Ashraf resmi menjadi calon suami Adelia Aurellia. Sebuah langkah gila yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Baru saja Adam meletakkan pena, pintu ruangan Aurel terbuka dengan kasar tanpa ketukan. Tak berapa Firman Syaputra, Ayah Aurel masuk dengan wajah merah padam, diikuti oleh asisten Aurel yang tampak ketakutan karena gagal menghalangi ayah bosnya itu.
"Adelia! Papa dengar kamu membatalkan semua agenda minggu depan tanpa alasan jelas? Apa kamu sengaja menghindar dari makan malam dengan keluarga Pak Subandi? Kamu jangan bikin malu Papa, Del!" teriak Firman, tampak begitu marah.
Aurel berdiri, wajahnya kembali menjadi topeng es yang tak tertembus. "Papa tidak perlu repot-repot mengatur makan malam lagi. Karena aku sudah menemukan pria yang akan kunikahi." katanya dengan ekspresi dinginnya.
Firman tertegun. Ia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan matanya tertuju pada Adam yang masih berdiri di depan meja Aurel. Dengan tajamnya Firman memperhatikan pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemeja murah, sepatu yang sudah agak usang, namun postur tubuhnya sangat tegak.
"Siapa dia? Rekan bisnismu dari luar negeri? Atau anak kolega yang Papa tidak tahu?" tanya Firman penuh selidik.
Aurel melangkah mendekati Adam, lalu tanpa ragu menggandeng lengan pemuda yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu. "Namanya Adam. Dia... calon suamiku. Kami akan menikah minggu depan secara sivil di kantor urusan agama, sederhana saja." ujar Aurel memperkenalkan Adam pada Ayahnya.
Tawa Firman meledak, namun bukan tawa bahagia. Itu adalah tawa penghinaan. "Jangan bercanda, Rel! Anak kecil ini? Dia bahkan terlihat seperti baru lulus SMA. Siapa kamu, Nak? Apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Firman, tampak penasaran pada sosok Adam.
Adam menelan ludah. Ini adalah momen krusial. Jika ia menyebutkan nama ayahnya sekarang, segalanya akan hancur sebelum dimulai. "Nama saya Adam, Pak. Saya hanya seorang pekerja keras yang mencintai putri Anda." balas Adam berusaha tenang.
"Cinta?" Firman meludah ke lantai. "Cinta tidak bisa membeli saham! Adelia, Papa tidak setuju. Ini penghinaan bagi keluarga Syaputra!" lanjut Firman dengan perkataan terdengar keras. "Ingat kalau kamu tetap menikahi pemuda ini. Maka nama kamu akan Papa coret dari daftar waris! Jadi cam kan itu!"
Pertengkaran itu berakhir dengan ancaman Firman untuk mencoret Aurel dari daftar waris, namun Aurel tidak peduli. Karena ia sudah memiliki, AA Cosmetic dan itu adalah perusahaan hasil keringatnya sendiri, bukan warisan.
Setelah Firman pergi, suasana ruangan menjadi sunyi. Aurel melepaskan gandengan tangannya dari lengan Adam dengan cepat, seolah-olah baru saja menyentuh bara api.
"Persiapkan dirimu. Besok kita ke butik untuk mencari pakaian yang layak. Aku tidak ingin suamiku terlihat seperti gelandangan saat bertemu ibuku nanti," perintah Aurel kasar.
Adam hanya mengangguk. "Baik, Bu. Tapi ada satu hal yang harus Anda tahu."
"Apa?"
"Ayah Anda... dia memiliki ingatan yang sangat kuat tentang wajah seseorang. Saya harap pernikahan ini benar-benar berjalan sesuai rencana sebelum dia menyadari siapa saya sebenarnya." lanjut Adam.
Aurel menyipitkan mata. "Maksudmu?"
"Tidak ada. Sampai jumpa besok pagi," Adam berbalik dan keluar dari ruangan. Meninggalkan Aurel yang terlihat kembali ke kursi kebesarannya, tanpa menghiraukan perkataan Adam lagi.
Sementara itu Adam yang sudah berada diluar ruangan, langsung memegang dadanya, jantung Adam berdegup kencang. Ia teringat foto lama di dompet ayahnya—foto ayahnya bersama Firman saat mereka masih muda dan merintis usaha bersama. Ia sangat mirip dengan ayahnya, Bramasta. Makanya ia tak berani masuk keperusahan yang dipimpin oleh Firman. Sebab jika Firman melihat lebih dekat, atau jika rahasia bahwa Adam adalah anak dari 'si pengkhianat' terbongkar, maka pernikahan ini bukan lagi menjadi pelindung, melainkan medan perang.
Adam berjalan menuju parkiran, sambil menatap gedung AA Cosmetic yang menjulang tinggi. Ayah, aku sudah masuk ke jantung pertahanan mereka. Setelah ini Aku pasti bisa masuk keperusahan yang Ayah rintis bersama Om Firman. Dan Aku akan membuktikan bahwa kau bukan pencuri yang mereka tuduhkan, batinnya penuh dendam sekaligus tekad.
Sementara itu, di dalam ruangannya, Aurel menatap kontrak di atas meja. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia 'beli' untuk menjadi suami bayaran adalah anak dari pria yang paling dibenci ayahnya di dunia ini.