Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 - Berusaha Tenang
Nayla sama sekali tidak menyadari bahwa kedatangannya di lantai tiga puluh dua ternyata membuat seseorang di balik pintu ruang kerja cukup gelisah.
Sejak pagi, dia benar-benar berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Setelah Zay menjelaskan berbagai tugas, Nayla mulai memeriksa jadwal Tristan, memilah dokumen yang perlu segera ditangani, serta mempelajari sistem administrasi yang digunakan Nebula. Beberapa istilah masih terasa asing baginya, tetapi Nayla tidak malu bertanya. Dia justru mencatat semuanya dengan teliti.
Sesekali Zay datang untuk memeriksa pekerjaannya. Setiap kali menemukan sesuatu yang belum dipahami Nayla, pria itu menjelaskan dengan sabar. Karena itu, beberapa jam pertama berjalan lebih mudah dari perkiraan Nayla.
Menjelang siang, Nayla mulai merasa sedikit lebih tenang.
"Aku ternyata bisa juga," gumamnya sambil tersenyum kecil. Dia kemudian kembali menatap layar komputer.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.
Zay yang sedang membawa beberapa dokumen langsung menoleh. "Pak Tristan sudah datang!"
Nayla segera berdiri.
"Haruskah saya menemui beliau?"
"Iya. Sekalian saya perkenalkan secara resmi."
Nayla merapikan rambutnya secara refleks. Dia kemudian berdiri di samping Zay sambil menunggu Tristan mendekat.
Beberapa detik kemudian, sosok pria tinggi dengan setelan jas gelap muncul dari ujung koridor. Tristan berjalan dengan langkah tenang sambil memeriksa sesuatu di ponselnya. Wajahnya terlihat serius seperti biasa. Dia baru saja kembali dari pertemuan di luar kota dan masih memikirkan beberapa persoalan yang dibicarakan bersama investor. Karena itu, Tristan sama sekali tidak memperhatikan orang yang berdiri di dekat Zay. Dia melewati Nayla begitu saja.
Nayla sempat menunduk sopan. "Selamat siang, Pak."
Tristan tidak menyadarinya. Perhatiannya masih tertuju pada layar ponsel.
Zay buru-buru memanggilnya. "Pak Tristan."
Tristan berhenti. "Ada apa?"
"Ini sekretaris baru Bapak."
Tristan mengangkat wajah. "Silakan masuk dulu, Pak. Saya ingin memperkenalkan Nayla secara resmi."
Tristan menghela napas pelan. Dia memasukkan ponselnya ke saku jas, lalu membuka pintu ruangannya.
"Masuk!"
Zay memberi isyarat kepada Nayla untuk mengikuti.
Nayla melangkah masuk dengan sedikit gugup. Ini pertama kalinya dia berada di ruang kerja CEO Nebula. Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang dia bayangkan. Interiornya didominasi warna netral dengan beberapa pajangan fashion yang terlihat sangat elegan.
Tristan berjalan menuju meja kerjanya dan meletakkan beberapa dokumen.
Zay kemudian berdiri di samping Nayla. "Pak, perkenalkan. Ini Nayla Putri Lestari, sekretaris baru Bapak."
Tristan yang sedang membuka berkas mendadak berhenti. Tangannya terdiam di atas meja. Perlahan, dia mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
Mata Tristan langsung membesar sedikit.
Nayla tersenyum sopan. "Selamat siang, Pak Tristan."
Untuk sesaat, Tristan seperti kehilangan kata-kata. Gadis itu, gadis yang kemarin dia temui di dekat toilet. Gadis yang menenangkan Denis ketika menangis. Gadis yang memberikan permen kepada putranya, dan yang paling mengganggu pikirannya, gadis yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat hanya karena sebuah senyuman.
Tristan menatap Nayla beberapa detik terlalu lama. Nayla tidak menyadarinya. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan terlipat rapi di depan tubuh.
"Senang bisa bekerja di bawah Bapak."
Tristan akhirnya mengalihkan pandangan.
"Ya."
Hanya satu kata yang keluar. Namun di dalam dadanya, detakan jantung kembali terdengar lebih cepat.
Tristan mengeraskan rahangnya. Kenapa lagi-lagi seperti ini? Dia tidak menyukai perasaan tersebut. Bahkan dia merasa semakin tidak nyaman karena Nayla kini akan berada di dekatnya hampir setiap hari.
Tristan mencoba mengabaikannya. Namun ada satu hal lain yang tidak bisa dia abaikan. Penampilan Nayla.
Jika kemarin gadis itu terlihat sederhana dan sedikit kurang rapi menurut standar lingkungan Nebula, hari ini penampilannya sudah jauh berbeda. Rambutnya ditata dengan rapi, riasannya natural, dan pakaian kerjanya terlihat lebih profesional.
Tristan mengamatinya sekilas. Jauh lebih baik. Namun sebagai seseorang yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia fashion, Tristan tetap bisa melihat beberapa hal yang menurutnya masih belum sesuai standar Nebula. Pemilihan aksesori, perpaduan warna, hingga potongan pakaian Nayla masih terasa terlalu sederhana. Namun dia tidak ingin mempermasalahkannya. Itu bukan urusannya. Yang penting gadis itu mampu menjalankan pekerjaannya.
Tristan akhirnya duduk.
"Zay."
"Ya, Pak?"
"Mulai besok kau bisa mulai mempersiapkan tugas sebagai wakil direktur."
Zay tampak senang. "Baik, Pak."
"Beberapa dokumen akan aku serahkan kepadamu sore ini. Pelajari semuanya."
"Siap."
Tristan kemudian menatap Nayla. "Dan kau."
Nayla langsung berdiri lebih tegak.
"Ya, Pak?"
"Kembali ke meja. Pelajari seluruh jadwalku untuk minggu ini."
"Baik."
"Kalau ada sesuatu yang tidak kau pahami, tanyakan kepada Zay."
Nayla mengangguk. "Baik, Pak Tristan."
Dia tersenyum sopan sekali lagi sebelum berbalik.
Tristan kembali menatap layar komputernya. "Dan jangan lupa..."
Nayla berhenti. "Ya, Pak?"
"Ketepatan waktu."
Nayla tersenyum kecil. "Saya mengerti."
Setelah itu Nayla dan Zay keluar dari ruangan.
Pintu tertutup. Tristan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Dia mengembuskan napas panjang.
"Ini tidak bagus."
Dia mencoba kembali bekerja, tetapi beberapa menit kemudian pikirannya kembali melayang kepada kejadian kemarin. Senyum Nayla ketika memberikan permen kepada Denis. Tatapan hangatnya. Bahkan suara gadis itu ketika memperkenalkan diri.
Tristan menggeleng.
"Berhenti."
Dia mengambil sebuah dokumen dan mulai membacanya dengan serius. Tidak lama kemudian, tubuhnya mulai terasa lelah. Sejak pagi dia harus bepergian, mengikuti pertemuan, lalu kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Tristan memijat pelipisnya. Kopinya tadi pagi bahkan belum sempat diminum. Dia menekan tombol interkom.
"Bagaimana cara memanggil sekretaris baru?" gumamnya.
Tristan kemudian teringat bahwa Nayla duduk tepat di luar ruangannya. Dia menekan tombol panggilan.
Beberapa detik kemudian, pintu diketuk.
Tok! Tok!
"Masuk!"
Pintu terbuka dan Nayla muncul.
"Ada apa, Pak?"
Tristan mengangkat wajah. "Buatkan saya kopi!"
Nayla mengangguk. "Baik, Pak. Kopinya seperti biasa?"
Tristan terdiam. Dia tidak menyangka Nayla akan langsung bertanya seperti itu.
"Kau tahu seperti apa?"
Nayla tersenyum kecil. "Pak Zay tadi menjelaskan beberapa hal yang Bapak sukai dan tidak sukai."
Tristan menatapnya. "Kalau begitu, kau tahu?"
"Sedikit."
Tristan kembali melihat dokumennya. "Tanpa gula."
"Baik."
Nayla berbalik hendak keluar. Namun sebelum pintu tertutup, Tristan kembali memanggil.
"Nayla."
Gadis itu menoleh.
"Ya, Pak?"
Tristan memandangnya sebentar. "Jangan terlalu lama."
Nayla tersenyum. "Baik, Pak."
Pintu tertutup. Tristan kembali menatap dokumen di depannya. Anehnya, kali ini dia tidak bisa langsung berkonsentrasi. Entah mengapa, satu hal terus terlintas di kepalanya. Jangan sampai gadis itu terlalu dekat dengannya.