Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Alya
Malam sudah turun dengan tenang ketika Alya akhirnya sampai di apartemennya. Lampu-lampu kota terlihat seperti bintang kecil dari balik jendela ruang tamu yang besar, menciptakan pemandangan yang biasanya selalu ia sukai setelah hari panjang. Namun malam itu, suasana tenang justru membuat pikirannya semakin penuh dengan berbagai kemungkinan yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Alya melempar tasnya ke sofa lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelahnya dengan gerakan lelah. Ia menatap langit-langit beberapa detik, seolah berharap jawaban hidup tiba-tiba muncul dari sana.
Namun yang datang justru lebih banyak pertanyaan.
“Aku beneran mau nikah…” gumamnya pelan.
Kata-kata itu terasa aneh bahkan ketika ia mengucapkannya sendiri.
Alya meraih remote televisi yang tergeletak di meja lalu menyalakan layar besar di ruang tamunya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka aplikasi video dan mencari sesuatu yang ringan untuk ditonton.
Beberapa detik kemudian, wajah-wajah ceria para member The Boyz muncul di layar.
Variety show favoritnya.
Senyum Alya langsung muncul sedikit.
“Ah, penyelamat mental,” katanya pelan.
Ia menggulung kakinya di sofa sambil memeluk bantal, posisi yang sangat biasa ia lakukan ketika menonton sesuatu yang menghibur. Di layar, para member sedang bermain permainan konyol yang membuat mereka tertawa keras satu sama lain.
Sunwoo terlihat paling berisik, sementara Changmin tertawa sampai hampir jatuh dari kursinya.
Alya ikut tertawa kecil.
“Ya ampun, mereka tuh selalu kayak anak-anak,” gumamnya.
Namun meskipun matanya menatap layar, pikirannya sebenarnya tidak benar-benar fokus pada acara itu.
Pikiran Alya mulai kembali melayang ke topik yang sama seperti tadi sore.
Pernikahan.
Ia menatap wajah Sangyeon di layar yang sedang mencoba menenangkan member lain yang terlalu ribut.
Lalu tiba-tiba sebuah pikiran muncul di kepalanya.
“Eh.”
Alya duduk sedikit lebih tegak.
“Kalau aku udah nikah…”
Ia berhenti sejenak.
Pikirannya mulai membentuk berbagai skenario aneh dengan kecepatan luar biasa.
“Jangan-jangan nanti aku dilarang nonton konser?”
Alya langsung menatap layar televisi dengan ekspresi panik kecil.
Bayangan mengerikan muncul di kepalanya.
Ia membayangkan dirinya berdiri di depan pintu rumah dengan tas kecil, siap pergi ke bandara.
Namun tiba-tiba Adrian muncul di belakangnya dengan ekspresi dingin.
“Alya, kamu mau ke mana?”
Alya dalam bayangannya menjawab polos.
“Aku mau ke Thailand… nonton konser WayV.”
Adrian menatapnya dengan dingin.
“Tidak boleh.”
Bayangan itu terasa terlalu nyata di kepala Alya.
Ia langsung duduk tegak di sofa.
“Tidak boleh?” gumamnya.
Ia menatap layar televisi lagi.
Bayangan berikutnya muncul lebih dramatis.
Alya membayangkan dirinya berdiri di dalam arena konser dengan lightstick di tangan, berteriak penuh semangat bersama ribuan penggemar lainnya.
Lalu di panggung… Winwin muncul.
Alya bahkan membayangkan dirinya berada di barisan depan.
Dekat sekali.
Sangat dekat sampai ia bisa melihat ekspresi wajah idolanya dengan jelas.
Namun tiba-tiba seseorang menarik bahunya dari belakang.
Alya menoleh.
Adrian.
Dengan wajah dingin yang sama seperti biasanya.
“Kamu pulang sekarang.”
Bayangan itu membuat Alya memeluk kepalanya sendiri.
“Tidak!” katanya dramatis.
Ia menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa dengan ekspresi putus asa.
“Kalau aku nggak bisa lihat Winwin dari dekat, hidupku setengah gagal!”
Di layar televisi, para member The Boyz sedang tertawa keras karena permainan yang mereka lakukan.
Namun Alya sama sekali tidak memperhatikan lagi.
Pikirannya terus bergerak liar.
“Terus… kalau aku mau nonton konser The Boyz gimana?”
Ia langsung duduk lagi dengan ekspresi semakin serius.
“Aku mau banget ikut fan meeting,” gumamnya.
Ia bahkan mengangkat tangan ke udara seolah sedang berdoa.
“Please aku pengen foto bareng Sunwoo, Changmin, sama Sangyeon.”
Alya menatap langit-langit dengan ekspresi dramatis.
“Selama ini hidupku sibuk belajar terus.”
Kalimat itu sebenarnya tidak berlebihan.
Sejak kecil, ayahnya selalu menanamkan satu aturan sederhana.
Alya boleh melakukan apa saja… selama ia bertanggung jawab pada hidupnya sendiri.
Ayahnya pernah berkata dengan santai suatu malam ketika mereka makan malam bersama.
“Kalau kamu punya penghasilan sendiri, kamu boleh pergi ke luar negeri nonton konser sebanyak yang kamu mau.”
Kalimat itu selalu diingat Alya.
Itulah alasan ia mulai bekerja freelance sejak kuliah.
Ia ingin memiliki kebebasan itu.
Ia ingin bisa berdiri di tengah konser dengan tiket yang ia beli sendiri.
Namun sekarang…
“Kalau aku nikah…”
Alya kembali menatap layar televisi yang masih memutar acara The Boyz.
Sebuah ketakutan baru muncul di kepalanya.
“Jangan-jangan nanti aku dilarang aktif di sosial media juga.”
Ia memegang ponselnya yang tergeletak di meja.
Alya sebenarnya cukup aktif di internet.
Ia mengelola akun media sosial toko bunga ibunya, membuat konten video, bahkan sesekali muncul sebagai model untuk beberapa promosi kecil.
Ia menikmati itu semua.
Namun bagaimana kalau setelah menikah semuanya berubah?
“Kalau suamiku bilang… istri direktur harus terlihat anggun dan kalem,” gumamnya.
Ia langsung membayangkan dirinya mengenakan gaun formal setiap hari sambil duduk diam di rumah besar yang terlalu sunyi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada video lucu.
Tidak ada postingan aneh di internet.
Alya langsung memeluk bantal dengan erat.
“Terus aku nggak boleh ketemu teman-teman juga?”
Ia menatap layar televisi dengan ekspresi semakin sedih.
Pikirannya sekarang bergerak ke arah yang lebih gelap.
Di internet, ia sering melihat berita tentang pernikahan yang tidak bahagia. Banyak cerita tentang wanita yang setelah menikah hanya hidup untuk melayani suami mereka.
Tidak boleh keluar rumah.
Tidak boleh bekerja.
Tidak boleh memiliki kehidupan sendiri.
Alya menelan ludah.
“Jangan-jangan aku nanti jadi ibu rumah tangga yang hidupnya cuma…”
Ia berhenti sejenak.
“…ngurus suami patriarki.”
Kata itu terasa berat bahkan ketika ia mengucapkannya sendiri.
Pikirannya kembali membuat skenario baru.
Ia membayangkan dirinya berdiri di dapur sambil memasak setiap hari.
Adrian duduk di meja makan sambil membaca koran.
“Alya,” katanya dengan suara datar.
“Masakannya kurang garam.”
Alya langsung menjatuhkan bantalnya.
“Ini udah kayak drama keluarga tahun 90-an!”
Namun pikiran Alya belum berhenti.
Justru semakin liar.
Ia tiba-tiba teringat cerita-cerita yang pernah ia baca di internet.
Cerita tentang suami yang kasar.
Cerita tentang pernikahan yang berubah menjadi mimpi buruk.
Alya membeku di sofa.
“Jangan-jangan…”
Ia menelan ludah lagi.
“Adrian sebenarnya orang yang kasar?”
Ia langsung membayangkan Adrian dengan ekspresi dingin yang sama seperti biasanya.
Namun kali ini auranya terasa jauh lebih menyeramkan.
Pikirannya mulai membuat cerita yang terlalu dramatis.
“Apa jangan-jangan aku nanti…”
Alya menutup wajahnya dengan bantal.
“…jadi budxk sxkx?!”
“Aaaaaaah!”
Ia berteriak keras tanpa sadar.
Beberapa detik kemudian Alya baru menyadari sesuatu.
Ruang tamunya sangat sunyi.
Tidak ada siapa pun selain dirinya sendiri.
Ia menurunkan bantal perlahan lalu melihat ke sekitar dengan wajah sedikit malu.
“Ya ampun,” gumamnya.
“Aku teriak sendiri.”
Di layar televisi, Sunwoo sedang tertawa keras karena sesuatu yang terjadi dalam permainan mereka.
Alya menatap layar itu dengan wajah datar beberapa detik.
“Sunwoo,” katanya pelan.
“Kalau kamu jadi suamiku pasti kamu ngizinin aku nonton konser, ahhh. Ihik...”
Ia menghela napas panjang.
Namun setelah beberapa saat, ekspresinya mulai kembali normal.
Alya menyandarkan tubuhnya lagi di sofa sambil menatap layar televisi.
“Padahal targetku nikah itu umur dua puluh tujuh… atau tiga puluh,” gumamnya.
Itu memang rencananya sejak lama.
Ia ingin menikmati masa mudanya dulu.
Mengumpulkan uang.
Pergi ke berbagai tempat.
Melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa ia lakukan setelah menikah.
Namun sekarang semuanya terasa terlalu cepat.
Alya menatap jam kecil di pojok layar televisi.
21:07.
Ia langsung duduk tegak.
“Eh?”
Alya mengambil ponselnya dengan panik.
“Jam sembilan?!”
Ia langsung membuka aplikasi pesan.
Ada beberapa pesan dari ibunya.
Sang Ibunda💕:
[Alya, videonya sudah dibuat belum?]
Alya menatap pesan itu dengan ekspresi kosong.
Hari ini ia sebenarnya berjanji pulang lebih cepat untuk membuat video promosi baru untuk toko bunga ibunya.
Ia bahkan sudah punya ide.
Video tentang rangkaian bunga musim semi dengan musik lembut di latar belakang.
Namun sekarang…
Ia bahkan belum menyentuh kamera.
Alya menjatuhkan kepalanya ke sofa dengan ekspresi pasrah.
“Hebat,” gumamnya.
“Aku duduk di sini hampir dua jam cuma buat overthinking.”
Di layar televisi, para member The Boyz masih tertawa seperti biasa.
Alya menatap mereka beberapa detik.
Lalu ia mengambil remote dan mematikan televisi.
Ruang tamu langsung menjadi sunyi.
Alya berdiri perlahan sambil menghela napas panjang.
“Baiklah,” katanya pelan.
“Mikirin masa depan boleh… tapi kerjaan tetap harus dikerjain.”
Ia berjalan menuju meja kecil di dekat jendela tempat kamera dan lampu kecilnya biasa dipasang.
Namun sebelum mulai bekerja, Alya berhenti sejenak.
Ia menatap ponselnya lagi.
Lalu bergumam pelan.
“Tapi serius deh…”
Alya mengangkat wajahnya ke langit-langit.
“Semoga aku masih boleh nonton konser.”