Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Alat dari Kulit dan Janji
Satu bulan setelah Tang Hyun kembali dari perbatasan dengan tangan kanan yang masih diperban dan dengan hati yang masih belum sepenuhnya tenang karena setiap kali dia menutup mata dia masih bisa melihat Tang Yue terikat di tiang kayu dengan "Lonceng Musim Dingin" melilit lehernya, musim semi datang ke Chang'an membawa angin yang tidak membawa kelopak bunga plum melainkan membawa surat-surat dari seluruh negeri yang isinya sama, yaitu permohonan bantuan dari tabib-tabib kecil di desa yang kehilangan tangan atau kaki karena perang lama atau karena kecelakaan saat meracik obat, dan yang sekarang merasa tidak berguna karena mereka tidak bisa lagi bekerja seperti dulu, sebuah masalah yang menusuk Tang Hyun lebih dalam daripada rasa sakit di bahunya sendiri karena dia tahu persis rasanya duduk di paviliun dan merasa bahwa tubuhnya sudah tidak bisa menepati janji yang dulu dia buat pada dunia.
Suatu sore di bengkel kecil belakang Akademi Bunga Plum, tempat yang biasanya dipakai murid untuk menumbuk herbal, Tang Hyun duduk dengan Tang Yue di depannya, di atas meja ada potongan-potongan kulit, kawat tipis, bambu, dan tali, semua berantakan, karena selama tiga minggu terakhir mereka mencoba membuat sesuatu, bukan senjata, bukan racun, melainkan sebuah alat, alat yang bisa dipasang di tangan kiri Tang Hyun agar dia bisa memegang jarum tanpa gemetar, dan yang juga bisa dipakai oleh orang lain yang memiliki keterbatasan yang sama, sebuah ide gila yang datang dari Tang Yue pada malam ketika dia melihat ayahnya frustrasi karena menjatuhkan cangkir teh untuk kesekian kalinya.
"Ayah," kata Tang Yue sambil mengukur pergelangan tangan ayahnya dengan benang, "kalau kita tidak bisa menumbuhkan tangan baru, maka kita buat tangan baru. Dari apa yang kita punya."
Tang Hyun menatap putrinya, "Kau tahu berapa kali aku gagal membuat alat seperti ini waktu masih muda? Tujuh puluh dua kali. Dan semua meledak."
"Maka kita gagal sampai ke tujuh puluh tiga," jawab Tang Yue tanpa ragu, "karena Klan Tang tidak berhenti di tujuh puluh dua."
Xinyue masuk membawa teh dan kue, melihat meja yang berantakan dan dua orang yang matanya merah karena kurang tidur, "Kalian belum tidur lagi?"
"Belum, Ibu," jawab Tang Yue, "karena kami hampir berhasil."
Tang Hyun menghela napas, "Hampir. Kata yang paling berbahaya."
Tiga hari kemudian, setelah percobaan ke enam puluh delapan yang berakhir dengan alat yang terlalu berat dan membuat pergelangan Tang Hyun biru, mereka akhirnya membuat versi yang sederhana, sebuah sarung dari kulit rusa yang dijahit rapat, dengan dua kawat kecil di bagian telapak yang bisa dikunci untuk menahan jarum, dan dengan tali yang bisa diikat ke lengan agar tidak lepas, tidak indah, tidak sempurna, tetapi bisa bekerja, dan ketika Tang Hyun pertama kali mencobanya untuk menjahit luka di lengan boneka latihan, jarum itu tidak jatuh, dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dia bisa menyelesaikan satu jahitan penuh tanpa bantuan siapa pun.
Tang Yue langsung berteriak, "Berhasil! Ayah berhasil!"
Xinyue yang mendengar dari luar langsung berlari masuk, dan ketika melihat suaminya duduk dengan alat itu di tangan, dengan mata yang berkaca-kaca tetapi dengan punggung yang tegak, dia tidak berkata apa-apa, dia hanya memeluknya dari belakang, "Aku bangga," bisiknya, "bangga sekali."
"Masih sakit," kata Tang Hyun jujur, "tapi sakitnya bisa kutahan sekarang."
Berita tentang "Alat Tangan Kiri" menyebar cepat, dan seminggu kemudian datanglah seorang tabib tua dari desa utara, seorang pria berusia enam puluh tahun yang kehilangan tiga jari karena ledakan tungku obat, dan dia datang bukan untuk minta disembuhkan, melainkan untuk bertanya, "Apakah benar Yang Mulia Tang bisa membuat alat agar kami bisa bekerja lagi?"
Tang Hyun menatap pria itu, lalu menatap tangannya sendiri, "Aku tidak janji bisa membuat yang sempurna. Tapi aku janji akan mencoba."
Maka selama dua minggu, bengkel kecil itu menjadi ramai, Tang Hyun, Tang Yue, dan tiga murid akademi bekerja siang malam, mengukur tangan orang, memotong kulit, mengunci kawat, gagal berkali-kali, dan setiap kali gagal, Tang Hyun akan berkata, "Catat. Kenapa gagal. Agar yang berikutnya tidak gagal di tempat yang sama," sebuah pelajaran yang dia dulu pelajari dari gurunya di Sekte Iblis, tetapi sekarang dia gunakan untuk membangun, bukan menghancurkan.
Pada hari ke empat belas, mereka berhasil membuat lima alat, dan ketika kelima tabib itu mencoba menggunakannya untuk pertama kali, ada yang menangis, ada yang tertawa, dan ada yang langsung duduk dan mulai meracik obat, karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mereka merasa berguna lagi.
Tabib tua itu menggenggam tangan Tang Hyun, "Terima kasih. Kau tidak hanya menyelamatkan putrimu. Kau menyelamatkan kami juga."
Tang Hyun menggeleng, "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Karena aku tahu rasanya."
Malam itu, setelah semua orang pulang, Tang Hyun duduk di paviliun bersama Xinyue, dengan alat itu masih terpasang di tangannya, dan dia berkata pelan, "Ingat waktu di kuil itu? Waktu aku bilang aku akan menepati janji untuk pulang padamu?"
"Ingat," jawab Xinyue, "dan kau menepatinya."
"Aku juga membuat janji lain," kata Tang Hyun, "pada diriku sendiri. Bahwa jika aku selamat, maka aku akan memastikan tidak ada orang lain yang merasa tidak berguna karena tubuhnya tidak sempurna."
Xinyue bersandar di bahu suaminya, "Dan kau menepatinya juga."
Tang Yue datang membawa buku catatan, "Ayah, aku sudah tulis semua langkahnya. Kita bisa ajarkan ke akademi lain. Kita bisa kirim ke seluruh negeri."
Tang Hyun membuka buku itu, tulisannya rapi, gambarnya jelas, dan di halaman pertama ada catatan kecil, "Didedikasikan untuk Ayah, yang mengajariku bahwa tangan bukan tentang berapa banyak jarinya, tapi tentang apa yang dia pegang."
Tang Hyun menutup buku itu dan menarik napas panjang, "Baiklah. Kita mulai proyek baru. 'Proyek Tangan Kiri'. Kita akan kirim tim ke setiap provinsi."
"Tim itu akan dipimpin siapa?" tanya Xinyue.
"oleh putri kita," jawab Tang Hyun menatap Yue, "karena dia yang punya ide. Dan karena dia yang paling keras kepala."
Tang Yue terkejut, "Aku? Tapi aku masih 15 tahun!"
"Dan aku dulu jadi kepala pembunuh saat umur 14," kata Tang Hyun, "umur bukan ukuran. Hati yang ukurannya."
Dua bulan kemudian, "Proyek Tangan Kiri" resmi dimulai, dan tim pertama yang berangkat adalah tim yang dipimpin Tang Yue, dengan lima murid akademi, dua pengrajin kulit, dan satu kotak besar berisi bahan, dan sebelum mereka berangkat, Tang Hyun memeluk putrinya erat, "Hati-hati. Dan ingat, tujuan kita bukan membuat alat. Tujuan kita adalah mengembalikan harapan."
"Aku ingat, Ayah," jawab Tang Yue, "dan aku akan buat Ayah bangga."
Selama Tang Yue pergi, Chang'an terasa lebih sepi, dan Tang Hyun menghabiskan waktunya di akademi, mengajar kelas baru tentang "Pengobatan untuk Tubuh yang Tidak Sempurna", kelas yang awalnya hanya diikuti 10 orang dan sekarang penuh sesak, karena orang-orang ingin belajar dari orang yang mengalaminya sendiri.
Suatu hari, seorang wanita datang dengan anaknya yang berusia 8 tahun, anak itu kehilangan tangan kanan karena kebakaran, dan wanita itu bertanya dengan ragu, "Bisakah dia jadi tabib, Tuan?"
Tang Hyun berjongkok di depan anak itu, melihat matanya yang takut, lalu dia mengangkat tangan kirinya dengan alat itu, "Bisa. Karena aku juga begitu. Dan lihat, aku masih bisa menolong orang."
Dia lalu menunjukkan cara memegang jarum dengan alat itu, perlahan, dan anak itu meniru, dan ketika jarum itu tidak jatuh, mata anak itu berbinar, dan ibunya menangis.
Malam itu, Tang Hyun menulis surat untuk Xinyue, meskipun dia ada di kamar sebelah, "Hari ini aku melihat masa depan. Dan masa depan itu tidak takut."
Tiga bulan kemudian, Tang Yue kembali, dengan kulit lebih gelap karena matahari, dengan catatan penuh, dan dengan cerita tentang 200 alat yang sudah dibagikan, dan tentang seorang kakek yang menangis karena bisa lagi memegang cucu perempuannya dengan tangan barunya.
"Ayah," kata Tang Yue, "ada satu desa yang bilang mereka ingin menamakan klinik mereka 'Klinik Tangan Kiri'. Boleh?"
Tang Hyun tertawa, "Boleh. Asal mereka juga tanam pohon bunga plum di depannya."
Perayaan kecil diadakan di paviliun, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tang Hyun mengangkat cangkir teh dengan tangan kirinya tanpa tumpah, dan semua orang bersorak.
Di malam hari, ketika semua sudah tidur, Tang Hyun dan Xinyue duduk di balkon, dan Xinyue berkata, "Kau tahu, waktu kau menyelamatkan Yue di kuil itu, aku pikir aku akan kehilanganmu."
"Aku juga pikir aku akan kehilangan diriku," jawab Tang Hyun, "tapi ternyata aku menemukan diriku yang baru."
"Versi Tangan Kiri," kata Xinyue sambil tersenyum.
"Versi yang lebih sabar," jawab Tang Hyun, "karena kau dan Yue mengajariku sabar."
Mereka diam, dan di kejauhan terdengar suara Tang Lei berlatih, suara yang sekarang tidak lagi membuat Tang Hyun khawatir, karena dia tahu anaknya aman.
Beberapa hari kemudian, datang utusan dari Kaisar Tang Ming, membawa dekrit resmi, bahwa "Proyek Tangan Kiri" akan didanai oleh istana, dan bahwa setiap tahun akan diadakan "Hari Tangan Kiri", hari untuk memperingati orang-orang yang bekerja meskipun memiliki keterbatasan, dan Tang Hyun yang membaca dekrit itu hanya mengangguk, "Ini bukan untukku. Ini untuk semua orang yang seperti aku."
Sebelum tidur, Tang Hyun melepas alat itu dari tangannya, dan Xinyue membantu mengompres bahunya, "Masih sakit?"
"Masih," jawab Tang Hyun, "tapi sekarang aku tahu cara hidup dengannya."
Xinyue mencium kening suaminya, "Dan aku tahu cara hidup denganmu. Dengan tangan kiri, dengan tangan kanan, dengan apapun."
Tang Hyun menutup mata, dan mimpi buruk tentang kuil itu tidak datang malam itu, yang datang adalah mimpi tentang paviliun penuh anak-anak, semua dengan alat di tangan, semua tertawa, dan di tengah mereka ada Tang Yue yang mengajari mereka cara mengikat simpul.
Ketika dia bangun pagi, hal pertama yang dia lakukan adalah memakai alat itu, dan hal kedua yang dia lakukan adalah menulis di jurnalnya, "Hari ini, aku menyelamatkan seseorang lagi. Dengan tangan kiri. Dan itu cukup."
Di luar, matahari musim semi bersinar, dan di halaman, Tang Yue sedang mengajari murid baru cara membuat alat, dengan suara yang tegas dan dengan tangan yang cekatan, dan Tang Hyun menatap dari jendela dan berpikir bahwa mungkin, inilah cara terbaik dia menebus masa lalunya, bukan dengan darah, melainkan dengan kulit, kawat, dan janji.
Dan janji itu sederhana, bahwa selama masih ada satu orang yang merasa tidak berguna, maka Klan Tang akan ada untuk mengingatkan mereka bahwa mereka berharga.