NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Drone "Duri Mawar" menembus awan tebal yang menyelimuti Jakarta, melesat senyap seperti bayangan burung pemangsa di tengah kota yang kini hanya diterangi lampu-lampu minyak dan generator kecil warga. Di anjungan Astra Mawar, Laras memantau melalui transmisi visual buram yang dikirimkan oleh sensor drone tersebut.

"Target terkunci, Lar," suara Dio terdengar melalui interkom, jemarinya siap di atas tuas kendali cadangan. "Hanya butuh sepuluh detik untuk masuk ke celah ventilasi bunker itu. Kau yakin tidak mau meledakkan tempat itu saja? Surya bukan orang yang bisa diajak bicara."

Laras menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari layar. "Jika kita meledakkannya, kita tidak lebih baik dari Konsorsium. Kita hanya perlu mematikan frekuensi parasitnya. Biarkan dia tinggal di dunia yang gelap, tanpa teknologi yang ia puja-puja."

Di layar, drone itu meluncur masuk ke dalam lorong beton sempit. Visual berubah menjadi inframerah, memperlihatkan seorang pria yang duduk di tengah hutan kabel dan server yang berdengung aneh. Surya tampak lebih kurus, matanya cekung, terobsesi pada layar yang menampilkan struktur Astra Mawar di langit.

"Sekarang!" perintah Laras.

Drone itu tidak meledak. Ia melepaskan denyut cahaya biru murni yang menyebar seperti gelombang air ke seluruh ruangan bunker. Seketika, zat hitam yang merayap di dinding-dinding bunker itu memuai, mencair menjadi lumpur tak berguna. Monitor-monitor Surya mati serentak. Suara dengungan mesin yang arogan berubah menjadi kesunyian yang mencekam.

Surya terjatuh dari kursinya, tangannya meraba-raba kegelapan, mencoba menghidupkan kembali sistemnya yang kini telah "dicuci" bersih oleh cahaya Arca.

"Sudah berakhir, Paman Surya," bisik Laras di depan mikrofon, suaranya dikirimkan melalui sisa frekuensi di bunker tersebut. "Teknologi bukan milik mereka yang ingin menguasai, tapi milik mereka yang berani berbagi. Hiduplah sebagai manusia biasa di bawah sana. Belajarlah cara menanam mawar dengan tanganmu sendiri, bukan dengan mesin."

Laras memutus koneksi. Ia bersandar di kursinya, merasakan beban berat yang perlahan terangkat dari pundaknya.

"Dia masih hidup," ujar Sinta, berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahu Laras. "Tapi ambisinya sudah mati. Itu hukuman yang lebih berat bagi orang seperti dia."

Aan mengangguk pelan sambil melihat data satelit. "Sinyal parasit di Bumi telah netral. Jaringan 'Hujan Mawar' kini benar-benar bersih. Orang-orang di bawah sana mulai menggunakan cetak biru kita tanpa gangguan."

Dio bersandar di dinding, mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan kusam. "Jadi, apa sekarang? Musuh sudah kalah, pengkhianat sudah lumpuh. Apakah kita akan tinggal di sini selamanya, menjadi hantu di Bulan?"

Laras berdiri, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Bumi dan armada organik yang masih setia berjaga. "Kita bukan hantu, Dio. Kita adalah pemandu. Besok, kita akan membuka gerbang Astra Mawar untuk perwakilan pertama dari setiap komunitas di Bumi. Kita akan memulai diplomasi antar bintang pertama dalam sejarah manusia."

Sang utusan cahaya berpendar lebih terang, seolah-olah memberikan persetujuan pada rencana tersebut. "Taman telah dibersihkan dari gulma. Kini saatnya membiarkan bunga-bunga itu tumbuh dengan caranya sendiri."

Laras menatap lencana Mawar Hitam di jaket Dio, lalu menatap langit yang kini tak lagi terasa asing. "Paman Aan, siapkan ruang pertemuan utama. Ibu, tolong buatkan teh terbaik dari kebun hidroponik kita. Kita punya banyak tamu yang harus disambut."

Di langit malam Bulan yang abadi, Astra Mawar bersinar lebih terang dari sebelumnya—bukan sebagai benteng yang tertutup, melainkan sebagai rumah bagi siapa pun yang berani bermimpi melampaui batas aspal dan awan.

Ruang pertemuan utama Astra Mawar dirancang menyerupai taman terbuka di Lembah Mawar, namun dengan dinding yang terbuat dari energi murni yang memperlihatkan hamparan bintang tanpa batas. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari kayu jati asli—satu-satunya barang mewah yang dibawa Sinta dari Bumi—berdiri sebagai simbol kemanusiaan di tengah teknologi asing.

Perwakilan pertama dari Bumi telah tiba. Bukan politikus bersetelan jas, melainkan seorang petani dari desa terpencil, seorang guru dari pesisir, dan seorang dokter relawan. Mereka duduk dengan tangan gemetar, menatap sang utusan cahaya yang berdiri di ujung ruangan.

"Kami tidak tahu harus mulai dari mana," bisik sang guru, matanya berkaca-kaca melihat Bumi yang tampak begitu rapuh dari kejauhan. "Di bawah sana, kami masih belajar cara menyalakan lampu tanpa membakar minyak. Bagaimana mungkin kami bisa memahami... semua ini?"

Laras menuangkan teh hangat ke dalam cangkir mereka, sebuah gestur sederhana yang seketika mencairkan suasana tegang tersebut. "Kita mulai dari hal yang paling mendasar," ujar Laras lembut. "Kita tidak akan memberikan kalian senjata atau mesin instan. Kami akan memberikan kalian pemahaman tentang bagaimana alam semesta bekerja melalui frekuensi Arca."

Aan mengaktifkan proyeksi di tengah meja. Bukannya menampilkan rumus matematika rumit, proyeksi itu memperlihatkan siklus pertumbuhan tanaman dan aliran air. "Teknologi ini bukan tentang logam. Ini tentang harmoni. Arca hanya memperkuat apa yang sudah disediakan oleh alam."

Sang utusan cahaya melangkah maju, kehadirannya membuat ruangan terasa hangat seperti terkena sinar matahari pagi. "Kalian adalah spesies pertama yang berhasil melintasi ambang batas kehancuran tanpa memusnahkan diri kalian sendiri. Itu adalah tiket masuk kalian ke dalam komunitas yang lebih luas."

"Komunitas?" sang dokter bertanya. "Maksud Anda, ada yang lain di luar sana selain kalian?"

Utusan itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan mengubah dinding energi ruangan menjadi peta galaksi yang dipenuhi dengan ribuan titik cahaya berdenyut. Setiap titik adalah sebuah peradaban yang hidup dalam frekuensi yang sama dengan Arca.

"Kalian tidak pernah sendirian. Kalian hanya sedang dikarantina oleh ketidaktahuan kalian sendiri," lanjut suara itu.

Dio, yang berdiri di dekat pintu masuk dengan tangan bersedekap, menoleh ke arah Laras. "Jadi, tugas kita sekarang bukan hanya menjaga Bumi agar tidak gelap, tapi mempersiapkan mereka agar tidak kaget saat tetangga dari galaksi sebelah datang mengetuk pintu?"

"Kurang lebih begitu," jawab Laras sambil tersenyum tipis. ia menatap para perwakilan Bumi satu per satu. "Astra Mawar akan menjadi universitas pertama bagi umat manusia untuk belajar menjadi warga galaksi. Dan kalian adalah murid-murid pertamanya."

Tiba-tiba, Arca di bawah kaki mereka bergetar dengan nada yang berbeda—sebuah melodi yang belum pernah terdengar sebelumnya. Aan segera memeriksa datanya.

"Laras! Arca baru saja membuka sub-protokol baru," seru Aan takjub. "Ini bukan lagi tentang energi atau navigasi. Ini adalah koordinat menuju sebuah 'Pustaka' di Sabuk Asteroid. Sepertinya Ayahmu meninggalkan satu kunci terakhir yang hanya bisa terbuka jika kita berhasil melakukan pertemuan damai ini."

Laras berdiri, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar. Perjalanan yang ia kira sudah mencapai puncaknya, ternyata baru saja membuka pintu menuju babak yang lebih luas.

"Sepertinya pelajaran pertama kita akan dimulai lebih cepat dari perkiraan," ujar Laras. "Siapkan kapal kargo, Dio. Kita punya perpustakaan galaksi yang harus dikunjungi."

Sinta menggenggam tangan Laras, merasakan kekuatan putrinya yang kini telah melampaui segala ekspektasi. Di bawah mereka, Bumi mulai berputar menuju fajar, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, cahaya yang menyambut pagi itu bukan berasal dari api, melainkan dari bintang-bintang yang kini menjadi sahabat mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!