Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Salah satu hal yang paling jarang dilakukan oleh Vita adalah menunggu. Saat menunggu, ia sering memikirkan hal-hal buruk. Segala yang tak didapatkannya dalam hidup, wara-wiri di benaknya. Ia jadi berpikiran negatif. Ia jadi merasa sendiri. Itulah alasan Vita tak suka menunggu. Tapi saat ini, ia sudah menunggu di depan rumah Tiara lebih dari dua puluh menit. Ia tidak tahu di rumah ada orang atau tidak. Sejak tadi ia mengetuk dan menyerukan nama Tiara, tak ada yang keluar, pintunya juga terkunci. Ia sudah mencoba menghubungi Tiara, tapi tak dijawab.
Vita bangkit berdiri dari kursi. Ia berdiri di muka daun pintu, kepalan tangannya terangkat. Ini sudah ketukkan kali ke tujuh. Hasilnya tetap sama dengan ketukkan yang pertama. Ia berharap terlalu tinggi pada peluang kecil jikalau Tiara tertidur di dalam sana, dan pada akhirnya gadis itu akan terjaga oleh ketukkannya. Namun hal itu tidak juga terjadi.
Vita duduk kembali. Ia akan menunggu sebentar lagi. Ia tak bisa pulang begitu saja. Jauh-jauh ia datang ke sini dengan kue ulang tahunnya, masa ia harus membawanya kembali. Artinya ia hanya buang-buang waktu dan tenaga ke sini.
Dengan bosan Vita menghidup-matikan ponselnya. Ia menghembuskan napas panjang. Kemudian menutup kuapnya yang semakin sering terjadi. Matanya menjadi sayu, pupilnya menyempit, kelopak matanya nyaris saja jatuh menimpa kantung mata. Mengantuk.
Ia pulang saja, akhirnya Vita memutuskan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali setelah menjatuhkan ponselnya ke dalam tas. Dikaitnya lagi plastik kue di atas meja. Ia makan saja kue ini sendiri.
Atau ia tinggalkan saja?
“Tiara!” panggil Vita terkahir kalinya.
Tak ada jawaban.
Vita berbalik. Langkah gontai membawanya menuju pintu gerbang dengan perlahan. Sinar matahari yang menyengat tak terlalu di perdulikannya. Ia kecewa parah. Selain untuk mengantarkan kue, ia datang ke sini juga untuk mencari tahu apa yang salah dengan hubungannya dengan Tiara. Kenapa sepupunya itu sokonyong-konyong bertingkah seperti ini padanya. Apa salahnya?
“Vita!”
Kaki Vita berhenti. Dengan satu hembusan napas, Vita berputar.
Gadis itu, sepupunya, Tiara, tengah berdiri di belakang ambang pintu. Ia nampak rapi. Tak ada tanda-tanda baru terjaga. Bukankah ini sedikit keterlaluan?
Jangan marah, jangan marah, jangan marah, Vita melafalkan kalimat itu seperti doa. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak marah. Jika ia marah, ia tak akan bisa meluruskan masalah apapun yang mereka miliki. Atau tepatnya, Tiara miliki. Ia sangat tahu bagaimana sifat Tiara. Tiara akan tambah bertingkah menyebalkan jika ia tak bicara baik-baik.
“Baru bangun tidur?” tanya Vita, membodohi diri sendiri. Ia berjalan di belakang Tiara. Ini kali bukan pertama ia datang ke sini. Rumah ini tak lebih besar dari rumahnya. Warna dindingnya lebih gelap dari tempatnya. Ada banyak foto dan lukisan yang menempel di dinding. Berbeda sekali dengan rumahnya yang terang dan penuh cahaya, rumah Tiara lebih redup. Atmosfernya mengundang kantuk.
“Enggak. Lo juga udah tahu.”
“Kenapa gak bukain pintu?”
“Males,” jawab Tiara ketus.
Sabar.Vita menarik napas. “Nih,” ia mengulurkan kuenya, “kue tar. Aku pesen kesukaan kamu. Keju.”
“Taro’ aja di situ,” Tiara menunjuk meja yang berantakan. Kemudian ia menghempaskan dirinya ke sofa pendamping yang berwarna krim. Matanya sama sekali tidak memandang Vita sekejap pun.
Vita meletakkan kue ke tempat yang dimaksud Tiara, lalu menjatuhkan dirinya di sebelah sepupunya itu. Sesaat tak ada yang berbicara. Vita sedang memikirkan apa yang membuat Tiara bersikap seperti ini, sebelum menanyakannya secara langsung. Sedang Tiara, ia terlihat sibuk dengan sesuatu yang tak dapat tertangkap oleh mata Vita.
Pada akhirnya, Vita mengangkat suara, dan bertanya, “Kenapa kamu gak ngangkat teleponku, Ra? Chat-ku juga gak di bales.”
“Males.”
“Kenapa males?”
“Emang gue harus bilang alasannya sama lo?”
“Enggak ‘gitu...”
“Terus?” Akhirnya, Tiara mengangkat wajahnya, ia memandang Vita dingin. Yang menurut Vita salah satu ekspresi yang paling tak pantas Tiara pasang.
“Kita itu punya masalah apa, sih, Ra, sebenernya?”
“Gak ada.”
“Kita ini udah mau lulus SMA, Ra, bukan anak SD lagi, kalo ada yang salah tinggal bilang. Kalo aku ada omongan yang nyinggung kamu, sorry.”
“‘Sorry?’ Lo kira kata itu doang bisa bikin gue baikkan?”
“Terus aku harus ‘gimana?”
“Gak usah deket-deket sama Rafka.”
“Rafka?” Kening Vita mengernyit. “Cuma karena dia kamu marah-marah kayak ‘gini sama aku? Kita cuma temenan, Ra.”
“Tapi Rafka suka sama lo.”
“Kalo dia memang suka sama aku, terus aku harus ‘gimana? Bilang ‘jangan suka sama aku, Tiara suka sama kamu’, ‘gitu? Kamu berlebihan tahu gak, Ra. Lagian aku juga gak suka sama dia ke arah yang kamu pikirin itu, kok.”
“Gak suka apa belum suka?”
“Ya mana aku tahu...” Subahanallah, dari mana ia akan tahu apakah nanti ia akan menyukai seseorang atau tidak. Tiara betul-betul membuat kesal. “Kalo pun nanti aku suka sama dia, terus kenapa? Pacaran?”
Tiara bangkit berdiri. “Lo gak tahu rasanya suka sama orang bertahun-tahun, Ta. Dan ujung-ujungnya orang itu suka sama saudara lo.” Volume suara Tiara meninggi, matanya mulai memerah, berkilat-kilat. “Kalo lo ada di posisi gue, lo gak bakalan bilang gue berlebihan!”
Tak sabar lagi, Vita ikut berdiri, ia berkata, “Kalo aku jadi kamu, Ra, aku gak bakal musuhin saudaraku cuma gara-gara cowok. Aku gak bakal ngelarang saudaraku buat deket sama cowok yang aku suka. Toh, perasaan kamu baru suka juga, belum lebih. Kalo nantinya cowok itu lebih milih saudaraku, aku bakal ngerelain.” Ia sungguh-sungguh akan melakukan itu jika ia ada di posisi Tiara. Ia tak akan merusak hubungan yang sudah lebih dulu ada untuk sesuatu se-absurd suka-sukaan anak SMA. “Kita bahkan belum lulus SMA, Ra. Siapa yang tahu nantinya perasaan kamu sama Rafka bakalan ilang? Tapi kamu udah bikin jarak sama hubungan yang lain.”
Tiara terpaku. Mencerna perkataan Vita, barangkali. Mempertimbangkan kemungkinan Vita akan melakukan apa yang diucapkannya. Mungkin Tiara berpikir, Vita hanya mengatakannya agar mereka berbaikkan.
“Lo bilang kayak gitu karena...” Tiara memulai.
“Aku memang gak ngerasainnya,” balas Vita dingin. Ia terlanjur marah karena sempitnya pikiran Tiara. Dulu saja, Tiara selalu mengolok-olok orang yang bertingkah seperti dia sekarang ini. Nah, sekarang dia yang bersikap seperti itu.
“Kamu gak mau ‘kan kuenya?” tanya Vita. Sebelum jawabannya keluar dari mulut Tiara, ia sudah lebih dulu menjambretnya, dan berlalu dari ruangan itu. Ia tak akan menghubungi Tiara atau datang ke sini lagi sebelum Tiara menyadari kegilaannya pada Rafka.
\*\*\*
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪