NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Ruangan kantor itu sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi suasananya terasa menekan. Cahaya lampu putih memantul di meja kaca yang rapi, sementara tumpukan dokumen di salah satu sudut terlihat seperti saksi bisu dari berbagai keputusan penting yang pernah diambil di ruangan itu.

Novita berdiri di depan meja kerja Andra.

Awalnya ia hanya datang karena dipanggil seperti biasa. Namun entah kenapa, perasaan yang selama ini ia tekan tiba-tiba muncul kembali begitu saja.

Tanpa ia sadari.

“Arya…”

Nama itu keluar begitu pelan dari bibirnya, hampir seperti bisikan yang tertiup angin.

Namun bagi Andra, suara itu terdengar jelas.

Langkahnya yang semula hendak mendekati meja kerja tiba-tiba berhenti.

Matanya menatap Novita dengan tajam.

Untuk sesaat, udara di ruangan itu terasa berhenti bergerak.

Novita sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia ucapkan ketika rasa panas menjalar di matanya. Ingatan tentang seorang pria yang dulu pernah sangat dekat dengannya tiba-tiba muncul begitu kuat hingga membuat dadanya sesak.

Air mata mulai menggenang.

Satu tetes jatuh tanpa bisa ia tahan.

Novita terkejut pada dirinya sendiri.

Dengan cepat ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata itu dengan kasar, seolah ingin memastikan tidak ada siapa pun yang melihatnya.

“Kenapa aku…?”

Ia menggigit bibirnya kuat-kuat.

Sejak kecil, ia tidak pernah diizinkan menangis.

Bayangan wajah ibunya tiba-tiba muncul di kepalanya.

“Berhenti menangis!”

Suara itu masih teringat jelas.

Ibunya tidak pernah menyukai air mata. Setiap kali Novita kecil menangis, yang ia dapatkan bukan pelukan, melainkan bentakan… bahkan pukulan.

“Perempuan lemah yang suka menangis tidak akan pernah dihargai!”

Kalimat itu seperti terukir di dalam kepalanya.

Karena itu, Novita belajar menahan semuanya.

Sedih.

Takut.

Sakit.

Apa pun itu.

Ia menahannya sendiri.

Selalu.

Maka ketika air mata itu tiba-tiba keluar sekarang, rasa panik langsung menguasainya.

Tangannya kembali mengusap wajahnya dengan cepat, hampir kasar.

“Tidak boleh… jangan menangis…”

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

Sementara itu, beberapa langkah di depannya, Andra masih berdiri diam.

Tatapannya berubah.

Ia memandang Novita dengan ekspresi yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.

Nama itu.

Arya.

Itu adalah nama yang dulu pernah ia gunakan.

Nama samaran.

Nama yang ia pakai ketika pertama kali mengenal Novita bertahun-tahun lalu.

Dan sekarang…

Nama itu keluar dari bibir Novita dengan air mata.

Andra mengerutkan keningnya.

“Apa…?”

Ia menatap Novita lebih dalam.

Selama ini, setiap kali ia melihat wanita itu, yang muncul di kepalanya selalu satu gambaran yang sama.

Seorang wanita yang menjual dirinya.

Seorang wanita yang bisa menjadi pemuas nafsu siapa saja selama mereka mampu membayarnya.

Gambaran itu sudah begitu kuat tertanam di pikirannya selama bertahun-tahun.

Namun sekarang…

Tatapan mata Novita barusan.

Air mata itu.

Semuanya terasa tidak cocok dengan gambaran tersebut.

Seolah pemikiran yang selama ini ia yakini runtuh dalam sekejap.

Andra sedikit menggelengkan kepalanya.

“Kenapa aku jadi ragu…?”

Sementara itu, Novita sudah tidak tahan berada di ruangan itu lebih lama lagi.

Ia menundukkan kepalanya, berusaha menenangkan napasnya.

“Permisi.”

Suaranya pelan.

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.

Langkahnya hampir seperti orang yang melarikan diri.

Pintu ruangan terbuka.

Kemudian tertutup kembali dengan pelan.

Andra tidak menghentikannya.

Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap pintu yang baru saja ditutup Novita.

Ruangan itu kembali sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Andra berjalan pelan menuju meja kerjanya.

Tatapannya jatuh pada sebuah benda kecil di dekat tumpukan dokumen.

Sebuah kamera perekam.

Benda itu sebenarnya sudah ia siapkan sejak tadi.

Rencananya sederhana.

Ia ingin merekam percakapan dengan Novita, mencari celah, dan menggunakan rekaman itu untuk membongkar siapa sebenarnya wanita itu.

Selama ini ia yakin bahwa Novita tidak seperti yang ia tunjukkan di kantor.

Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Karena itu ia menyiapkan kamera itu.

Namun sekarang…

Tangannya berhenti di atas meja.

Ia menatap kamera kecil itu lama.

Kemudian perlahan mengambilnya.

Andra menekan tombol layar kecil di sisi kamera.

Rekaman itu mulai diputar.

Di layar kecil itu terlihat Novita berdiri di depan meja kerjanya beberapa menit yang lalu.

Wajahnya terlihat tegang.

Lalu…

“Arya…”

Bisikan itu terdengar kembali dari rekaman.

Dan tepat setelah itu…

Air mata.

Andra mematikan rekaman tersebut.

Ruangan kembali sunyi.

Ia menatap kosong ke arah meja kerjanya.

Tatapan mata Novita barusan kembali terbayang di pikirannya.

Tatapan itu bukan tatapan seorang wanita yang sedang berpura-pura.

Ada sesuatu di sana.

Sesuatu yang… nyata.

Andra berjalan menuju sofa di sudut ruangan dan menjatuhkan tubuhnya ke sana.

Ia menyandarkan punggungnya.

Tangannya menekan pelipisnya.

“Siapa sebenarnya kamu, Novita…?”

Ia bergumam pelan.

Selama ini ia begitu yakin dengan apa yang ia pikirkan.

Semua keyakinannya bermula dari satu kejadian lima tahun lalu.

Waktu itu, ia pernah melihat sebuah foto di ponsel Riski—teman kerja Novita di toko ponsel.

Foto itu memperlihatkan Novita bersama seorang pria yang terlihat jauh lebih tua.

Situasi di foto itu membuatnya salah paham.

Sejak saat itu, gambaran buruk tentang Novita terbentuk di kepalanya.

Dan sekarang…

Setelah melihat air mata itu.

Setelah mendengar namanya sendiri disebut.

Semua keyakinan itu mulai terasa goyah.

Andra menatap langit-langit ruangan.

“Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu…?”

Ia menghela napas panjang.

Satu hal yang tiba-tiba terasa sangat mengganggunya.

Sebuah pertanyaan sederhana.

Pertanyaan yang seharusnya ia tanyakan lima tahun lalu.

Kenapa dulu…

Ia tidak pernah bertanya langsung kepada Novita?

Kenapa ia langsung mempercayai apa yang ia lihat tanpa mencoba mendengarkan penjelasan darinya?

Andra menutup matanya sebentar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa ragu benar-benar muncul di dalam dirinya.

Dan perasaan itu membuat pikirannya kacau.

Di sisi lain gedung, Novita berdiri di depan wastafel toilet.

Tangannya bertumpu pada pinggiran keramik putih.

Ia menatap pantulan wajahnya di cermin.

Matanya masih sedikit merah.

Namun tidak ada lagi air mata yang jatuh.

Ia membuka keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin.

Beberapa kali.

Seolah mencoba menghapus semua perasaan yang baru saja muncul.

“Aku tidak boleh seperti ini…”

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

Setelah beberapa saat, ia menarik napas dalam-dalam.

Lalu perlahan menegakkan tubuhnya kembali.

Wajahnya kembali tenang.

Seperti biasa.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

Namun jauh di dalam hatinya, nama yang tadi keluar tanpa sadar masih bergema pelan.

Arya.

Nama yang pernah membuatnya berpikir bahwa penderita hidupnya tidak cukup untuk membuatnya merasa sedih saat bersama dengan Arya.

Namun itu hanya masa lalu dan pria itu sudah pergi tanpa bicara atau pun penjelasan.

1
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!