NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:987
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis yang tak tertarik

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan gemuruh memenuhi ruangan geleri seni setelah penampilan Revano berakhir. Sorakan dan teriakan para siswi terdengar saling bersahutan, memuji penampilannya. Suara khas Revano yang dalam dan merdu benar-benar berhasil memikat banyak orang, terutama para kaum hawa yang sejak tadi menonton dengan penuh antusias.

"Akhirnya gue bisa dengar suara kak Revano secara langsung!"

"Suara kak Revano bagus banget."

"Paket komplit banget Kak Revano.

 Udah ganteng, pintar, jago nyanyi pula."

"Walaupun cuek dan dingin, gue tetap fans sama kak Revano."

Begitulah kira-kira ucapan para penggemar Revano yang terus memujinya tanpa henti. Setelah penampilannya selesai, Revano langsung turun dari podium tanpa banyak ekspresi. Ia kembali ke tempatnya duduk, sementara di panggung MC mulai memanggil peserta selanjutnya untuk tampil.

Revano tampak kembali memandang ke depan, seolah memperhatikan penampilan berikutnya. Namun sebenarnya bukan itu yang menjadi fokusnya.

Tatapan matanya justru kembali tertuju pada Rania—gadis yang sejak tadi mencuri perhatiannya.

Rania masih duduk di barisan depan dengan wajah datar, sama seperti sebelumnya. Ia tidak terlihat berteriak atau bersorak seperti para siswi lain yang begitu antusias melihat Revano.

“Lo liatin apaan, Van?” ucap Reyhan, sahabat Revano yang duduk di sampingnya.

Revano hanya menoleh sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke arah Rania.

Reyhan yang merasa penasaran pun mengikuti arah pandangan Revano. Matanya kemudian tertuju pada seorang gadis yang duduk di posisi paling depan.

Reyhan sedikit bingung.

Ini pertama kalinya ia melihat Revano memperhatikan seorang gadis seperti itu. Biasanya Revano sama sekali tidak pernah peduli dengan para siswi yang sering memujanya.

Seketika senyum miring muncul di wajah Reyhan.

“Gadis itu bernama Rania,” ucapnya santai.

Revano langsung menoleh ke arah Reyhan sambil sedikit menaikkan alisnya.

“Rania sekelas dengan cewek gue, jadi gue tahu,” sambung Reyhan.

“Lo mau gue bantuin cari tahu tentang dia?” tanya Reyhan lagi dengan nada penuh arti.

Revano tidak langsung menjawab. Ia sempat terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.

Melihat itu, senyum Reyhan langsung melebar puas.

~~

“Lar, balik. Teman lo sudah tampil, kan?” ucap Rania pada Lara sambil menoleh sekilas ke arahnya.

“Bentar lagi ya, Ran. Gue mau lihat sampai selesai. Tinggal dua peserta lagi,” ucap Lara dengan nada memohon. Matanya masih tertuju ke arah panggung, terlihat masih penasaran dengan penampilan berikutnya.

Rania hanya mendesah pelan. Entah kenapa, berada di kerumunan seperti ini membuatnya merasa tidak nyaman. Suara riuh para murid dan sorakan yang terus terdengar membuat kepalanya terasa sedikit penuh.

“Ya udah, lo tinggal aja. Gue ingin balik,” ucapnya singkat sebelum akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar meninggalkan galeri seni.

Melihat Rania pergi begitu saja, Lara hanya bisa menghela napas pelan. Ia menoleh sekilas ke arah panggung, lalu akhirnya ikut berdiri.

Tanpa berpikir panjang, ia segera menyusul Rania yang sudah berjalan lebih dulu.

“Katanya masih mau tinggal?” ucap Rania tanpa menoleh ketika menyadari langkah Lara di belakangnya.

“Nanti kapan-kapan lagi aja, Ran,” jawab Lara ringan sambil menyamakan langkah di sampingnya.

Di sepanjang perjalanan kembali menuju kelas, Rania tidak mengeluarkan suara lagi. Ia berjalan dengan wajah datar seperti biasanya.

Lara beberapa kali melirik Rania, namun ia memilih tidak banyak bicara. Ia tahu sahabatnya itu masih mencoba menenangkan pikirannya.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di kelas.

Rania langsung menuju bangkunya dan duduk dengan santai. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya.

Jam pulang masih sekitar empat puluh menit lagi, jadi ia memutuskan untuk bermain game sambil menunggu waktu berlalu.

Tak lama kemudian, Bintang menghampiri mejanya.

“Ran, gue mau ke kantin. Lo mau nitip gak?” tawar Bintang.

“Gak usah, Bin,” jawab Rania tanpa menoleh dari layar ponselnya.

“Ya udah, gue duluan,” ucap Bintang sebelum akhirnya berjalan keluar kelas menuju kantin.

~~

“Ikut gue sebentar.”

“Ke mana?” tanya Revano tanpa melirik Reyhan sedikit pun.

“Kelas cewek gue. Gue mau bawain dia roti buatan bunda gue,” jawab Reyhan santai sambil mengangkat paper bag yang ia bawa di tangannya.

“Malas,” balas Revano singkat.

“Serius lo gak mau ikut gue?” tanya Reyhan lagi sambil menoleh padanya.

“Hm…”

“Ya udah, gue duluan. Lo jangan nyesal ya kalau gak ikut,” ucap Reyhan dengan senyum miring sebelum akhirnya meninggalkan kelas.

Baru saja Reyhan keluar dari kelas, Revano yang masih duduk tiba-tiba menyadari sesuatu.

Ia langsung bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menyusul Reyhan.

“Katanya gak mau ikut,” ledek Reyhan saat melihat Revano tiba-tiba berjalan di sampingnya.

“Jangan bacot lo,” ucap Revano ketus.

Mendengar itu, Reyhan hanya terkekeh geli.

Sepanjang perjalanan, banyak murid yang memperhatikan mereka berdua. Beberapa siswi bahkan berbisik-bisik sambil menatap ke arah Revano dan Reyhan.

Namun seperti biasa, mereka berdua sama sekali tidak mempedulikannya. Langkah mereka tetap lurus ke depan tanpa menoleh ke siapa pun.

“Fans lo banyak yang jerit-jerit, Van. Lihat lo lewat,” ucap Reyhan sambil tertawa geli.

Revano hanya mengangkat bahu acuh, sama sekali tidak tertarik dengan perhatian itu.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di kelas kekasih Reyhan.

Reyhan langsung masuk dan menghampiri Clara yang sedang duduk di bangkunya. Kebetulan, bangku Clara tidak jauh dari tempat duduk Rania.

“Hai,” sapa Reyhan pada Clara.

Clara yang sedang menulis di bukunya sedikit terkejut ketika melihat Reyhan tiba-tiba muncul di depan mejanya.

“Eh, hai Rey,” balasnya.

“Ini titipan dari bunda aku,” ucap Reyhan sambil memberikan paper bag yang dibawanya kepada Clara.

“Aduh, bunda kamu repot banget,” balas Clara sambil menerima paper bag itu.

“Gak apa-apa kok. Kamu kan calon mantunya,” ucap Reyhan santai.

Ucapan itu langsung membuat Clara tersenyum malu.

Sementara Revano menatap Rania yang begitu fokus pada ponselnya.

Gadis itu bahkan tidak menyadari kehadiran mereka di kelas. Jari-jarinya bergerak cepat di layar, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

Revano memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

"Cantik."

Reyhan memberi kode pada Clara sambil melirik ke arah Revano yang berdiri tidak jauh darinya.

Clara yang menangkap kode itu langsung mengalihkan pandangannya. Ia sempat sedikit terkejut melihat kehadiran Revano di kelasnya, karena biasanya laki-laki itu jarang sekali muncul di sana.

Reyhan kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu pada Clara. Mendengar itu, Clara langsung mengangguk pelan tanda paham.

Dengan sedikit ragu, ia menoleh ke arah Rania yang duduk tidak jauh darinya.

“Rania,” ucap Clara pelan sambil menepuk bahu Rania dengan hati-hati. Ia sedikit memberanikan diri, karena ini pertama kalinya ia berbicara langsung dengan Rania.

Rania langsung menoleh. Ia sedikit menaikkan alisnya, seolah bertanya ada apa?

“Boleh pinjam buku catatan lo gak?” tanya Clara berbohong dengan suara agak pelan.

Rania mengerutkan keningnya sebentar, lalu akhirnya mengangguk pelan. Ia meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengambil buku catatannya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Clara.

“Makasih, Ran. Secepat mungkin gue balikin,” ucap Clara.

Rania hanya mengangguk. Namun sebelum kembali melanjutkan gamenya, ia sempat bertanya singkat.

“Nama lo siapa?”

Clara tampak sedikit terkejut.

“Lo gak tahu nama gue, Ran?” tanya Clara dengan nada tidak percaya.

Rania hanya membalas dengan anggukan kecil.

“Gue Clara, Ran. Kenalin, ini pacar gue Reyhan dan ini Revano, sahabat Reyhan,” ucap Clara sambil menunjuk mereka berdua satu per satu.

Rania hanya melirik sekilas, lalu kembali ke ponselnya.

Reyhan menatap Rania dengan mata sedikit membesar.

Ia lalu melirik Revano, lalu kembali melihat Rania yang sudah kembali fokus pada ponselnya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Buset…” gumam Reyhan pelan.

Clara menoleh heran. “Kenapa?”

Reyhan mendekat sedikit lalu berbisik, “Ini pertama kalinya ada cewek yang nyuekin Revano.”

Clara langsung menahan tawa.

Sementara itu Revano hanya berdiri diam dengan wajah datar, menatap Rania yang masih sibuk bermain game.

Entah kenapa, bukannya kesal… Revano justru tersenyum tipis.

“Menarik," gumamnya pelan.

“Cla, aku balik ke kelas ya. Jangan lupa dimakan, ya,” pesan Reyhan pada sang kekasih.

“Iya,” balas Clara sambil tersenyum tipis, menggenggam paper bag yang tadi diberikan Reyhan.

Namun sebelum benar-benar pergi, Reyhan sempat memberi kode kecil pada Clara dengan lirikan mata yang cepat.

Clara yang sudah paham maksudnya langsung mengacungkan jempol kecil sebagai tanda mengerti.

~~

“Gak nyesal kan lo ikut gue?” ucap Reyhan pada Revano saat mereka sudah sampai kembali di kelas mereka.

“Gak,” balas Revano singkat. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya dan menatap layar dengan santai.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali menoleh pada Reyhan. “Apa yang lo rencanakan sama cewek lo?” tanyanya, mengingat gerak-gerik Reyhan dan Clara tadi yang tampak saling memberi kode.

“Cuma mengorek informasi aja tentang Rania. Lo setuju kan? Kalau gak, gue tanya Clara…”

“Gak usah, lanjut aja,” potong Revano cepat.

Reyhan terkekeh pelan mendengar itu. Ia sudah menduga Revano tidak akan menolak.

“Bagaimana pendapat lo tentang Rania?” tanya Reyhan kemudian, menatap Revano dengan senyum penuh arti.

Revano terdiam sesaat. Ia mengingat Rania saat pertama kali melihatnya di galeri seni.

“Cantik,” ucapnya singkat.

Reyhan langsung menoleh cepat ke arahnya. “Cuma itu?”

Revano mengangkat bahu santai. “Dingin.”

Reyhan menyeringai lebar. “Akhirnya ada juga cewek yang bikin lo merhatiin.”

Revano kembali mengingat Rania yang fokus pada ponselnya, dan tak peduli kehadirannya.

“Dia beda.” gumamnya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!