NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23

"Kaisar Pingsan," gumam Jek sambil memanggul karung berisi ubi kayu yang beratnya tidak seberapa, tapi cukup membuat ototnya yang terbiasa memegang keyboard terasa mau putus. "Reputasiku benar-benar terjun bebas dari awan data ke selokan."

"Syukuri saja selokan itu hangat, Jek," sahut Maya yang berjalan di sampingnya sambil menenteng satu botol air keruh. "Lihat sisi positifnya. Dengan menjadi rakyat jelata yang tidak punya apa-apa, kau tidak perlu khawatir ada yang melakukan serangan DDoS pada gubuk kita. Musuh terbesarmu sekarang hanyalah rayap dan harga sabun yang tidak masuk akal."

Mereka sampai di meja barter milik seorang pria bertubuh besar yang dikenal sebagai Bang Toyib. Di atas mejanya, terdapat sisa-sisa peradaban: beberapa baterai bekas, korek gas yang hampir habis, dan satu kotak sabun batangan yang aromanya sudah hilang dimakan zaman.

Bang Toyib menatap Jek dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Baru lihat kau. Pengungsi baru dari sektor utara?"

"Hanya... pengembara yang tersesat, Bang," jawab Jek dengan suara yang sengaja dibuat agak gemetar, memperkuat narasi 'pria lemah' yang dibangun Rara.

"Dia ini tukang bongkar mesin, Bang," sela Rara sambil menaruh tiga buah ubi kayu di meja. "Tapi lebih sering merusaknya daripada membetulkannya. Kami mau tukar ubi ini dengan sabun. Suamiku ini bau asapnya sudah lebih menyengat daripada bangkai mesin Ares."

Bang Toyib tertawa terpingkal-pingkal, suaranya menggelegar di pasar yang pengap itu. "Tampang melankolis begini mau jadi teknisi? Nak, di dunia sekarang, kalau kau tidak bisa membetulkan generator dengan mata tertutup, kau hanya akan jadi pupuk di ladang jati."

Jek hanya tersenyum kecut, pura-pura sibuk menggaruk lehernya yang tidak gatal. Di dalam kepalanya, ia bisa melihat skema sirkuit baterai di meja Bang Toyib hanya dengan sekali lirik—ia tahu baterai itu sudah soak dan bocor—tapi ia harus menahan lidahnya. Memberitahu Bang Toyib soal anoda yang korosi akan membuatnya tampak terlalu pintar. Dan orang pintar di kamp ini biasanya dicurigai sebagai mantan kaki tangan Sang Arsitek.

"Hanya ubi ini?" Bang Toyib menunjuk ubi kecil-kecil itu dengan jijik. "Ini mah cuma cukup buat setengah batang sabun. Itu pun kalau kalian mau yang sudah bekas pakai."

Maya maju selangkah, memasang wajah paling menyedihkan sekaligus menyebalkan. "Ayo dong, Bang. Lihat kakak iparku ini. Dia sudah berlumuran tanah, bau, dan bahkan tunangannya saja cuma bisa kasih dia cincin dari mur rongsokan. Apa Abang tega melihat pengantin baru mandi pakai air sungai yang penuh oli?"

Bang Toyib melirik mur kusam di jari Jek, lalu mendecah. "Kasihan sekali kau, Nak. Ya sudah, ini setengah batang sabun. Anggap saja sedekah untuk kuli yang malang."

Jek menerima sabun itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. "Terima kasih, Bang. Semoga rezeki Abang selancar aliran listrik... maksud saya, selancar air hujan."

Saat mereka menjauh dari meja barter, Maya berbisik pelan di telinga Jek. "Akting yang bagus, 'Kuli Malang'. Tapi kalau kau sampai ketahuan tahu cara membetulkan baterai soak itu, kita dalam masalah besar. Ingat, kau itu bodoh, miskin, dan tidak punya masa depan. Pahami itu."

"Aku mulai berpikir kau sangat menikmati bagian 'menghinaku' ini, Maya," sahut Jek pahit.

"Aku hanya menjalankan peran, Jek," Maya nyengir lebar. "Dan jujur saja, ini peran paling menyenangkan yang pernah kumainkan."

Langkah mereka terhenti di depan sebuah tenda darurat yang dikerumuni orang. Suara tangisan bayi pecah dari dalam, disusul umpatan putus asa seorang pria. Di depan tenda, seorang wanita paruh baya mencoba menyalakan sebuah mesin kuno—inkubator portabel sisa rumah sakit lapangan yang tampak sudah sekarat.

"Tidak bisa! Kabelnya hangus!" teriak wanita itu. "Jika oksigen dan penghangatnya tidak menyala, bayi ini tidak akan bertahan sampai malam!"

Jek secara refleks maju satu langkah. Matanya menyipit, secara otomatis memindai letak kerusakan pada panel mesin itu. Di kepalanya, skema kabel dan aliran daya berkedip seperti hantu memori. Ia tahu persis masalahnya: hanya fuse yang putus dan konektor yang teroksidasi. Ia bisa memperbaikinya dalam tiga puluh detik dengan sepotong kawat kecil.

Namun, tangan Rara mencengkeram lengannya dengan sangat kuat.

"Jek, jangan," bisik Rara, matanya menatap tajam. "Lihat siapa yang berdiri di sana."

Di kerumunan itu, ada dua orang mantan teknisi tingkat rendah Ares yang sedang mengamati mesin. Mereka memiliki mata yang jeli untuk mengenali siapa pun yang punya kemampuan teknis di atas rata-rata. Jika Jek menyentuh mesin itu dan berhasil, mereka akan tahu bahwa dia bukan sekadar "tukang bongkar mesin gagal."

"Tapi bayi itu, Ra..." bisik Jek, suaranya parau. Konflik batin berkecamuk di dadanya. Identitasnya adalah perisai bagi mereka, tapi diam di sini terasa seperti pengkhianatan terhadap kemanusiaannya sendiri.

Maya mendekat, berpura-pura menggaruk kepala sambil berbisik di sisi lain Jek. "Jek, kalau kau maju, kau bukan cuma menyelamatkan satu nyawa, tapi kau mengundang seluruh kamp untuk memburu kita. Ingat 'Setan Perak'. Ingat tiang gantungan."

Jek mengepalkan tangannya hingga mur rongsokan di jarinya menekan kulit. Ia melihat teknisi Ares itu menggelengkan kepala, menyerah pada mesin itu.

"Sudah mati," kata salah satu teknisi itu dengan dingin. "Buang saja waktunya."

Jek menatap Rara, lalu menatap kerumunan itu. Ia harus mengambil keputusan. Menjadi pahlawan yang terungkap, atau menjadi pria miskin bodoh yang membiarkan tragedi terjadi.

Tiba-tiba, Jek melepaskan pegangan Rara. Ia tidak berjalan tegak. Ia berjalan limbung, memasang wajah konyol dan bingung, lalu mendekati wanita itu sambil memegang setengah batang sabunnya.

"Maaf... Bu..." Jek bicara dengan suara sengau yang dibuat-buat, persis seperti orang yang kurang asupan gizi. "Boleh saya lihat mesin berisik ini? Saya... saya suka bunyi 'tek-tek'-nya. Siapa tahu kalau saya pukul pakai batu, dia bangun lagi."

Wanita itu menatap Jek dengan geram. "Pergi kau, orang gila! Ini bukan mainan!"

"Cuma mau bantu, Bu..." Jek tersandung, sengaja jatuh tepat di depan panel mesin itu. Saat ia terjatuh, tangannya dengan secepat kilat masuk ke celah panel yang terbuka, mencabut fuse yang hangus dan menggantinya dengan kawat kecil yang sempat ia pungut di tanah tadi—semuanya dalam satu gerakan yang tampak seperti kecerobohan orang jatuh.

Ia kemudian bangkit dengan wajah berantakan dan penuh tanah. "Eh, maaf... tidak sengaja tersenggol."

Klik.

Mesin itu bergetar. Lampu indikator oksigen yang tadinya merah mendadak berubah menjadi hijau redup. Suara dengung halus kembali terdengar.

"Menyala?" wanita itu terpekik. "Mesinnya menyala kembali!"

Para teknisi Ares itu mengerutkan kening, mendekat dengan penuh curiga. "Bagaimana bisa? Kau apakan mesin itu, Gembel?"

Jek mundur dengan ketakutan yang dibuat-buat, bersembunyi di balik punggung Rara. "Saya cuma menyenggolnya! Mungkin mesinnya kaget karena bau sabun saya! Maaf, jangan pukul saya!"

Rara segera menarik Jek pergi. "Maaf, Bang! Dia memang aneh sejak lahir! Ayo Jek, pulang! Bikin malu saja!"

Maya mengikuti dari belakang, menahan tawa sampai wajahnya memerah. Begitu mereka cukup jauh dari kerumunan dan masuk ke dalam rimbunnya pohon jati, Maya meledak.

"Luar biasa! 'Kaget karena bau sabun'?" Maya tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Itu adalah alasan teknis paling jenius sekaligus paling bodoh yang pernah kudengar, Jek!"

Jek menyeka keringat dingin di pelipisnya. "Itu tadi terlalu dekat, Ra."

Rara menatap Jek, kemarahannya luruh menjadi rasa bangga yang disembunyikan di balik tatapan tegas. "Kau menyelamatkan bayi itu, Jek. Dan kau tetap menjadi 'si bodoh' di mata mereka. Tapi jangan lakukan itu lagi. Jantungku hampir copot."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!