NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jodoh untuk Farris

...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...

Saat Vloo menghentikan SUV di salah satu gudang, aku langsung membuka pintu dan turun. Aku merapikan jaket sambil menyapu area sekitar sebelum berjalan menuju pintu samping.

Begitu para pasukan melihatku, mereka langsung berdiri tegak.

Noel berlari ke arahku.

"Kami menemukan bajingan itu sedang bertransaksi di Penjaringan. Ada lima orang lain bersamanya, tapi mereka melawan, jadi kami terpaksa membunuh mereka."

Aku mengangguk lalu berjalan menuju pria yang duduk di lantai. Tangan dan kakinya diikat dengan cable tie plastik dan wajahnya sudah babak belur.

Aku berhenti beberapa meter di depannya. "Berani juga kamu mencoba berjualan di Penjaringan dan Gang Royal. Apa yang membuat kamu berpikir itu diperbolehkan?"

Pria itu mengangkat kepala. Saat matanya bertemu denganku, matanya langsung melebar ketakutan.

Dia langsung mulai berbicara cepat. "Mereka cuma menyuruh kami menjual di area itu. Mereka menawarkan bayaran besar. Tolong, aku punya keluarga. Hidupku sulit. Aku cuma ingin uang."

Aku terus menatapnya tanpa ekspresi.

Dia mulai terisak. "Tolong. aku cuma orang suruhan. Seorang pria bernama Mantiz memberi aku pekerjaan itu. Itu saja yang aku tahu, bos."

Aku menghela napas lalu menoleh ke Noel. "Temukan Mantiz."

"Iya, bos."

"Jadi aku boleh pergi?" tanya pria itu penuh harapan.

Tanpa menatapnya lagi, aku berbalik dan berjalan menuju pintu samping.

"Gak! Tunggu! Tunggu!" teriaknya.

Sebuah tembakan pun terdengar.

Saat sampai di SUV, aku membuka pintu penumpang lalu berkata, "Aku mau lebih banyak orang menyisir jalanan Jakarta. Kalau kita memotong keuntungan mereka, kita juga memotong keuntungan Maliki."

"Sudah aku lakukan," kata Vloo.

Aku masuk ke SUV. Kemarahan dan frustrasi mendidih di dadaku. Aku ingin narkoba milik Maliki keluar dari kotaku.

Aku mengambil HP lalu membuka grup chat para bos Marunda. Aku memulai panggilan video.

Saat hanya Remy, Tully, dan Braun yang muncul, aku mengerutkan kening.

"Di mana Farris?"

"Dia mungkin masih di perusahaan balet," kata Braun. "Dia sibuk dengan pertunjukan berikutnya."

Benar.

"Ada rapat di klub aku besok jam sembilan."

"Itu hari Sabtu," gumam Braun.

"Apa maksud kamu?" tanya aku sambil mengangkat alis.

Dia menggeleng. "Aku akan datang."

"Sebaiknya kamu minum banyak kopi," kata Tully.

Sudut bibir Remy terangkat. "Sampai besok."

Aku menutup panggilan lalu menatap keluar jendela.

Vloo membawa kami ke penthouse tempat helikopter menunggu. Saat kami naik lift ke atap, dia berkata, "Akan menyenangkan menghabiskan akhir pekan di rumah."

Aku hanya mengangguk. Pikiranku kembali pada masalah lain. Sudah seminggu sejak aku meninggalkan Cherry di mansion.

Aku harus menunggu sampai setelah pertunjukan balet sebelum membicarakan pernikahan yang aku rencanakan antara dia dan Farris.

Kami masuk ke helikopter. Saat helikopter terbang, aku melihat kota Jakarta dari atas. Aku bekerja sangat keras untuk membangun namaku.

Aku ingin Maliki mati.

Saat kami terbang melewati tempat Remy tinggal, aku memikirkan betapa sibuknya kehidupan para Bos lain sekarang.

Remy dan Tully sibuk dengan bayi dan popok.

Braun fokus pada istrinya dan restoran yang dia buka untuknya.

Farris bekerja keras di perusahaan balet.

Setelah aku menyelesaikan urusan Maliki dan mengatur pernikahan antara Farris dan Cherry, aku akan mengambil waktu istirahat.

Mungkin aku akan membawa Mama liburan. Dia jarang meninggalkan mansion.

Helikopter mendarat di helipad. Saat aku turun, aku memperhatikan semua penjaga sebelum berjalan menuju pintu kaca.

Saat masuk ke rumah, aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.

Aku langsung menuju suite, menutup pintu dan membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan. Aku menutup mata dan menikmati keheningan.

Aku memang selalu sedikit tertutup. Berinteraksi dengan orang lain sangat menguras energiku.

Aku menarik napas lagi lalu menyalakan lampu dan berjalan ke kamar mandi. Aku membuka keran dan menunggu air menghangat sambil melepas pakaian.

Saat aku meletakkan Glock aku di meja, mataku bertemu dengan bayanganku di cermin.

Aku melihat garis halus di sekitar mata. Wajah tanpa emosi. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku merasakan itu.

Kerutan muncul di dahi aku saat sebuah ingatan muncul. Saat Cherry menatapku di ruang tamu rumah orang tuanya, itu mengejutkanku. Dia sempat mundur, tapi kemudian menegakkan dirinya lagi.

Ada sesuatu yang berubah di dadaku saat itu. Dia diperlakukan buruk tapi tetap mengangkat dagu dengan sombong. Luke bahkan memukulnya dengan sabuk dan dia gak meneteskan air mata sama sekali.

Cherry entah sangat kuat atau sudah rusak sepenuhnya. Dari pengalaman aku, orang yang benar-benar rusak gak akan pernah melawan.

Artinya dia mungkin wanita terkuat yang pernah aku temui. Dia akan menjadi pasangan yang baik untuk Farris yang berhati lembut.

Aku menghela napas lalu masuk ke bawah pancuran air hangat, mengikuti rutinitasku sebelum mematikan air dan mengeringkan tubuh.

Saat masuk ke walk-in closet, aku hampir saja mengambil celana santai untuk langsung tidur.

Lihat Mama dulu.

Aku mengambil celana chino dan sweater.

Setelah berpakaian, aku mengambil Glock lalu menyelipkannya di pinggang sebelum keluar dari kamar. Mansion terasa sunyi saat aku turun ke lantai satu.

Saat aku mendekati ruang santai Mama, aku mendengar suara Cherry.

"Gaunnya cantik sekali."

"Bridgerton itu acara favorit aku," kata Bibi Keii.

Saat aku hampir masuk, Mama berkata, "Coba jelaskan gaunnya, Cherry."

"Pinggangnya tinggi sekali. Elegan, dan warnanya pastel. Ada yang bermotif bunga. Mirip pakaian di Pride and Prejudice."

"Aku pernah nonton film itu," kata Mama. "Sekarang aku bisa membayangkannya."

"Dia gak selalu buta," kata Bibi Keii.

Aku masuk ke ruang santai.

Cherry tampak kaget. Mata Bibi Keii langsung melihatku.

Aku berjalan langsung ke Mama. Senyum sudah muncul di wajahnya. Dia selalu tahu saat aku ada di dekatnya.

"Kamu sudah pulang," katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku memegang tangannya dan membantunya berdiri. Tanpa menyapa dua wanita lainnya, aku membawanya keluar dari ruangan.

Mama gak berbicara saat kami berjalan ke sisi lain mansion menuju ruang kaca.

Aku gak menyalakan lampu. Cahaya bulan masuk melalui atap kaca. Tanaman memenuhi ruangan itu.

Kami duduk di sofa. Aku bersandar dan menutup mata.

Mama condong ke arah aku. "Kamu lelah, anakku?"

Aku menarik napas panjang. "Iya."

"Kamu udah bekerja keras."

"Kalau aku berhenti, keluarga kita gimana," kataku sambil merangkul bahunya.

Kami duduk diam sebentar.

"Mama bangga sama kamu, Cavell."

"Terima kasih, Mama."

Dia menepuk pahaku. "Cherry kelihatannya gadis yang baik."

"Hm."

"Kami banyak menghabiskan waktu dengannya minggu ini."

"Hm."

"Dia masak makan malam tadi. Kway Teow. Masih ada sisa di dapur."

"Hm." Aku menghela napas karena aku tahu arah pembicaraan ini.

"Jangan menghela napas begitu," katanya. "Farris masih muda, kamu harus tenang. Mama ingin melihat cucu."

Aku menahan nada suaraku agar tetap tenang.

"Gak, Mama. Aku bawa wanita itu untuk Farris. Titik."

"Sayang sekali," desahnya.

Alisku terangkat. "Sekarang Mama yang menghela napas?"

"Mata ganti mata," katanya sambil tertawa.

Sudut bibirku terangkat dan aku merangkulnya.

"Kalau semuanya sudah tenang, kita harus liburan. Mama mau ke mana?"

Dia berpikir sebentar. "Rumah di SCBD. Hanya kita berdua."

"Itu bukan liburan," kataku.

"Gak peduli ke mana kamu membawa Mama. Mama cuma pingin sama kamu tanpa pekerjaanmu."

Sejak dia buta, dia gak tertarik lagi bepergian ke luar negeri. Ada rasa sakit di dadaku.

Untuk yang kesekian juta kali aku berharap bisa membunuh Papaku lagi.

"Aku mau tidur," kataku sambil membantu Mama berdiri.

"Cobalah bangun lebih siang besok."

"Ada rapat jam sembilan."

Dia menggeleng gak puas. Aku mengantarnya kembali ke ruang santai. Bibi Keii sedang menonton TV.

Cherry sepertinya sudah kembali ke kamarnya.

Saat Mama duduk di kursi favoritnya, aku mencium kepalanya. Aku mengangguk pada Bibi Keii lalu keluar.

HPku berdering saat aku naik tangga.

Nama Farris muncul di layar.

"Kenapa kamu baru menelepon?" kata aku.

"Aku lagi kencan."

Aku menggeleng.

"Besok jam sembilan ada rapat di klub aku."

"Aku bakal datang."

Panggilan berakhir.

Aku memasukkan HP ke saku sambil menggeleng lagi.

Farris Kencan?

Semoga itu cuma hubungan satu malam.

Kalau gak, aku akan terjebak dengan Cherry.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!