[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Hitam Ksatria Legendaris Flint!
Simon menatap mayat Edie yang tergeletak kaku dengan mata yang dingin dan tanpa emosi.
Pandangannya kemudian beralih pada pedang hitam yang tergeletak di dekat jasad tersebut, sebuah bilah yang tampak begitu hitam seolah mampu menyerap cahaya di sekitarnya.
Pedang itu seakan memancarkan aura suram yang terus memanggil Simon untuk menggenggamnya.
Simon mengambil pedang panjang tersebut dan memeriksanya dengan teliti, warna bilahnya sangat gelap, sementara gagangnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi yang diukir dengan sangat presisi.
Hal yang paling menarik perhatiannya adalah kristal hitam di tengah gagang pedang yang mengeluarkan kabut hitam tipis secara terus-menerus.
"Benda apa ini? Sepertinya ini semacam sihir?" Kira Simon dengan heran.
Dalam ingatannya di kehidupan sebelumnya, ia sering membaca novel fiksi di mana benda-benda seperti ini biasanya di tempa oleh kurcaci.
Namun, Simon tidak menemukan ras seperti kurcaci dan elf di dunia ini, hanya manusia yang terlihat menurut ingatan Simon, hanya satu yang bisa asumsikan bahwa benda ini dibuat oleh dewa! Seharusnya di dunia ini ada dewa kan? Jika memang ada dewa jelaslah seperti itu.
Tapi selain dewa, Simon juga menduga bahwa benda ini milik penyihir!
Ada ksatria namun tidak ada penyihir? Ini janggal! Mereka berdua harusnya ada dalam 1 paket
"Jika memang ada penyihir di dunia ini, mengapa aku tidak pernah mendengarnya ya?" gumam Simon sembari melilitkan keseluruh pedang itu dengan kain.
Lalu ia menyimpannya di belakang punggungnya.
Jelas ini hadiah yang di jatuhkan setelah melawan bos besar, mengapa aku tidak boleh menyimpannya?
Tiba-tiba, mayat Edie bergerak sedikit untuk terakhir kalinya, dan seberkas cahaya hitam melesat cepat menghantam dada Simon.
"Aduh!" Simon terkejut dan menyentuh dadanya yang terasa panas.
Ia segera melepas sebagian pelindungnya dan terkejut melihat sebuah simbol aneh yang kini terukir di kulitnya.
"Brengsek! Apa-apaan ini? Kau sudah mati dan sekarang kau mengutukku?" maki Simon sembari mendengus ke arah mayat Edie.
Meskipun ia tidak tahu efek apa yang akan ditimbulkan oleh simbol tersebut, Simon yakin itu bukan hal baik dan ia harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
"Simon? Apa itu kau, kawan?" sebuah suara terdengar dari arah reruntuhan.
Simon menoleh dan mendapati Gogo sudah sadar, kini ia sedang bersandar dengan lemas.
"Gogo, baguslah kamu sudah sadar. Kita harus pergi dari sini sekarang juga!" kata Simon sembari membantu Gogo berdiri.
Gogo masih tampak linglung sembari menggaruk kepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Simon? Perasaanku tadi aku sedang kencing, lalu ada segerombolan orang yang menggangguku, dan tiba-tiba saja aku merasa sangat mengantuk," keluh Gogo.
"Kita telah disergap, Gogo. Kepala desa itu menjebak kita, menjadikan kita tumbal oleh Sekte Sunyi mereka" Simon menjelaskan dengan singkat.
"Sekte Sunyi?" Gogo mengerutkan keningnya seolah mencoba mengingat.
"Ah! Aku ingat! Bukankah ini sekte sesat yang sering berkeliaran di wilayah selatan? Mengapa mereka bisa sampai ke wilayah barat kita?!"
"Kau kenal mereka?" Simon menatap Gogo.
"Ya aku tahu, sekte ini sangat berbahaya, mereka sangat fanatik terhadap Dewi yang mereka sembah." Kata Gogo
"Sekte ini sering menimbulkan kekacauan di Kerajaan Emerald, dengan mengorbankan orang tak bersalah demi mendapatkan berkah ilahi yang sering mereka ucapkan.
"Kenapa pihak kerajaan tidak segera bertindak untuk menumpas mereka?" Tanya Simon.
Gogo menggelengkan kepalanya.
"Sekarang adalah masa-masa sulit bagi kerajaan, pihak kerjaan lebih mementingkan kepentingannya sendiri ketimbang rakyatnya, dari pada mengirim ksatria terbaiknya untuk mati lebih baik, menyimpannya sendiri." Kata Gogo.
Apa-apaan ini, nyawa manusia di pertaruhkan Disni, sungguh tempat biadab!
"Kalau begitu bagaiman dengan gereja? Bukankah mereka adalah orang yang jahat, harusnya gereja juga turun tangan, kan?" tanya Simon dengan heran.
Gogo mengangguk dan berkata.
"Tentu saja Gereja sering memburu mereka mengirim Paladin untuk menumpas mereka, namun orang-orang ini seperti kecoa yang selalu muncul terus-menerus meskipun sudah sering dibasmi," jawab Gogo.
"Jelas, gereja saja tidak cukup."
"Begitu..."Mendengar itu, Simon kembali memikirkan simbol aneh di dadanya, ia merasa benda ini berbahaya dan ia harus mencari cara untuk menghilangkannya secepat mungkin.
"Lihat!! Penyusup itu ada di sini! Bantu Tuan Edie!" teriak anggota sekte lain yang tiba-tiba muncul dan menunjuk ke arah mereka.
Gogo dan Simon segera bersiap dalam posisi tempur.
"Hentikan dulu pembicaraan disini, Gogo. kita akan melanjutkannya ketika kita pergi dari sini terlebih dahulu," kata Simon.
Gogo mengangguk sembari memukul telapak tangannya sendiri.
"Benar! Aku akan memukul orang-orang ini karena telah mengganggu urusan pentingku tadi!".
Para anggota sekte segera mengepung mereka.
"Serbu mereka! Jangan biarkan domba sesat ini lolos! Menyerahkan kalian dan Terima rahmat dari Dewi Sunyi!" teriak salah satu anggota sekte mereka dengan mata yang fanatik.
"Kau yang sebelah kiri, aku yang sebelah kanan!" Simon menunjuk sambil mengeluarkan pedang standarnya.
Simon tidak akan menggunakan pedang hitam itu karena terlalu mencolok, meskipun dia mengeluarkannya tuhan tahu hal buruk apa yang terjadi.
Menatap Gogo dia segera berpikir, walaupun Gogo adalah teman baiknya, dia tidak sepenuhnya percaya pada Gogo, bagaimna kalau Gogo melaporkan benda ajaib ini kepada Baron? Bisa jadi masalah besar bagi Simon.
Simon melesat dengan cepat, menebas anggota sekte yang lengah dengan pedang di tangannya.
[ Teknik Pedang Silang +2 ]
[ Pernafasan Ular Hitam + 1 ]
Sementara itu, Gogo menggunakan tubuh kuatnya untuk menghantam musuh dengan tenaga yang brutal.
"Heh! Kalian hanya manusia biasa, beraninya berhadapan dengan ksatria!" ejek Gogo.
Melihat rekan-rekan mereka tewas satu per satu di tangan kedua ksatria muda itu, nyali para anggota sekte menciut. "Lari! Selamatkan diri!" teriak mereka dengan rasa ketakutan.
[ Pernafasan Ular Hitam + 2 ]
Namun, Simon dan Gogo tidak memberikan ampun sedikit pun dan terus menumpas mereka hingga tidak ada satu pun pengikut sekte yang tersisa di gudang tersebut.
[ Teknik Pedang Silang +3 ]
Setelah menumpas habis sisa-sisa anggota Sekte Sunyi di gudang gandum, Simon dan Gogo segera meninggalkan Desa Maple yang kini telah hancur dan berbau amis darah.
Perjalanan pulang menembus hutan rimbun memakan waktu berjam-jam di bawah sisa-sisa kegelapan malam hingga akhirnya siluet barak militer Baron Brent terlihat di mata mereka.
Begitu mereka menginjakkan kaki di gerbang barak, Gogo langsung menyandarkan tubuhnya yang gemuk ke dinding batu, napasnya terasa berat.
"Huuu... perjalanan ini benar-benar menguras tenagaku sampai habis. Rasanya otot-ototku mau lepas," keluh Gogo sembari menyeka keringat dingin di lehernya.
Ia melirik Simon yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang masih tampak segar, seolah pertempuran hidup dan mati tadi tidak mempengaruhinya sama sekali .
"Sedangkan kau, Simon? Kau terlihat seperti baru pulang dari jalan-jalan santai," tanya Gogo dengan heran.
Simon menatap tangannya yang masih merasakan sisa getaran dari Teknik Pedang Silang miliknya.
"Aku? Aku merasa ini adalah pengalaman yang sangat mengasyikkan," jawab Simon dengan mata berkilat yang tenang.
Bagi Simon, pertempuran nyata adalah cara tercepat untuk mengumpukan poin kemahiran tanpa perlu menunggu latihan rutin yang membosankan.
Gogo terbelalak, menatap Simon dengan pandangan ngeri.
"Astaga... apakah kau seorang psikopat? Bro, kau sama sekali tidak normal! Siapa yang menyebut pembantaian pengikut sekte sesat sebagai pengalaman mengasyikkan?"
Simon hanya mendengus tipis, sifatnya yang dingin membuatnya tidak peduli pada penilaian orang lain.
"Berisik. Aku ini normal," seru simon.
"Cih, kalau begitu buktikan kenormalanmu! Mau ikut aku?" tawar Gogo dengan seringai yang mendadak muncul.
"Ke mana?" Simon mengernyit bingung.
"Ke tempat paling menyenangkan di kota... Tentu ke bordir! Aku tahu beberapa wanita cantik yang bisa membuatmu lupa pada bau mayat di desa tadi!" bisik Gogo sambil terkikik.
Simon memainkan matanya ke samping, memikirkan pedang hitam yang kini tersembunyi di balik jubahnya serta simbol aneh yang ada di dadanya...
"Tidak perlu. Aku ada urusan penting nanti," tolak Simon dengan tegas.
Gogo menunjuk Simon dengan jari gemetar, wajahnya penuh kemenangan.
"Benar kan, kau tidak normal! Apa kau tidak tertarik dengan wanita? Ahh! Jangan-jangan kau... aku mengerti sekarang!".
"Apa? Aku apa?" Simon menepis tangan Gogo.
"Aku bukan orang seperti itu! Hanya saja, latihan akan membuatku kuat. Dan jika aku sudah cukup kuat, wanita mana yang tidak bisa aku dapatkan di dunia ini?"
Sebelumnya sebagai Agus dia memang tidak pernah memiliki pacar dan dia jelas masih perjaka, tentu Simon ingin merasakannya juga tapi di tempat bordil pasti banyak hivnya. Jelas dia tidak mau ketularan hal itu.
Simon tahu bahwa di dunia yang kejam ini, kekuatan mutlak adalah satu-satunya mata uang yang tidak akan mengkhianatinya.
Wanita? Meraka hanya akan mempengaruhi hati Dao ku!
Gogo terdiam sejenak, merenungkan logika Simon.
"Masuk akal juga... Kekuatan memang segalanya bagi pria. Kalau begitu, aku juga harus menambah jadwal latihanku agar tidak tertinggal jauh darimu!" seru Gogo setelah berpikir keras.
Tepat saat mereka hendak melangkah menuju mes, sesosok pria tegap dengan baju zirah lengkap muncul di hadapan mereka.
Itu adalah Kapten Jon. Tatapannya yang tajam langsung mengunci kedua prajurit mudanya.
"Kalian sudah kembali," suara kapten Jon terdengar berat.
"Jadi, bagaimana dengan desa itu? Laporkan situasi Desa Maple kepadaku sekarang juga"
Simon dan Gogo saling memandang sejenak.
Mereka teringat akan mayat-mayat yang mengering, ritual Dewi Sunyi, dan kenyataan bahwa kepala desa mereka sendiri adalah dalang dari semua kengerian itu.
"Mengenai hal itu..." kata mereka serempak, Simon dan Gogo menceritakan semua kepada kapten Jon.