Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Jejak yang Tertinggal
Satu jam kemudian.
Mobil dinas kepolisian memasuki halaman belakang markas. Milka turun dari sana dan langsung menuju ruang Komandan Arif.
"Silakan masuk."
Milka meletakkan kamera kecil tadi, ponsel perekam suara, dan buku catatannya di atas meja.
"Saya berhasil mendapatkan dokumentasi transaksi yang diduga fiktif."
Komandan Arif mengambil kamera itu. Beberapa foto mulai muncul di layar komputer.
Semakin banyak foto yang berganti, wajahnya semakin terlihat serius.
"Luar biasa."
Beliau kemudian membuka rekaman suara. Ruangan menjadi sunyi.
Suara Vando terdengar jelas.
"...yang penting kita harus bisa menutup rapat mengenai uang itu...."
Kemudian disusul suara Irana.
"...kalau sampai polisi menemukan arsip penting kita, habislah kita."
Klik.
Rekaman berhenti. Komandan Arif menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Ini sudah cukup menjadi bukti permulaan."
Milka mengangguk.
"Tapi belum cukup untuk menangkap mereka."
"Benar, sekali Komandan."
Komandan menatapnya lurus. "Kita harus menemukan siapa otak di balik semua transaksi ini."
Milka menarik napas panjang. "Saya siap melanjutkan penyelidikan."
Komandan Arif justru menggeleng. "Tidak."
Milka sedikit terkejut.
"Untuk sementara, kamu berhenti masuk ke PT Arga Medika."
"Kenapa, Komandan?"
"Karena mulai sekarang mereka pasti akan lebih waspada."
Milka terdiam. Ia tahu keputusan itu sangat masuk akal. Namun, dia masih belum puas dengan bukti minim ini.
Di waktu yang sama, di gedung kantor, Vando mengecek kembali ke ruang arsip tadi. Entah kenapa ada yang terasa janggal baginya.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Map-map itu masih tersusun rapi. Tak ada satu pun yang tampak berpindah.
"Aneh ...."
Irana menyandarkan tubuh di kusen pintu. "Kenapa?"
"Tadi aku yakin, benar-benar ada suara."
"Mungkin memang petugas kebersihan."
Vando menggeleng pelan. "Bukan."
Ia masih mengingat tatapan mata perempuan bertopeng masker itu. Entah kenapa tatapan itu terasa sangat dikenalnya.
Menjelang sore.
Seorang petugas keamanan mendekati Vando. "Pak."
"Ada apa?"
"Tadi Bapak meminta rekaman CCTV lantai tiga, kan?"
"Iya."
"Sudah kami salinkan untuk Bapak." Pria itu, menyerahkan flashdisk kecil rekaman hari ini, ke tangan Vando.
"Terima kasih."
Ia langsung membawanya ke ruang kerja. Monitor komputer menyala. Rekaman CCTV mulai diputar.
Terlihat seorang petugas kebersihan sedang mengepel koridor. Topi. Masker. Seragam. Semuanya tampak biasa.
Namun Vando menghentikan gambar ketika perempuan itu sedikit menoleh ke arah kamera. Ia memperbesar tampilannya. Masker memang menutupi hampir seluruh wajah.
Tetapi, sepasang mata itu membuat rahang Vando perlahan mengeras.
"Mustahil...."
Ia memperbesar gambar sekali lagi. Tatapan mata itu. Cara berdirinya. Cara menggenggam gagang pel. Semuanya mirip dengan seseorang.
Perlahan sebuah nama muncul di benaknya. "...Milka?"
Tepat saat nama itu terucap ponselnya bergetar.
Layar menampilkan pesan singkat dari nomor tak dikenal.
Bersihkan semua dokumen yang ada di ruang arsip. Polisi sudah mulai mengendus.
Wajah Vando langsung pucat. Kalau pengirim pesan itu benar, berarti ...
Perempuan yang muncul di CCTV itu, bukan sekadar mirip Milka saja. Melainkan benar-benar istrinya.
.
.
Di Rumah Sakit AD Medical, Bonar masuk menuju ruang kerja Theo dengan tergesa-gesa.
"Boss."
Theo masih mengenakan jas operasi yang belum dilepas seluruhnya. "Hm ..."
"Bu Polisi baru saja masuk ke PT Arga Medika."
Theo mengangguk menyimak dengan seksama.
"Dia membawa beberapa bukti."
"Dan sekarang dia bagaimana?" tanya Theo yang hanya memikirkan keadaan Milka.
Bonar menyerahkan tablet.
"Besok dia dijadwalkan meminta klarifikasi ke AD Medical ini, mengenai kerja sama pengadaan alat kesehatan."
Sudut bibir Theo terangkat tipis. "Akhirnya dia yang datang sendiri ke sini."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣