NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Bukan pria jahat

Pintu kamar di lantai dua tertutup rapat dengan suara dentuman yang halus. Aura menyandarkan punggungnya pada pintu kayu tersebut, lalu merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai yang dingin.

Kedua lututnya dilipat menempel ke dada, dan tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah dalam keheningan malam.

Kata-kata Fadil tadi terasa begitu kejam, namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa membela dirinya sendiri secara utuh.

Ia terjebak di tengah-tengah, menjaga rahasia kehancuran Keisya, menjaga perasaan Farhan yang masih mencintainya, dan menanggung kebencian serta emosi dari pria yang kini sah menjadi suaminya secara hukum dan agama.

Sementara itu, di lantai bawah, Fadil masih berdiri mematung di posisi yang sama. Kata-kata Aura terus bergema di telinganya bagaikan tembakan beruntun yang meremukkan egonya.

“Orang yang memelukku tadi adalah orang yang sangat mencintaiku dan tulus menerimaku! Mas Fadil tau sendiri bagaimana kenyataannya!”

Fadil memejamkan matanya rapat-rapat, lalu mencengkeram pinggiran sofa dengan napas yang masih memburu. Ada rasa sakit asing yang menusuk hatinya, rasa sakit yang tidak hanya bersumber dari rasa terhina karena melihat istrinya dipeluk pria lain, tetapi juga rasa perih saat menyadari betapa dalam ketulusan yang dimiliki pria lain itu untuk Aura.

Fadil mengepalkan tangannya, mematikan lampu ruang tengah, lalu melangkah menuju kamar kerjanya dalam kegelapan yang pekat.

**

Keesokan harinya, kecanggungan di rumah itu mencapai puncaknya. Fadil berangkat ke kantor sangat pagi bahkan sebelum matahari terbit dengan sempurna, sementara Aura memilih mengurung diri dan merapikan bagian-bagian kamar.

Namun, ketika menjelang siang hari, dering telepon genggam Aura tiba-tiba berbunyi, dengan layar ponsel yang menunjukkan nama "Mama".

Dengan menghembuskan napas panjang untuk menetralkan suaranya, Aura pun menggeser tombol hijau.

"Halo, Assalamu'alaikum, Ma..."

"Wa'alaikumussalam, Aura..." Suara ibunya dari ujung telepon terdengar penuh kekhawatiran dan nada terburu-buru. "Aura, kamu dan Fadil ada waktu siang ini? Papa... kondisi jantung Papa mendadak drop lagi, Nak."

Aura tersentak lalu tegap dari duduknya, wajahnya pun seketika pucat pasi. "Papa?! Papa kenapa, Ma? Apa kata dokter?"

"Papa terus menanyakan Keisya dan kamu, Ra. Papa bilang kangen dan ingin makan siang bersama kalian bertiga, maksud Mama, bersama kamu dan Fadil. Dokter bilang emosi Papa harus dijaga tetap stabil. Bisa ya, Nak? Nanti siang kalian datang ke rumah?"

Aura memegang dadanya yang berdebar kencang. Dalam kondisi hubungan yang hancur berantakan seperti ini, ia dituntut untuk kembali menyajikan sandiwara sempurna di hadapan orang tuanya yang rentan.

"B-bisa, Ma. Nanti Aura sampaikan ke Mas Fadil. Kami akan datang makan siang di rumah Mama," jawab Aura yang berusaha menenangkan sang ibu.

Setelah menutup sambungan telepon, Aura mematung selama beberapa saat. Mau tidak mau, ia harus menghubungi Fadil. Dan dengan jari yang gemetar, ia menekan nomor suaminya.

Dering pertama... dering kedua... tepat pada dering ketiga, panggilan itu diangkat.

"Ada apa?" suara Fadil terdengar sangat dingin dan formal dari balik telepon, disertai latar belakang suara hiruk-pikuk suasana kantor.

Glek!

Aura menelan salivanya. "Mas Fadil... maaf mengganggu waktumu. Mama baru saja menelepon. Kondisi jantung Papa drop lagi."

Hening sejenak...

Suara napas Fadil terdengar mem berat di ujung telepon sana. "Papa kenapa?"

"Papa kangen dan ingin kita datang makan siang bersama di rumah orang tuaku siang ini. Dokter bilang emosi Papa tidak boleh terganggu. Bisakah... bisakah Mas Fadil meluangkan waktu sebentar?" tanya Aura dengan nada yang sedikit memohon.

Fadil menghela napas dari balik telepon. Terlepas dari segala amarah dan kebenciannya pada Keisya dan sandiwara pernikahan ini, Fadil tetaplah pria yang sangat menghormati mertuanya.

"Pukul satu siang aku jemput kamu di rumah. Bersiaplah," jawab Fadil dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

_____

Pukul satu siang pas, mobil Fadil sudah berhenti di pelataran rumah. Aura yang sudah bersiap dengan gaun sederhana berwarna krem langsung masuk ke dalam mobil.

Di dalam kabin, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Baik Fadil maupun Aura, mereka saling membuang muka ke arah jendela.

Namun, saat mobil perlahan memasuki halaman rumah orang tua Aura, Fadil menghentikan kendaraannya di dekat gerbang sebelum mematikan mesin.

Fadil memalingkan wajahnya dan menatap Aura.m, dengan sorot mata yang kembali tajam dan berwibawa.

"Di depan orang tuamu, kita adalah pasangan suami istri yang harmonis," tegas Fadil. "Jangan tunjukkan wajah lesu atau matamu yang sembap itu di depan Papamu."

Aura menatap Fadil sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku tau, Mas. Aku tidak akan membuat Papa curiga."

Ketika mereka melangkah keluar mobil dan berjalan menuju pintu depan rumah orang tua Aura, Fadil secara alami mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Aura.

Genggaman itu erat dan terasa hangat, namun Aura tau, jika itu hanyalah bagian dari protokol sandiwara yang harus mereka jalani. Meski begitu, desiran halus tetap tak mampu ditahan Aura saat jemari mereka saling bertautan.

Saat pintu rumah terbuka, Kirana langsung menyambut mereka dengan senyuman yang lega.

"Aura! Fadil! Akhirnya kalian sampai juga," seru sang ibu seraya memeluk Aura dan menjabat tangan Fadil. "Ayo masuk, Papa sudah menunggu di meja makan."

Di meja makan sana, sang ayah tengah duduk di kursi utamanya dengan wajah yang tampak agak pucat dan selang oksigen tipis yang terkadang terpasang di sampingnya.

Namun saat melihat kedatangan putri dan menantunya yang bergandengan tangan, binar bahagia langsung memancar dari matanya.

"Fadil... Aura... duduk, Nak," ujar sang ayah dengan suara yang sedikit parau namun penuh kehangatan.

Mereka berdua pun duduk berdampingan. Selama makan siang berlangsung, Fadil memainkan perannya dengan sangat sempurna.

Pria itu bersikap sangat santun, menyiapkan lauk untuk Aura, merangkul bahu Aura saat berbincang dengan mertuanya, dan menjawab setiap pertanyaan dengan senyuman hangat yang terlihat sangat meyakinkan.

"Fadil," ujar sang ayah di sela-sela makan siang mereka, seraya menatap menantunya dengan pandangan yang dalam. "Papa tau... pernikahan ini terjadi dengan cara yang tidak biasa. Papa tau kamu pasti kecewa karena Keisya pergi..."

Suasana di meja makan mendadak membeku sejenak. Sedangkan Aura menahan napasnya, lalu melirik cemas ke arah Fadil.

Namun, Fadil tetap mengulas senyum tenangnya. Ia lalu menggenggam tangan Aura di atas meja, dan mengelus punggung tangan istrinya itu dengan ibu jarinya secara perlahan di hadapan sang ayah.

"Tidak apa-apa, Pa," jawab Fadil dengan suara yang begitu mantap. "Semua sudah menjadi takdir Tuhan. Aura adalah istri yang sangat baik, telaten, dan menjaga saya di rumah. Saya bersyukur memiliki Aura."

Aura tertegun mendengarkan kalimat itu meluncur dari bibir Fadil. Walaupun ia tau 90% dari ucapan itu adalah kebohongan demi menenangkan sang ayah.

Meski cara Fadil mengucapkan kalimat tersebut dan kehangatan usapan ibu jarinya di punggung tangannya terasa begitu nyata dan menggetarkan hatinya.

Sang ayah pun tersenyum lega, air mata haru pun menggenang di sudut matanya. "Alhamdulillah... Papa tenang mendengarnya. Jaga Aura ya, Dil. Dia anak yang sangat baik dan selalu mengalah demi keluarga."

____

Usai makan siang dan memastikan kondisi sang ayah membaik serta tertidur lelap untuk beristirahat, Fadil dan Aura pun pamit untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah mereka, keheningan kembali terjadi. Namun, keheningan kali ini tidak lagi sepekat dan sekasar semalam.

Genggaman tangan dan sandiwara di rumah orang tua Aura meninggalkan jejak kecanggungan baru di antara mereka.

Saat mobil kembali terparkir di garasi rumah mereka, Aura melepaskan sabuk pengamannya. Sebelum melangkah turun, Aura memutar tubuhnya menghadap Fadil.

"Mas Fadil..." panggil Aura.

Fadil yang baru saja hendak mematikan mesin mobil menghentikan gerakannya dan menoleh. "Apa?"

"Terima kasih," ujar Aura, matanya menatap manik mata Fadil dengan kejujuran yang murni. "Terima kasih karena sudah bersikap sangat baik dan manis di depan Papa tadi. Terima kasih sudah menjaga perasaan Papaku."

Fadil menatap Aura selama beberapa detik dalam diam. Sorot matanya yang biasa dingin kini tampak goyah, dan memperlihatkan kelelahan emosionalnya.

"Aku melakukannya demi kesehatan Papamu," jawab Fadil. "Aku tidak ingin ada tragedi lain di keluarga ini."

Fadil mematikan mesin mobil lalu melangkah turun terlebih dahulu, begitupun dengan Aura yang menyusul di belakangnya.

Namun, saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah, langkah Fadil tiba-tiba terhenti. Pria itu membalikkan badannya secara tiba-tiba, dan menatap Aura yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Aura," panggil Fadil.

"Iya, Mas?"

Fadil lalu melangkah mendekat dan mengikis jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di hadapan Aura. Matanya mengunci wajah wanita yang kini sah menjadi istrinya itu dengan intensitas yang tinggi.

"Ucapanku di depan Papamu tadi..." ujar Fadil menggantung di udara.

Aura mengernyitkan dahinya dan merasa bingung. "Maksud Mas?"

Fadil menatap lurus ke dalam mata Aura. "Ucapan bahwa kamu adalah istri yang baik dan telaten..." bisik Fadil. "...itu bukan sepenuhnya sandiwara. Kamu memang merawatku dengan sangat baik saat aku sakit kemarin."

Aura terpaku di tempatnya. Jantungnya berdesir hebat mendengar pengakuan jujur yang tak disangka-sangka itu.

Fadil menarik napas panjang, lalu melanjutkan perkataannya dengan nada dingin namun terdengar tegas. "Tapi soal Farhan... aku tidak akan pernah mentolerir hal itu lagi. Kamu adalah istriku sekarang, Aura. Terlepas dari bagaimana pernikahan ini dimulai, selama kamu menyandang namaku, aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu atau memelukmu lagi. Apakah kamu mengerti?"

Aura menatap Fadil yang berdiri tegap di hadapannya. Di balik sikap protektif dan tegas pria itu, Aura mulai melihat satu hal yang selama ini tertutup oleh emosi, yaitu, Fadil bukanlah pria yang jahat.

Pria ini hanyalah jiwa yang terluka parah oleh pengkhianatan, yang berusaha mempertahankan sisa-sisa harga diri dan kepemilikannya.

Aura lalu menganggukkan kepalanya perlahan, seraya mengukir senyum tipis yang tulus di bibirnya.

"Aku mengerti, Mas Fadil," jawab Aura. "Aku berjanji hal seperti semalam tidak akan pernah terulang lagi."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga Keisya tau diri dan gak jahat ke Aura karena dapat perhatian dari Fadil 😏
Aurora: /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/ suka suka suka...
total 15 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan.. beneran mencari Keysha... jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu itu.. meskipun Aura bahagia kakaknya ketemu, tapi sebagai seorang istri yg gak dikasih tau dlm mengambil keputusan pasti juga sakit hati😏
Aurora: udah up lagi tuh kak...🤗
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!