---
Sinopsis Utama
Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."
Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.
Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Us
---
Hari itu, Elgi pulang kerja pukul 15.30.
Ini adalah kejadian langka. Biasanya, Elgi baru bisa pulang setelah magrib, seringkali melewati waktu makan malam. Proyek di kantornya memang sedang padat-padatnya, dan lembur sudah menjadi makanan sehari-hari.
Tapi hari ini berbeda. Bosnya tiba-tiba mengumumkan bahwa semua karyawan boleh pulang lebih awal karena ada acara keluarga besar di kantor. Elgi tidak berpikir dua kali. Ia langsung membereskan meja dan meluncur pulang.
Di perjalanan, ia tersenyum membayangkan ekspresi Irene dan Rafa saat melihatnya pulang lebih awal. Mungkin mereka bisa makan malam bersama. Mungkin ia bisa membantu Rafa mandi. Mungkin ia bisa memberi Irene waktu istirahat yang sangat ia butuhkan.
Mobilnya memasuki Griya Asri pukul 15.45. Ia memarkir mobil, lalu berjalan ke rumah nomor 9 dengan langkah ringan.
Dari luar, rumah itu tampak tenang. Tidak ada suara riuh seperti biasanya. Elgi membuka pintu pelan-pelan, ingin memberi kejutan.
Dan di sanalah pemandangan yang ia temui.
Irene tertidur di sofa. Tubuhnya meringkuk, tangan memeluk bantal, wajahnya terlihat lelah. Di meja kopi, ada secangkir teh yang sudah dingin dan sepiring makanan yang tidak tersentuh.
Elgi tersenyum. Istrinya pasti kelelahan. Rafa akhir-akhir ini memang sedang aktif-aktifnya, dan Irene menjalani semuanya sendirian setiap hari.
Lalu pandangannya beralih ke ruang tamu.
Dan ia membeku.
Di dinding ruang tamu, tepat di samping televisi, ada sebuah karya seni yang tidak diundang. Coretan spidol warna-warni—merah, biru, hijau, kuning—membentuk pola abstrak yang... menarik. Ada garis-garis zigzag, lingkaran-lingkaran tidak beraturan, dan sesuatu yang mungkin dimaksudkan sebagai matahari atau mungkin hanya coretan acak.
Dan pelakunya? Rafa sedang duduk di lantai dengan spidol di tangan, asyik mencorat-coret kertas gambar. Di sampingnya, terbungkus plastik, ada satu set spidol baru—mungkin hadiah dari seseorang—yang sudah terbuka dan beberapa isinya tergeletak di lantai.
Elgi menghela napas. Situasi genting.
Ia harus memilih: membangunkan Irene atau menangani situasi sendiri? Jika ia membangunkan Irene, istrinya mungkin akan stres melihat dinding yang sudah "dihias". Jika ia tidak membangunkan Irene, ia harus menangani Rafa sendiri—dan membersihkan dinding itu tanpa pengalaman.
Elgi memutuskan opsi kedua. Ia ingin memberi Irene waktu istirahat yang sangat ia butuhkan.
Dengan hati-hati, Elgi mendekati Rafa. "Ra..." bisiknya.
Rafa menoleh, matanya langsung berbinar melihat ayahnya. "AYAH!" teriaknya.
"Ssst..." Elgi meletakkan jari di mulut. "Mama lagi tidur. Jangan keras-keras."
Rafa menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya membelalak lucu. "Iya, Ayah."
Elgi duduk di samping Rafa. "Ra, ini mainan baru?"
"Iya! Tante Jane kasih! Buat Rafa!"
"Wah, bagus. Tapi Ra, lihat dinding itu." Elgi menunjuk coretan di dinding. "Itu Rafa yang gambar?"
Rafa mengangguk bangga. "Iya! Rafa gambar bagus, kan?"
Elgi tersenyum getir. "Bagus, Nak. Tapi tahu nggak, dinding itu bukan buat gambar. Kertas ini yang buat gambar." Ia menunjuk kertas gambar di lantai.
"Tapi dinding lebih besar, Ayah."
Iya, logika anak kecil memang tidak bisa dibantah.
"Ra, lain kali kalau mau gambar besar, bilang Mama dulu. Nanti Mama kasih kertas besar. Setuju?"
Rafa mengangguk. "Setuju, Ayah."
"Pinter. Sekarang, Ayah mau bersihin dindingnya. Rafa bantu Ayah, ya?"
Rafa mengangguk semangat. "Rafa bantu!"
---
Elgi pergi ke dapur, mencari perlengkapan pembersih. Ia menemukan spons, sabun cuci piring, dan sikat gigi bekas—mudah-mudahan bisa membantu.
Selama 30 menit berikutnya, Elgi berjuang melawan coretan spidol di dinding. Rafa "membantu" dengan caranya sendiri: mengambil air, menumpahkannya sedikit, mengelap dinding dengan lap basah tapi malah membuatnya lebih basah, dan sesekali bertanya, "Ayah, udah bersih belum?"
Elgi menjawab dengan sabar, sambil terus menggosok. Spidolnya cukup membandel, tapi perlahan mulai pudar.
"Ra, lain kali kalau mau gambar, bilang Ayah atau Mama dulu, ya. Jangan langsung gambar di dinding."
"Iya, Ayah. Rafa janji."
"Janji apa?"
"Janji nggak gambar di dinding lagi."
Elgi tersenyum. "Pinter, Nak."
---
Pukul 16.30, Irene terbangun. Ia duduk dengan kaget, melihat jam, lalu melihat sekeliling.
"Ya Allah, aku ketiduran!" Ia bangkit, mencari Rafa. "Ra? RAFA?"
Dari ruang tamu, suara Elgi menjawab, "Di sini, Sayang. Santai."
Irene berjalan ke ruang tamu. Di sana, ia melihat pemandangan aneh: Elgi sedang mengelap dinding dengan spons, sementara Rafa duduk di lantai dengan spidol di tangan. Dinding itu... agak basah, tapi terlihat ada bekas coretan yang samar.
"Elgi? Kok pulang cepet? Itu... apaan?"
Elgi menoleh, tersenyum lelah. "Pulang cepet, mau kasih kejutan. Eh, nemu kejutan sendiri."
Irene melihat dinding itu lebih dekat. "Itu... coretan spidol? RAFA!"
Rafa menunduk, tahu ia bersalah. "Maaf, Bu. Rafa gambar di dinding."
Irene menarik napas panjang. Elgi segera mendekat. "Sayang, udah, udah. Aku bersihin. Nggak apa-apa."
"Tapi itu spidol baru! Dinding jadi rusak!"
"Udah hampir bersih kok. Tinggal dikit lagi." Elgi meraih tangan Irene. "Lo istirahat aja. Aku urus."
Irene menatap suaminya, lalu dinding, lalu Rafa yang menunduk. Ia menghela napas, lalu duduk di sofa.
"Ra, sini."
Rafa mendekat dengan ragu. "Iya, Bu?"
Irene menarik Rafa ke pangkuannya. "Ra, dinding itu bukan buat gambar. Mama udah bilang, kan?"
"Iya, Bu. Maaf."
"Lain kali, kalau mau gambar, ambil kertas. Atau bilang Mama, nanti Mama kasih kertas besar. Oke?"
"Oke, Bu."
"Janji?"
"Janji."
Irene mencium pipi Rafa. "Mama maafin. Sekarang, bantu Ayah bersihin, ya."
Rafa mengangguk, lalu berlari ke Elgi. "Ayah, Rafa bantu lagi!"
Elgi tersenyum. "Ayo, Nak."
---
Satu jam kemudian, dinding itu bersih. Tidak 100%, tapi cukup untuk tidak terlihat mencolok. Elgi memutuskan akan mengecat ulang bagian itu akhir pekan nanti.
Irene sudah menyiapkan makan malam—sederhana, tapi hangat. Mereka bertiga duduk di meja makan, Rafa di kursi tingginya.
"Ini enak, Bu!" puji Rafa.
"Makasih, Sayang." Irene tersenyum.
Elgi menatap istri dan anaknya. "Maaf, ya, aku nggak bisa sering pulang cepet."
Irene menggeleng. "Nggak apa-apa, Mas. Yang penting hari ini lo di sini."
"Lo capek banget, ya, sehari-hari."
Irene diam sejenak. "Capek. Tapi seneng."
"Lo hebat, Irene. Hebat banget."
Irene tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Makasih, Mas."
Rafa, yang tidak mau ketinggalan, berteriak, "Mama hebat! Ayah hebat! Rafa hebat!"
Mereka tertawa bersama. Makan malam itu terasa lebih hangat dari biasanya.
---
Setelah Rafa tidur, Elgi dan Irene duduk di teras. Malam di Griya Asri selalu tenang, hanya sesekali terdengar suara jangkrik.
"Mas, makasih udah bersihin dinding tadi."
"Iya, Sayang. Itu udah tugas aku."
"Lo nggak marah?"
"Marah? Ngapain marah? Rafa lagi belajar. Wajar kalau kadang bikin salah." Elgi meraih tangan Irene. "Yang penting, kita benerin sama-sama."
Irene tersenyum. "Aku takut jadi ibu yang gagal."
"Lo gagal? Lihat Rafa. Dia anak paling bahagia yang aku kenal. Itu karena lo."
"Masa sih?"
"Iya. Percaya deh."
Mereka berpelukan. Di dalam kamar, Rafa tidur dengan damai, boneka beruang biru di pelukan. Mungkin besok ia akan bikin ulah lagi. Mungkin besok dinding akan kena coretan lagi.
Tapi itu tidak masalah. Karena mereka akan menghadapinya bersama.
Sebagai keluarga.
---