NovelToon NovelToon
Immortal Restaurant

Immortal Restaurant

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Radapedaxa

Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.

Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.

“Aku pensiun.”

Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.

Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.

Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.

Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:

Membuka sebuah restoran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Cangkang Kosong

Di jalan utama Kota Pingxi, suasana berubah mencekam.

Para penduduk yang tadi berlari panik kini bersembunyi di balik kios atau sudut bangunan. Beberapa mengintip dengan gemetar, terlalu takut untuk benar-benar pergi namun juga tidak berani mendekat.

Di tengah jalan—

Zhao berdiri dengan santai.

Di hadapannya, Lu Qiang dan para bandit Eye menatapnya dengan aura mematikan.

Angin panas berhembus pelan.

Debu berputar di tanah yang retak.

Zhao menatap mereka sebentar lalu menghela napas panjang.

“Serius kalian mau bertarung?”

Nada suaranya terdengar malas. Ia melirik langit sebentar. “Kalau iya cepatlah.”

Ia menguap kecil.

“Kedai ku punya banyak pelanggan. Aku tidak punya waktu untuk bermain lama.”

Ucapan itu seperti menuang minyak ke api. Wajah Lu Qiang langsung menghitam oleh amarah.

Urat di dahinya menonjol.

“Kau…!”

Ia melangkah maju.

“Pendatang sialan! Kau pikir—”

Namun kalimatnya tidak pernah selesai.

Karena tiba-tiba—

Zhao sudah berdiri tepat di hadapannya.

Tak ada yang melihat kapan ia bergerak.

Tak ada yang melihat bagaimana ia melangkah.

Yang terlihat hanyalah—TINJU.

BOOOOM!!

Kepalan tangan Zhao menghantam wajah Lu Qiang dengan suara memekakkan telinga.

Tubuh besar itu langsung terlempar seperti batu yang ditembakkan dari ketapel.

Ia terbang belasan meter—

lalu menghantam sebuah kios pedagang.

BRAAAK!!!

Kios kayu itu hancur berkeping-keping. Buah dan sayuran beterbangan ke udara. Debu mengepul.

Untuk beberapa detik—

hening.

Para bandit menatap kosong. Mulut mereka terbuka.

Otak mereka bahkan belum sempat memproses apa yang baru saja terjadi.

Sementara itu Zhao berdiri di tempat semula.

Ia memijat lehernya santai.

“Kebanyakan bacot…"

Ia memutar bahunya pelan lalu melirik ke arah puing-puing kios.

“Kalau mau gelud ya tinggal gelud…”

Ia menguap lagi.

“Tidak usah kebanyakan dialog.”

Beberapa bandit akhirnya tersadar.

Wajah mereka langsung berubah merah oleh amarah.

“BAJINGAN!”

“Mati kau!”

“Bunuh dia!!”

Sekejap kemudian—

mereka semua menerjang Zhao secara bersamaan.

Pedang.

Golok.

Tombak.

Semua diarahkan ke arahnya.

Namun Zhao hanya meregangkan lengannya pelan. Ia terlihat seperti seseorang yang baru bangun tidur.

Lalu ia berkata dengan santai.

“Berlutut.”

Satu kata.

Hanya satu kata sederhana.

Namun—

udara di seluruh jalan tiba-tiba berubah.

BOOOOM!!

Tekanan mengerikan turun dari langit seperti gunung raksasa.

Para bandit langsung berhenti di tengah langkah.

Mata mereka terbelalak.

“Apa—?!”

Tubuh mereka tiba-tiba terasa sangat berat.

Seolah seluruh dunia menekan mereka.

DUK!

Seorang bandit jatuh berlutut.

Lalu yang lain.

DUK! DUK! DUK!

Dalam sekejap semua bandit jatuh ke tanah. Beberapa bahkan langsung tertelungkup. Mereka terengah-engah. Paru-paru mereka seperti diremas.

Tak ada yang bisa bernapas dengan normal.

“Ugh…!”

“A… apa ini…!”

Namun tekanan itu semakin berat.

Beberapa dari mereka langsung kehilangan kesadaran.

Tubuh mereka ambruk tak bergerak.

Penduduk yang bersembunyi menatap dengan mata membesar. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.

Sementara Zhao menggaruk kepalanya.

“Hmm…”

Ia melihat para bandit yang sudah tak sadarkan diri.

“Apakah aku terlalu berlebihan?”

Ia menghela napas.

“Aku tidak menyangka sajak Dao punya efek seperti ini di dunia mortal.”

Ia bergumam pelan.

“Standar kultivator di sini benar-benar rendah…”

Namun tiba-tiba—

WHOOOSH!

Sebuah bongkahan batu besar melesat ke arahnya.

Zhao hanya memiringkan kepalanya sedikit.

Batu itu melintas tepat di samping wajahnya dan menghantam tanah di belakangnya.

Ia menoleh.

Debu perlahan menghilang.

Dari balik puing-puing kios— Lu Qiang berdiri.

Wajahnya penuh darah. Matanya merah dipenuhi amarah. Qi di tubuhnya meledak-ledak seperti api.

Zhao mengangkat alis.

“Apakah kau anak kecil yang suka tantrum lempar batu?”

Lu Qiang tidak menjawab. Kapak besar di tanah tiba-tiba terbang ke arah nya dengan kecepatan tinggi.

Udara terbelah.

Namun Zhao bahkan tidak bergerak.

Ia hanya berdiri di tempat.

Lu Qiang melangkah maju dengan aura membara.

Ia menatap Zhao dengan wajah bengis.

“Bajingan pengecut! Berani sekali kau menyerang tiba-tiba!”

Zhao tersenyum tipis.

“Menyerang saat ada kesempatan.”

Ia mengangkat bahu.

“Itu teknik dasar bertahan hidup.”

Lu Qiang meraung marah.

“Sudahi omong kosongmu!”

Qi di tubuhnya meledak lebih kuat. Tanah di bawah kakinya retak.

“Rasakan kekuatanku!”

Ia mengangkat kapaknya.

Energi spiritual berkumpul di bilahnya.

Udara di sekitarnya bergetar.

Lalu—

SWOOOSH!!

Lu Qiang menerjang Zhao seperti badai.

Kapaknya turun dengan kekuatan menghancurkan.

Zhao tidak bergerak.

Ia hanya mengambil kuda-kuda ringan.

Serangan itu menghantam tempatnya berdiri dengan kekuatan mengerikan.

BOOOOM!!!

Debu dan batu beterbangan.

Gelombang kejut menyapu jalan.

Beberapa bangunan di sekitar bahkan bergetar.

Lu Qiang tertawa keras dari balik debu.

“Rasakan itu, serangga!”

Namun—

sebuah suara tenang terdengar dari dalam debu.

“Apa yang kau tertawakan gelandangan?”

Nada itu datar.

Lu Qiang membeku.

Debu perlahan menghilang.

Dan pemandangan yang muncul membuat matanya hampir keluar dari rongga.

Kapaknya—

yang tadi menghantam dengan seluruh kekuatannya—

ditahan oleh dua jari.

Dua jari Zhao. Dengan santai.

Seolah ia hanya memegang sumpit.

Lu Qiang terbelalak.

“Kau…! Bagaimana bisa?!”

“Aku kultivator Golden Core puncak!”

Zhao tidak menjawab.

Ia hanya memandang kapak itu sebentar.

Lalu—

DUK!!

Telapak tangan Zhao menghantam perut Lu Qiang.

Suara benturan terdengar seperti drum perang.

Tubuh besar Lu Qiang kembali terlempar.

Ia menghantam tanah dan berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.

Zhao menurunkan tangannya.

Ia berkata dengan tenang.

“Sekeras apapun cangkangmu…percuma saja.”

Ia melangkah maju.

“…jika itu hanya cangkang kosong.”

Lu Qiang perlahan berdiri lagi. Ia menghapus darah di sudut bibirnya. Tangannya gemetar.

Namun bukan karena takut.

Melainkan karena marah.

“Kau…”

Ia menatap Zhao dengan mata merah.

“Ada di tingkatan mana…?”

Zhao berpikir sebentar.

Ia benar-benar terlihat seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

“Entahlah.”

Ia mengangkat bahu.

“Kau juga tidak akan paham.”

Urat di dahi Lu Qiang langsung menonjol.

Amarahnya meledak.

“DASAR BAJINGAN SOMBONG!!!”

Qi di tubuhnya tiba-tiba berubah. Energi merah pekat keluar dari pori-porinya. Aura itu seperti darah yang membusuk.

Ia melapisi tubuhnya.

Juga kapaknya.

Tanah di sekitarnya mulai menghitam.

Penduduk yang menonton dari jauh langsung merasa mual.

Zhao mengerutkan dahi.

“Hawa menjijikkan ini…”

Ia memandang Lu Qiang dengan jijik.

“Teknik iblis?”

Lu Qiang tertawa gila.

“Takut sekarang?!”

Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

Energi merah berkumpul dengan liar.

Udara di sekitarnya mulai bergetar hebat.

Ini jelas bukan serangan biasa.

Jika dilepaskan— setengah pusat kota bisa hancur.

Zhao melihat sekeliling sebentar.

Bangunan.

Rumah penduduk.

Kios pedagang.

Ia menghela napas kecil.

“Kau benar-benar ingin menghancurkan pusat kota ini ya?”

Lu Qiang meraung.

“Mati saja kau!!!”

Ia menebaskan kapaknya.

Serangan siluet kapak merah raksasa melesat seperti badai kehancuran.

Namun Zhao hanya mengangkat satu tangan.

Gerakannya sederhana.

Tenang.

Ia berkata pelan.

“Dao… tenang.”

Seketika—

udara menjadi hening.

Energi merah yang mengamuk tiba-tiba membeku di udara.

Seolah dunia sendiri menolak keberadaannya.

Lalu—

CRACK.

Serangan itu retak.

Dan dalam sekejap—

HANCUR.

Energi Lu Qiang menghilang seperti asap tertiup angin.

Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan besar. Hanya kehancuran mutlak.

Lu Qiang berdiri kaku.

Matanya kosong. Ia menatap Zhao seolah melihat monster.

Pusat jalan Kota Pingxi hancur berantakan.Dan di tengah kehancuran itu—Lu Qiang berdiri gemetar.

Matanya menatap Zhao seolah melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

Serangan penuhnya…

yang bahkan bisa menghancurkan bangunan besar…

baru saja dihancurkan dengan satu gerakan sederhana. Tubuh Lu Qiang mulai bergetar.

Bukan karena luka.

Tapi karena takut.

Ia menggertakkan giginya.

“Kau…”

Suaranya serak.

“Kau… siapa sebenarnya?!”

Ia menatap Zhao dengan mata merah.

“Apakah kau…”

Ia menelan ludah.

“…benar-benar berasal dari klan Zhao?”

Nama itu membuat beberapa penduduk yang bersembunyi langsung pucat.

Klan Zhao. Nama yang hampir seperti legenda di dunia mortal.

Namun Zhao hanya terdiam.

Ia memandang Lu Qiang tanpa ekspresi.

Lalu menjawab pendek.

“Tidak.”

Lu Qiang langsung membentak.

“BERHENTI BERBOHONG!”

Urat di lehernya menonjol.

“Berhentilah menjadi domba dasar sialan!”

Ia menunjuk Zhao dengan jarinya.

“Cepat katakan! Dari mana kau berasal?!”

“Apa tujuanmu datang ke kota ini?!”

Suara Lu Qiang menggema penuh amarah.

“Orang sekuat dirimu tidak mungkin datang ke kota kecil seperti ini tanpa alasan!”

Namun Zhao hanya menghela napas pelan. Ia tampak sedikit lelah. “Latar belakangku tidak terlalu istimewa.”

Ia menunjuk ke arah kota.

“Dan tujuanku…”

Ia tersenyum kecil.

“…seperti yang kau tahu. Aku membuka kedai.”

Kalimat itu membuat wajah Lu Qiang berkedut hebat. Darah hampir muncrat dari mulutnya karena menahan amarah.

“BAJINGAN!!!”

Ia menggeram.

“Berani sekali kau mempermainkanku!”

Dadanya naik turun.

Matanya bergetar liar.

Akhirnya ia menarik napas panjang.

Lalu berkata pelan.

“Baiklah…”

Suaranya tiba-tiba menjadi dingin.

“Sepertinya tidak ada cara lain lagi.”

Tangannya masuk ke dalam jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil.

Botol giok.

Namun di dalamnya—

terdapat tiga pil merah gelap dengan pola hitam yang berdenyut seperti pembuluh darah.

Zhao mengangkat alis. “Apa yang kau lakukan?”

Lu Qiang tersenyum lebar.

Senyum yang penuh kegilaan.

“Aku akan menerobos paksa ke ranah Nascent Soul.”

Ia mengangkat botol itu.

“Dengan pil pencerahan ini!”

Zhao langsung tertegun.

“Kau—”

Namun sudah terlambat.

Lu Qiang langsung menuangkan semua pil ke tangannya.

Tanpa ragu— ia menelan ketiganya sekaligus.

“GULP!”

Untuk beberapa detik—

tidak terjadi apa-apa.

Lalu—

BOOOOOOM!!!

Qi di tubuh Lu Qiang meledak.

Gelombang energi menyapu seluruh jalan.

Tanah retak lebih dalam.

Bangunan di sekitar bergetar.

Urat-urat di tubuh Lu Qiang langsung menonjol.

Namun warnanya—

merah pekat.

Seolah darah kotor mengalir di dalamnya.

Matanya perlahan berubah. Putih matanya menghilang. Digantikan oleh merah darah.

Ia meraung seperti binatang buas.

“AAAAARRRGHHH!!!”

Tubuhnya mulai membesar. Ototnya menggembung.

Tulangnya berderak keras.

Dalam beberapa detik—tubuhnya hampir dua kali lebih besar.

Energi merah menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ia mengangkat kepalanya ke langit.

Dan berteriak.

“TEMBUS LAH!!!”

BOOOOOM!!!

Ledakan energi besar menghantam segala arah.

Zhao langsung mengangkat tangan.

Sebuah barrier transparan muncul di sekeliling area.

Ledakan itu menghantam dinding energi tersebut dan berhenti. Namun tanah di dalamnya tetap hancur.

Zhao mendecak pelan.

“Sial…Ini sangat merepotkan.”

Cahaya merah perlahan menghilang.

Debu turun.

Dan dari dalamnya—

Lu Qiang muncul kembali.

Tubuhnya lebih besar. Auranya jauh lebih menakutkan. Energi spiritual di sekitarnya berputar seperti badai. Ia membuka matanya perlahan.

Mata merah itu bersinar gila.

Ia tertawa pelan.

“Ah…”

Ia mengepalkan tangannya.

Udara bergetar.

“Jadi ini…ranah Nascent Soul?”

Ia tertawa semakin keras.

“HAHAHAHA!”

“Kekuatan ini…!”

Ia mengangkat tangannya.

Qi berkumpul dengan mudah.

“Benar-benar luar biasa!”

Lalu ia menatap Zhao.

Tatapannya penuh kebencian.

“Sekarang coba kau tunjukkan kesombonganmu lagi.”

Qi merah tiba-tiba berkumpul di tangannya.

Energi itu dipadatkan.

Diputar.

Ditekan.

Dan perlahan berubah menjadi—

kapak raksasa dari energi. Kapak itu hampir setinggi rumah. Aura kehancurannya membuat udara bergetar.

Lu Qiang tertawa penuh kegilaan.

“Ranah tinggi ini sungguh luar biasa!”

Namun Zhao hanya menatapnya dengan mata tenang. Lalu berkata pelan.

“Kau telah menodai jalan Dao.”

Ia melihat aura merah itu.

“Ranah yang kau capai…”

“…dipenuhi kekacauan.”

Lu Qiang langsung meraung.

“DIAM!!!”

Energi merah meledak lagi.

“Jangan ceramahi aku!”

Ia mengangkat kapak energi raksasa itu tinggi-tinggi.

“Sekarang…”

Ia menatap Zhao dengan mata membara.

“Mari mulai ronde kedua!”

Seluruh Qi di sekitarnya berkumpul.

Energi merah menjadi badai.

Lu Qiang mengayunkan kapaknya.

Dan berteriak keras.

“Kapak Pemusnah Gunung!”

Kapak energi raksasa itu turun dari langit.

Seolah ingin membelah seluruh kota.

Penduduk yang menonton dari jauh menjerit ketakutan. Namun Zhao hanya memejamkan matanya.

Sejenak.

Sunyi.

Lalu—ia membuka matanya kembali.

Mata itu—

berkilat emas.

Aura tenang yang tak terlukiskan menyebar dari tubuhnya. Seperti samudra tanpa batas.

Ia berkata pelan.

“Biarkan…”

Suaranya sangat lembut.

Namun menggema seperti lonceng suci.

“…kekuatan Bodhisattva memberikan penghakiman bagimu.”

Zhao mengangkat satu tangan.

Telapak tangannya menghadap langit.

“Telapak Penghakiman Seribu Kebajikan.”

Dalam sekejap—

langit berubah.

Cahaya emas turun dari atas.

Bukan cahaya biasa.

Tapi cahaya yang terasa suci.

Di langit—

sebuah telapak tangan raksasa dari cahaya emas perlahan muncul.

Besarnya menutupi langit.

Aura damainya justru membuat semua orang gemetar.

Kapak merah milik Lu Qiang terlihat kecil di bawahnya.

Untuk pertama kalinya—

mata Lu Qiang menunjukkan ketakutan.

“Ini… apa…?”

Namun sudah terlambat.

Telapak emas itu turun perlahan.

Namun kekuatannya—

seperti dunia itu sendiri jatuh dari langit.

Kapak merah Lu Qiang langsung retak.

Energi iblisnya hancur seperti kaca.

Lu Qiang berteriak panik.

“TI—”

BOOOOOOOOOOM!!!

Telapak emas menghantam tanah. Cahaya suci menyapu seluruh area. Dan dunia seakan berhenti sejenak.

1
SENJA
lu ngeselin ahli itu betinaaa hadeeeh🤣
SENJA
sotoy ahhh kakek 😅
SENJA
nih betina cari mati mulu yeeee😤
SENJA
lu nyari mati lu 🤣
SENJA
laaah yueling ngga tau si zhao itu apa???
SENJA
laaah masih aja dipikirin 😤
SENJA
hadeeeh 🤭🤭🤭
SENJA
aaah payah dong kaisar nya 😤
SENJA
wah punya banyak pegawai baru 🤣
SENJA
dari bandit jadi pelayan 🤣
SENJA
wakakaa hayoloh🤣
Kang Comen
mc cwe ap cwo ???
RDXA: MC nya cowo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!