sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN MENEBUS RESTU DAN HATI YANG TEGUH
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur ketika Arlan memacu mobilnya keluar dari perbatasan Jakarta. Di kursi penumpang, sebuah tas kecil berisi pakaian dan dokumen-dokumen penting tersimpan rapi. Matanya lurus menatap jalanan aspal yang masih lengang, sementara pikirannya sudah melompat jauh ke sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tempat Ibu Lastri tinggal.
Ia tidak memberi tahu ibunya kemana ia pergi. Ia juga hanya mengirim pesan singkat pada Kira
sebelum berangkat: “Ra, aku berangkat ke kampung. Jaga dirimu, jangan angkat telepon dari rumahku kalau itu membuatmu sedih. Aku akan bawa restu Ibu Lastri kembali.”
Sementara itu di Jakarta, Kira duduk mematung di meja kantornya. Ia tidak bisa fokus. Setiap kali pintu lift terbuka, jantungnya berdegup kencang, takut jika itu adalah Bu Rahmi yang datang untuk melabraknya lagi.
"Ra, kamu beneran biarin Arlan pergi sendirian?" tanya Maya, menghampiri meja Kira dengan segelas cokelat hangat. "Perjalanan ke sana itu tujuh jam, lho. Belum lagi kalau Ibumu masih marah."
Kira menghela napas, jemarinya memutar-mutar bolpoin. "Arlan nggak kasih aku pilihan, May.
Dia bilang ini tanggung jawab dia karena ibunya yang mulai. Tapi aku takut... aku takut kalau kedatangan Arlan malah bikin Ibu makin emosi."
"Arlan itu punya karisma, Ra. Dan dia jujur. Orang tua itu biasanya luluh sama kejujuran, bukan sama kemewahan," hibur Maya.
.Tiba-tiba, ponsel kantor di meja Kira berdering. Dari resepsionis.
"Mbak Kira, ada tamu di lobi. Beliau tidak mau menyebutkan nama, tapi katanya penting sekali."
Kira memejamkan mata. Ini dia. "Suruh ke kantin saja, Mbak. Saya ke sana."
Di sebuah taman kecil di tengah desa, Arlan akhirnya menghentikan mobilnya. Ia menarik napas panjang, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu berjalan menuju rumah sederhana dengan halaman penuh bunga asoka—rumah tempat Kira tumbuh besar.
Di teras, Ibu Lastri sedang menyapu daun-daun kering. Wajahnya mengeras saat melihat sosok pria jangkung yang sangat ia kenal itu turun dari mobil.
"Assalamualaikum, Ibu," sapa Arlan lembut, sambil membungkuk hormat.
Ibu Lastri tidak menjawab salam itu dengan segera. Beliau meletakkan sapunya dan menatap Arlan dengan tatapan yang sangat asing. "Mau apa kamu ke sini, Arlan? Apa belum cukup ibumu menghina anakku lewat telepon?"
"Ibu, Arlan ke sini justru untuk memohon maaf atas nama Ibu Arlan. Arlan tahu apa yang dikatakan Ibu Arlan sangat menyakitkan, dan Arlan sama sekali tidak membenarkannya," ucap Arlan, tetap berdiri dengan sopan di depan teras.
"Pulanglah, Arlan. Ibu nggak mau ada keributan di desa ini. Ibu sudah bilang sama Kira, lebih baik kalian putus. Ibu nggak mau anak Ibu dianggap nggak punya harga diri."
"Ibu," Arlan melangkah satu tindak lebih dekat, suaranya terdengar sangat tulus. "Sebelas tahun Arlan mengenal Kira. Sebelas tahun Arlan menjaga dia sebagai sahabat. Apa Ibu pikir Arlan akan membuang waktu selama itu hanya untuk main-main?"
Ibu Lastri terdiam, namun matanya masih memancarkan luka. "Tapi ibumu bilang..."
"Ibu Arlan hanya takut, Bu. Dia takut kehilangan Arlan sebagai anaknya, jadi dia menyerang Kira. Tapi Arlan ke sini untuk membuktikan bahwa Arlan tidak akan kemana-mana. Arlan mencintai Kira, dan Arlan ingin meminta izin Ibu untuk serius menjaga Kira selamanya."
Ibu Lastri mengalihkan pandangannya. "Kamu itu orang kota, Arlan. Arsitek sukses. Kenapa harus pilih Kira yang cuma orang biasa? Ibumu benar, ada banyak wanita seperti Safira yang lebih cocok buat kamu."
Arlan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kerinduan. "Karena cuma Kira yang tahu bagaimana cara membuat Arlan merasa seperti manusia, bukan cuma mesin pembuat desain. Cuma Kira yang tahu kapan Arlan butuh kopi tanpa harus diminta. Dan cuma Kira yang mau menemani Arlan dari nol, dari saat Arlan belum punya apa-apa sampai sekarang. Apa itu belum cukup untuk dibilang 'selevel', Bu?"
Ibu Lastri akhirnya menatap Arlan. Beliau melihat ketulusan yang sama seperti sebelas tahun lalu saat Arlan pertama kali mengantar Kira pulang saat libur kuliah. "Duduk dulu, Lan. Ibu buatkan teh."
Kembali ke Jakarta, di kantin kantor yang mulai sepi, Kira duduk berhadapan dengan Bu Rahmi.
Kali ini, Bu Rahmi tidak memakai topeng keramahan. Wajahnya tampak lelah dan penuh amarah.
"Dimana Arlan, Kira?" tanya Bu Rahmi tanpa basa-basi.
"Saya tidak tahu, Tante. Arlan bilang dia ingin menenangkan diri," jawab Kira, mencoba tetap tenang meski hatinya bergetar.
"Jangan bohong! Arlan pergi dari rumah gara-gara kamu! Dia meninggalkan kemewahan, meninggalkan ibunya yang membesarkannya, cuma buat perempuan ceroboh sepertimu?" Bu Rahmi memukul meja dengan pelan namun penuh penekanan.
Kira menatap mata wanita yang dulu ia anggap sebagai ibu kedua itu. "Tante, Arlan pergi bukan karena saya. Arlan pergi karena Tante tidak menghormati pilihannya. Arlan itu manusia, Tante. Bukan gedung yang bisa Tante desain sesuka hati strukturnya."
"Kamu berani mengguruiku?"
"Saya hanya membela apa yang benar, Tante.
Sebelas tahun saya diam saat Tante mengenalkan Arlan pada wanita-wanita pilihan Tante. Saya tidak pernah protes. Tapi saat Arlan memilih saya, kenapa Tante seolah melihat saya sebagai musuh? Apa selama sebelas tahun ini kebaikan saya pada keluarga Tante tidak ada artinya hanya karena saya ingin mencintai Arlan dengan cara yang berbeda?"
Bu Rahmi tertegun. Kata-kata Kira menghujam telak di dadanya.
"Tante tahu Arlan sangat mencintai Tante. Tapi kalau Tante terus begini, Tante sendiri yang akan membuat Arlan menjauh. Bukan saya," lanjut Kira, suaranya mulai serak.
Di kampung, hari sudah sore. Arlan dan Ibu Lastri duduk di ruang tamu. Suasana sudah jauh lebih cair. Di atas meja, segelas teh hangat dan piring berisi pisang goreng sudah tandas.
"Arlan, Ibu ini orang kecil. Ibu nggak punya apa-apa buat dibanggakan selain harga diri anak-anak Ibu," ucap Ibu Lastri pelan. "Saat ibumu bicara begitu, Ibu merasa gagal jadi orang tua."
"Ibu tidak gagal. Kira adalah wanita paling hebat yang pernah Arlan kenal. Dan itu karena didikan Ibu," balas Arlan. "Arlan janji, Arlan akan bicara lagi sama Ibu Arlan. Arlan nggak akan biarkan Kira dihina lagi. Tapi Arlan mohon, jangan minta Kira menjauh. Itu hanya akan membuat kami berdua hancur."
Ibu Lastri menghela napas panjang. Beliau mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor. Nomor Kira.
"Halo, Ra?"
"Iya, Ibu?" suara Kira terdengar cemas di seberang sana.
"Arlan ada di sini, di depan Ibu."
Hening sejenak. "Ibu... Ibu nggak apa-apa kan?"
"Ibu baik-baik saja. Arlan sudah jelaskan semuanya. Ibu minta maaf ya, Ra, kalau tadi sore Ibu emosi. Ibu cuma... Ibu sayang sama kamu."
Kira menangis di telepon. "Kira juga sayang Ibu."
"Sudah, jangan nangis. Arlan mau bicara." Ibu Lastri memberikan ponselnya pada Arlan.
"Ra?" sapa Arlan.
"Lan... kamu beneran di sana?"
"Iya. Dan Ibu Lastri sudah kasih izin aku buat bawa restunya ke Jakarta. Kamu jangan nangis lagi, ya? Tunggu aku pulang besok."
"Makasih, Lan. Makasih banyak."
Malam itu, Arlan menginap di rumah Ibu Lastri.
Ia tidur di kamar tamu yang kecil namun bersih. .Di sana, ia melihat beberapa foto masa kecil Kira yang dipajang di dinding. Ia tersenyum. Perjalanan tujuh jam itu sangat sepadan.
Namun, saat ia hendak memejamkan mata, ponselnya berdering. Sebuah pesan dari ibunya, Bu Rahmi.
Ibu Arlan: Arlan, Ibu tadi ketemu Kira. Dia benar, Ibu mungkin terlalu keras. Ibu tidak mau kehilanganmu, Lan. Pulanglah, kita bicara baik-baik. Bawa Kira juga kalau kamu mau.
Arlan menatap pesan itu cukup lama. Ada rasa lega, namun juga kewaspadaan. Ia tahu ini baru langkah awal. Hubungan mereka belum
aman, namun setidaknya, benteng-benteng yang menghalangi mulai retak.
Ia membalas pesan ibunya: “Arlan pulang besok, Bu. Arlan akan bawa Kira. Tapi tolong, siapkan permintaan maaf yang tulus untuk Kira. Dia pantas mendapatkannya.”
Di Jakarta, Kira menatap langit malam dari balkon apartemennya. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Sebelas tahun menjadi sahabat telah memberinya akar yang kuat, dan kini, akar itu sedang berjuang untuk menumbuhkan bunga yang indah.
"Kita akan baik-baik saja, kan, Lan?" bisiknya pada angin malam.
Kira menyadari satu hal: cinta sejati bukan hanya tentang perasaan dua orang, tapi tentang keberanian untuk memperjuangkan perasaan itu di depan dunia, terutama di hadapan mereka yang paling kita sayangi.