Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo kita terapkan : 11
“Hah …?” ia menatap tak percaya pada wajah seperti tidak berdosa, masih menyodorkan piring.
Anggara mengedipkan sebelah mata kiri, tersenyum lebar sampai barisan gigi terlihat. “Suami istri itu wajib saling tolong menolong, melengkapi satu sama lain, kan? Mulai sekarang ayo kita terapkan, supaya bila nanti telah menikah tak lagi canggung, langsung bisa gas masuk kamar, eh … memberi dan menerima, maksudnya.”
“Kau kira aku senang membuka cangkang kerang, iya?!”
“Sepertinya iya, soalnya di piringmu ada Udang. Takkan lama memisahkan daging dengan kulitnya, kau pasti bisa. Semangat calon binik.” Piringnya diletakkan di depan lutut Intan.
Perdebatan pun dimulai. Intan enggan menurut, memulangkan piring Anggara ke dekat pria itu. “Kalau kau malas membukanya, ya tak usah makan! Jangan karena dirimu suka, lantas merepotkan orang lain!”
Ckkk … Anggara mencebik, tidak mau menyentuh piring berisi seafood. Mengambil alat makan baru, lalu menyendok nasi yang tadi dia kembalikan ke dalam magic com.
Sarwanto pura-pura tidak melihat. Dia melototi nasi sambil mengunyah teramat pelan.
Irda asik menggigit kaki Kepiting, masa bodoh sama sekitar, lagipula takut terkena imbasnya. Jarang-jarang juga bisa makan seafood, wilayah mereka jauh dari laut.
Sembari mengunyah, Ririn sibuk melihat rumput Jepang – dia sedikit jijikan jadi orang, apalagi kalau lagi makan. Padahal profesinya adalah perawat, merawat luka.
Nasi campur daging ikan Gurame, rasanya sulit ditelan, menyangkut pada tenggorokan. Padahal lezat sekali. Masakan sepupunya Anggara cocok di lidah Intan dan lainnya.
Intan mengambil air putih dalam gelas, lagi-lagi melirik Anggara yang makan nasi putih tanpa lauk. Piring seafood dibiarkan tergeletak, tak disentuh sama sekali.
“Lain kali kalau mau ngajak makan seafood, kau bawa orang khusus mengurusmu yang pandai mengupas cangkang kerang!” Bibirnya menggerutu, tangannya mengambil piring tadi.
Sambil bergumam kesal, Intan memisahkan kulit Udang dari dagingnya.
Intan mendengus melihat piring disodorkan oleh empunya.
Biang rusuh meringis, bak anak kecil menunggu ibunya memberi makan.
Setiap satu ekor Udang sudah ditaruh di atas piring, langsung dimakan oleh Anggara tanpa dicampur nasi.
“Aku mau kepiting, tapi bagian capit saja. Kalau daging badannya tak terlalu kenyal, kurang pas di lidah,” pintanya tidak tahu diri.
Intan menuruti, meremukkan tulang capit menggunakan tang khusus seafood yang dicuri Anggara dari restoran Sahira.
“Tokok (pukul) saja yang kuat, kalau pelan macam itu tak bakalan retak,” ia mengajari Intan membuka capit lebih besar dan cangkangnya keras.
Sarwanto memijat pelipis, tapi dia senang. Untuk sementara waktu terbebas dari bos penguji rasa sabar.
“Pakai nasi, Anggara paok (bodoh/gila)! Kalau cuma seafoodnya saja, tak bakalan kenyang kau!” Intan sudah seperti ibu-ibu memarahi anaknya.
“Nasinya belakangan. Coba pakai ujung garpu, siapa tahu mulut kerang sok kecantikan itu mau terbuka,” titahnya menjadi-jadi.
Intan bukan main kesalnya. Bayangkan saja! makan sambil mengurus bayi kadaluarsa macam Anggara.
“Makan sendiri tak?! Kalau nggak mau, kutinggal masuk puskesmas!” ancamnya setelah mengupas satu piring seafood.
“Iya, iya ….” pria menyebalkan itu memotong bagian ekor ikan, lalu menyendok kuahnya.
Intan memicingkan mata, mendongakkan kepala sampai pandangannya sejajar dengan Anggara. “Kau suka ikan?”
Sebelum menjawab, dia geleng-geleng kepala agar rambut gondrongnya tidak menyentuh piring. “Suka.”
“Mengapa tadi cuma makan nasi putih?”
“Ya biar kau iba, terus tak tega melihatnya. Buktinya, mau membukakan cangkang kerang. Berhasil kan trik ku?” ucapnya bangga seraya menatap jenaka.
Rasanya kepala Intan keluar tanduk. Dia merasa di tipu oleh pemuda licik ini.
“Kapan masa kerjamu disini usai?” Tangan kirinya menarik belakang hijab segitiga, agar bagian depan tidak turun.
“Kapan kau mau kuajak nikah,” jawabnya acuh tak acuh, sibuk mengunyah daging ikan.
“Apa hubungannya denganku?!” intonasi Intan naik lagi satu oktaf.
“Ya karena kau, aku betah di tempat antah berantah ini. Tak ada hiburan selain menonton para Primata bergelantungan di pohon. Adapun kibot, tidak tiap hari. Jauh dari kota, terkadang sinyal tersangkut entah dimana, panasnya macam matahari bocor.” Anggara menaruh piring sudah kosong di atas tikar.
“Intan, pasti kau tersanjung kan mendengar betapa diri ini sangat menyukaimu?”
“Terjungkal iya. Aku tak pernah memintamu tinggal! Kalau tak betah, pulang sana ke habitatmu!” sarkasnya. Ia sudah selesai makan, menolak kala ditawari potongan buah Mangga oleh bibi.
“Gimana ya ….” Anggara hendak mengendurkan tali kolornya, ia kekenyangan, perutnya terasa penuh.
“Jangan dilonggarkan!” teriak Intan spontan, suaranya mengagetkan dua perawat, satu asisten dan bibi, padahal mereka sudah memisahkan diri, duduk pada ujung tikar.
“Ihhh … kau mulai perhatian, aku jadi tak sungkan-sungkan lagi lah,” ucapnya asal, tidak jadi membuka ikat celananya.
“Bisa tak, kau jangan ganggu aku?!”
Anggara menggeleng cepat. “Berhubung ini siang hari, dan baterei mu masih penuh, maka wajib kubuat kesal. Supaya bila suatu hari nanti, seandainya diri ini tak tampak di depan matamu, kau kecarian.”
“Tak akan!” sahutnya yakin. Intan melihat jam pada pergelangan tangan kiri, lalu dia beranjak.
“Berhubung aku juga ikut kerja membuka kulit udang dan kerang, jadi dilarang keras menganggap memberi makan gratisan, supaya tak ada namanya hutang budi.” Ia kenakan lagi flatshoes nya.
“Ya, niat mulia ku sudah terbaca.” Bahu Anggra terkulai. Dia memandang wanita baru saja berbalik. “Padahal aku mau mengajakmu masuk kebun sawit.”
"Banyak kurangnya kau. Tak modal, masa mengajak wanita ke perkebunan.” Intan memalingkan wajah berkeringatnya, menatap sengit.
"Kan lagi berhemat, biar nanti bisa menghidupimu, Dek.” Ia terkekeh kecil.
"Aku bukan adekmu!” Intan Rasyid tidak mau dipanggil adik.
“Eh, kita ini hampir beda setahun loh, tua aku sembilan bulan, pun sudah beda tahun kelahiran _”
“Gak nanya!” ia menyela.
“Baiklah, kalau kau tak mau dipanggil adik, gimana dengan ... permata hatiku?” Alisnya naik turun.
“Kalau tak mau kulempar sepatu, jangan ngelunjak kau!” Intan benar-benar pergi dari sana, masuk ke dalam puskesmas.
Anggara mengedikkan bahu, menganggap ancaman Intan Rasyid seperti lagu penghantar tidur.
Kemudian dirinya juga beranjak, ada pekerjaan belum diselesaikannya.
Sarwanto mengikuti, tinggallah bibi dan kedua perawat yang membereskan kotak-kotak makanan masih tersisa sedikit menu.
***
“Bu bidan, sepertinya juragan muda betulan menyukaimu,” ujar Irda, mereka sudah bebas tugas, tengah duduk di teras rumah dinas sambil menikmati senja.
“Aku sudah punya tunangan.” Intan memamerkan cincin cantik pada jari manisnya.
Ririn yang sedang menggunting kuku menyeletuk. “Kata orang, sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung, Bu bidan.”
Intan mau menjawab, tapi urung. Netranya melihat sebuah mobil Toyota Yaris memasuki halaman rumah dinas, tak lama kemudian – kedua pintu bagian depan terbuka.
“Assalamualaikum. Dek, kakakmu ngidam mau diperiksa bu bidan Intan, katanya. Dengan yang lain tak mau dia!”
Deg.
.
.
Bersambung.
d asil msih ada gk y? mau d libatkn dlm kisah inikah
?🤣
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin