Saat Dewa Turun ke Dunia
"Satu jari... cukup untuk memusnahkan satu kota."
Dalam sekejap, Kota Tai berubah menjadi lautan abu. Jutaan nyawa lenyap tanpa perlawanan. Di antara seluruh penduduk, hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang selamat—Li Tianxuan.
Sebelum menghilang, sosok dewa memasuki tubuhnya.
Sepuluh tahun kemudian, Li Tianxuan melangkah keluar dari Kota Tai yang telah tersegel oleh Formasi Kuno. Namun dunia di luar seolah tak pernah mengetahui kehancuran kota itu. Demi mengungkap kebenaran, ia menempuh jalan kultivasi yang dipenuhi darah, pengkhianatan, reruntuhan kuno, dan peperangan melawan para jenius dari sekte-sekte terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chen Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Menuju Reruntuhan Kuno
Li Tianxuan berdiri di depan jendela kediamannya.
Tatapannya menembus kejauhan, memandangi pegunungan hijau yang membentang luas di bawah langit biru.
Pemandangan seperti ini...
Sudah sangat lama tidak ia lihat. Sepuluh tahun yang lalu, Li Tianxuan masih dapat menikmati keindahan alam seperti ini bersama keluarganya.
Saat itu, hidupnya begitu sederhana. Tidak ada pertarungan. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada dunia kultivator yang kejam. Hanya keluarga yang hidup bersama dengan damai.
Namun semuanya berubah dalam satu hari.
Hari ketika seorang Dewa turun ke Kota Tai.
Hari ketika satu kata menghancurkan seluruh kehidupannya.
Lenyap.
Li Tianxuan mengepalkan tangannya. Kenangan itu masih begitu jelas dalam pikirannya.
"Sepuluh tahun..."
Gumamnya pelan.
Yuan Gu terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata,
"Setengah bulan lagi. Reruntuhan Kuno akan terbuka."
Tatapan Li Tianxuan berubah sedikit serius.
Yuan Gu melanjutkan,
"Reruntuhan Kuno hanya muncul setiap sepuluh tahun sekali. Setiap Sekte besar akan mengirimkan murid terbaik mereka untuk masuk ke dalamnya dan mencari berbagai harta peninggalan zaman kuno."
"Harta?"
Li Tianxuan mengangkat alis.
Qin Haoran mengangguk.
"Benar."
Ia berjalan mendekati meja sebelum duduk.
"Di dalam Reruntuhan Kuno terdapat banyak warisan yang ditinggalkan para ahli zaman dahulu. Namun ada satu harta yang paling banyak diperebutkan."
"Apa itu?"
"Giok Serpihan Jiwa Dewa."
Pupil mata Li Tianxuan sedikit menyempit.
"Giok Serpihan Jiwa Dewa?"
Yuan Gu mengangguk.
"Konon, benda itu mengandung sebagian kecil kekuatan jiwa seorang Dewa. Jika seseorang mampu menyerapnya, dia memiliki kesempatan untuk menembus penghalang kultivasi, memperoleh warisan Dewa, bahkan memperpanjang umur."
Li Tianxuan terdiam.
Namun pikirannya justru bergerak ke arah lain.
"Jika benda itu benar-benar mengandung kekuatan jiwa seorang Dewa... Mungkin aku bisa menggunakannya untuk menemukan jawaban tentang Dewa yang menghancurkan Kota Tai. "
Tangannya perlahan mengepal.
Jika ada sedikit saja kemungkinan untuk menemukan kebenaran...
Dia tidak akan melepaskannya.
Qin Haoran kemudian berkata,
"Beberapa tahun lalu, Giok Serpihan Jiwa Dewa hampir berhasil diperoleh oleh seorang jenius dari Keluarga Wu."
"Namun?"
"Penjaga giok tersebut adalah seekor Kadal Naga Kuno."
Yuan Gu menarik napas.
"Kekuatannya telah mencapai Ranah Istana Langit Tingkat 9 Puncak. "
Pupil mata Li Tianxuan mengecil.
Hanya seekor penjaga...
Sudah memiliki kekuatan seperti itu.
"Kalau begitu, mengapa Ketua Sekte dan Tetua Pertama tidak masuk sendiri?"
Li Tianxuan bertanya dengan polos.
Qin Haoran dan Yuan Gu saling berpandangan. Keduanya kemudian menghela napas.
"Seandainya kami bisa masuk, tentu kami sudah mengambilnya sejak lama."
"Kenapa?"
"Karena Reruntuhan Kuno memiliki aturan."
Qin Haoran menatap Li Tianxuan.
"Siapa pun yang telah berusia lebih dari dua puluh lima tahun tidak diperbolehkan memasuki Reruntuhan Kuno."
Li Tianxuan terdiam.
"Aturan macam apa itu?"
Dia benar-benar merasa aneh.
Sepengetahuannya, sebagian besar peninggalan kuno membatasi kekuatan orang yang masuk, bukan usia.
Yuan Gu tersenyum tipis.
"Karena Reruntuhan Kuno bukan sekadar reruntuhan biasa."
"Pada zaman dahulu, seorang Dewa menciptakan sebuah dunia kecil untuk menyimpan harta dan warisannya."
"Setelah Dewa tersebut meninggalkan dunia itu, dunia kecil tersebut perlahan mengalami kehancuran."
"Seiring berjalannya waktu, tempat itu berubah menjadi reruntuhan."
"Dan sekarang, tempat itu dikenal sebagai..."
Yuan Gu berhenti sejenak.
"Reruntuhan Kuno."
Li Tianxuan mengangguk pelan.
Ia akhirnya mengerti.
"Baiklah."
Tatapannya berubah tajam.
"Aku akan bersiap."
Qin Haoran dan Yuan Gu saling berpandangan.
Mereka dapat melihat tekad yang sangat kuat di mata pemuda itu.
"Kalau begitu," kata Qin Haoran, "berlatihlah lebih keras."
"Kesempatan seperti ini hanya datang setiap sepuluh tahun."
Setelah mengatakan itu, Qin Haoran dan Yuan Gu meninggalkan kediaman.
Li Tianxuan kembali berdiri sendirian.
Ia berjalan keluar dari kediamannya menuju tepi gunung. Angin sejuk berembus melewati wajahnya.
Energi spiritual yang sangat padat memenuhi udara. Li Tianxuan memejamkan mata sejenak.
Sekte Pedang Langit...
Tanpa ia sadari, tempat ini perlahan telah menjadi rumah keduanya. Namun ia tahu... Dia tidak akan tinggal di sini selamanya.
Suatu hari nanti, dia akan meninggalkan tempat ini. Dan sebelum hari itu tiba, dia harus menemukan kebenaran tentang Kota Tai.
Li Tianxuan membuka matanya. Tatapannya menatap kejauhan.
"Giok Serpihan Jiwa Dewa... Aku akan mendapatkanmu."
SETENGAH BULAN KEMUDIAN
Alun-alun Sekte Pedang Langit dipenuhi manusia.
Ribuan murid berkumpul.
Suasana hari itu jauh lebih ramai dibandingkan biasanya.
Di tengah alun-alun berdiri beberapa sosok muda. Mereka adalah murid-murid terbaik Sekte Pedang Langit.
Jenius Nomor Satu! Jian Wushuang
Jenius Nomor Dua — Bai Li.
Jenius Nomor Tiga — Xiao Han.
Jenius Nomor Empat — Liu Ya.
Jenius Nomor Lima — Wang Mo.
Jenius Nomor Enam — Ling Xi.
Enam sosok tersebut berdiri dengan tenang.
Masing-masing memiliki aura luar biasa. Mereka adalah generasi terbaik Sekte Pedang Langit.
Kali ini, Sekte Pedang Langit akan mengirim tujuh murid inti untuk memasuki Reruntuhan Kuno.
Namun...
Satu orang belum datang. Seorang murid yang baru memasuki sekte. Namun dalam waktu singkat, namanya telah mengguncang seluruh Sekte Pedang Langit.
Li Tianxuan.
"Kenapa dia belum datang?"
"Mungkinkah dia takut?"
"Mustahil. Bukankah dia bahkan berani menantang Ji Mo?"
"Siapa yang tahu?"
Di tengah keributan tersebut...
Tiba-tiba.
Wushhh!
Sebuah tekanan lembut turun dari langit. Semua murid secara refleks mendongak.
Di atas langit, terlihat seorang pemuda berjalan perlahan. Pakaian putih dan hitam dengan corak merah bergerak mengikuti hembusan angin.
Rambut hitamnya berkibar. Wajahnya tetap tenang. Setiap langkahnya seolah mengandung aura yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Pemuda itu perlahan turun.
Li Tianxuan.
Namun yang membuat semua murid terkejut bukanlah kemunculannya.
Melainkan... Auranya.
Seorang murid menatapnya dengan mata terbuka lebar.
"Ranah itu..."
"Jangan bilang..."
Li Tianxuan mendarat dengan tenang. Aura spiritual yang sangat kuat keluar dari tubuhnya.
Ranah Inti Roh!
Seluruh alun-alun langsung gempar.
"Mustahil!"
"Inti Roh Tingkat 1?!"
"Bagaimana mungkin?!"
"Bulan lalu dia masih berada di Lautan Spiritual Tingkat 3!"
"Baru setengah bulan berlalu!"
"Bagaimana dia bisa menerobos satu ranah penuh?!"
Keributan semakin besar.
Bahkan beberapa Tetua yang berada di kejauhan ikut mengarahkan pandangan kepada Li Tianxuan.
Banyak murid menatapnya seolah sedang melihat monster.
Namun Li Tianxuan sama sekali tidak peduli.
Dia hanya berjalan melewati kerumunan dengan ekspresi dingin.
Di antara semua orang yang berada di sana...
Hanya satu sosok yang tidak menunjukkan keterkejutan.
Seorang pemuda berdiri paling depan. Pakaiannya sederhana, tetapi auranya jauh lebih kuat dibandingkan murid-murid lainnya.
Dia adalah...
Jenius Nomor Satu Sekte Pedang Langit. Jian Wushuang
Jian Wushuang menatap Li Tianxuan beberapa saat.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Menarik."
Hanya satu kata.
Namun tatapannya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya... Dia menemukan seseorang yang membuatnya sedikit tertarik.
Dan perjalanan menuju Reruntuhan Kuno... Baru saja dimulai.