Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut Abadi
Dieng tidak pernah benar-benar tidur. Di ketinggian dua ribu meter di atas permukaan laut, dataran tinggi ini diselimuti oleh embun upas—embun racun yang dinginnya sanggup mematikan tanaman dalam semalam. Bagi orang awam, Dieng adalah negeri di atas awan yang cantik. Namun bagi Arka dan Alea, kabut tebal yang menyapu jalanan berkelok itu adalah tabir yang menyembunyikan maut.
Mobil sedan hitam yang mereka tumpangi dari Jakarta telah diganti dengan SUV berpenggerak empat roda yang lumayan berumur agar tidak mencolok di antara kendaraan sayur penduduk lokal. Rio duduk di kursi belakang, memangku laptop yang layarnya redup, mencoba menembus enkripsi frekuensi radio yang memenuhi area pegunungan ini.
"Ada gangguan elektromagnetik yang sangat kuat di depan, Tuan," bisik Rio. "Bukan dari alam. Ini frekuensi militer tingkat tinggi. Jika kita maju satu kilometer lagi, kita akan masuk ke dalam jaring radar mereka."
Arka menghentikan mobil di pinggir tebing yang curam. Ia mematikan lampu depan. Kegelapan total langsung menyergap, hanya menyisakan siluet pepohonan pinus yang bergoyang tertiup angin kencang.
"Kita jalan kaki dari sini," ucap Arka. Suaranya tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan.
Alea memeriksa senjatanya di bawah cahaya lampu kabin yang redup. Ia mengenakan jaket parka tebal berwarna hitam untuk melawan suhu yang merosot hingga lima derajat Celcius. Di sakunya, sketsa dari makam ayahnya terasa seperti beban yang membakar kulitnya.
"Arka, kau yakin denah ini merujuk pada kawah yang sudah mati itu?" tanya Alea, menunjuk ke arah lembah yang tertutup kabut pekat di bawah mereka.
"Ayahmu menyebutnya 'Laboratorium Melati'. Dalam catatan kolonial Belanda yang pernah aku baca secara rahasia di arsip Malik, itu adalah sebuah stasiun telegraf bawah tanah yang dibangun di atas retakan geotermal. Panas bumi di sana digunakan sebagai sumber energi murni yang tidak pernah mati," Arka turun dari mobil, diikuti Alea dan Rio.
Mereka bergerak seperti hantu di antara barisan pohon akasia. Tanah Dieng yang gembur dan basah membuat langkah kaki mereka nyaris tak terdengar. Namun, indra Arka tetap waspada. Ia mencium sesuatu di udara—bukan bau sulfur khas kawah, melainkan bau minyak pelumas senjata dan asap rokok yang masih baru.
"Tiarap!" Arka menekan bahu Alea.
Beberapa detik kemudian, sebuah lampu sorot raksasa menyapu lereng bukit dari arah menara pemantau yang disamarkan sebagai menara telekomunikasi warga. Lampu itu bergerak lambat, mencari gerakan sekecil apa pun di tengah kabut.
"Itu mereka," bisik Rio, menunjuk ke arah lembah.
Di dasar lembah, di antara kepulan asap putih yang keluar dari celah-celah batu, berdiri sebuah struktur beton bergaya art deco yang setengah tertimbun tanah. Bangunan itu tampak kuno, namun kabel-kabel serat optik baru yang tebal merambat di dindingnya seperti urat nadi hitam. Di depannya, dua kendaraan lapis baja ringan terparkir dengan senapan mesin terpasang.
"Luciferus tidak membuang waktu," ucap Alea, matanya berkilat penuh amarah. "Mereka sudah mulai menggali."
"Mereka mencari terminal utama 'Tabut Hitam'," Arka mengeluarkan teropong taktisnya. "Jika mereka berhasil menghubungkan terminal itu dengan satelit Ouroboros, mereka bisa melihat setiap inci pergerakan di Asia Tenggara tanpa perlu satelit baru. Mereka akan menguasai mata dunia."
"Apa rencananya?" tanya Alea.
"Rio, kau cari titik distribusi kabel luar. Putus komunikasi mereka tapi biarkan sistem keamanan internal tetap menyala agar mereka tidak segera curiga. Alea, kau ikut aku ke pintu udara di bagian belakang. Kita masuk melalui saluran pembuangan panas."
Menyusup ke Laboratorium Melati adalah perjalanan menuju perut bumi. Saluran pembuangan panas itu sempit dan lembap. Alea bisa merasakan hawa hangat yang keluar dari dinding beton, kontras dengan udara Dieng yang membekukan.
Saat mereka berhasil keluar dari saluran dan mendarat di koridor lantai bawah, pemandangan di dalam bangunan itu membuat Alea terpaku. Dindingnya penuh dengan arsip-arsip kertas tua yang sudah menguning, namun di tengah ruangan utama, sebuah superkomputer modern berdiri tegak, terhubung dengan mesin telegraf kuno yang berdetak sendiri.
Tik... tik... tik-tik...
"Itu kode Morse," bisik Alea. "Mesin itu masih menerima sinyal."
"Bukan menerima, Alea. Mesin itu sedang memancarkan lokasi kita," Arka menarik Alea ke balik lemari arsip besar saat dua orang penjaga berseragam hitam melintas di koridor depan.
Mereka bergerak cepat menuju ruang arsip inti. Di sana, Alea melihat sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti. Di atas meja kerja besar, tergeletak tas kerja kulit tua milik ayahnya. Tas yang seharusnya terkubur bersama jenazahnya.
Alea berlari menuju meja itu, mengabaikan peringatan Arka. Ia membuka tas itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tidak ada dokumen, melainkan sebuah perekam suara digital kecil dan sebotol kecil cairan kimia bening.
"Ayah..." bisik Alea.
Ia menekan tombol play. Suara Hendra Senja terdengar, namun bukan suara yang lembut. Itu suara yang dingin, penuh perhitungan, suara seorang analis intelijen yang tahu hidupnya akan berakhir.
"Alea, jika kau sampai di sini, artinya kau sudah menemukan rahasia terakhirku. Laboratorium ini bukan hanya stasiun telegraf. Ini adalah perangkap. Luciferus tidak mencari data... mereka mencari kunci biologis yang hanya ada dalam darah keluarga kita. Larilah, Alea. Jangan biarkan mereka mengambilmu."
Tiba-tiba, lampu ruangan berubah menjadi merah darah. Pintu baja di belakang mereka tertutup dengan dentuman keras.
"Selamat datang di rumah, Alea Senja," suara seorang pria bergema melalui pengeras suara. Bukan suara Vane, bukan suara ibunya. Ini suara yang lebih berat, penuh dengan wibawa yang gelap. Luciferus.
"Arkaen, kau selalu menjadi pion yang menarik. Membawa 'kunci' itu langsung ke tanganku adalah jasa yang sangat besar," lanjut suara itu.
Sebuah layar besar di dinding menyala, memperlihatkan seorang pria dengan janggut rapi dan luka parut yang melintang di mata kirinya. Ia duduk di sebuah kursi tinggi yang tampak seperti takhta.
"Kau membongkar makam ayahku hanya untuk ini?" teriak Alea.
"Makam itu hanyalah undangan, anak manis," Luciferus tersenyum tipis. "Ayahmu menyembunyikan protokol enkripsi 'Tabut Hitam' di dalam struktur DNA-mu. Aku tidak butuh jenazahnya. Aku butuh kau, hidup-hidup, untuk membuka gerbang dunia yang baru."
Arka langsung berdiri di depan Alea, menodongkan pistolnya ke arah kamera pengawas. "Kau tidak akan menyentuhnya, bajingan."
"Oh, Arkaen. Selalu heroik. Tapi kau lupa satu hal... di tempat seperti ini, oksigen adalah kemewahan."
Suara desisan gas mulai terdengar dari ventilasi. Alea merasakan kepalanya mulai pening. Ini adalah gas bius yang sama kuatnya dengan yang digunakan Caleb, namun dengan konsentrasi yang lebih mematikan.
"Arka... pintunya..." Alea merosot ke lantai.
Arka mencoba menembak pintu baja itu, namun pelurunya hanya memantul sia-sia. Ia melihat ke arah tas ayahnya lagi. Botol kecil berisi cairan bening itu. DNA.
Arka menyambar botol itu dan memecahkannya ke arah sensor biometrik di meja utama. Cairan itu bukan hanya sekadar cairan, itu adalah katalis kimia yang dirancang Hendra Senja untuk merusak sistem jika disentuh oleh tangan yang salah.
BZZZZTTT!
Sirkuit komputer itu meledak dalam percikan api. Sistem keamanan mengalami arus pendek. Pintu baja itu terbuka sedikit.
"Alea! Bangun!" Arka mengangkat tubuh Alea, mengalungkan lengan gadis itu di lehernya.
Dengan sisa tenaganya, Arka menerjang keluar ruangan melewati kepulan asap. Di luar, Rio sudah menunggu dengan SUV, melepaskan tembakan beruntun ke arah para penjaga yang mulai mengepung.
"Masuk! Masuk!" teriak Rio.
Mobil itu melesat menjauh dari Laboratorium Melati tepat saat gedung itu mulai memicu protokol penghancuran diri yang dipicu oleh kerusakan sensor tadi. Sebuah ledakan besar mengguncang dataran tinggi Dieng, mengirimkan bola api ke langit malam yang pekat.
Satu jam kemudian, di sebuah gubuk petani kentang yang ditinggalkan jauh dari lokasi ledakan, Alea tersadar. Kepalanya masih terasa berputar, namun ia segera mencari Arka. Pria itu sedang duduk di sudut, tangannya berlumuran darah karena pecahan kaca, namun matanya tetap waspada menatap jendela.
"Kita kehilangan segalanya," bisik Alea. "Data itu... tas Ayah... semuanya hancur."
Arka menggeleng. Ia mengambil perekam suara digital yang sempat ia selamatkan. "Ayahmu tidak ingin data itu jatuh ke tangan siapa pun, Alea. Bahkan ke tangan kita. Dia ingin 'Tabut Hitam' terkubur selamanya. Tapi Luciferus sekarang tahu bahwa 'kunci' itu ada padamu. Kau bukan lagi sekadar saksi, Alea. Kau adalah target utama."
Alea menatap tangannya. Ia merasa ngeri mengetahui bahwa di dalam darahnya tersimpan sesuatu yang diinginkan oleh monster global.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alea.
Arka berdiri, mendekati Alea dan menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti berlari. Jika mereka ingin 'kunci' ini, kita akan memberikannya... tapi di dalam kotak peti mati mereka sendiri. Kita akan kembali ke Jakarta, Alea. Tapi kali ini, kita tidak akan bersembunyi. Kita akan memancing Luciferus keluar dari bayangannya."
Di luar, kabut Dieng mulai menipis, memperlihatkan fajar yang dingin. Perang antara Ouroboros dan para penyintas ini baru saja berpindah ke level yang lebih pribadi. Alea Senja bukan lagi hanya seorang jurnalis; ia adalah pusat dari badai dunia, dan Arkaen Malik adalah pedang yang akan memastikan badai itu menghancurkan siapa saja yang mencoba menghentikannya.