NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naluri Bekerja

Kabut masih menggantung di kebun ketika Pak Raka membawa keranjang pertama keluar. Jambu-jambu muda mengisi dahan rendah, sementara di sisi lain, pohon jeruk mulai berat oleh buahnya. Lebih jauh, beberapa batang apel kecil berdiri seperti percobaan yang belum selesai.

Jovan sudah berdiri.

Perbannya masih baru.

Tapi tubuhnya bergerak seolah tidak ada luka.

“Jangan ikut,” kata Mika cepat.

Jovan mengambil keranjang dari tangan Pak Raka. “Aku bisa.”

“Itu bukan bisa,” suara Mika menegang. “Itu memaksa.”

Jovan tidak menjawab.

Ia melangkah masuk ke kebun, jari-jarinya meraih buah pertama dengan gerakan hati-hati, tapi keras kepala.

Setiap tarikan membuat bahunya menegang. Namun ia tetap bekerja. Bukan karena uang. Bukan karena ingin membantu. Seperti naluri.

Seperti orang yang kalau berhenti bergerak… akan mulai mengingat terlalu banyak.

Pak Raka memperhatikan dari belakang. Tatapannya tidak bertanya.

Mika mengikuti beberapa langkah, masih dengan napas yang belum tenang. “Kau baru kemarin hampir pingsan.”

Jovan memetik satu jambu lagi, menaruhnya pelan ke keranjang. “Aku tidak pingsan.”

“Kau jatuh duduk.”

“Itu beda.”

Mika mendengus kecil, tapi tidak ada tawa di situ.

Ia mendekat, menatap perban di bahu Jovan yang mulai sedikit basah oleh keringat.

“Kau pikir luka tembak bisa sembuh dengan pura-pura?”

Jovan berhenti sebentar.

Tangannya menggantung di udara, jari-jari masih menyentuh daun. “Aku tidak pura-pura.”

“Lalu apa?”

Jovan menoleh. Matanya tenang. Terlalu tenang untuk pria yang seharusnya sedang beristirahat. “Kalau aku diam… aku dengar terlalu banyak.”

Mika membeku. “Dengar apa?”

Jovan tidak menjawab langsung. Ia kembali memetik.

Suara buah jatuh ke keranjang terdengar seperti jam.

Pak Raka akhirnya bicara dari belakang. “Kerja itu obat untuk orang yang pikirannya ribut.”

Jovan tidak menoleh.

“Dan racun,” tambah Pak Raka, suaranya datar, “untuk orang yang tubuhnya belum siap.”

Mika menatap ayahnya.

Pak Raka tidak pernah banyak bicara. Kalau ia bicara, biasanya ada sesuatu di baliknya.

Jovan menggeser posisi sedikit, bahunya kaku. Ia menahan napas, lalu melanjutkan.

Mika melihatnya. Cara dia menahan sakit itu bukan seperti orang desa. Bukan seperti buruh kebun yang terbiasa luka kecil. Ini cara orang yang sudah terlalu lama hidup dengan rasa sakit.

Ia memungut keranjang kedua. “Kalau kau keras kepala, aku juga.”

Jovan melirik. “Kau tidak hadir...”

“Aku mau.” Mika melangkah ke sisi pohon jeruk. Buah-buahnya lebih berat. Aromanya tajam.

Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya tidak. Ia mencuri pandang lagi.

Di balik kaus lusuh yang dipakai Jovan, kulit di lengannya terlihat sedikit. Dan di sana…Garis tinta. Bukan satu. Beberapa. Tato. Tidak besar seperti preman pasar. Tapi rapi.

Simbol-simbol yang tidak ia mengerti.

Mika menelan ludah. Ia tidak bertanya. Karena pertanyaan itu seperti membuka pintu. Dan ia belum siap melihat apa yang ada di baliknya.

Mereka bekerja dalam hening beberapa menit. Kabut mulai naik.

Tangannya menekan sisi bahunya sebentar.

Pak Raka langsung melihat.

“Cukup.”

Jovan menggeleng kecil. “Belum.”

“Jangan bodoh.”

Jovan mengangkat wajah.

“Aku sudah terlalu lama bodoh untuk berhenti sekarang.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Mika membeku.

Pak Raka menatapnya lama.

“Kalimat orang kota.”

Jovan tidak menjawab.

Ia mengambil satu apel kecil dari pohon yang paling ujung.

Buahnya belum sempurna.

Sedikit masam. Tapi hidup.

Ia menatapnya sebentar sebelum memasukkannya ke keranjang. Seolah ada sesuatu dalam buah itu yang mengingatkannya pada sesuatu yang lain.

Pak Raka berjalan mendekat dengan pincangnya. Langkahnya berat, tapi terukur.

“Kau punya nama asli?”

Jovan diam.

Mika menahan napas.

Pertanyaan itu seperti batu dilempar ke air tenang.

Jovan akhirnya menjawab, pelan. “Nama tidak penting.”

Pak Raka mengangguk. “Kalau begitu, masa lalu juga tidak penting.”

Jovan menatapnya. Ada sesuatu tajam di mata itu.

Pak Raka melanjutkan, suaranya tetap rata. “Tapi orang dengan luka tembak jarang jatuh ke desa karena kebetulan.”

Mika menoleh cepat. “Ayah…”

Pak Raka mengangkat tangan, menghentikannya. Ia tidak sedang menuduh. Ia hanya menyebut fakta.

Jovan berdiri diam.

Lalu ia berkata singkat.

“Aku tidak mencari desa ini.”

Pak Raka menatapnya.

“Tapi sesuatu mencarimu.”

Hening turun sebentar.

Angin lewat di sela daun jambu.

Keranjang sudah hampir penuh.

Dan Mika tiba-tiba merasa kebun ini bukan lagi tempat aman. Bukan karena Pak Raka.

Karena sesuatu yang tak terlihat.

Sementara itu di kota, Levis duduk di ruangan ber-AC.

Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca jendela.

Di tangannya, segelas kopi hitam. Tidak ada gula. Tidak ada manis.

Anak buahnya berdiri beberapa langkah. “Dia masih di desa,” laporan itu singkat.

Levis tersenyum tipis. “Bagus.”

Ia berdiri, merapikan jasnya.

“Biarkan dia merasa aman sebentar.”

Anak buah itu ragu. “Bos… apa kita perlu turun langsung?”

Levis menoleh, matanya dingin.

“Kalau aku turun terlalu cepat…” Ia berhenti sebentar.

“…dia akan lari lagi.” Ia melangkah ke meja, mengambil ponsel. “Jovan bukan tikus.”

Senyumnya kecil. “Dia serigala yang pura-pura jadi manusia.”

Ia mengetuk layar. “Serigala tidak dipancing dengan peluru.”

Ia mengangkat wajah.

“Mereka dipancing dengan sesuatu yang mereka lindungi.”

Anak buah itu mengangguk. “Desa itu?”

Levis menatap keluar jendela.

“Desa itu hanya kandang.”

Ia memasukkan ponsel ke saku.

“Kita butuh mata di sana.”

Satu perintah jatuh.

“Kirim orang. Jangan ganggu. Jangan muncul.”

“Cuma lihat.”

“Dan tunggu sampai dia lupa…”

Levis berhenti, suaranya turun.

“…kalau dia sedang diawasi.”

.

Sore kembali di Sumberjati.

Keranjang-keranjang diturunkan ke teras.

Pak Raka duduk sebentar, napasnya berat.

Mika menuang air.

Jovan berdiri di samping sumur, membasuh tangan. Saat ia mengangkat lengan, Mika kembali melihat tato itu.

Mika berdiri di ambang pintu.

“Besok… kau istirahat saja, tidak perlu ikut ke kebun. Perhatikan lukamu.”

Jovan tidak menoleh.

“Kita lihat saja besok.”

Mika ingin membantah. Tapi kata-katanya tertahan. Karena suara Jovan bukan suara orang keras kepala biasa. Itu suara seseorang yang sedang menyiapkan diri. Untuk sesuatu yang belum datang. Tapi pasti.

.

Pagi tadi di balai dusun, orang suruhan Levis sudah mendapatkan yang ia butuhkan. Bukan informasi besar. Justru potongan kecil seperti nama Pak Raka, kebiasaan Mika ke kebun pagi hari, dan satu fakta penting, desa ini tidak suka kejutan.

Itu cukup.

Mereka tidak akan mendekat. Tidak akan bicara. Tidak akan meninggalkan jejak. Mereka hanya akan ada.

Jovan berdiri di teras rumah Pak Raka, memandangi jalan kecil yang mulai ramai.

Orang-orang lewat, menyapa, tersenyum. Tapi beberapa wajah yang kemarin sering muncul… hari ini tidak terlihat.

Naluri lamanya bergetar.

Orang itu tidak lewat pagi ini.

Jovan menunggu sebentar lebih lama dari biasanya.

Tidak ada langkah lambat.

Tidak ada suara tongkat menyentuh batu.

Ia tidak merasa cemas.

Ia merasa… yakin.

Di tempat kecil seperti ini, orang tidak berhenti lewat tanpa alasan.

Di Valenport, itu pertanda satu hal, pengamat sudah diganti.

Ia masuk ke dalam rumah. Mika sedang menyiapkan sarapan, rambutnya diikat sederhana, gerakannya tenang. Tidak ada yang berubah dari gadis itu. Dan justru itu yang membuat dada Jovan mengeras.

“Mika,” panggilnya pelan.

“Ya?”

“Siapa saja yang biasanya lewat depan rumah pagi-pagi?”

Mika berpikir sejenak. “Pak Darto. Bu Sari. Anak-anak sekolah.”

“Dan hari ini?”

Mika menoleh ke luar. Baru menyadari. “Pak Darto tidak lewat.”

Jovan mengangguk tipis. Satu pola kecil. Tapi ia tidak membutuhkan lebih.

Ia duduk, menunduk, menyatukan kepingan di kepalanya. Ledakan. Peluru. Cara serangan itu dieksekusi. Terlalu bersih untuk pembunuh jalanan. Terlalu rapi untuk musuh kecil.

Bukan anak buah.

Levis tidak menyuruh siapa pun mengawasi rumah itu.

Ia hanya berbicara dengan satu orang tua di tikungan jalan.

Tentang jalan yang terlalu sering dilalui.

Tentang orang asing yang sebaiknya tidak didekati.

Pria itu mengangguk cepat.

Terlalu cepat.

Besoknya, jalan itu sepi.

Levis tersenyum kecil.

Desa selalu patuh jika disentuh di titik yang tepat.

Jovan menarik napas panjang.

Ia tahu. Ini keluarga. Sepupu.

Ia mengepalkan tangan, lalu melepaskannya lagi. Tidak ada kemarahan yang meledak. Yang ada justru kejernihan dingin sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

“Ada apa?” tanya Mika, suaranya lebih pelan.

Jovan menatapnya. Lama. Terlalu lama. “Aku pikir… aku tidak bisa tinggal terlalu lama,” katanya akhirnya.

Mika menegang. “Karena desa?”

“Karena aku,” jawab Jovan jujur.

Kejujuran itu membuat Mika terdiam. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak menuntut penjelasan. Tapi matanya menyimpan sesuatu ketakutan yang tidak ingin ia akui.

Jovan berdiri, berjalan ke jendela. Dari sudut pandangnya, ia bisa melihat batas desa pepohonan rapat, jalan kecil yang mengarah ke luar.

Dia sudah dekat, pikirnya.

Bukan secara fisik.

Tapi secara kendali.

Di dunia Jovan, itu jauh lebih berbahaya.

Ia tahu pola ini. Tekanan sosial. Rasa tidak nyaman. Membuat target merasa dunia mengecil. Membuatnya melakukan kesalahan atau pergi dengan tergesa.

Levis selalu menyukai cara itu.

Jovan menutup mata sesaat.

Jadi kau yang memulai, batinnya. Baik.

Ia membuka mata kembali. Tatapannya berubah. Tidak lagi sekadar orang terluka yang bersembunyi.

Ia kembali menjadi dirinya yang lama...versi yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.

Sekarang…ia punya sesuatu yang harus dilindungi.

Di luar rumah, angin bergerak pelan, menggoyang daun-daun pisang.

Desa Sumberjati masih tampak tenang.

Tapi bagi Jovan De Luca, permainan sudah dimulai.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!