Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Pintu Ambulans yang Membuka Sendiri"
Di malam yang sama, sebuah mobil ambulans berkedip lampu merah dan biru melaju cepat di jalanan sepi Jakarta. Di dalamnya, Sarah duduk dengan wajah penuh kekhawatiran sambil memegang tangan Dede adiknya yang sebelumnya sudah pingsan karena serangan maagnya kambuh parah setelah telat makan dan kelelahan bekerja.
"Dede,mba sudah sering bilang kalau kerja jangan sampai telat makan, jadi gini kan..." ucap Sarah dengan nada lembut tapi sedikit menyalahkan, sambil mengelus dahi dede dengan lembut. Matanya masih penuh kekhawatiran melihat kondisi adiknya.
Dede hanya bisa merintih pelan kesakitan, tangannya menggenggam perutnya yang masih terasa sakit parah. "Mba... perutku sakit sekali..." bisiknya dengan suara yang tercekik.
Sarah mengelus punggung adiknya dengan lembut. "Iya, dede. Nanti kamu harus makan teratur ya. Jangan lagi karena kerja atau urusan lain sampai lupain makan. Kamu tahu kan aku cemas banget melihat kamu seperti ini."
Saat ambulans melaju melewati sebuah jalan raya yang agak sunyi, Sarah tiba-tiba merasakan tubuhnya menjadi kedinginan. Dia melihat keluar dari jendela dan menemukan bahwa mereka sedang melewati sebuah sudut jalan yang akrab sekali baginya tempat dimana Rini mengalami kecelakaan.
Di sana, masih terlihat sebuah tugu kecil yang dibuat oleh warga sekitar dengan bunga kertas dan lilin yang sudah padam. Sarah merasa dada nya terasa sesak, ingatan tentang hari itu mulai muncul kembali dalam benaknya.
Tiba-tiba, lampu di dalam ambulans mulai berkedip-kedip dengan tidak normal. Suara mesin juga mulai menjadi tidak stabil, membuat sopir ambulans terpaksa mengerem perlahan di pinggir jalan.
"Ada apa nih?" gumam sopir sambil mencoba memeriksa mesin.
Sarah merasa ada sesuatu yang menyentuh pundaknya. Dia menoleh dan melihat sosok wanita dengan rambut panjang berselimut baju putih yang basah ,itu adalah Rini.
"Sarah... apa kamu mau?! Kamu kehilangan adikmu, seperti suamiku kehilangan aku?!" teriak Rini dengan suara yang menusuk telinga, "Aku juga punya keluarga yang mencintai aku! Suamiku yang sekarang harus hidup sendirian karena kamu dan Anton mengakhiri hidupku!"
Sarah tidak mendengar suara Rini,Sarah masih terus memegang tangan adiknya yang sudah mulai tidur nyenyak. Tapi tiba-tiba "CREEEAAAK!!!" – pintu belakang ambulance yang khusus untuk masuk pasien tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya, tanpa ada yang menyentuhnya sedikit pun!.
Sarah langsung terkejut dan menjerit kecil, "Astaga! .
Angin kencang dengan cepat menerpa masuk ke dalam ambulance, membuat tirai plastik yang melindungi ruangan pasien bergoyang liar. Udara yang dingin sekali membuat kulit Sarah merinding.
Alat-alat kecil di sekitar mulai bergoyang, bahkan selang infus di tangan Dede hampir terlepas karena hembusan angin yang begitu kuat. Sarah segera mencoba menutup pintu dengan cepat, tapi setiap kali dia akan menyentuhnya, angin justru semakin kencang, membuatnya tidak bisa mendekat sama sekali.
"Pak sopir, tolong tutup jendela aja ya!" teriak Sarah dengan suara gemetar kepada sopir yang juga sudah mulai terlihat khawatir.
Sopir langsung menutup semua jendela dan mencoba menutup pintu dari luar, tapi kekuatan angin itu terlalu kuat. Bahkan ketika dia mencoba menggunakan kekuatan penuh untuk menutupnya, pintu tetap terbuka lebar seperti sedang ditahan oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
Angin tiba-tiba berhenti dengan sangat cepat, membuat pintu ambulance tertutup dengan sendirinya dengan suara "THUD!!!" yang keras. Udara kembali tenang, dan mesin ambulance yang sebelumnya mulai tidak stabil kini berjalan normal lagi.