NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Meledak dan Tangis di Club Malam

Batas waktu bagi sebuah kebohongan untuk bertahan selalu lebih pendek daripada yang diperkirakan oleh pelakunya. Ketenangan semu yang selama beberapa minggu ini dijaga setengah mati oleh Carlo dengan menyembunyikan malam terkutuk itu akhirnya menemui dinding pembatasnya yang paling kejam. Rahasia yang terkubur rapat itu tidak lagi bisa ditahan di bawah permukaan ketika Sarah memutuskan untuk mengeksekusi rencana akhirnya.

Sore itu, mendung tebal menggantung rendah di atas langit Jakarta, menciptakan atmosfer yang gerah dan menekan. Carlo baru saja keluar dari ruang senat mahasiswa ketika langkah kakinya mendadak terhenti sempurna di dekat lobi gedung fakultas. Di sana, bersandar pada pilar beton dengan keanggunan seorang sosialita papan atas, berdiri Sarah. Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar dan gaun kasual bermerek, memegang sebuah map medis berwarna putih di tangan kanannya.

"Sarah? Untuk apa kamu nekat datang ke kampusku?!" desis Carlo, suaranya rendah namun sarat akan kemarahan yang tertahan saat dia menarik lengan Sarah menjauh menuju area koridor belakang yang sepi.

Sarah menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Carlo dengan sepasang mata yang memancarkan ambisi licik dan kepuasan pekat. "Aku datang untuk mengantarkan ini secara langsung kepadamu, Carlo. Karena kamu terus mengabaikan semua pesan dan teleponku selama seminggu ini."

Sarah menyodorkan map medis putih itu ke dada Carlo. Gemetar halus menjalar ke jemari Carlo saat dia menerima map tersebut. Dengan jantung yang berdegup kencang memompa rasa cemas yang mencekik, Carlo membuka lampiran kertas di dalamnya.

Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kandungan:

Nama Pasien: Sarah Wijaya

Hasil: Positif (Usia Kehamilan: 4 Minggu)

"Aku hamil, Carlo. Dan anak ini adalah hasil dari malam kita di kamar penthouse hotel sebulan lalu," ucap Sarah dengan nada suara yang begitu tenang, tanpa beban bersalah sedikit pun. "Papaku dan Papamu sudah mengetahui hal ini sejak tadi pagi. Mereka menuntutmu untuk segera bertanggung jawab dan meresmikan pernikahan kita dalam waktu satu bulan ke depan. Jika kamu menolak... foto-foto kebersamaan kita malam itu akan langsung dikirimkan ke ponsel gadis kuliahmu itu sebelum matahari terbenam."

Seluruh pasokan oksigen di paru-paru Carlo seolah tersedot habis seketika. Tubuhnya membeku, wajahnya berubah pucat pasi menatap lembar kertas medis di tangannya. Jebakan keji keluarganya dan keluarga Sarah telah membuahkan hasil yang paling mengerikan. Dia tidak memiliki celah logika atau alibi fisik sedikit pun untuk berkelit dari tanggung jawab ini. Rasa bersalah yang teramat sangat besar dan ketakutan akan kehilangan Valerie berkumpul di dadanya hingga membuatnya sesak napas.

Carlo tahu, jika Valerie mendengar kabar ini dari mulut Sarah atau melihat foto-foto tersebut dari orang lain, luka batin gadis itu akan jauh lebih hancur hancur-hancuran. Maka, dengan sisa-sisa keberaniannya yang hancur, Carlo mengambil keputusan paling menyakitkan: dia harus jujur kepada Valerie sore ini juga.

Satu jam kemudian, di dalam unit apartemen studio nomor 1502, atmosfer kehangatan yang biasanya menyambut Carlo mendadak menguap lenyap. Valerie berdiri terpaku di tengah ruang tengahnya, menatap sosok Carlo yang sedang berlutut di atas lantai marmer di depannya sambil menangis sesenggukan, memegangi kedua belah tangannya dengan cengkeraman yang bergetar hebat.

Di atas meja kopi, map medis putih milik Sarah terbuka lebar, memamerkan kebenaran terkutuk yang meruntuhkan seluruh duniakah mimpi indah yang baru saja Valerie bangun selama enam bulan ini.

"Val... maafkan aku... demi Tuhan, aku bersumpah aku dijebak malam itu..." tangis Carlo pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mengeras karena frustrasi. Dia mendongak, menatap Valerie dengan pandangan mata cokelatnya yang kini dipenuhi oleh keputusasaan mutlak. "Papa dan keluarga Sarah mencampurkan zat penenang ke dalam minumanku saat makan malam keluarga itu. Aku kehilangan kesadaran penuh, Val! Aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi malam itu! Tapi... tapi pagi ini Sarah datang membawa bukti kehamilan ini, dan dia memaksa aku untuk bertanggung jawab..."

Valerie menatap sosok pria yang selama enam bulan ini selalu memuja warnanya, pria yang setahun penuh mengantre di belakang kesembuhan hatinya dengan penuh kehangatan tanpa cela. Detik itu juga, Valerie merasa seluruh otot di tubuhnya mati rasa. Telinganya berdengung hebat, dan dadanya terasa seperti dihantam oleh palu godam tak kasat mata hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas.

Pengkhianatan tak sengaja. Tanggung jawab. Kehamilan.

Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepala Valerie seperti badai tornado yang menghancurkan setiap kepingan kepercayaan yang baru saja dia tata kembali. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, duniakah manis Valerie runtuh berkeping-keping. Rasa sakit hati yang kali ini dia rasakan jauh lebih mengerikan daripada saat dia diputuskan oleh Dean dulu, karena kali ini, dia benar-benar telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk mencintai Carlo dengan ketulusan yang mutlak.

"Lepaskan tanganku, Kak Carlo," bisik Valerie, suaranya terdengar sangat pelan, datar, dingin, dan tanpa intonasi emosional sedikit pun.

"Val... tolong jangan begini... bicaralah padaku, marahi aku, pukul aku, tapi tolong jangan diam..." memohon Carlo dengan hancur, mengeratkan cengkeramannya pada jemari Valerie.

"Aku bilang lepaskan!" teriak Valerie histeris, menyentakkan tangannya dengan kekuatan penuh hingga cengkeraman Carlo terlepas. Valerie melangkah mundur tiga langkah, menatap Carlo dengan sepasang mata elang yang kini dipenuhi oleh air mata yang mengalir deras tanpa suara. "Pergi dari apartemenku sekarang juga, Carlo! Pergi dan tanggung jawablah pada wanita itu! Jangan pernah berani-berani memunculkan wajahmu lagi di depan mataku!"

Tanpa menunggu balasan atau penjelasan lanjutan dari Carlo yang masih menangis meraung-raung di lantai, Valerie berjalan cepat menuju pintu, membukanya lebar-lebar, dan menunjuk ke arah koridor luar dengan tubuh yang gemetar hebat akibat emosi yang membubung tinggi. Melihat ketetapan mutlak yang hancur di mata Valerie, Carlo akhirnya bangkit dengan langkah yang limbung, berjalan keluar dari unit apartemen dengan punggung jangkung yang tampak begitu bungkuk dan hancur oleh penyesalan yang tak terbantahkan.

Malam pun tiba mengurung ibu kota Jakarta dalam kegelapan yang pekat. Hancur untuk kedua kalinya dalam hidupnya membuat pertahanan mental Valerie runtuh total sampai ke titik nadir terdalam. Dia tidak bisa lagi tinggal diam di dalam apartemennya yang sunyi yang dipenuhi gema memori manis bersama Carlo.

Dengan gaun kasual berwarna gelap yang berantakan dan rambut yang dibiarkan terurai liar, Valerie nekat pergi sendirian menuju sebuah club malam mewah di kawasan pusat kota. Tempat itu bising oleh dentuman musik EDM yang memekakkan telinga dan lampu pendar warna-warni yang berputar liar, atmosfer yang sangat asing bagi seorang mahasiswi biologi seperti dirinya.

Valerie duduk sendirian di salah satu kursi tinggi bar counter yang remang-remang. Di hadapannya, beberapa gelas kecil berisi cairan alkohol pekat berkadar tinggi sudah kosong tak bersisa. Dia meminum semuanya dalam sekali teguk, mencoba menggunakan rasa terbakar di tenggorokannya untuk mematikan rasa sakit hati yang teramat pekat di dalam dadanya.

"Lagi... berikan aku satu gelas lagi," racau Valerie dengan suara yang sudah tidak stabil, matanya sayu, dan kesadarannya mulai mengabur akibat pengaruh alkohol yang kuat.

Dengan tangan yang bergetar hebat, Valerie merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel pribadinya. Dia membuka aplikasi panggilan, lalu menekan nomor kontak Tiara—satu-satunya sahabat tempat dia bisa menumpahkan seluruh kehancuran jiwanya malam ini. Panggilan dihubungkan pada deringan pertama.

"Halo? Val?! Kamu di mana?! Aku ke apartemenmu tapi kamarmu kosong!" suara Tiara terdengar sangat panik dan cemas dari seberang telepon.

"Tiara..." tangis Valerie akhirnya pecah secara histeris di antara bisingnya musik club malam. Dia memeluk ponselnya erat-erat dengan tubuh yang membungkuk di atas meja bar. "Duniaku hancur lagi, Ra... Kak Carlo... Kak Carlo menghianatiku... Sarah hamil dan dia harus menikah dengan wanita itu... Aku hancur, Ra! Aku benci semua laki-laki di duniakah ini! Tolong jemput aku... aku ada di Club Noir pusat kota..."

Klik. Sambungan telepon terputus dari tangan Valerie yang mendadak lemas hingga ponselnya terjatuh di atas lantai bar yang kotor.

Valerie menyandarkan kepalanya di atas meja bar kayu yang dingin, menangis tergugu dengan kesadaran yang kian merosot drastis menuju kegelapan total, tanpa pernah menyadari bahwa di sudut ruangan VIP club malam yang remang-remang, sepasang mata elang yang tajam milik seorang pria kaku setelan jas hitam—Dean, yang kebetulan sedang berada di sana untuk urusan relasi bisnis—telah lebih dulu menangkap sosok dirinya yang mengenakan gaun gelap dalam kondisi mengenaskan sebulan penuh dari kejauhan. Badai takdir yang baru kini bersiap membawa sang mantan kekasih melangkah maju kembali menjadi garda terdepan di hidup Valerie yang hancur berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!