NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

•••

Hari berganti pagi, orang-orang sudah memulai aktivitasnya seperti biasa. Tapi tidak bagi Giselle, gadis itu masih asik bergelung dengan selimutnya padahal sinar mentari sudah mulai menembus dibalik celah-celah gorden jendela apartemen miliknya.

Jika saja ponselnya tak berbunyi mungkin Giselle akan tetap pada posisinya, tidur yang seperti latihan mati sudah tidak ada bedanya.

Dengan mata yang masih enggan terbuka diraihnya ponsel di ujung nakas, menjawab panggilan dari siapapun itu.

"Hmmm..."

"Giselle... Kau belum bangun?! Ini sudah jam sembilan, kau tidur atau latihan mati yang benar saja!"

Teriakan nyaring di seberang sana berasal dari Karina, orang ini selalu sukses membuat Giselle kesal dengan menggunakan suaranya untuk berteriak.

Dia cerewet sekali terutama pada Giselle, Karina selalu saja mengomel padanya.

Giselle menjawab dengan suara serak khas orang yang baru terbangun dari tidurnya, "Sekali lagi kau berteriak aku akan benar-benar membunuhmu, lihat saja."

"Ha... ha… ha… simpan rencana pembunuhanmu itu nanti, sekarang cepatlah bersiap. Apa kau tidak masuk kuliah hari ini? Aku dan Yesha hampir mati bosan menunggumu sejak tadi."

"Astaga kenapa tak bilang dari tadi?"

Tanpa menunggu jawaban dari Karina ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Giselle bangun, bergegas mandi, dan bersiap untuk berangkat ke kampus.

•••

Disisi lain terdapat Karina yang kesal karena Giselle memutus panggilan teleponnya secara sepihak.

“Uhh... dasar menyebalkan, seenaknya saja dia… lihat saja aku tidak akan bicara sepatah katapun padanya nanti."

Yesha menaikan sebelah alisnya mengejek Karina, "Kenapa? Apa dia memutus sambungan teleponnya lagi?"

"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya? Kau dan Giselle sama saja, sama-sama menyebalkan." Sungut Karina.

Yesha tertawa menyaksikan Karina yang mengomel dengan segala sumpah serapahnya yang entah bagaimana tersensor secara otomatis di telinga Yesha.

“Aku memang menyebalkan tapi tak seperti Giselle. Lagipula kau seperti baru mengenalnya, Giselle memang begitu, kan."

"Iya, tetap saja dia menyebalkan. Kau juga."

"Sudahlah ayo kita tunggu di kelas biar nanti Giselle menyusul." Tawar Yesha.

"Baiklah."

•••

Dalam perjalanan menuju kampusnya, Giselle teringat akan kejadian tadi malam yang membuatnya kesal sampai sekarang.

‘Lihat saja aku akan membalasmu.’

Setibanya di area parkir kampus Universitas Neosentra, Giselle bergegas menuju kelas Performing Arts tahun ketiga.

Bukan, itu bukan kelasnya.

Giselle memang berada di departemen yang sama namun dirinya berada di tahun kedua. Dia ke sana karena ingin bertemu seseorang yang telah mengganggu pikirannya, lebih tepatnya dia ingin menemui pria yang dengan kurang ajarnya mencoba mencium dirinya secara paksa tadi malam.

"Jevan Lesmana!"

Teriakan Giselle berhasil membuat orang-orang di sekitarnya ikut mengalihkan atensi ke arah Giselle berada.

Dengan langkah lebar Giselle segera menghampiri Jevan yang terpaku memandangnya dengan tatapan menjengkelkan.

Tak diduga Giselle langsung melayangkan pukulan tepat pada rahang tegas milik Jevan.

Jevan sedikit terhuyung dan meringis kesakitan. Lebam yang diterimanya semalam bahkan masih terasa ngilu meski sudah meminum obat pereda nyeri dan sekarang pukulan Giselle hanya menambah rasa sakitnya.

"Akh… kau gila?!" teriak Jevan marah.

"Belum, yang ini baru gila..." Ujar Giselle kemudian mengayunkan kakinya dan menendang ke arah vital Jevan.

"Akhh..." Jevan jatuh tersungkur ke lantai.

Para mahasiswa di sana mulai berkerumun menyaksikan kejadian tadi, sebagian merekam, juga ada yang mencoba menghalangi agar Giselle mau berhenti.

Tak sedikit pula yang takut untuk mendekat, mereka tahu berurusan dengan Giselle adalah kesalahan besar.

Giselle dikenal sebagai pembuat onar. Berkali-kali dipanggil komite kampus bahkan sering mendapat skorsing, tapi tak pernah membuatnya jera.

"Sekali lagi kau menyentuhku, aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu. Ingat itu baik-baik." Bisik Giselle pada Jevan.

"Kau pikir kau siapa hah!" Bentak Jevan.

Beruntung saat itu Bu Jennie yang sedang menuju ruang dosen melihat kejadian itu. Dia segera membubarkan para mahasiswa dan memanggil unit kesehatan kampus untuk mengobati dan merawat Jevan.

"Giselle Uchiyama... ikut ke ruanganku sekarang juga." Titahnya tegas.

•••

Di ruangan Bu Jennie, Giselle tengah menunggu sanksi apa yang akan didapatkannya kali ini. Jennie ssaem sedang menghubungi ketua komite kampus dan orang tua dari Jevan Lesmana untuk membicarakan masalahnya dengan Giselle tadi.

Dia juga menelpon wali dari Giselle yang tidak pernah ia ketahui parasnya.

"Kau seharusnya malu karena kerap kali dipanggil oleh komite kampus. Kau seorang perempuan Giselle, apakah pantas seorang perempuan bersikap seperti tadi?"

"Ibu tak mengerti masalahnya. Aku tak mungkin memukulnya tanpa alasan yang jelas." Jelas Giselle.

"Baiklah. Ketua komite memutuskan kau diskors selama tiga hari, dia juga sudah menghubungi walimu untuk membicarakan masalah ini. Berikan surat ini kepadanya. Meskipun aku tahu dia tidak akan pernah datang kemari." Ucap Jennie mengulurkan sebuah surat panggilan orang tua.

“Giselle, aku tahu kau gadis yang baik. Jadi jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi, mengerti?"

Giselle hanya menganggukkan kepala kemudian pergi meninggalkan ruangan Bu Jennie.

Berjalan di koridor yang menghubungkan antara departemen satu dengan departemen yang lain seraya memandangi surat panggilan orang tua yang Bu Jennie berikan tadi, membuatnya tak fokus melihat arahnya berjalan hingga Giselle tak sengaja menabrak bahu seseorang. Tapi orang yang ditabraknya malah berjalan lurus seolah tidak terjadi apa-apa.

Giselle memandang punggung orang yang berjalan menjauh tersebut, seakan dejavu kejadian ini mengingatkannya pada sosok pria penolongnya kemarin malam.

"Hah... Apa yang aku pikirkan?" Gumamnya.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!