seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Hari terakhir Ujian Nasional tiba dengan atmosfer yang lebih berat dari biasanya. Sejak fajar menyingsing, udara di ruang VIP itu terasa tipis. Dita duduk bersandar di ranjangnya, wajahnya sepucat kertas yang ada di depannya. Namun, matanya yang redup menyimpan kilat tekad yang luar biasa.
"Dita, satu mata pelajaran lagi. Kalau kamu nggak kuat, kita berhenti sekarang," bisik Dinda, tangannya yang dingin menggenggam jemari adiknya yang mungil.
Dita tersenyum, meski sudut bibirnya sedikit bergetar. "Dita bisa, Kak. Dita mau kasih ijazah ini buat Ayah dan Ibu di surga. Kakak jangan sedih terus, ya?"
Dika, yang duduk di meja seberang, menatap kembarannya dengan cemas. Dia tahu Dita sedang memaksakan diri. Dia tahu setiap goresan pena yang dibuat Dita adalah sisa-sisa tenaga terakhirnya. Sepanjang ujian berlangsung, Dika terus mencuri pandang, memastikan adiknya masih bernapas dengan teratur.
Hingga bel tanda ujian berakhir berbunyi. Para pengawas mengumpulkan lembar jawaban dengan wajah haru. Mereka tahu, di depan mereka adalah dua anak cerdas yang nasibnya sedang diuji oleh semesta. Begitu para pengawas melangkah keluar dan pintu tertutup rapat, benteng pertahanan Dita runtuh.
Tes.
Cairan merah pekat menetes dari hidung Dita, jatuh tepat di atas sprei putih yang bersih.
"Dita!" jerit Dinda histeris. Ia menyambar tisu, mencoba menyumbat aliran darah yang tak kunjung berhenti. "Dika, panggil dokter! Cepat!"
Dika melompat dari kursinya, wajahnya pucat pasi. "Dita, tahan, Ta! Jangan tutup matamu!"
Tubuh Dita mendadak lemas, matanya mulai berputar ke atas. "Kak... Bang... dingin..." gumamnya sebelum kesadarannya mulai hilang.
***
Di saat dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan untuk melakukan tindakan darurat, Dinda dan Dika dipaksa menunggu di koridor luar. Dinda terus mondar-mandir, mulutnya tak henti merapal doa, sementara Dika berdiri mematung menyandar ke dinding, kedua tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi yang tajam bergema di koridor. Nyonya Sofia Ryuga datang dengan keanggunan yang mematikan. Ia tidak datang untuk menjenguk. Ia datang untuk menghancurkan.
"Drama yang sangat menyentuh," ucap Sofia dingin, berdiri tepat di depan Dika.
Dinda menoleh, terkejut. "Nyonya Sofia? Untuk apa Anda ke sini?"
Sofia mengabaikan Dinda dan menatap Dika dengan tatapan meremehkan. "Kau adiknya, bukan? Anak laki-laki yang katanya 'tegas'? Apa kau tahu dari mana asal uang yang membayar semua kemewahan di ruangan ini? Apa kau tahu harga yang harus dibayar kakakmu untuk menyelamatkan adikmu yang sekarat itu?"
"Nyonya, saya mohon, jangan sekarang!" tangis Dinda pecah. Ia mencoba menghalangi Sofia.
"Kenapa? Kau takut adikmu tahu bahwa kau sudah menjual dirimu pada anakku?" Sofia tersenyum sinis. "Dengar, Anak Muda. Kakakmu ini telah menyerahkan kesuciannya pada Allandra. Dia menjual harga dirinya demi biaya rumah sakit ini. Dia bukan wanita suci yang kau banggakan lagi. Dia hanyalah simpanan anakku yang dibayar dengan tagihan medis."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Dika. Ia menoleh ke arah Dinda, matanya yang dingin kini memancarkan luka yang begitu dalam. "Kak... apa yang dia bilang... itu bohong, kan?"
"Dika, nggak gitu... Kakak... Kakak cuma mau Dita sembuh..." Dinda mencoba meraih tangan Dika, namun Dika mundur selangkah.
"JAWAB AKU, KAK! APA KAKAK MELAKUKAN ITU?!" teriakan Dika menggelegar di koridor rumah sakit.
"Dia melakukannya," sambung Sofia tanpa belas kasihan. "Dia menukar kehormatannya dengan fasilitas VIP ini. Kalian semua hanya parasit yang memanfaatkan kekayaan Alan!"
"CUKUP, MA!"
Alan muncul dari ujung koridor, napasnya memburu. Ia langsung berdiri di depan Dinda, melindunginya dari tatapan tajam ibunya. "Jangan berani-berani menghina Dinda lagi!"
Alan menatap Dika yang nampak hancur. "Dika, dengar. Apa yang terjadi... itu murni karena aku mencintai kakakmu. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahi Dinda. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai transaksi!"
Dika tertawa hambar, air matanya menetes satu per satu. "Menikahinya? Setelah kamu menghancurkannya? Kamu pikir uangmu bisa mengembalikan martabat kakakku? Kamu pikir kami ini apa?!"
**
Suasana semakin kacau saat seorang dokter keluar dengan wajah mendung. "Tuan Alan, Nona Adinda... kondisi Nona Dita kritis. Terjadi pendarahan hebat di sumsum tulang belakangnya. Organ-organnya mulai gagal berfungsi."
"Bawa dia ke Singapura! Siapkan jet pribadi sekarang!" perintah Alan dengan nada memerintah yang biasa ia gunakan.
Dokter itu menggeleng lemah. "Kondisinya tidak memungkinkan untuk dipindahkan, Tuan. Tubuhnya terlalu lemah untuk perjalanan udara. Sekarang... adalah waktu bagi keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal."
Sofia mendengus, "Lihat? Sia-sia saja kau membuang milyaran untuk mereka, Alan. Mereka ini pembawa sial. Hanya menghisap hartamu lalu berakhir dengan kematian."
Mendengar itu, Dika kehilangan kendali. Ia maju selangkah, menatap Sofia dengan mata merah penuh amarah. "Keluar dari sini! Keluar sebelum aku lupa bahwa kamu adalah wanita tua!"
Dika kemudian berbalik dan menghambur masuk ke dalam kamar rawat, diikuti Dinda yang terus menangis. Alan ingin masuk, namun ia tahu tempatnya bukan di sana saat ini. Ia berdiri di pintu, menghalangi ibunya untuk ikut masuk.
Di dalam ruangan, Dita nampak sangat kecil di tengah peralatan medis yang begitu banyak. Ia membuka matanya sedikit saat merasakan tangan Dinda dan Dika menggenggamnya di kedua sisi.
"Bang... Kak..." suara Dita nyaris tak terdengar.
"Dita, Kakak di sini, Sayang. Tahan, ya? Kita akan sembuh," isak Dinda, menciumi tangan Dita yang mulai mendingin.
Dita menggeleng lemah. "Jangan berantem... Bang Dika... jangan marah sama Kak Dinda. Kak Dinda orang baik... dia sayang sama kita..."
Dika menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangisnya agar tetap kuat di depan adiknya. "Iya, Ta. Abang nggak marah. Abang jaga Kak Dinda. Kamu kuat, ya?"
"Dita... Dita udah lihat Ayah sama Ibu," bisik Dita, sebuah senyuman tulus muncul di wajahnya yang pucat. "Mereka jemput Dita. Kakak... Abang... kalian harus ikhlasin Dita, ya? Jangan sedih lagi... jangan berkorban terlalu banyak lagi..."
"Nggak, Dita! Jangan ngomong gitu!" raung Dinda.
"Dita sayang Kakak... sayang Abang..." napas Dita mulai tersengal. "Bang... jagain... Kak Dinda..."
Tangannya yang mungil perlahan kehilangan tenaga. Matanya perlahan terpejam, dan garis di monitor jantung itu mendatar dengan bunyi tuuuuuut yang panjang dan memilukan.
"DITA! TIDAK! BANGUN, DITA!" Dinda menjerit histeris, memeluk tubuh adiknya yang sudah tak bernyawa.
Dika terdiam. Ia melepaskan tangan Dita, lalu berdiri mematung. Hatinya yang semula penuh amarah kini mendadak kosong. Ia menatap kakaknya yang meraung-raung, lalu menatap tubuh kembarannya yang sudah damai. Semuanya hilang. Pengorbanan kakaknya, harga diri keluarganya, dan kini nyawa adiknya. Semuanya hancur dalam satu malam yang panjang.
Di luar pintu, Alan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: Uangnya bisa membeli rumah sakit, bisa membeli dokter terbaik, bahkan bisa membeli waktu, namun uangnya tidak bisa membeli pengampunan dari Dinda, dan tidak bisa mengembalikan nyawa Dita yang telah pergi membawa seluruh harapan keluarga kecil itu.
Dika berjalan menuju pintu, membukanya perlahan. Ia menatap Alan dan Sofia yang masih berdiri di sana. Dengan suara yang sangat tenang namun mengandung luka yang paling dalam, ia berkata:
"Sekarang, ambil kembali semua uangmu, Tuan Alan. Dan Anda, Nyonya... adikku sudah tidak bisa lagi 'memanfaatkan' kekayaan Anda. Silakan pergi dari hidup kami. Selamanya."
***
Bersambung...