Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah yang Berbeda
Pagi itu, Almeera tiba di area kampus jauh lebih awal dari biasanya. Ia berjalan santai membelah halaman sambil mendekap buku tugas dan tas ransel di bahunya. Udara pagi hari ini terasa masih sangat sejuk dan segar.
Sesampainya di depan gerbang gedung fakultas, ia melihat Eliza sudah duduk santai di salah satu bangku panjang.
"Eliza!" panggil Almeera menyapa ramah.
Eliza langsung menolehkan wajahnya cepat. "Eh, Meera. Tumben banget kamu jam segini sudah datang ke kampus."
Almeera tersenyum manis menghampiri sahabatnya. "Kan aku sudah bilang, aku lagi berjuang belajar buat berubah jadi lebih baik, Liz."
Eliza tersenyum lega mendengar komitmen tegar sahabatnya. "Alhamdulillah, bagus kalau begitu."
Almeera kemudian mengambil posisi duduk nyaman di samping Eliza. "Kamu hari ini sudah sarapan belum, Liz?"
"Sudah kok. Kalau kamu sendiri bagaimana?" tanya Eliza balik.
"Sudah juga dong. Tadi habis shalat subuh Mama sampai memaksa aku buat menghabiskan sarapannya sebelum berangkat," jawab Almeera terkekeh pelan.
Eliza langsung tertawa renyah mendengarnya. "Hahaha, syukurlah kalau begitu. Perhatian Mama memang terbaik." Mereka berdua pun menghabiskan sisa waktu pagi itu dengan mengobrol santai sebelum akhirnya bel kelas dimulai.
Aktivitas perkuliahan hari itu berlangsung dengan jadwal yang cukup padat dan melelahkan. Ada pendaftaran tugas kelompok baru dari dosen yang harus segera mereka selesaikan.
Dosen di depan kelas juga memberikan beberapa lembar materi tambahan yang cukup banyak, membuat seluruh mahasiswa harus rajin membaca lebih banyak buku referensi. Almeera mencatat setiap poin penjelasan dosen di papan tulis dengan sangat rapi.
Sesekali, dia juga membuka buku catatan kecil miliknya untuk memeriksa poin yang sudah dia ringkas kemarin. Sekarang, dia memang sudah mulai terbiasa membawa buku saku kecil itu ke mana mana untuk mencatat hal hal penting. Isinya bukan cuma seputar urusan materi kuliah saja, melainkan juga penuh dengan untaian nasihat berharga yang dia dapatkan dari acara kajian.
Begitu jam kelas terakhir resmi selesai ditutup oleh dosen, Almeera dan Eliza langsung melangkah pergi berjalan menuju ke gedung perpustakaan kampus. Namun tepat sebelum mereka melangkah masuk melewati pintu depan, mereka tidak sengaja melihat sosok Rafael dan Daffa sedang berjalan dari arah koridor yang berlawanan.
"Ka Rafael!" panggil Eliza menyapa ramah dari jauh.
Rafael refleks menghentikan langkah kakinya lalu menoleh. "Oh, ternyata kalian berdua."
Daffa yang berjalan di sampingnya ikut menengok dan memamerkan senyuman supelnya. "Halo semuanya."
"Eh, halo juga, Ka Daffa," jawab Almeera tersenyum sopan.
"Kalian berdua hari ini rencana mau melangkah pergi ke perpustakaan juga ya?" tanya Rafael membuka obrolan ringan harian ini.
"Iya, nih, Ka," jawab Almeera ramah.
"Lagi ada urusan tugas kuliah yang padat ya?" tanya Daffa ikut menyahut perhatian.
"Iya, bener, Ka. Ini kita lagi mau menyelesaikan urusan tugas kelompok dari dosen," jawab Eliza menjelaskan kesibukan mereka.
Daffa tampak menganggukkan kepalanya paham. "Wah, pas banget kalau begitu. Kebetulan kita berdua hari ini juga mau ke sana kok."
Akhirnya, mereka bertiga pun berjalan bersama membelah lorong kampus menuju ke perpustakaan. Di sepanjang jalan kaki, kepribadian Daffa yang bisa membuat suasana obrolan menjadi terasa sangat hidup dan banyak omong.
"Jujur kalian berdua sudah tahu belum, sih? Kalau minggu depan di kelas kita bakal ada jadwal tugas presentasi kelompok yang baru lagi?" tanya Daffa memecah keheningan koridor.
"Maksud Ka Daffa tugas presentasi yang dari mata kuliah dosen kemarin ya?" tanya Eliza memastikan ingatan.
"Iya, bener banget, tugas yang itu," jawab Daffa tegap.
Almeera langsung menghela napasnya pendek sambil memasang wajah lemas. "Aduh... tolong jangan bilang kalau sisa tumpukan tugasnya bakal banyak banget ya, Ka."
Daffa langsung tertawa renyah melihat ekspresi penderitaan adik tingkatnya itu. "Hahaha! Ya lumayan padat sih isinya, Meer, siap siap aja."
"Ih, Ka Daffa mah jahat. Harusnya jangan dikasih tahu sekarang dong infonya, bikin pusing aja," ucap Almeera cemberut bercanda.
Lengkungan senyum tipis yang hangat langsung terbit di wajah tampan Rafael setelah menonton interaksi lucu tersebut. "Meera, kamu dari dulu emangnya tipe orang yang paling nggak suka ya kalau dikasih tugas kuliah?" tanya Rafael ramah meruntuhkan kecanggungan.
Almeera menoleh lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Eh, bukan nggak suka kok, Kak. Saya murni cuma punya kebiasaan buruk paling hobi menunda nunda pekerjaan aja kemarin, hahaha."
Eliza langsung melirik jail ke arah sahabatnya. "Tapi untung banget ya, Ka, Almeera yang sekarang sudah mulai banyak berubah menjadi lebih rajin."
Almeera mengangguk pasrah membenarkan ucapan Eliza. "Iya, bener, ini lagi belajar berubah sedikit demi sedikit kok."
Begitu melangkah masuk ke dalam gedung perpustakaan, mereka segera berpencar untuk memilih meja belajar masing masing. Almeera dan Eliza mengambil posisi duduk nyaman di meja tengah, sementara Rafael dan Daffa memilih meja kosong yang letaknya tidak jauh dari mereka.
Masing masing dari mereka pun mulai tampak sibuk fokus mengetik tugas kuliah mereka di laptop. Suasana di dalam ruangan perpustakaan siang itu berjalan dengan sangat sunyi dan tenang. Hanya terdengar bunyi gesekan halaman buku yang dibalik serta suara ketikan keyboard yang beradu.
Setelah hampir satu jam penuh fokus berkutat dengan monitor laptop, Almeera akhirnya berhasil menyelesaikan sebagian besar draf ketikan tugasnya. Ia menyandarkan punggungnya dengan lemas di sandaran kursi.
"Aduh, capek banget rasanya punggungku," keluh Almeera pelan sambil merenggangkan otot tangannya.
Eliza langsung tertawa kecil melihat keluhan sahabatnya. "Loh, padahal baru juga jalan satu jam penuh kita ngetik, Meera."
"Ya justru karena sudah berjalan satu jam penuh itulah yang bikin badanku pegal semua, Liz," sahut Almeera pasrah. Eliza hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya tertawa.
Tidak lama setelah itu, Daffa tampak bangkit berdiri dari mejanya lalu berjalan santai menghampiri meja belajar mereka. "Poin ketikan tugas yang bagian paragraf ini kalian sudah selesai belum mengerjakannya?" tanya Daffa ramah sambil menunjuk laptop Eliza.
"Belum nih, Ka, masih agak bingungcari perbandingannya," jawab Eliza jujur menceritakan kendalanya.
"Oh, kalau untuk bagian materi itu, kebetulan kemarin aku baru aja mendapatkan file draf referensinya yang sangat lengkap kok," ucap Daffa menawarkan solusi.
Eliza langsung membelalakkan matanya tidak percaya. "Wah, seriusan Ka Daffa punya file referensinya?"
"Iya, serius dong, masa aku bohong," jawab Daffa santai. Lelaki itu kemudian bergerak menunjukkan beberapa sumber link artikel ilmiah di hp nya yang bisa digunakan untuk contoh tugas mereka. "Ini, silakan dicatat link nya, mungkin bisa banyak membantu tugas kelompok kalian."
"Wah, pas banget. Terima kasih banyak ya atas bantuannya, Ka Daffa," ucap Eliza merasa sangat lega.
Almeera ikut condong melihat layar hp Daffa. "Iya, nih, bener kata Ka Daffa. Penjelasan di artikel ini rasanya kelihatan jauh lebih jelas dan gampang dipahami."
Daffa langsung tersenyum ramah menatap wajah Almeera. "Nah, makanya dari sekarang tugas dosen itu jangan dibiasakan dikerjakan secara mendadak ya, Meera."
Almeera langsung mengerutkan dahinya cemberut karena merasa tersindir lagi harian ini. "Loh, kok semua orang yang saya temui dari kemarin kalimat nasihatnya kompak bilang begitu terus sih ke saya?" tanya Almeera heran.
Daffa langsung tertawa lepas melihat wajah dongkol Almeera. "Hahaha! Ya karena kenyatannya memang begitu, Meera."
Rafael yang sejak tadi diam menyimak dari mejanya akhirnya ikut memotong pembicaraan dengan senyuman tipisnya yang khas. "Sudah ah, Daffa. Tolong jangan terus menerus mengganggu fokus mereka lagi kerjain tugas."
Daffa langsung terkekeh pelan. "Oke, siap Bos Rafael!" Daffa pun akhirnya kembali berjalan membalikkan badannya menuju ke mejanya sendiri. Almeera dan Eliza pun kembali fokus melanjutkan sisa aktivitas mengetik tugas mereka dengan semangat baru.
Beberapa jam kemudian, seluruh urusan urusan ketikan tugas kelompok mereka akhirnya resmi dinyatakan selesai. Almeera dan Eliza merapikan barang bawaan mereka lalu melangkah berjalan bersama keluar perpustakaan.
Namun saat mereka baru saja menginjakkan kaki di halaman koridor luar kampus, ponsel di dalam saku Almeera mendadak bergetar pendek. Almeera merogoh sakunya untuk menyalakan layar hp. Detik itu juga, langkah kakinya mendadak berhenti total.
Ada satu pesan chat baru dari Papa yang masuk. Isinya terasa cukup singkat:
“Anak gadis Papa, maaf ya sepertinya jadwal kepulangan Papa ke Indonesia bakal tertunda dan berjalan lebih lama dari rencana awal kita kemarin. Soalnya urusan pekerjaan kantor di sini mendadak ada kendala.”
Almeera sempat terdiam membisu merenungi isi pesan teks tersebut dengan tatapan mata yang sedikit sedih. Eliza yang menyadari perubahan sikap sahabatnya itu langsung menyenggol lengannya pelan. "Loh, Meera, kamu kenapa kok mendadak melamun begitu?"
Almeera menghela napasnya panjang sambil menatap Eliza lemas. "Ini, Liz. Papa baru aja chat, katanya jadwal kepulangan beliau ke indonesia bakal tertunda lebih lama lagi."
"Sabar ya, Meera. Berarti urusan pekerjaan kantor Papa kamu di luar negeri hari ini emangnya lagi padat padatnya ya?" tanya Eliza menenangkan cemas sahabatnya.
"Iya, kayaknya sih begitu, Liz," jawab Almeera pasrah. Ia kemudian bergerak lincah mengetik kalimat balasan pendek untuk menenangkan pikiran ayahnya di sana:
“Iya, Papa sayang, nggak apa apa kok tenang aja. Selesaikan dulu semua urusan pekerjaan Papa di sana dengan tenang ya. Meera sama Mama di rumah bakal selalu setia menunggu Papa pulang.”
Pesan tegar itu langsung dikirim. Tidak butuh waktu lama, sebuah notifikasi chat balasan dari Papa langsung masuk kembali ke ponselnya.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak ya atas pengertiannya, anak gadis Papa yang soleha. Papa bakal berjuang keras kerja di sini biar urusannya bisa segera selesai beres dan bisa cepat pulang ke rumah.”
Almeera tersenyum manis membaca kasih sayang Papanya tersebut, lalu segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas ransel dengan aman.
Eliza ikut tersenyum tulus di sampingnya. "Amin, semoga aja urusan Papa kamu bisa cepat selesai beres ya, Meera."
"Aamiin, makasih banyak ya atas doanya, Eliza sayang," jawab Almeera tulus.
Secara kebetulan, posisi Rafael yang hari ini juga baru saja melangkah keluar dari perpustakaan dan berdiri tidak jauh dari mereka, sempat tidak sengaja mendengar jalannya obrolan tersebut. Rafael melangkah mendekat dengan sopan.
"Meera, aku boleh tanya? Papa kamu sampai hari ini statusnya masih berada di luar negeri ya?" tanya Rafael ramah membuka obrolan baru.
Almeera refleks menolehkan wajahnya cepat, lalu mengangguk ramah. "Eh iya, bener, Ka. Papa masih sibuk mengurus urusan pekerjaan dinas kantornya di sana."
"Oh, begitu ya ceritanya. Semoga seluruh jalannya urusan pekerjaan Papa kamu di sana bisa selalu diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah ya, Meera," ucap Rafael memberikan doa tulusnya yang sangat menyejukkan hati.
Dada Almeera mendadak terasa lapang mendengar ketulusan doa dari mulut Kak Rafael hari ini. "Aamiin ya Allah... terima kasih banyak ya atas doanya, Ka Rafael."
"Sama sama," jawab Rafael tersenyum tipis.
Di tengah suasana hangat itu, Daffa yang sudah menggendong tasnya langsung berteriak memanggil dari arah tangga depan. "Raf! Ayo buruan jalan, sepuluh menit lagi jam kelas dosen berikutnya sudah mau dimulai nih!"
"Iya, siap, sebentar!" sahut Rafael cepat. Ia kemudian membalikkan badannya kembali menatap Almeera dan Eliza untuk berpamitan dengan sopan. "Kalau begitu, kami berdua izin pamit duluan ya ke kela ya."
"Iya, silakan, Ka. Semangat ya kuliahnya!" jawab Eliza ramah sambil mengangguk sopan. Kak Rafael pun melangkah lebar berjalan cepat menyusul posisi Kak Daffa di depan tangga.
Setelah kedua cowok itu benar benar pergi menjauh, Eliza langsung menatap wajah Almeera dengan senyuman penuh arti yang jail. "Meera... dipikir pikir kamu yang sekarang kok kelihatan sudah mulai biasa dan nggak canggung lagi ya kalau pas lagi asyik mengobrol bareng sama mereka."
Almeera langsung menganggukkan kepalanya santai menanggapi ucapan sahabatnya. "Ya jelas biasa dong, Liz. Lagipula kan kita sesering itu ketemu secara tidak sengaja di kampus. Jadi wajar aja kalau lama lama pertemanan kita berjalan santai."
Eliza tersenyum semakin puas mendengarnya. "Iya sih bener, bener kata kamu, hahaha." Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan langkah kaki mereka berjalan bersama menuju ke arah gerbang luar untuk pulang.
Sore harinya, Almeera berhasil sampai di rumah dengan selamat. Setelah selesai membersihkan diri dan salat, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya yang tenang.
Ia duduk di depan meja belajar, lalu membuka buku catatan kecil kesayangannya. Pada halaman lembar draf yang baru hari ini, tangannya kembali menggoreskan pulpen untuk menulis sebuah kalimat renungan hati yang dalam:
“Hari ini, aku beneran mulai bisa memahami satu ilmu kedewasaan hidup yang baru. Bahwa esensi dari sebuah proses berubah menjadi lebih baik itu, murni bukan berarti kita harus memutus hubungan atau merubah jati diri kita menjadi sosok orang lain yang asing.”
Almeera menahan gerakan pulpennya sejenak, menarik napas dalam, lalu kembali melanjutkan goresan tintanya:
“Aku hari ini tetaplah sosok Almeera yang sama seperti dulu. Aku masih diperbolehkan buat melempar candaan receh, masih bisa tertawa lepas bersama teman teman, dan masih boleh menjalin hubungan pertemanan yang luas dengan siapa saja di kampus. Namun, perbedaan besarnya adalah diriku yang sekarang harus tetap pintar untuk selalu tahu dalam menentukan hal apa saja yang beneran berakibat baik buat masa depan jiwaku.”
Almeera menghentikan gerakan tangannya selama beberapa detik, matanya menatap dalam dalam ke arah tulisan tangannya sendiri, sebelum akhirnya mengukir kalimat tambahan yang indah
“Dan untuk dari sekarang, aku juga bertekad ingin berjuang fokus menjadi sosok anak perempuan terhormat yang jauh lebih bisa menghargai dan menyayangi kehadiran kedua orang tuaku.”
Almeera memandangi kalimat indah tersebut dengan lengkungan senyum tipis yang tulus di wajah manisnya. Memori di kepalanya otomatis kembali teringat pada kabar penundaan kepulangan Papanya tadi siang.
Ia merenung jujur, jika mengingat masa lalunya yang dulu, isi pikirannya selalu konyol karena terlalu sibuk membuang energi hanya untuk memikirkan keegoisan duniaku sendiri. Dulu dia sama sekali tidak pernah mau peduli tentang betapa banyak sisa waktu dan tenaga yang rela dihabiskan Papa untuk bekerja keras membanting tulang di negeri orang demi membahagiakannya. Namun hari ini, dia akhirnya mulai bisa melihat kenyataan hidup tersebut dari sudut pandang cara berpikir yang jauh lebih dewasa. Dia berjanji tidak mau lagi menjadi anak perempuan yang egois yang hanya mementingkan urusan cintanya sendiri.
Almeera mengembus napas leganya dengan sangat damai, lalu segera menutup buku catatannya dengan rapat. Ia bergerak mengambil ponselnya yang ada di atas meja untuk membuka ruang obrolan chat Papanya. Belum ada pesan teks tambahan yang masuk dari sana. Almeera tersenyum manis menatap foto profil ayahnya. "Ya Allah... tolong selalu jaga kesehatan Papa di sana, semoga Papa selalu baik baik saja," bisik Almeera tulus penuh harap sebelum meletakkannya kembali jauh jauh.
Sepanjang sore hingga malam hari ini, memang tidak ada kejadian besar yang dramatis yang terjadi di hidupnya. Tidak ada momen pertemuan romantis yang heboh, dan tidak ada juga perubahan takdir hidup yang berubah secara instan.
Namun uniknya, Almeera tahu betul bahwa hari ini dia telah berhasil belajar satu ilmu kedewasaan hidup yang sangat mahal. Bahwa esensi dari sebuah proses pertumbuhan mental dan spiritual itu ternyata tidak selalu harus ditunjukkan lewat sebuah gebrakan perubahan besar yang mencolok di mata orang lain. Terkadang, pertumbuhan jiwa yang matang itu justru akan terlihat nyata dari bagaimana cara berpikir seseorang dalam memilih untuk bersikap dewasa saat menghadapi masalah hidup sehari hari.
Dulu, di masa lalunya saat diterpa masalah patah hati, Almeera adalah tipe gadis yang sangat lemah dan paling mudah untuk memilih menyerah meratapi kesedihan. Namun hari ini, dia membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri tegar untuk bertahan menghadapi ujian takdir dengan senyuman.
Dulu, dia selalu bertingkah bodoh karena selalu sibuk mencari pengakuan cinta dari seorang manusia seperti Kaizan hanya agar dirinya bisa merasa bahagia. Namun hari ini, dia akhirnya berhasil belajar merasa cukup dan damai dengan mencintai nilai dirinya sendiri seutuhnya selaku seorang perempuan terhormat. Dan dulu dia sempat dirundung ketakutan besar bahwa lembaran roda kehidupannya akan berjalan kosong tanpa kehadiran Kaizan. Namun kenyataan hari ini membuktikan hal yang sebaliknya dia justru mulai bisa melihat bahwa masa depannya ternyata masih memiliki banyak sekali hal hal indah dan bermakna lainnya yang sangat layak untuk dia jalani ke depannya.
Masih ada kasih sayang keluarga hangat dari Papa dan Mama yang harus dia jaga, ada kesetiaan persahabatan tulus dari Eliza yang selalu mendampinginya, ada urusan tugas kuliah dosen yang harus diselesaikan, ada kualitas iman ibadah yang harus ditingkatkan, dan ada sebuah perjalanan panjang untuk kembali menemukan jati dirinya sendiri seutuhnya di atas jalur agama.
Di tempat yang berbeda, posisi Rafael dan Daffa sore hari menjelang magrib itu tampak masih berjalan kaki santai membelah halaman luar untuk melangkah keluar meninggalkan area kampus.
Daffa tiba tiba menolehkan wajahnya cepat menatap wajah sahabatnya itu dengan senyuman jailnya yang khas. "Rafael, gua boleh bilang sesuatu? Gua perhatiin belakangan ini lu kok ketemunya bareng sama Almeera jadi kelihatan sering banget ya."
Rafael langsung menghentikan jalannya sebentar, lalu menjawab dengan nada suara yang sangat tenang dan berwibawa seperti biasanya. "Ya kan sudah gua jelasin kemarin, Daffa. Semua rentetan papasan itu terjadi murni karena kebetulan saja kok, nggak ada yang sengaja direncanakan."
Daffa mengangguk angguk puas mendengar penjelasan jujur sahabat dekatnya tersebut, namun matanya masih memancarkan binar jail. "Oh, begitu ya ceritanya. Oke, siap, hahaha." Setelah itu, tidak ada lagi pembahasan pembicaraan lebih lanjut mengenai sosok Almeera keluar dari mulut mereka berdua.
Rafael sendiri memilih untuk tidak mau memikirkan ucapan jail Daffa tadi secara berlebihan di luar batas kewajaran. Bagi pandangan Rafael saat ini, status eksistensi Almeera di hidupnya murni hanyalah sebatas seorang teman adik tingkat biasa yang kebetulan dia kenal karena sering berpas pasan di lingkungan kampus dan tempat kajian rutin.
Dan uniknya, kondisi itu berjalan nyata sama persis dengan apa yang ada di dalam lubuk hati Almeera saat ini. Di antara mereka berdua hari ini memang sama sekali belum ada ikatan janji manis apa pun, dan belum ada juga percikan perasaan asmara yang harus terburu buru dipaksakan kehadirannya harian ini.
Mereka berdua murni hanyalah dua orang manusia asing yang saat ini sedang berfokus menjalani proses perjalanan hijrah spiritual mereka masing masing dari nol di atas jalurnya sendiri.
Namun mungkin, justru karena seluruh rentetan pertemuan di antara mereka selama ini selalu berjalan mengalir secara alami tanpa pernah direncanakan atau diduga sebelumnya oleh isi pikiran manusia rentetan insiden kebetulan kecil yang sederhana itulah yang kelak secara perlahan lahan dipastikan akan memiliki esensi dan arti yang jauh lebih besar dan sakral bagi masa depan mereka berdua di kemudian hari nanti.