NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dengan Pria Baru

"Bicara? Setelah kamu injak-injak martabat putriku? Setelah kamu jadikan kami bahan tertawaan satu negara?" Bu Ines menudingkan jari telunjuknya tepat ke depan hidung Aris. Jarinya gemetar hebat karena amarah yang tak terbendung. "Kamu tidak punya kemaluan, ya? Di mana istrimu yang malang itu? Kamu telantarkan lagi sementara kamu mengejar-ngejar putriku?!"

"Istri saya... Salsa sudah pergi, Bu. Dia sudah pulang ke kampung," bohong Aris, matanya bergetar sesaat mengingat tubuh yang ia dorong ke kegelapan jurang malam itu. "Saya sadar saya salah, tapi cinta saya ke Devina itu nyata. Saya dipaksa menikah dulu, Bu. Tolong, biarkan saya jelaskan pada Devina."

"Cinta?! Jangan sebut kata itu dengan mulutmu yang penuh bangkai!" suara Bu Ines meninggi, mulai menarik perhatian beberapa kru yang sedang berjaga. "Kamu menipu kami selama setahun! Kamu membiarkan Devina merencanakan pernikahan sementara kamu masih terikat pernikahan sah! Kamu itu kriminal mental, Aris!"

****

Di atas panggung, Devina baru saja menyelesaikan segmen terakhirnya. "Terima kasih sudah menyaksikan Kitchen Master. Saya Devina Maharani, sampai jumpa."

Begitu lampu standby berubah menjadi hijau dan kru mulai sibuk merapikan alat, telinga Devina menangkap keributan di sudut ruangan. Ia menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, ibunya sedang menghardik pria yang paling ia benci sekaligus pria yang (sialnya) masih menyisakan perih di hatinya.

Devina melangkah turun dari panggung, kakinya yang menggunakan high heels berbunyi tuk... tuk... tuk... di atas lantai beton studio yang dingin. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang penuh duri.

"Ma, sudah," kata Devina dingin saat ia sampai di hadapan mereka.

"Devina! Lihat si muka tembok ini! Dia berani menampakkan batang hidungnya di sini!" teriak Bu Ines, napasnya tersengal.

Aris langsung memasang wajah memelas. Ia mencoba meraih tangan Devina, namun Devina menariknya dengan gerakan secepat kilat. Tatapan mata Devina tidak lagi penuh cinta, melainkan kosong dan dingin seperti es di kutub utara.

"Dev, tolong... beri aku lima menit. Hanya lima menit untuk menjelaskan semuanya. Salsa itu masa lalu yang dipaksakan. Kamu adalah masa depanku," ucap Aris dengan nada yang sangat meyakinkan, jenis nada yang dulu membuat Devina jatuh cinta berkali-kali.

Devina menatap Aris lama. Ia memperhatikan detail wajah pria itu—hidung mancungnya, rahang tegasnya—dan ia merasa mual. Ia teringat wanita berkerudung acak-acakan yang menangis di hari pertunangannya. Ia teringat rasa malu yang membakar kulitnya saat pingsan di depan ratusan tamu.

"Aris," suara Devina sangat tenang, namun ketenangan itu justru membuat Aris bergidik. "Di dunia masak, jika sebuah bahan sudah busuk dari dalamnya, tidak peduli seberapa banyak bumbu yang kamu tambahkan, dia tetap akan meracuni siapapun yang memakannya."

Devina maju selangkah, membuat Aris mundur secara refleks.

"Kamu adalah bahan yang busuk itu. Dan aku bukan lagi koki amatir yang bisa kamu tipu dengan kemasan cantikmu."

"Tapi Dev, Salsa sudah tidak ada! Dia sudah pergi jauh, dia tidak akan mengganggu kita lagi!" seru Aris frustrasi.

Mendengar kata "pergi jauh", sebuah firasat aneh melintas di benak Devina. Mengapa nada suara Aris terdengar begitu final? Begitu mutlak? Namun, amarah mengubur kecurigaan itu.

"Pergi dari sini, Aris. Sebelum aku memanggil keamanan dan memastikan wajahmu ada di berita malam ini sebagai pengganggu," ancam Devina.

Bu Ines kembali menudingkan jarinya, kali ini hampir menyentuh mata Aris. "Dengar itu? Pergi! Atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi atas penipuan identitas!"

Aris mengepalkan tangannya. Amarah tersembunyi berkilat di matanya. Ia benci ditolak, ia benci kehilangan akses pada kemewahan dan pengaruh yang dimiliki Devina. Namun, ia tahu sekarang bukan saatnya. Ia harus bermain cantik.

"Baik. Aku pergi. Tapi ingat Dev, aku tidak akan menyerah. Kita ditakdirkan bersama," ucap Aris sebelum berbalik dan berjalan cepat meninggalkan studio.

****

Setelah Aris hilang dari pandangan, pertahanan Devina runtuh. Ia bersandar pada meja properti, bahunya berguncang. Bu Ines segera memeluk putrinya, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Sabar, Nak... sabar. Mama tidak akan biarkan dia menyentuhmu lagi," bisik Bu Ines, meski matanya sendiri masih berkilat penuh dendam.

"Ma... kenapa dia jahat sekali?" isak Devina di bahu ibunya. "Kenapa dia harus muncul lagi?"

Di luar studio, Aris masuk ke dalam mobilnya. Ia memukul setir dengan keras. Pikirannya melayang pada Salsabila. Ia harus memastikan tidak ada jejak yang tertinggal di jurang itu. Ia harus memastikan Salsa benar-benar "pergi" selamanya agar ia bisa fokus memenangkan kembali "aset" berharganya: Devina Maharani.

Aris mengeluarkan ponselnya, melihat sebuah berita lokal di situs web kecil: "Penemuan Identitas Tak Dikenal di Dasar Jurang Cadas Pangeran". Jantungnya berdegup kencang. Ia harus bertindak cepat sebelum polisi mulai menghubungkan titik-titik itu.

****

Cahaya matahari pagi menyusup melalui jendela kaca besar di kantor pusat Aryaga Kitchenware, memantul pada deretan panci tembaga dan pisau damaskus yang dipajang layaknya karya seni di museum. Di ruangan itu, aroma kayu cendana dan kopi arabika premium menyeruak, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan hiruk-pikuk kehidupan Devina Maharani beberapa hari terakhir.

Devina duduk dengan anggun, mengenakan setelan blazer berwarna biru navy yang memberikan kesan tegas namun tetap feminin. Di hadapannya, seorang pria baru saja melepaskan jas abu-abu arangnya, menyampirkannya ke sandaran kursi dengan gerakan santai yang tidak dibuat-buat.

Pria itu adalah Gavin Wirya Aryaga.

Di usia tiga puluh tahun, Gavin memancarkan aura otoritas yang tenang—jenis kewibawaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang lahir dari silsilah dinasti bisnis yang kokoh. Wajahnya tipikal keturunan oriental yang halus; kulit putih bersih, mata sipit yang tampak selalu tersenyum namun tajam meneliti, serta rambut hitam pendek yang tertata rapi. Berbeda dengan Aris yang selalu tampil penuh kepura-puraan, Gavin terasa... nyata. Hangat.

"Mohon maaf, Chef Devina. Saya terbiasa bekerja tanpa jas. Terasa terlalu kaku untuk diskusi sekreatif ini," ucap Gavin dengan suara bariton yang lembut. Ia duduk, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga sesiku, menampakkan jam tangan perak yang elegan.

Di sampingnya, seorang asisten pria bernama Rian dengan sigap membuka tablet, siap mencatat setiap detail pertemuan.

"Saya mengerti, Pak Gavin. Dapur juga bukan tempat untuk pakaian kaku," jawab Devina dengan senyum tipis yang tulus. Ini adalah pertama kalinya ia merasa nyaman berbicara dengan pria sejak insiden berdarah di pertunangannya.

"Panggil Gavin saja," potong Gavin ramah. "Keluarga saya sudah tiga generasi memproduksi alat masak. Kami tidak hanya menjual logam dan gagang kayu, kami menjual 'nyawa' dari setiap masakan. Dan saya melihat nyawa itu ada pada cara Anda memegang pisau. Itulah alasan saya ingin Anda menjadi Brand Ambassador tunggal kami."

Gavin menatap mata Devina dalam-dalam—bukan tatapan menggoda, melainkan tatapan penuh apresiasi terhadap bakat. "Saya tahu Anda sedang melewati masa sulit. Media bisa sangat kejam. Tapi bagi Aryaga Kitchenware, integritas Anda sebagai koki adalah yang utama. Skandal pribadi tidak akan melunturkan kualitas rasa yang Anda ciptakan."

Kata-kata itu menghujam jantung Devina. Untuk pertama kalinya, seseorang melihatnya sebagai profesional, bukan sebagai korban penipuan yang malang.

****

Berbanding terbalik dengan kehangatan di kantor Gavin, suasana di RSUD Sumedang terasa mencekik. Bau formalin dan besi berkarat memenuhi koridor ruang autopsi yang temaram.

Di atas meja bedah berbahan stainless steel, terbujur kaku sesosok jenazah yang kulitnya sudah memucat dan membiru. Luka lecet akibat gesekan batu dan benturan benda tumpul menghiasi tubuhnya. Seorang dokter forensik melepaskan sarung tangan latex-nya dengan bunyi plak yang menggema.

Di hadapannya, seorang detektif kepolisian berdiri dengan raut wajah serius.

"Identitas terkonfirmasi, Komandan. Korban bernama Salsabila Tamimi, tiga puluh dua tahun," lapor dokter tersebut. "Tapi ada yang janggal. Jika dia jatuh karena terpeleset atau bunuh diri, pola luka di punggungnya tidak akan seperti ini. Ada memar konsentris di area bahu, seolah seseorang mendorongnya dengan tenaga luar biasa sebelum ia jatuh."

Detektif itu menyipitkan mata. "Jadi, Anda menyimpulkan ini bukan kecelakaan?"

"Berdasarkan sudut elevasi benturan dan sisa jaringan di bawah kuku korban yang menunjukkan tanda perlawanan... ini adalah pembunuhan, Komandan. Seseorang ingin wanita ini lenyap."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!