Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 "Sarapan"
Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui tirai tipis kamar Cherrin, menumpahkan warna keemasan lembut ke dinding krem dan lantai kayu. Udara masih dingin, tenang, dan terlalu damai untuk sebuah mansion yang dibangun di atas intrik dan kepentingan.
Cherrin terbangun perlahan.
Matanya berkedip beberapa kali sebelum kesadarannya sepenuhnya kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan di sampingnya—bukan dari selimut, melainkan dari tubuh lain yang berbaring sangat dekat.
Ia menoleh.
Zivaniel.
Pria itu masih tertidur, satu lengan terlipat di atas perutnya, rambut hitamnya sedikit berantakan—jauh dari citra dingin dan berbahaya yang selalu ia tampilkan di luar kamar ini. Wajahnya tampak lebih muda saat tidur. Garis-garis keras di rahangnya melunak, alisnya tidak lagi berkerut seolah dunia sedang menyerangnya.
Cherrin menahan napas.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali Zivaniel tertidur seperti ini di sampingnya. Biasanya, ia datang hanya untuk duduk sebentar. Berbicara atau diam bersama. Lalu pergi sebelum fajar.
Tapi pagi ini, ia masih di sini.
Dan itu membuat dada Cherrin terasa… aneh.
Ia menggeser tubuhnya perlahan, takut membangunkannya. Namun gerakannya tetap membuat Zivaniel bergeser sedikit, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka.
Beberapa detik berlalu sebelum fokus matanya kembali.
Lalu ia menatap Cherrin.
Tanpa ekspresi.
Tanpa senyum.
Namun juga tanpa dingin.
“Pagi,” ucap Cherrin pelan.
Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah gadis itu, seolah memastikan bahwa yang ia lihat nyata, bukan sisa mimpi yang enggan pergi.
“Kamu bangun duluan,” katanya akhirnya, suaranya serak oleh tidur.
Cherrin mengangguk. “Maaf kalau aku mengganggu tidurmu.”
“Tidak,” Zivaniel menggeleng kecil. “Aku memang harus bangun.”
Ia duduk, mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu melirik jam di dinding.
Sarapan.
Cherrin tahu arti tatapan itu.
Perutnya langsung mengencang.
Sarapan di mansion de Luca bukanlah rutinitas biasa. Itu adalah panggung kecil—tempat aturan tak tertulis dijalankan, hierarki dipertegas, dan kesalahan sekecil apa pun bisa dijadikan senjata.
Dan hari ini…
Nenek Serra tidak ada.
Wanita tua itu pergi sejak subuh bersama suaminya, untuk menghadiri pertemuan keluarga di kota lain. Ia meninggalkan pesan singkat untuk Cherrin sebelum pergi—pesan yang kini terngiang jelas di kepalanya.
Jaga dirimu, sayang. Jangan terlalu menunduk. Kamu bukan tamu di rumah ini.
Namun Cherrin tahu.
Tanpa Serra, rumah ini tidak lagi netral.
Rumah ini milik Varla.
"Mandi dulu." Ucap Zivaniel tanpa ekspresi.
Cherrin menurut, sebelum keluar ia harus mandi terlebih dahulu dan bersiap-siap.
Dan Zivaniel juga sama, ia berjalan keluar dari kamar Cherrin dan langsung masuk ke kamarnya untuk bersiap diri juga.
Beberapa menit kemudian, ia sudah siap, dan langsung kembali masuk ke dalam kamar Cherrin.
Dan saat itu, ia langsung melihat Cherrin yang sudah siap dengan gaun lengan pendek. Cantik cukup cantik.
Hanya beberapa detik saja Zivaniel mengagumi kecantikan Cherrin.
“Ayo,” kata Zivaniel. “Kita turun.”
“Kita?” tanya Cherrin ragu.
Zivaniel menoleh, menatapnya lurus. “Kamu pikir aku akan membiarkan kamu turun sendirian hari ini?”
Jantung Cherrin berdetak lebih cepat.
Ia mengangguk pelan.
Mereka turun bersama.
Tangga marmer yang kemarin terasa dingin kini diselimuti cahaya pagi. Di bawah, ruang makan utama sudah tertata sempurna. Meja panjang dari kayu mahoni dipenuhi hidangan sarapan bergaya Eropa—roti panggang, telur, buah segar, keju, kopi, teh, dan jus yang disajikan dalam gelas kristal.
Pelayan berdiri di sisi ruangan, sikap mereka kaku dan terlalu hati-hati.
Varla sudah duduk di ujung meja.
Gaun paginya berwarna krem pucat, rambutnya tersisir rapi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Ia sedang mengaduk teh dengan sendok kecil, gerakannya anggun—namun matanya tajam saat menangkap kehadiran Cherrin.
Senyumnya merekah.
Senyum yang membuat kulit Cherrin merinding.
“Oh,” kata Varla, pura-pura terkejut. “Kalian turun bersama?”
Zivaniel menarik kursi untuk Cherrin.
“Duduk,” katanya singkat pada gadis itu, sebelum duduk di sebelahnya.
Varla mengamati pemandangan itu dengan seksama.
Sesuatu berkilat di matanya.
“Cherrin,” ucapnya lembut, terlalu lembut. “Aku kira kamu tahu aturan. Sarapan di sini dimulai pukul tujuh. Sekarang sudah lewat lima belas menit.”
Cherrin menunduk. “Maaf, Tante.”
“Maaf?” Varla mengulang, alisnya terangkat. “Itu saja?”
Cherrin menggenggam ujung gaunnya di bawah meja. “Saya… akan berusaha lebih tepat waktu.”
Varla tersenyum lebih lebar.
“Berusaha?” katanya ringan. “Sayang, di rumah ini, usaha tidak cukup.”
Zivaniel menyentakkan pandangannya ke arah ibunya. “Cukup.”
Varla menoleh perlahan.
Nada suaranya tetap tenang, namun dingin. “Mama sedang mendidik.”
“Dengan cara mempermalukan?” balas Zivaniel datar.
Suasana meja langsung berubah.
Pelayan menunduk lebih dalam. Tak satu pun berani bergerak.
Varla tertawa kecil. “Kamu terlalu sensitif, Niel. Mama hanya mengingatkan posisinya.”
Kata itu.
Posisi.
Cherrin merasa dadanya sesak.
Varla menyesap tehnya, lalu melanjutkan, “Cherrin, karena kamu terlambat, aku rasa kamu tidak perlu telur hari ini. Roti saja cukup.”
Pelayan ragu.
Zivaniel meletakkan sendoknya dengan suara pelan—namun cukup untuk menarik perhatian semua orang.
“Dia makan apa yang sama denganku.”
Varla menatap putranya.
Senyumnya perlahan menghilang.
“Niel,” katanya, suaranya kini lebih rendah. “Ini bukan urusanmu.”
“Dia urusanku.”
Keheningan jatuh.
Cherrin menoleh ke arah Zivaniel, matanya membesar. “Niel—”
“Diam,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Makan.”
Varla berdiri.
Kursinya bergeser, menggores lantai marmer dengan suara yang tajam.
“Kamu sudah keterlaluan,” ucapnya. “Membela gadis yang bahkan bukan darah de Luca di meja ini?”
Zivaniel berdiri juga.
Posturnya tegap, bahunya lurus. Sorot matanya gelap—black wolf itu kembali muncul.
“Dia ada di sini karena Nenek Serra membawanya. Dan selama aku masih duduk di meja ini, tidak ada seorang pun yang berhak memperlakukannya seperti barang tak berguna.”
Varla terkekeh dingin. “Atau apa? Kamu akan melawan mama?”
“Aku sudah melakukannya.”
Kata-kata itu jatuh seperti pisau.
Wajah Varla memucat—bukan karena takut, tapi karena marah yang tertahan.
“Baik,” katanya perlahan. “Kalau begitu, mari kita lihat sampai sejauh mana kamu bisa melindunginya.”
Ia menoleh ke pelayan. “Siapkan jadwal Cherrin hari ini. Tambahkan pekerjaan dapur. Dan pastikan dia membersihkan ruang tamu utama sebelum makan siang”
Cherrin terkejut. “Tante, aku harus sekolah—”
“Diam,” potong Varla tajam. “Kamu seharusnya bersyukur masih boleh tinggal di sini. Dan hari ini kamu libur sekolah!”
Zivaniel melangkah maju satu langkah.
“Sentuh dia lagi,” ucapnya pelan namun mengancam, “dan aku pastikan Ayah tahu semua yang kamu lakukan saat Nenek tidak ada.”
Varla membeku.
Untuk sesaat, ia dan Zivaniel saling menatap—dua predator dengan wilayah yang saling tumpang tindih.
Lalu Varla tersenyum.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Kita lihat saja,” katanya. “Sarapan sudah selesai.”
Ia berbalik dan pergi.
Pintu ruang makan tertutup dengan bunyi pelan namun final.
Cherrin gemetar.
Zivaniel duduk kembali, lalu mendorong piring telur ke arahnya.
“Makan,” katanya singkat.
“Tapi—”
“Aku tidak mengulang.”
Cherrin menelan ludah, lalu mengambil garpu. Tangannya masih bergetar saat ia makan.
“Niel…” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku nggak mau kamu bertengkar dengan ibumu gara-gara aku.”
Zivaniel menatapnya lama.
“Kamu bukan penyebabnya,” katanya akhirnya. “Kamu hanya target.”
Cherrin menunduk.
“Aku janji,” lanjutnya pelan. “Selama aku di sini, dia tidak akan menghancurkanmu.”
Di luar jendela, matahari naik perlahan.
Cahayanya menerpa mansion de Luca—bangunan megah yang tampak indah dari luar.
Dan Varla mengepalkan kedua tangannya saat melihat itu. "Aku pastikan kamu akan berakhir menyedihkan, Cherrin!!"