"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pukulan Pertama dari Bayangan
Puisi untuk Alana:
"TEH DAN DURI"
Kupetik mawar di senja yang lengang
Duri-durinya kusembunyikan dalam genggaman
Kuseduh teh dengan tangan yang tenang
Sementara badai mengamuk di kejauhan
Kau kira aku tak tahu caranya terluka
Kau kira diamku adalah takut yang nyata
Biarlah kau terus bermimpi dalam buta
Sementara aku menuang racun perlahan ke dalam cinta
Setetes demi setetes, kau minum kepuasan
Tak sadar di ujung cangkir, ada pengorbanan
Dan saat kau tersadar dari keangkuhan
Yang tersisa hanya nama, tanpa kejayaan
Karena mawar tak pernah kehilangan duri
Ia hanya memilih waktu yang tepat untuk melukai
Dan teh yang kau hirup dengan sombong ini
Adalah sumpah yang kubisikkan pada pagi
— Untuk Alana, wanita yang menyeduh kehancuran dalam diam
---
Mobil Richard berhenti dengan roda yang memekik di depan garasi. Suara pintu dibanting sampai mengguncang jendela-jendela rumah. Alana, yang sedang duduk di ruang tamu dengan secangkir teh di tangan, tidak bergerak. Ia hanya menoleh sedikit, cukup untuk melihat bayangan suaminya melintas di balik pintu kaca.
"ALANA!"
Suara itu menggetarkan lampu gantung kristal peninggalan ibunya. Alana meletakkan cangkir dengan hati-hati di atas tatakan perak. Gerakannya lambat, presisi, seperti penari yang sedang melakukan gerakan terakhir di atas panggung.
Richard melesat masuk. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol, dasi sudah lepas dan kemejarnya basah oleh keringat. Bau alkohol samar tercium saat ia mendekat.
"Kau tahu apa yang terjadi hari ini?" Suaranya meninggi, hampir melengking. "Proyek Sumatra ambruk! Enam bulan persiapan, miliaran rupiah, semua lenyap dalam sehari! Dan kau di sini, duduk manis minum teh?"
Alana bangkit perlahan. Gaun rumah sutra berwarna krem itu jatuh lembut di pergelangan kakinya. Ia berjalan ke dapur kecil di pojok ruangan, mengambil teko porselen putih dengan lukisan bunga mawar merah di permukaannya.
"Kau mau teh?" tanyanya tenang. Suaranya seperti aliran sungai di pegunungan—dingin, jernih, tak terusik badai.
"Jangan main-main denganko!" Richard membanting tasnya ke sofa mahoni. Dua bantal jatuh ke lantai. Ia tidak memungutnya. "Ini serius! Perusahaan kita goyang! Kau tahu apa artinya itu? Kau bisa kembali hidup di jalanan!"
Alana menuang air panas ke cangkir kedua. Daun teh melayang, berputar, kemudian tenggelam perlahan. Matanya mengikuti gerakan itu dengan takzim.
"Aku sudah lama hidup di jalanan, Rich," jawabnya pelan. "Hanya saja kau tak pernah melihat."
Richard menghentikan langkahnya. Ia menatap istri itu dengan tatapan aneh—campuran antara kemarahan dan kecurigaan. "Apa maksudmu?"
Alana menoleh. Senyum kecil terbit di bibirnya. Senyum yang tidak pernah bisa Richard baca. Kadang terlihat tulus, kadang seperti topeng.
"Tidak ada. Maksudku, kita pernah jatuh, kita bisa bangkit lagi. Ayah selalu bilang begitu."
Sebutan tentang ayah Alana membuat Richard menggeram kesal. Ia berbalik, mengambil gelas di bar, menuang whiskey hampir penuh. "Ayahmu itu sudah mati! Dan warisannya hampir hancur karena kegagalan hari ini!"
Untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajah Alana. Bukan marah. Bukan sedih. Tapi sesuatu yang lebih dalam—seperti kilatan baja di bawah air tenang.
Ia mendekati Richard dengan cangkir teh di tangan. "Minum ini. Alkohol hanya membuatmu semakin panas."
Richard menatap cangkir itu, lalu menatap Alana. "Kau aneh," desisnya. "Perusahaanku hancur, dan kau menawarkan teh? Di mana perasaanmu? Apa kau tidak punya hati?"
Alana tetap mengulurkan cangkir itu. Tangan mereka hampir bersentuhan.
"Aku punya hati, Rich. Hanya saja ia sudah tidak punya ruang untuk panik."
Richard merebut cangkir itu, meletakkannya di meja tanpa minum. Ia berjalan mondar-mandir, berbicara sendiri tentang kerugian, tentang investor yang menarik diri, tentang saingan yang tiba-tiba muncul dan mencuranginya.
Alana kembali ke sofanya. Ia duduk dengan punggung tegak, kedua tangan di pangkuan, memperhatikan setiap langkah suaminya seperti ahli biologi mengamati serangga di bawah kaca.
Pukulan pertama tepat sasaran.
Pikirannya melayang tiga minggu ke belakang, saat Lucas menunjukkan dokumen-dokumen yang bocor. Saat ia mentransfer sejumlah uang ke rekening seseorang di departemen proyek Sumatra. Saat ia mengirim satu email anonim ke investor terbesar Richard.
"Proyek Sumatra: Investigasi Mendalam Sebelum Anda Kehilangan Segalanya."
Investor itu menarik diri keesokan harinya. Tanpa mereka, proyek raksasa itu ambruk seperti rumah kartu.
"Kau tidak bertanya kenapa aku marah?" Richard berhenti, menatapnya curiga. "Kau terlalu tenang. Ini tidak normal."
Alana mengambil cangkirnya, menyesap teh. Rasanya sedikit pahit. Ia suka.
"Kau ingin aku marah? Baik." Ia meletakkan cangkir dengan sedikit bunyi. "Apa kau sudah makan malam?"
Richard menatapnya tidak percaya. "Makan malam? Kau—" Ia menggeleng, tertawa getir. "Kau benar-benar sudah gila, Alana. Hidup di duniamu sendiri. Aku menikah dengan wanita tanpa perasaan."
Kata-kata itu melayang di antara mereka. Alana mendengarnya, menyimpannya di dalam kotak besi di dadanya. Satu lagi koleksi luka untuk dibuka nanti, saat waktunya tiba.
"Aku akan menyiapkan makan malam," katanya bangkit. "Kau pasti lapar."
Richard tidak menjawab. Ia menuang whiskey lagi, kali ini lebih banyak.
Saat Alana berjalan ke dapur, ia melewati cermin besar di lorong. Ia melihat bayangannya sendiri—wanita dengan gaun sutra, rambut tersanggul rapi, wajah tanpa ekspresi. Lalu ia melihat sesuatu yang lain di belakang bayangannya: bayangan Richard yang tengah tenggelam dalam gelasnya.
Ia tersenyum.
Bukan senyum kemenangan. Belum.
Tapi senyum seseorang yang baru saja memindahkan bidak pertama dalam permainan catur, dan lawannya bahkan tidak menyadari bahwa papan sudah dipasang.
Di dapur, Alana mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Ikan laut segar, sayuran hijau, bumbu-bumbu yang masih utuh. Ia memasak dengan gerakan lambat, meditatif. Setiap iris pisau seperti doa. Setiap adukan wajan seperti mantra.
Ponselnya bergetar di saku celemek.
Lucas: Proyek Sumatra collapse. Berita utama besok. Kau mau lihat draftnya?
Alana mengetik balasan dengan satu tangan, sementara tangan lain terus mengaduk saus.
Alana: Kirim. Tapi pastikan tidak ada nama kita.
Lucas: Profesionalisme adalah namaku. Eh, tapi serius, gimana rasanya lihat dia hancur?
Alana berhenti mengaduk. Ia menatap saus di hadapannya—kecoklatan, menggelembung pelan.
Alana: Seperti saus ini. Perlu waktu lama untuk matang. Tapi hasilnya akan sempurna.
Lucas: Brutal. Aku suka.
Alana menyimpan ponsel. Ia menuang saus ke atas ikan, menatanya di piring porselen putih dengan setangkai daun parsley di sisi. Karya seni di atas meja makan.
Saat ia membawa piring itu ke ruang makan, Richard sudah tertidur di sofa. Gelas whiskey jatuh miring, isinya tumpah membasahi karpet Persia warisan nenek.
Alana berhenti. Ia menatap karpet itu—warna merah marun dengan sulir benang emas. Hadiah pernikahan nenek, dulu. Nenek bilang, "Karpet ini menyimpan air mata keluarga kita, Nak. Suatu hari kau akan mengerti."
Sekarang ia mengerti.
Ia meletakkan piring di meja, mengambil kain, dan berlutut membersihkan tumpahan whiskey. Gerakannya lembut, hampir seperti membelai. Tapi matanya... matanya dingin seperti kutub.
"Minumlah, Rich," bisiknya pelan. "Minum sampai kau lupa diri. Karena saat kau sadar nanti, dunia yang kau kenal sudah tidak ada."
Ia menyelesaikan membersihkan, lalu menutup Richard dengan selimut tipis. Bukan karena sayang. Tapi karena ia ingin suaminya itu hidup cukup lama untuk menyaksikan kehancurannya sendiri.
Sebelum naik ke kamar, ia menulis sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa.
8 November. Pukulan pertama. Richard jatuh di sofa, aku jatuhkan air mataku di dapur. Dia tidak lihat. Tidak akan pernah lihat. Tapi suatu hari nanti, saat dia tenggelam, dia akan ingat bahwa hari ini aku masih menyajikan teh untuknya.
Ia menutup buku, mematikan lampu ruang tamu, dan naik ke kamar tidurnya yang sepi.
Di luar, hujan mulai turun. Butir-butir air mengetuk jendela seperti ribuan jari kecil yang meminta masuk. Alana berbaring di tempat tidur, membuka jendela sedikit, membiarkan udara dingin masuk.
Ia ingat ayahnya pernah bilang, "Kadang untuk bertahan hidup, kau harus belajar menikmati dingin."
Sekarang ia mengerti.
Ia tidak lagi takut dingin. Ia sendiri sudah menjadi dingin.
Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip. Di salah satu gedung pencakar langit itu, para investor sedang merayakan atau berkabung, tergantung posisi mereka dalam permainan.
Alana memejamkan mata.
Besok adalah babak baru.
Dan teh yang ia sajikan hari ini, entah bagaimana, akan terasa sangat pahit di mulut Richard saat ia membaca berita utama.
---
PUISI PENUTUP BAB:
Diamku bukan tanda kalah
Sunyiku bukan isyarat pasrah
Saat kau meminum teh yang kuseduh
Kau meneguk perlahan tanda-tanda tumbal
Karena mawar tak pernah berteriak saat berduri
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menusuk
Dan diammu, wahai suami yang lupa diri
Adalah pusara yang kau gali sendiri, langkah demi langkah tersusun rapi
---
— BERSAMBUNG (ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄