[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Extra Part 1
Suasana malam di Paviliun Timur Istana Pusat terasa jauh lebih tenang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya ketika intrik dan aroma bubuk mesiu masih pekat mencekam.
Di atas sebuah meja kayu mahoni yang diterangi cahaya temaram lentera kertas, tumpukan gulungan dokumen administrasi kekaisaran berjejer rapi. Namun, orang yang seharusnya membereskan dokumen-dokumen itu justru sedang melipat kedua tangannya di atas meja, menatap jengkel ke arah pria yang baru saja melangkah masuk tanpa suara.
Wang Yiche—yang kini telah resmi mengenakan jubah kekaisaran tanpa topeng besi perak di wajahnya—berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh herbal hangat. Garis wajahnya tampak lebih lembut, jauh dari kesan pangeran buangan yang dingin dan penuh dendam masa lalu.
"Jangan menatapku seperti itu," ujar Wang Yiche dengan nada santai, meletakkan nampan tersebut di atas meja lalu menarik kursi tepat di sebelah Fang Hua. "Aku sudah menyelesaikan setengah dari laporan pajak dari adipati wilayah selatan."
Fang Hua mendengus pelan, mengambil salah satu cangkir teh buatan sang kaisar dan menyesapnya perlahan. "Setengah laporan pajak, Yang Mulia? Tapi kau menggeser tumpukan dokumen militer dan strategi perbatasan ke mejaku."
Wang Yiche terkekeh kecil. Tawa yang dulunya sangat langka kini menjadi suara favorit yang sering menghiasi malam-malam tenang mereka. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat mata gadis di hadapannya dengan binar usil di manik matanya.
"Karena aku tahu, otak cemerlang Nona Fang Hua jauh lebih cepat menyelesaikan urusan strategi militer daripada menteri-menteri tua di aula," puji Wang Yiche lembut.
Fang Hua memutar bola matanya malas, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyuman kecil. "Pujian tidak akan mengurangi tugasku malam ini, Kaisar Wang."
"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika suapan kue krisan ini yang membantumu menyelesaikan tugas?"
Wang Yiche mengambil sepotong kue manis dari piring kecil di dekatnya, lalu menyuorkannya langsung ke depan bibir Fang Hua. Gadis itu sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya menerima suapan tersebut dengan rona merah tipis yang merayap di kedua pipinya—pemandangan langka yang selalu berhasil membuat hati Wang Yiche menghangat.
Sejak rahasia identitas mereka terbuka sepenuhnya di hari penobatan, tidak ada lagi sekat atau kecurigaan di antara keduanya. Mereka bukan lagi sekadar majikan dan pengantin bayaran yang terjebak dalam intrik istana, melainkan dua jiwa dari dunia berbeda yang saling melengkapi di tengah megahnya Dinasti Tang.
"Ngomong-ngomong," ucap Fang Hua setelah menelan kuenya, melirik ke arah jendela luar yang memperlihatkan halaman istana yang sepi. "Bagaimana kabar Luo Huanran di paviliun utara? Kudengar utusan dari keluarga bangsawan daerah mulai berdatangan untuk melamarnya."
Wang Yiche menghela napas ringan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gadis penakut itu sepertinya lebih memilih hidup tenang merawat tanaman obat daripada terikat dengan para bangsawan sok tahu. Aku sudah menolak tiga lamaran minggu ini atas permintaannya sendiri."
Fang Hua tersenyum lega mendengarnya. Menjauhkan Luo Huanran dari pusaran politik kekaisaran dan memberinya kehidupan yang aman adalah salah satu hal terbaik yang berhasil mereka lakukan.
Wang Yiche mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Fang Hua yang terasa hangat di atas meja. Jemari yang dulu memegang botol-botol kimia darurat dan pisau bedah sederhana, kini menggenggam masa depan sebuah kekaisaran besar bersama dirinya.
"Terima kasih, Fang Hua," bisik Wang Yiche tulus, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan gadis itu. "Karena telah memilih tinggal, bahkan ketika pintu keluar terbuka lebar untukmu."
Fang Hua membalas genggaman tangan itu erat, menatap lurus ke dalam manik mata sang kaisar dengan senyuman paling tulus yang pernah ia berikan.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Fang Hua lembut. "Duniaku sekarang ada di sini... bersamamu."
***
Terima kasih banyak sudah menemani perjalanan cerita Wang Yiche dan Fang Hua! ❤️
Mohon Dukungab untuk Like , Komen dan Ikuti Penulis terimakasih.