Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah acara sederhana namun penuh khidmat itu usai, Abraham berpamitan pada Pak Gio dan istrinya.
Dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan namun penuh wibawa, ia menuntun Prita menuju bangunan mess yang terletak sedikit terpisah dari blok utama.
Pramesti membantu membawakan tas kecil berisi pakaian ganti, sementara dua koper besar Prita sudah lebih dulu dipindahkan oleh rekan-rekan Abraham ke sana.
"Ini kamarnya, Prit," ucap Abraham lembut sambil membuka pintu kayu berwarna cokelat tua.
Prita melangkah masuk dan terpaku sejenak. Kamar itu memang tidak seluas kamarnya di rumah, namun Pak Gio benar-benar mempersiapkannya dengan hati.
Ada sebuah tempat tidur kayu dengan sprei baru berwarna putih bersih, sebuah lemari pakaian dua pintu, dan meja kecil di sudut ruangan.
Wangi pengharum ruangan aroma lavender tercium menenangkan, sangat kontras dengan ketegangan yang mereka lalui sejak pagi.
"Mbak pulang dulu ya, Prit," bisik Pramesti sambil memeluk adiknya erat-Ierat.
"Mbak harus pastikan Papa tidak curiga kalau Mbak ke sini. Jaga dirimu baik-baik. Sekarang kamu sudah punya Mas Abraham."
Setelah Pramesti pergi, suasana mendadak sunyi. Prita duduk di tepi tempat tidur, matanya menyapu sekeliling ruangan yang kini menjadi rumah barunya.
Abraham menutup pintu dengan perlahan, lalu berbalik menatap istrinya.
Ia menyadari Prita kembali tampak gelisah. Pria itu mendekat, lalu berlutut di depan Prita agar mata mereka sejajar.
"Kenapa? Masih sedih ingat Papa?" tanya Abraham pelan.
Prita menggeleng kecil, namun air matanya kembali jatuh.
"Bukan, Mas. Aku cuma masih merasa seperti mimpi. Pagi tadi aku masih putri di rumah itu, dan sekarang aku adalah istri seorang teknisi yang tinggal di mess. Semuanya berubah begitu cepat."
Abraham meraih kedua tangan Prita, mencium punggung tangan itu dengan penuh perasaan.
"Maaf kalau tempat ini jauh dari kata mewah. Tapi aku janji, meski temboknya hanya batako dan atapnya asbes, di sini tidak akan ada yang membentakmu lagi. Di sini, kamu adalah ratunya."
Prita tersenyum di balik isak tangisnya. Ia menyentuh wajah Abraham, merasakan brewok tipis yang tadi malam sempat membuatnya takut, namun kini justru menjadi hal yang paling ingin ia sentuh.
"Mas..." bisik Prita.
"Boleh aku minta satu hal?"
"Apa saja, Sayang."
"Tolong jangan pernah tinggalkan aku, apa pun yang terjadi nanti. Walaupun orang tuamu tetap menolakku, atau kalau Papa benar-benar menghapus namaku dari keluarga."
Abraham berdiri, lalu menarik Prita ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Prita di dadanya, membiarkan gadis itu mendengar detak jantungnya yang stabil.
"Prit, dengarkan. Sebagai teknisi, tugasku adalah menyambungkan kabel yang putus agar komunikasi tetap jalan. Tapi untukmu, tugasku adalah memastikan tidak ada satu pun hari yang kamu lalui dengan perasaan sendirian. Aku sudah memilihmu, dan aku tidak punya rencana untuk mundur."
Malam itu, di bawah temaram lampu bohlam kuning di kamar mess, Prita akhirnya bisa bernapas lega.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi "putri yang sempurna" untuk dicintai.
Di sebuah ruang kerja mewah yang menghadap langsung ke jantung kota Jakarta, Imran duduk bersandar di kursi kulitnya yang elegan.
Penampilannya sangat kontras dengan Abraham; kemeja slim-fit seharga jutaan rupiah melekat sempurna di tubuhnya yang wangi parfum mahal.
Pikirannya terusik oleh bayangan Prita, gadis yang dulu sering ia lihat sekilas dalam pertemuan keluarga.
Ia sudah menyiapkan banyak rencana, termasuk posisi strategis di perusahaannya untuk calon istrinya itu.
Jemarinya yang bersih mengetuk-ngetuk meja sebelum akhirnya ia meraih ponsel dan menghubungi Papa Broto.
"Halo, selamat siang, Om. Saya Imran. Bagaimana kabar di Malang? Saya berencana mengirimkan tim untuk mengurus teknis hantaran minggu depan," ucap Imran dengan nada suara yang tenang dan penuh percaya diri.
Di seberang telepon, suasana justru mencekam. Papa Broto terdiam cukup lama.
Suaranya terdengar berat, serak, dan penuh guncangan yang berusaha ia tutupi.
"Maaf, Imran..." Papa Broto menjeda kalimatnya, menarik napas panjang yang terdengar sangat menyesakkan.
"Sepertinya, rencana pernikahan ini tidak bisa dilakukan."
Imran mengernyitkan dahi. Ia menegakkan duduknya, raut wajahnya yang santai mendadak berubah serius.
"Maksud Om? Ada masalah dengan persiapannya? Kalau soal biaya atau gedung, biarkan saya yang urus semuanya, Om."
"Bukan itu, Imran," sahut Papa Broto, suaranya kini bergetar karena menahan amarah sekaligus malu yang luar biasa.
"Prita, dia pergi dari rumah. Dia memilih pergi bersama Abraham, seorang teknisi lapangan teman Pramesti."
Keheningan yang dingin menyergap Imran. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Seorang Prita, yang ia tahu dididik dalam aturan ketat, lebih memilih pria yang bekerja di bawah terik matahari daripada dirinya yang mapan?
"Teknisi, Om? Maksud Om, dia meninggalkan semua ini demi pria seperti itu?" tanya Imran, nada suaranya kini mengandung sedikit penghinaan yang tak tertutup.
"Saya sudah mengusirnya, Imran. Saya tidak punya putri lagi sekarang. Saya benar-benar minta maaf karena harus mengecewakan keluarga Om David," ucap Papa Broto sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan tangan gemetar.
Imran meletakkan ponselnya perlahan di atas meja kaca.
Matanya menatap tajam ke arah jendela besar di depannya.
Ada rasa tidak terima yang mulai membakar dadanya.
Bagi seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, penolakan Prita demi seorang "teknisi" adalah sebuah penghinaan besar bagi harga dirinya.
"Abraham..." gumam Imran dengan nada dingin.
"Mari kita lihat, sampai kapan seorang teknisi bisa memberikan kebahagiaan untuk gadis seperti Prita."
Sinar matahari pagi yang menembus celah jendela kamar mess menyapa kelopak mata Prita.
Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan kesadaran yang masih tertinggal di alam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma sabun yang segar dan wangi parfum maskulin yang kini menjadi aroma favoritnya.
Prita menoleh dan mendapati Abraham sudah berdiri di depan cermin kecil, merapikan kerah kaus berkerah miliknya.
Rambutnya tampak basah dan tersisir rapi, kontras dengan wajah Prita yang masih khas bangun tidur.
Abraham menyadari istrinya sudah terjaga melalui pantulan cermin.
Ia berbalik dan menyunggingkan senyum tipis yang hangat.
"Sudah bangun, Tuan Putri?" goda Abraham sambil mendekat ke tepi tempat tidur.
Ia mengusap puncak kepala Prita dengan lembut.
"Mas, sudah rapi saja? Jam berapa ini?" tanya
Prita dengan suara serak, masih berusaha menyesuaikan diri dengan suasana kamar yang sederhana namun terasa sangat damai itu.
"Sudah jam enam lewat sedikit. Udara di luar lagi enak-enaknya," jawab Abraham.
Ia kemudian sedikit membungkuk, menatap mata Prita yang jernih.
"Ayo lekas mandi, Sayang. Setelah itu kita ke pasar. Kita belanja kebutuhan dapur buat di sini, sekalian cari sarapan yang hangat-hangat. Kamu mau makan apa pagi ini?"
Prita tertegun sejenak. Belanja ke pasar? Ini adalah hal yang jarang ia lakukan sendiri saat masih di rumah Papa, di mana segalanya sudah tersedia atau dibelikan oleh asisten rumah tangga. Namun, ajakan Abraham terasa seperti petualangan baru baginya.
"Pasar tradisional, Mas?" tanya Prita memastikan.
Abraham terkekeh pelan melihat ekspresi ragu istrinya.
"Iya, pasar dekat sini. Seru, lho. Kamu bisa pilih sayur yang paling segar sendiri. Nanti aku yang bawakan belanjaannya."
Prita akhirnya tersenyum lebar. Ia segera bangkit dari ranjang, menyambar handuknya dengan semangat yang tiba-tiba membuncah.
"Tunggu sepuluh menit ya, Mas! Jangan ditinggal!" seru Prita sambil berlari kecil menuju kamar mandi luar yang khusus disediakan untuk penghuni mess tamu.
Abraham menatap punggung istrinya dengan tatapan penuh syukur.
Di balik tembok mess yang sederhana ini, ia berjanji akan memberikan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian Prita.