Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak di Alam Piningit
Dunia yang dikenal Subosito telah menghilang. Tidak ada lagi dinginnya tanah Lawu yang menghimpit dada, tidak ada lagi aroma belerang dari Telaga Kuning, dan tidak ada lagi suara gong Resi Bhaskara yang mencoba menemukannya pulang. Saat Sukmanya terlepas dari raga yang terkubur, Subosito mendapati dirinya berdiri di sebuah hamparan yang melampaui logika manusia.
Di bawah kaki, sejauh mata memandang, terbentang padang pasir yang tidak terbuat dari butiran tanah, melainkan dari jutaan kristal kecil yang tajam dan berkilauan. Setiap kali kakinya melangkah, kristal-kristal itu berdenting pelan, menciptakan melodi aneh yang memekakkan telinga.
Langit di atasnya bukan lagi biru atau hitam, melainkan berwarna ungu tua yang pekat, seolah-olah seluruh ruang ini seperti berada di dalam sebuah botol tinta raksasa. Tidak ada matahari, hanya terang dengan cahaya neon yang remang, memberikan bayangan yang panjang dan aneh.
"Apakah aku sudah mati?" bisik Subosito. Suaranya tidak menggema, seolah udara tipis di Alam Piningit langsung menelan setiap frekuensi suara yang keluar dari tenggorokannya.
Dia melihat tangannya, tubuh astralnya tampak transparan, dengan garis-garis emas yang mengalir di sepanjang pembuluh nadinya seperti sirkuit listrik. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah getaran hebat mengguncang padang pasir kristal tersebut.
CRAAAKKK!
Cakrawala ungu itu tiba-tiba terbelah oleh pekikan yang mampu meruntuhkan nyali pendekar paling tangguh sekalipun. Dari balik gumpalan awan ungu, sebuah bayangan raksasa turun dengan kecepatan meteor. Kehadirannya membawa badai panas yang membuat kristal-kristal di tanah mulai berpendar merah.
Sesosok makhluk mitos berdiri di hadapan Subosito, Garuda Paksi.
Wujudnya jauh lebih mengerikan dan agung dibandingkan penampakan astralnya saat di Telaga Kuning. Ukurannya mencapai bukit kecil. Bulu-bulunya bukan terbuat dari helai rambut, melainkan dari lempengan logam membara yang terus-menerus memercikkan api.
Kepalanya yang menyerupai elang purba memiliki mata merah delima yang memancarkan aura kemarahan yang pekat. Setiap kepakan sayapnya melepaskan gelombang panas yang mampu melelehkan besi.
“Manusia kecil yang lancang,” suara Garuda Paksi menggema di dalam batin Subosito, begitu kuat hingga membuat tubuh astral pemuda itu bergetar hebat. "Kau menyeretku ke ruang sunyi ini untuk menjinakkanku? Kau, makhluk fana yang hanya hidup dalam sekejap mata, ingin menjadi tuan atas api yang telah ada sebelum gunung ini lahir?"
Subosito mencoba berdiri tegak meski lututnya terasa lemas. "Aku tidak ingin menjadi tuanmu. Aku hanya ingin kita berhenti saling menghancurkan!"
Garuda Paksi tertawa, suara tawanya menyerupai gemuruh gunung meletus. Makhluk itu melangkah maju, setiap cakarnya menghancurkan padang kristal menjadi debu cahaya.
"Lihatlah dirimu! Kau gemetar ketakutan! Kau membenci kekuatan ini karena kau takut pada dirimu sendiri," Garuda itu mengomel di kepalanya, hingga jarak kepalanya hanya mencapai beberapa jengkal saja dari wajah Subosito.
Hawa panas yang keluar dari napas sang Garuda membuat wajah astral Subosito terasa seperti tersengat listrik.
"Kau lebih suka menjadi mangsa bagi manusia-manusia serakah di luar sana daripada menjadi dewa bersamaku. Kau adalah wadah yang tenggelam, Subosito!"
"Aku tidak tertidur!" teriak Subosito, suaranya kini mulai bertenaga. "Aku melihat apa yang kau lakukan pada mereka! Kau bukan hanya api, kau adalah amarah tanpa arah! Kau membantai orang-orang di padepokan bukan karena mereka jahat, tapi karena kau hanya tahu cara menghancurkan!"
"KEJAHATAN HARUS DIMURNIKAN DENGAN API!" Garuda Paksi mengepakkan sayapnya, menciptakan pusaran api yang menyelimuti Subosito di tengah padang pasir kristal. "Dan kau, manusia, adalah penghalang yang menghalangiku untuk mewujudkan dunia ini. Jika aku tidak bisa keluar melalui ragamu, maka aku akan menghancurkan sukmamu di sini, dan mencari wadah baru yang lebih layak!"
Subosito terjepit, di sekelilingnya, api ungu dan merah menyambar-nyambar, mencoba mengoyak sukmanya. Di Alam Piningit, jika sukma seseorang hancur, maka tidak akan ada sisa yang kembali ke dunia nyata. Subosito akan menjadi bagian dari pasir kristal abadi, terlupakan dan hilang.
Namun, di tengah tekanan maut itu, Subosito teringat kata-kata Nyai Ambarwati: "Jangan lawan Garuda itu dengan kebencian. Rangkullah dia sebagai bagian dari dirimu!"
Subosito memejamkan mata, mencoba berhenti melawan badai api itu. Subosito justru merentangkan kedua tangannya, membiarkan lidah-lidah api sang Garuda menyentuh tubuh astralnya.
Rasa sakitnya luar biasa—seolah-olah dirinya ingin meledak pecah—namun Subosito tidak lagi berteriak.
“Kau marah karena kau kesepian,” bisik Subosito.
Badai api itu mendadak sedikit mereda. Garuda Paksi memutar, kepalanya miring dengan pandangan bingung.
"Kau adalah kekuatan agung yang telah lama terpenjara dalam segel kutukan ini," lanjut Subosito, melangkah mendekati sang raksasa api tanpa rasa takut.
"Kau diperebutkan oleh orang jahat dan ditakuti oleh orang baik. Tidak ada yang pernah melihatmu sebagai bagian dari kehidupan, hanya sebagai alat atau bencana. Aku merasakannya, karena aku pun merasakan hal yang sama!"
Subosito kini berdiri tepat di depan dada sang Garuda yang membara. Subosito bisa melihat detak jantung makhluk itu—sebuah inti energi yang berdenyut selaras dengan denyut nadinya sendiri.
"Ayah dan ibuku tidak memberiku kutukan. Mereka memberiku seorang kawan yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan. Kita bukan dua kekuatan yang berbeda, wahai Garuda Paksi. Kita adalah satu nyawa dalam dua rupa!"
Garuda Paksi mengeluarkan suara geraman rendah. "Kata-kata manis tidak akan meredam api yang telah menyala selama ribuan tahun, Manusia!"
"Maka biarkan api itu menyala bersamaku, bukan di dalam diriku sendiri," jawab Subosito mantap. Dia mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh paruh sang Garuda.
Pada detik itu, Alam Piningit berguncang hebat. Langit ungu tua itu mulai retak. Di dunia nyata, Resi Bhaskara yang sedang menjaga raga Subosito melihat pemandangan yang tak masuk akal: dari tanah tempat Subosito dikubur, tumbuh bunga-bunga api yang tidak membakar, melainkan berpendar lembut dengan warna keemasan.
Di Alam Piningit, Garuda Paksi menatap tangan Subosito dengan ragu. Untuk pertama kalinya dalam keabadiannya, makhluk arogan itu melihat seorang manusia yang tidak memandangnya dengan keserakahan atau ketakutan yang gemetar. Dia melihat sebuah cermin.
"Kau, benar-benar ingin membagi beban ini?" tanya Garuda Paksi, suaranya kini tidak lagi menggelegar, melainkan dalam dan berat seperti gumam bumi.
"Sampai titik darah terakhir," janji Subosito.
Tiba-tiba, tubuh raksasa Garuda Paksi meledak menjadi jutaan butiran cahaya emas. Cahaya itu tidak menghancurkan, melainkan masuk ke dalam tubuh astral Subosito, menyatu dengan garis-garis emas di nadinya.
Padang pasir kristal itu mulai runtuh, dan langit ungu tua itu tersedot masuk ke dalam satu titik pusat: jantung Subosito.
Kesadaran Subosito ditarik kembali dengan kecepatan ringan. Pemuda itu melewati kembali gerbang Alam Piningit, melewati kenangan-kenangannya, hingga akhirnya dia merasakan kembali beratnya tanah yang menghimpit tubuhnya di lereng Lawu.
UHUK!
Subosito membuka matanya di dunia nyata. Tanah yang menguburnya meledak terpental ke segala arah, bukan karena ledakan api yang menghancurkan, melainkan karena dorongan energi yang murni dan terkendali.
Subosito bangkit dari liang tempatnya dikubur. Tubuhnya tidak lagi merah padam, melainkan tampak segar dan bercahaya. Di belakangnya, Segel Garuda Paksi kini tidak lagi tampak seperti bekas luka bakar yang mengerikan, melainkan sebuah tato emas yang indah, yang garis-garisnya bergerak secara halus seolah-olah memiliki kehidupan sendiri.
Resi Bhaskara berdiri, air mata haru jatuh di pipinya yang keriput. "Kau berhasil, Nak. Kau telah melewati gerbang piningit dan kembali dengan membawa kunci penjara itu!"
Subosito membuka kedua tangannya, menggerakkan jemarinya, dan percikan api emas muncul—kecil, hangat, dan patuh pada perintahnya. Subosito tidak lagi merasa kepanasan, dia merasa utuh.
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat. Di kaki bukit, suara trompet perang menggema, memecah kesunyian puncak Lawu. Ratusan obor tampak mendekat dari arah bawah—pasukan gabungan sisa Gagak Hitam dan para pemburu sayembara dari desa-desa sekitar telah menemukan keberadaan mereka.
Subosito menoleh ke arah Resi Bhaskara, lalu menatap ke langit. Di matanya, kini terpantul bayangan sayap raksasa yang siap mengepak.
Subosito telah menyatu dengan sang legenda, tetapi ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pasukan besar kini mengepung tempat suci tersebut, dipimpin oleh sosok dari masa lalu yang mengetahui kelemahan rahasia sang Garuda.
Mampukah Subosito menunjukkan bahwa kekuatan barunya bukan lagi untuk membantai, melainkan untuk menegakkan keadilan? Ataukah dia akan terpaksa melepaskan kemarahannya sekali lagi?
Ikuti terus perjalanan Subosito.