"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Permintaan Maaf Istri Muda
Jika diminta untuk mendeskripsikan dengan satu kata, mungkin kata mencekam adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana ruang rapat di lantai dua.
Perusahaan teknologi milik Wimana group tidak pernah lolos dari kritik jika Prabujangga yang duduk di kursi putar ujung. Mereka yang telah mempersiapkan semuanya kadangkala tidak memiliki muka, tidak bisa membela diri.
Prabujangga tidak seperti putra-putra Wimana lainnya yang kadang bersikap acuh dan menerima saja, atau paling tidak asal datang dan menghadiri rapat saja.
Laki-laki itu terlalu kritis. Terlalu perfeksionis.
Itulah mengapa setelah rapat usai, hanya ada hening yang mencekik diantara mereka yang duduk tegang di meja persegi.
"Saya akui ada progres yang kalian lakukan bulan ini."
Komentar Prabujangga memecah keheningan.
"Kalian menerima kritik saya dengan baik dan memperbaiki semuanya dengan cepat. Saya cukup puas dengan kinerja kalian bulan ini."
Meskipun samar-samar, Prabujangga bisa mendengar helaan napas lega yang dilakukan serempak. Meskipun sepuluh orang yang duduk di hadapannya kini terlihat tegang, tapi Prabujangga tau mereka telah berusaha melakukan yang terbaik.
"Akan saya berikan bonus pada kalian semua untuk bulan ini, sebagai bentuk apresiasi dari pekerjaan yang telah kalian selesaikan dengan baik," imbuh Prabujangga. "Rapat bisa ditutup."
Senyum tipis mengembang di wajah-wajah yang kelelahan mendengar ucapan Prabujangga. Mereka yang awalnya saling bertukar pandang cemas, takut membuat kesalahan, pada akhirnya terbayarkan oleh bonus tambahan yang pasti tidak akan sedikit nominalnya jika sudah Prabujangga yang memberikan.
Dengan ucapan terimakasih yang telah diucapkan, mereka bangkit dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Prabujangga seorang.
Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi putar, cukup lelah setelah memaksakan diri memasang topeng profesional meskipun pikirannya kacau balau.
Tidak tidur semalaman.
Itu ternyata sangat berpengaruh.
Prabujangga sendiri tidak mengerti mengapa ia tidak bisa tidur. Masalahnya dengan Kharisma terlalu kecil jika disebutkan sebagai alasan.
Setelah satu bulan bisa tertidur dengan nyenyak, kenapa lagi-lagi ia mengalami hal seperti ini?
Belum ada lima menit Prabujangga memejamkan matanya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari pintu ruangan.
Prabujangga tidak membuka mata, mengira mungkin ada salah satu karyawan yang meninggalkan barang mereka di ruangan ini.
"Masuk."
Pintu terdengar berderit terbuka.
"Mas Prabu..."
Tapi jelas tidak ada karyawan gila yang memanggilnya dengan embel-embel 'Mas' di tempat ini.
Mata Prabujangga perlahan-lahan terbuka, namun dia tidak langsung menoleh ke arah perempuan yang perlahan-lahan melangkah mendekat ke arahnya.
"Mas Prabu apa masih kesal?"
Suara takut-takut itu tentu saja milik istrinya.
"Untuk apa kamu berada di sini?" Tidak menanggapi pertanyaan sebelumnya, Prabujangga justru membalas dengan dingin.
Dia menegakkan tubuh, sorot tajamnya kembali kala memandangi Kharisma yang kini berdiri di hadapannya.
Penampilan perempuan itu sama sekali tidak berubah, masih menggunakan gaun cerah yang Prabujangga anggap kekanak-kanakan. Warna biru muda memanglah cocok di tubuhnya, di tambah dengan rambut tergerai dan tas selempang senada. Tapi jelas itu bukan penampilan yang Prabujangga suka.
"Aku dengar dari Meara kalau tadi pagi Mas marah-marah..." cicit Kharisma, kepalanya tertunduk dan tangannya bertaut di pangkuan. "Pasti masih kesal dengan aku, ya?"
"Kamu tidak sepenting itu hingga mampu mempengaruhi emosi saya," tanggap Prabujangga, menjaga suaranya tetap datar.
Dia menegakkan tubuhnya, memandangi Kharisma dengan tatapan yang terlampau menakuti. Bahkan Kharisma sendiri sampai tidak berani bersitatap dengannya.
"Saya tidak suka jika kamu tiba-tiba datang dan menemui saya untuk hal yang tidak penting seperti ini. Kantor adalah tempat bekerja, saya yakin kamu tau meskipun sedikit bodoh."
Kharisma mendongak, matanya yang indah sedikit melebar. Prabujangga tidak sedikitpun menyaring kata-katanya.
Tapi jujur saja ia masih merasa kesal karena diabaikan oleh Kharisma semalaman.
"Tapi meminta maaf itu hal yang penting, Mas," Kharisma membalas, diikuti oleh helaan napas. "Aku cuma ingin meminta maaf dengan Mas Prabu."
Selanjutnya, Kharisma melangkah mendekat dengan hati-hati, namun ucapan tajam Prabujangga kembali menghentikannya.
"Pulang. Permintaan maafmu ini tidak bisa saya terima di sini."
Tidak menghiraukan kehadiran perempuan itu lagi, Prabujangga membuka kembali laptopnya meskipun tidak ada yang bisa ia kerjakan sekarang dengan kepala yang sepanas ini.
Dari ekor matanya ia bisa melihat Kharisma yang berkaca-kaca namun ditahan. Perempuan itu meremas tangannya sendiri erat-erat, kepalanya kembali tertunduk.
Apakah perempuan itu memang secengeng ini?
Baru saja Prabujangga hendak mengusir, tidak ingin melihat drama yang akan membuatnya semakin pusing, tapi tiba-tiba saja Kharisma melangkah cepat ke arahnya dan mendekapnya.
Prabujangga menegang, kursi putarnya bergeser menjauh karena kekuatan Kharisma yang memeluk lehernya erat. Bahkan hingga Prabujangga sendiri kesulitan bergerak.
"Maaf, Mas... maaf ya..."
Kharisma mulai terisak, membenamkan wajahnya di ceruk leher Prabujangga, terancam membasahi kemeja mahal laki-laki itu dengan air mata.
"Lagipula apa aku salah untuk kesal dan marah? Apa aku tidak boleh bersikap seperti itu jika Mas mengatakan ingin menikah lagi?" gumam perempuan itu terisak-isak, tubuhnya bergetar di sekitar Prabujangga.
Laki-laki itu hanya diam tak berkutik.
"Berarti aku harus membiarkan saya, ya? Mas Prabu ingin menikah lagi dengan wanita lain kalau aku tidak hamil? Kalau aku tidak membiarkan apakah Mas akan terus seperti ini?"
Celotehan Kharisma mulai membuat telinga Prabujangga terusik.
Alih-alih menenangkan, Prabujangga justru membenarkan posisinya dan bersandar pada punggung kursi, membiarkan saja Kharisma menangis di lehernya.
Ruangan yang awalnya dipenuhi tegang diantara karyawan seketika berubah bising oleh suara tangisan cengeng istrinya.
"Meara mengatakan kalau Mas Prabu semenjak menikah sudah tidak suka marah-marah lagi, tapi kenapa setelah kemarin Mas—"
"Diam."
"Tidak mau."
Prabujangga memejamkan matanya dengan lelah, terpaksa mendengarkan raungan dramatis Kharisma. Bahkan air mata perempuan itu sudah membasahi kerah kemejanya.
Ragu-ragu Prabujangga melingkarkan tangannya di pinggang kecil itu, tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mendengarkan ucapan Kharisma yang semakin lama semakin tidak jelas lagi.
Hingga mencapai di menit kesepuluh, barulah tangisan perempuan itu sedikit mereda.
"Sadah lelah?" tanya Prabujangga dengan nada malas.
Kharisma menggeleng, wajahnya masih terbenam di leher Prabujangga.
"Cemburumu itu benar-benar merepotkan saya," celetuk Prabujangga, tanpa sadar mengelus punggung Kharisma dengan gerakan pelan. "Kamu menganggu waktu istirahat saya, baik sekarang maupun kemarin."
"Jadi Mas Prabu marahnya bukan karena aku?" Kharisma mengangkat wajahnya, matanya memerah dan sembab. "Aku tidak cemburu, hanya kesal saja."
Bahkan di saat seperti ini dia masih mengelak.
"Kesal? Apa yang membuatmu kesal kalau bukan cemburu?" Prabujangga menarik sebelah alisnya.
Prabujangga mengangkat sedikit pinggang Kharisma, membenarkan posisi perempuan itu hingga duduk di pangkuannya.
"Coba jelaskan pada saya, apa yang membuatmu kesal jika bukan cemburu," tantang Prabujangga, menatap Kharisma dengan ekspresi dinginnya yang menantang. "Kamu merajuk seperti itu hanya karena wanita lain yang kamu sebut-sebut sendiri."
Kharisma hanya memasang tampang cemberut yang mengesalkan.
"Intinya tidak cemburu," jawabnya ketus.
Kharisma menyandarkan kepalanya di bahu Prabujangga, merasa lelah karena menangis selama sepuluh menit penuh.
"Mas Prabu apa masih marah?" tanyanya, dengan bibir cemberut kekanakan itu lagi.
"Bukankah sudah saya katakan bahwa kamu tidak sepenting itu untuk mempengaruhi emosi saya?" Prabujangga membalas, menoleh ke arah Kharisma yang sepertinya nyaman di tempatnya.
Sejenak, hening menyelimuti keduanya.
"Jadi benar Mas tidak marah karena yang kemarin..." gumam Kharisma, "kalau begitu aku tidak usah repot-repot datang ke sini..."
Prabujangga mengerutkan kening. Jengkel kembali menghinggapinya. "Jadi kamu tidak benar-benar ingin minta maaf pada saya? Kamu kemari hanya berpura-pura?"
Mendengar hal itu, Kharisma buru-buru menggeleng.
"Tidak, kok, memang ingin meminta maaf," ujarnya. "Aku kira Mas marah karena diabaikan kemarin, ternyata bukan. Kalau begitu, apa yang membuat Mas Prabu marah?"
Untuk pertanyaan yang satu itu, Prabujangga terdiam sejenak.
Entah mengapa, ia juga merasa aneh sendiri dengan dirinya sendiri.
Tadi pagi ia benar-benar lelah karena tidak bisa tidur semalaman, ditambah lagi dengan Meara yang banyak tanya. Emosinya benar-benar tidak stabil hingga membanting vas ke lantai.
Tapi apa penyebabnya? Ia juga tidak tau.
"Karena pekerjaan," jawab Prabujangga sekenanya.
Kharisma menghela napas, lantas mengangguk meskipun secercah rasa bersalah masih tersisa di dadanya. "Begitu... baguslah kalau Mas tidak kesal padaku," ujarnya.
Baru saja ingin bangkit dari pangkuan Prabujangga, tapi gerakan Kharisma terhenti karena lengan laki-laki itu yang justru malah mengerat di pinggangnya.
Kharisma mengerjap, menoleh ke arah Prabujangga.
"Saya mengantuk," gumam laki-laki itu. "Tetap di sini, bangunkan saya jika ada seseorang yang datang," perintahnya tiba-tiba. "Saya tidak tidur semalaman."
Prabujangga memejamkan matanya kembali, kepalanya sedikit bersandar di leher Kharisma yang entah mengapa terasa begitu nyaman.
Untuk satu hal yang lagi-lagi dianggap aneh, Prabujangga tiba-tiba mengantuk.
Hidungnya menyentuh kulit mulus istrinya, membuat aroma manis dari parfum perempuan itu terhisap masuk ke indra penciumannya.
Sedangkan Kharisma? Perempuan itu mematung di pangkuannya.
Bersambung...