seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
"Aku akan menyiapkan alat pancingnya kalau begitu," Andi berkata sambil beranjak, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia menoleh kembali, menatap Siska yang masih berdiri di dekat jendela besar itu. "Tapi ada satu hal yang belum sempat kusampaikan sejak pesta pernikahan kita enam bulan lalu."
Siska mengangkat alisnya, penasaran. "Apa itu?"
Andi berjalan mendekat, suaranya merendah dan penuh kesungguhan. "Waktu kita di Kalimantan, saat warga memblokade jalan dan keadaan terasa sangat genting... aku melihatmu berdiri di sana tanpa rasa takut sedikit pun. Di saat itu, aku sadar bahwa aku tidak hanya jatuh cinta pada sahabat masa kecilku, tapi aku jatuh cinta pada kekuatan yang kamu miliki. Kamu adalah alasan proyek itu selesai, bukan hanya karena desainku."
Siska tertegun sejenak, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar pengakuan jujur itu. "Aku berani karena ada kamu di belakangku, Ndi. Kalau aku sendirian, aku mungkin sudah lari kembali ke Jakarta dan menyerah pada kemauan Ayah."
"Itulah gunanya kita, kan?" Andi menggenggam tangan Siska erat. "Saling menjadi sandaran saat salah satu dari kita goyah. Ayahmu melihat itu malam itu di meja makan. Dia tidak melihat seorang arsitek atau seorang pewaris, dia melihat dua orang yang tidak bisa dipisahkan oleh ancaman apa pun."
Siska tersenyum, lalu mengecup pipi Andi singkat. "Sudah, jangan terlalu puitis pagi-pagi begini. Nanti aku malah tidak mau bekerja dan ingin langsung pergi liburan sekarang juga."
Andi tertawa, suaranya memenuhi ruangan kantor yang elegan itu. "Baiklah, CEO. Silakan pimpin rapat direksimu. Aku akan pergi memeriksa laporan keberlanjutan untuk kuartal ini. Sampai bertemu di jam makan siang?"
"Tentu. Di tempat biasa, tanpa bicara soal angka," sahut Siska tegas namun manis.
Saat pintu tertutup di belakang Andi, Siska kembali menatap meja kerjanya. Beban warisan perusahaan yang dulu terasa seperti batu besar yang menghimpitnya, kini terasa seperti sayap yang siap membawanya terbang. Ia tahu, apa pun masalah yang akan datang di masa depan—entah itu intrik bisnis baru atau tantangan keluarga lainnya—ia tidak akan pernah lagi menghadapinya sendirian.
Dunia mungkin mengenal mereka sebagai pasangan penguasa korporat yang sukses, namun bagi Siska dan Andi, mereka tetaplah dua muda-mudi yang berhasil memenangkan cinta mereka di tengah badai yang paling hebat sekalipun.
Siang itu di kantin karyawan, yang lebih mirip kafe mewah daripada tempat makan kantor, Siska dan Andi duduk di pojok yang paling tersembunyi. Tidak ada berkas, tidak ada tablet, hanya dua mangkuk soto ayam dan segelas es teh manis—selera yang tidak pernah berubah sejak zaman mereka masih menjadi mahasiswa.
Siska mengaduk minumannya, lalu menatap Andi yang sedang sibuk memeras jeruk nipis. "Tadi di rapat, Mahesa mengirim pesan singkat. Dia minta maaf secara pribadi soal kejadian setahun lalu. Dia bilang dia sekarang memulai bisnisnya sendiri di bidang startup tanpa bantuan ayahnya."
Andi mendongak, sedikit terkejut. "Bagus kalau begitu. Kadang orang memang butuh tamparan keras untuk sadar bahwa nama besar keluarga bukan segalanya. Dia punya potensi kalau dia mau berusaha sendiri."
"Aku setuju," jawab Siska pelan. "Melihat dia, aku jadi teringat kita. Kalau saja kita tidak berani melawan arus waktu itu, mungkin kita hanya akan menjadi boneka di atas panggung yang diatur orang lain. Aku mungkin sudah menikah dengan Mahesa, dan kamu mungkin sudah membangun gedung di tempat yang jauh dari sini."
Andi meletakkan sendoknya, menatap Siska dengan lekat. "Tapi kita di sini sekarang. Makan soto di kantor sendiri, setelah memenangkan pertempuran yang paling sulit. Kamu tahu apa yang paling aku syukuri, Sis?"
"Apa?"
"Bukan karena aku menjadi bagian dari perusahaan ini. Tapi karena setelah semua drama itu, aku tidak kehilangan sahabat terbaikku. Banyak pasangan yang berawal dari persahabatan lalu hancur saat harus menghadapi masalah uang dan kekuasaan. Tapi kita justru menjadi lebih solid."
Siska mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh jemari Andi. "Karena dari awal, kita tidak pernah meletakkan uang atau kekuasaan di atas perasaan kita. Kita hanya ingin bersama, dan perusahaan ini hanyalah tempat kita untuk membuktikan bahwa cinta kita punya manfaat bagi orang lain."
Andi tersenyum, lalu mengangkat gelas es tehnya. "Untuk masa depan yang kita bangun sendiri?"
Siska menyentuhkan gelasnya ke gelas Andi, suara denting kaca yang tipis terdengar begitu merdu di tengah kebisingan kantin. "Untuk masa depan yang kita bangun bersama."
Matahari Jakarta mulai condong ke barat, sinarnya menembus kaca kantin, menyinari wajah mereka berdua yang tampak begitu tenang. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan warisan yang hilang. Hanya ada dua orang yang telah berhasil melewati badai dan kini sedang menikmati pelangi yang mereka ciptakan sendiri.
Beberapa tahun berlalu, dan suasana di rumah utama keluarga Gunawan kini jauh berbeda. Tidak ada lagi keheningan yang kaku atau percakapan yang hanya berkutat pada harga saham. Di taman belakang, tempat yang dulu menjadi saksi bisu kecemasan Siska, kini terdengar suara tawa kecil seorang balita yang sedang belajar berlari di atas rumput.
Siska berdiri di teras, memerhatikan Andi yang sedang mengejar putra kecil mereka, Arlan, dengan sebuah pesawat kayu buatan tangan. Andi tampak jauh lebih santai, guratan lelah karena pekerjaan di kantor seolah menguap setiap kali ia sampai di rumah.
"Hati-hati, Ndi! Nanti dia jatuh," seru Siska sambil tersenyum, meski ia tahu Andi tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Andi berhenti sejenak, menggendong Arlan di bahunya, lalu berjalan menghampiri Siska. "Dia punya keseimbangan yang bagus, Sis. Sepertinya dia mewarisi ketangguhan ibunya saat menghadapi dewan direksi."
Siska tertawa pelan, mengusap keringat di dahi putranya. "Atau mungkin dia mewarisi sifat keras kepala ayahnya yang nekat membangun jembatan di tengah hutan."
Pak Gunawan keluar dari pintu kaca, membawa sepasang sepatu kecil milik cucunya. Ia tidak lagi tampak seperti singa korporat yang ditakuti. Wajahnya tampak jauh lebih segar, dan ia sering menghabiskan waktu luangnya dengan mengamati perkembangan proyek-proyek hijau yang kini menjadi identitas baru perusahaan mereka.
"Biarkan dia bermain, Siska. Anak laki-laki memang harus akrab dengan tanah," ujar Pak Gunawan sambil menyerahkan sepatu itu. Ia menatap Andi dan Siska bergantian dengan rasa puas yang tulus. "Kalian sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Perusahaan stabil, keluarga harmonis... saya tidak bisa meminta lebih dari ini."
Siska menyandarkan kepalanya di bahu Andi, sementara tangan Andi merangkul pinggangnya. Mereka menatap cakrawala Jakarta yang mulai berubah warna menjadi jingga.
"Dulu aku berpikir warisan adalah beban yang harus kupanggul sendirian," bisik Siska. "Tapi sekarang aku sadar, warisan terbaik yang kuterima bukan perusahaan itu, tapi keberanian untuk memperjuangkan apa yang benar-benar kucintai."
Andi mengecup pelipis Siska. "Dan kita akan memastikan Arlan tumbuh dengan tahu bahwa dia bisa memilih jalannya sendiri, sama seperti kita dulu memilih untuk tidak menyerah."
Malam mulai turun, lampu-lampu taman menyala otomatis, menciptakan suasana yang hangat. Masalah demi masalah telah mereka lalui, dari intrik keluarga hingga tantangan di pedalaman, dan semuanya bermuara pada momen tenang ini. Siska, sang pewaris yang menawan, dan Andi, pria yang datang dengan nyali dan cinta, telah berhasil menulis akhir cerita mereka sendiri—sebuah akhir yang bahagia, yang dibangun di atas fondasi kejujuran dan persahabatan yang abadi.