Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKAN BUBUR DI PAGI HARI
Angin malam masuk lewat jendela paviliun barat. Aluna masih duduk di lantai, memeluk tulang ayam yang sudah bersih. Perutnya kenyang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
Pintu dibuka kasar.
"Minggir." Suara Arya dingin.
Juna mendorong kursi roda masuk. Di belakangnya, seorang lelaki tua membawa kotak kayu berisi jarum dan salep. Wajahnya keriput, tangannya gemetar.
"Tabib Ming." Bisik pelayan di luar.
Aluna kaget. Refleks ia menutup hanfunya cepat-cepat.
"Salam... salam tabib." Ucapnya gugup.
Tabib Ming melirik luka di dengkul Aluna yang masih terbuka. Matanya langsung melebar.
"Yang Mulia... ini..." Suaranya tercekat.
"Periksa." Potong Arya singkat.
Tabib Ming mendekat. Tangannya yang tua mengusap lembut luka cambuk di paha Aluna. Luka lama. Luka baru. Nanah. Lebam.
"Astaga..." Gumam tabib itu. "Ini bukan luka sekali dua kali. Ini... ini disiksa bertahun-tahun."
Aluna menunduk. "Tidak sakit kok, Tabib. Sudah biasa."
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi. Juna mengepalkan tangan. Arya diam. Rahangnya mengeras.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Arya, suaranya rendah. Yang artinya Berbahaya.
Aluna salah paham lagi. Ia pikir Arya marah karena ia merepotkan.
"Bibi Yun... tapi itu karena saya nakal, Pangeran. Saya pantas dihukum." Ia tersenyum, mencoba menenangkan.
"Beneran nggak sakit. Paling perih pas kena air."
Tabib Ming meneteskan air mata. Ia segera mengeluarkan salep.
"Nona... biarkan hamba mengobati. Ini akan perih." Aluna mengangguk patuh. Saat salep dingin menyentuh kulitnya, ia meringis kecil. Tapi tidak menangis. Tidak bersuara.
Arya memperhatikan dari kursi rodanya. Gadis ini dipukuli tiap hari. Dibiarkan kelaparan. Diejek satu kota.
Tapi dia masih bisa bilang
"Pangeran orang baik" hanya karena dikasih seporsi makanan.
Sesuatu di dada Arya... Terasa perih.
"Juna." Panggilnya
"Ya, Tuan?" Juna menunduk hormat.
"Besok. Kirimkan beberapa pengawal untuk menjemput wanita bernama bibi Yun, Dengan alasan. Aluna membutuhkan seorang pelayan."Juna terkejut.
"Tuan?!"
"Lakukan saja." Perintahnya.
Arya menyipit. "Untuk sekarang."
Ia menghela napas. Lalu menoleh ke Aluna.
"Mulai besok, kau tidak perlu berkerja. Kau makan. Kau tidur. Lalu kau sembuh."
Aluna menatapnya bingung. "Tapi... siapa yang akan membersihkan gudang?"
"Aku punya pelayan." Jawab Arya datar. Aluna mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba matanya berbinar lagi.
"Berarti... aku boleh makan ayam setiap hari?"
Tabib Ming hampir menjatuhkan salepnya.
Arya menutup mata. Menahan senyum yang hampir lolos.
"Bodoh." Bisiknya pelan. Tapi nadanya... tidak mengejek. "Iya. Setiap hari."
Aluna langsung bersujud. "Terima kasih Pangeran! Pangeran orang paling baik sedunia!"
Arya menoleh ke Juna.
"Keluar. Semua keluar."
Setelah ruangan kosong, Arya mengambil selimut tebal dan menyampirkannya ke bahu Aluna yang menggigil.
"Kau kedinginan." Katanya pelan.
"Hangat, Tidak perlu kayu bakar." Gumam gadis itu. Untuk sesaat, Arya menatap wajah polos Aluna. Gadis polos dan naif itu bahkan tak tahu bahwa dia sedang di siksa. Bagaimana bisa dia menyangka bahwa gadis itu adalah mata-mata.
Aluna menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak takut.
"Pangeran... Mengapa anda sangat baik." Ucapnya, Arya tersenyum tipis dan mengencangkan lilitan selimut di tubuh Aluna.
Arya diam cukup lama. Lalu menjawab:
"Karena belum ada orang yang pernah baik padamu."
Aluna terdiam, Lalu tersenyum.
"Mulai sekarang, Aku akan melindungi pangeran. Aku pandai memukul orang." Ujar gadis itu. Arya tersenyum tipis, Perasaan hangat mulai menjalar di hatinya.
Meskipun sebelumnya ia sudah siap untuk membenci gadis itu. Tetapi sekarang, Rasanya Arya tak bisa melihat gadis itu kembali tersiksa.
Aluna menguap.
"Kau mengantuk?" Aluna mengangguk bodoh.
"Naik dan tidurlah." Gadis itu menurut, Ia menatap Arya dengan senyuman manisnya. Matanya terpejam, Hingga kegelapan mulai menariknya lebih dalam.
***
Pagi di kediaman Pangeran Arya.
Aluna terbangun karena perutnya keroncongan. Bukan karena lapar. Tapi karena... baunya. Bau bubur ayam. Bau jahe. Bau minyak wijen.
Di atas meja rendah, ada semangkuk bubur mengepul. Di sampingnya, ada paha ayam suwir dan telur setengah matang.
Aluna duduk di lantai, menatapnya seperti melihat harta karun.
"Buat saya?" bisiknya tak percaya.
Dari balik pintu, terdengar derit roda kayu.
Arya masuk dengan Hanfu hitam dan Rambut yang masih terlihat sedikit basah. Wajahnya datar seperti biasa.
"Tabib bilang kau harus makan yang lembek dulu. Lukamu masih perih." Ucapnya singkat dan Dingin.
Aluna langsung bersujud. "Terima kasih Pangeran!"
Arya mengernyit. "Tidak usah sujud-sujud. Duduk." Perintahnya.
Aluna menurut. Duduk bersila rapi. Tapi tangannya gemetar menahan sendok. Bukan karena takut. Karena terlalu lapar.
Arya memperhatikan. Alisnya berkerut.
"Kau... bisa makan sendiri?"
"Bisa, Pangeran!" Jawab Aluna semangat. Lalu ia menyuap terlalu cepat lalu terbatuk.
"Ukh..."
Sebelum ia sempat ambil air, sebuah cangkir sudah disodorkan ke bibirnya.
Tangan Arya terlihat dingin dan stabil.
Aluna membeku. "P-Pangeran?"
"Minum." Titahnya.
Aluna meneguk. Air hangat mengalir ke tenggorokannya. Arya menarik tangannya kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu... ia mengambil sendok.
"Buka mulutmu." Perintahnya.
Aluna bengong. "Eh?"
"Aku bilang buka mulut." Ulang Arya, nadanya masih datar. Tapi telinganya... sedikit merah. Dengan patuh, Aluna membuka mulut. Suapan pertama Buburnya terasa hangat dan Ayamnya terasa lembut.
"Mmm..." Aluna memejamkan mata.
"Enak..." Arya menyuap lagi. Dan lagi. Gerakannya kaku. Canggung. Jelas bukan orang yang biasa melayani orang. Juna yang mengintip dari luar hampir pingsan.
Tuan ku yang membunuh 20 prajurit dengan tangan kosong... sedang nyuapin wanita dengan hati-hati??
"Pelan-pelan." Gumam Arya saat Aluna ketawa kecil karena kenyang. "Nanti tersedak."
"Pangeran... kenapa nyuapin saya?" Tanya Aluna polos, mulutnya masih penuh. Arya diam. Sendoknya berhenti di udara.
"Karena... kau terlalu bodoh untuk menyuap sendiri." Bohong Arya, Tangannya gemetar sedikit. Aluna mengangguk, percaya saja. "Oh. terima kasih, Pangeran baik."
Pangeran baik Lagi.
Arya meletakkan sendok. Berdehem pelan.
"Sudah. Sisanya habiskan sendiri. "Ia berbalik mau pergi. "Eh, Pangeran!" Aluna tiba-tiba menarik ujung jubahnya.
Arya menoleh tajam. "Apa?"
Aluna tersenyum. Pipinya masih ada sisa bubur. "Aku... aku juga mau nyuapin Pangeran. Biar adil." Untuk sedetik, dunia Arya berhenti.
Ia, Pangeran Arya. Yang ditakuti satu negeri. Yang tangannya berlumuran darah.
Mau disuapin... oleh gadis bodoh ini?
"...Tidak perlu."
"Tapi aku mau!" Aluna berdiri. Mengambil sendok. Menyuap bubur. Menjulurkannya ke depan.
"Ahhh~"
Arya menatapnya. Lama.
Lalu, dengan wajah sebal... ia membuka mulut. Suapan itu masuk...
Aluna langsung tepuk tangan. "Pangeran menurut, Hebat!" Teriak gadis itu.
'Aku ingin pensiun.' Batin Juna.
Arya berdehem, lalu berdiri. Wajahnya kembali dingin.
"Jaga mulutmu. Jangan bilang ke siapa-siapa."
"Siap, Pangeran!" Saat pintu tertutup, Arya bersandar di dinding luar. Tangannya mengepal.
'Sial. Kenapa, Aku jadi gugup.'
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏