"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Sorenya, Dara pulang ke rumah saat jam sudah menunjuk di angka 5. Keasyikan ngobrol dan main di timezone dengan sang ibu membuatnya lupa waktu.
Dara melangkah masuk ke rumah besar itu, terasa sepi di setiap sudutnya. Suara langkah kakinya seolah menambah kesunyian yang ada. Hanya terdengar suara Bi Inem yang sedang menyiapkan makan malam di dapur.
Kabarnya, Oma Atira sedang ada keperluan dan mungkin tidak akan pulang malam itu.
Dara menghela napas, "Apa itu artinya gue bakalan berdua doang sama om nyebelin itu?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba terdengar suara di belakangnya, "Siapa yang kamu panggil om nyebelin?"
Dara terkesiap, jantungnya berdebar kencang, dan tangannya segera mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia menoleh ke belakang dan ternyata Rafa sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.
"Ya ampun. Udah kayak hantu aja muncul tiba-tiba," batin Dara.
"Jangan mengumpati saya!"
Kedua mata Dara melebar, bagaimana mungkin suaminya itu tahu isi hatinya barusan? Apa mungkin suaminya itu punya kekuatan untuk bisa mendengar isi hati seseorang?
Melihat reaksi istri kecilnya, Rafa pun berdecak sebal dan berjalan menuju lemari es. Mengambil air dingin dan menuangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas.
Bibir Dara terus bergerak-gerak tanda dia sedang misuh-misuh tidak jelas.
"Katanya gadis baik. Tapi bisa-bisanya jam segini baru pulang. Ngeluyur dulu pasti," ucap Rafa.
Kening Dara mengkerut dibarengi dengan sorot mata yang menatap tajam ke arah Rafa.
"Apa urusannya sama Om? Bukankah kita sepakat buat gak ikut campur sama urusan masing-masing?" Dara berkacak pinggang, berucap dengan berani bahkan mengangkat dagunya.
Dia sudah bertekad tidak akan terlihat lemah di depan siapapun. Apalagi di depan suaminya. Sudah cukup kemarin Rafa mengatakan sesuatu yang seolah dia tidak berharga sama sekali. Kali ini, dia tidak akan membiarkan suaminya atau siapapun kembali menghinanya.
"Hei, apa sopan kamu panggil
saya Om? Saya guru kamu kalau kamu lupa," ujar Rafa tidak terima. Telinganya terasa gatal setiap kali Dara memanggilnya dengan sebutan 'Om'. Dia sebal, kesal dan jadi terkesan tua.
"Tapi ini di rumah, bukan di sekolah kalau Om lupa," jawab Dara kemudian memutar tubuhnya dan berjalan menuju tangga.
"Hei!"
Rafa merasa heran dengan dirinya sendiri. Mengapa dia seolah selalu dibuat tidak berkutik saat Dara bersikap berani padanya. Mungkin karena sejak dulu terbiasa bergaul dengan gadis yang penuh dengan kelembutan, apalagi Khaylila. Jadi saat melihat Dara,
gadis kecil itu bersikap berani padanya, dia agak shock.
"Dasar bocah!"
"Dia lupa apa kalau aku juga suaminya di rumah ini."
Bi Inem yang barusan menyaksikan sikap berani Dara dan diamnya Rafa pun sontak menahan tawa. Bi Inem suka dengan pribadi Dara yang sopan, baik, namun terlihat tidak mudah ditindas. Sayang sekali penampilan Dara membuat kesan kalau Dara adalah orang yang lemah.
**
Tengah malam, Dara yang sudah tidur pun tiba-tiba terbangun karena merasa tenggorokannya
sangat kering. Dia meraih botol minumnya yang ada di atas nakas dan menghembuskan napas berat seketika karena air minumnya habis.
Dengan perasaan malas, Dara turun dari ranjang dan memakai sandal bulu-bulu favoritnya. Dara terlebih dahulu mencepol rambutnya dengan asal dan keluar tanpa menggunakan kacamata nya.
Di lantai bawah, Rafa yang kembali tidak bisa tidur pun memutuskan untuk membaca buku di ruang tengah. Dia sedang berusaha agar terbebas dari ketergantungan pada obat tidurnya, dan kalau terus berada di kamar,
tangannya terasa gatal ingin mengambil obat tidur yang dia simpan di dalam laci.
Suara langkah kaki di tangga sana membuat Rafa menoleh dan kedua matanya menyipit kala melihat siapa yang turun.
"Dia siapa?" gumam Rafa.
Seingatnya tidak ada orang lain di rumah itu selain dia dan Dara.
"Dia Dara?" Rafa semakin bertanya-tanya dalam hatinya.
Dara sendiri terus berjalan dengan mata setengah terpejam. Dia sangat mengantuk tapi benar-benar haus juga. Dia tidak tahu ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sejak tadi.
Rafa memindai penampilan istrinya yang jauh berbeda dengan saat mereka makan malam tadi. Tadi Dara memakai celana training panjang dan juga sweater oversize. Tapi sekarang? Dara memakai celana pendek sebatas pa-ha juga atasan singlet dengan tali tipis.
Sebelum mengisi botol minumnya, Dara terlebih dahulu menuangkan air putih itu ke dalam gelas lalu meminumnya hingga habis tak bersisa.
"Hah, leganya!" seru Dara tersenyum. Dia berjalan cuek karena merasa sedang di rumahnya sendiri. Dia lupa sekarang sudah tinggal di rumah siapa.
Dara mengambil botol
minumnya lalu memutar tubuh dan berjalan dengan santai menaiki undakan tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Rafa, dia masih terdiam di ruang tengah dengan buku yang kini dia abaikan. Pandangannya terus tertuju pada Dara hingga istri kecilnya itu tidak terlihat karena sudah sampai di lantai atas.
Rafa tentu merasa shock dan heran. Karena penampilan Dara benar-benar berbeda dari biasanya.
❤️
Paginya, Dara hanya sarapan berdua dengan Rafa karena Oma Atira belum pulang.
Rafa terus memperhatikan Penampilan Dara yang kembali seperti semula. Kacamata besar, rambut dikepang dua tanpa poni.
Dia jadi heran, apa semalam dia salah lihat? Tapi tidak mungkin. Matanya masih normal, tidak mungkin kalau dia salah lihat. Dia yakin sekali kalau semalam adalah Dara, bukan orang lain.
Tapi, mengapa Dara kembali berpenampilan berbeda? Sebenarnya ada apa? Apa rencana Dara?
Secara tidak sadar, Rafa terus memikirkan tentang Dara. Bukan karena dia mulai tertarik. Tapi karena dia merasa harus lebih jaga-jaga. Takutnya Dara mempunyai rencana yang akan mengejutkannya. Rencana yang akan membahayakan dia dan sang oma.
"Apa sebenarnya rencana mu?" batin Rafa.
Dara yang cuek sampai tidak sadar kalau sejak tadi Rafa makan sambil terus memperhatikannya. Hingga akhirnya Dara menghembuskan napas lega saat Rafa pergi lebih dulu.
Dara menatap roti tawar yang ada di meja makan. Juga selai beraneka rasa. Sebagai seorang suami, Rafa tidak memberinya nafkah. Meminta kepada ayahnya pun tidak mungkin. Sedangkan uang tabungannya tiap hari dipakai untuk ongkos ojol pulang pergi ke sekolah.
Hubungan Dara dan ayahnya memang sudah membaik kembali. Dara sudah memaafkan ayahnya. Dara juga memilih untuk menerima takdirnya. Memangnya apa yang dia dapatkan dengan mendiami ayahnya? Apa yang bisa dia lakukan untuk terbebas dari pernikahannya dengan Rafa? Tidak ada yang bisa Dara lakukan selain menerima nya.
Dara mengambil dua lembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang yang jadi favoritnya. Dia ke dapur untuk meminjam kotak bekal pada Bi Inem.
"Non Dara mau bawa bekal?" tanya Bi Inem.
"Emm ... Iya, Bi. Biar gak harus jajan."
"Lho. Kenapa? Non Dara gak suka jajan?" tanya Bi Inem lagi.
Dara nyengir. "Suka males pergi ke kantinnya, Bi."
Dara mengambil kotak bekal yang diberikan oleh Bi Inem. Mengisinya dengan roti tawar yang sudah dia siapkan dan memasukkannya ke dalam tas lalu pergi karena ojol yang dia pesan sudah ada di depan.
.
Di sebuah villa, Oma Atira tengah duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat.
"Tia!" seru Oma Atira memanggil Suster Tiara.
Dari dalam, Suster Tiara langsung berjalan cepat menghampiri sang majikan. "Oma manggil saya?"
Oma Atira mengangguk. "Tolong suruh Pak Beno siapkan mobil. Aku mau pergi ke suatu tempat."
Suster Tiara mengangguk kemudian pergi untuk menemui Pak Beno yang merupakan sopir pribadi Oma Atira.
Sudah sampai di tempat yang dimaksud oleh Oma Atira, wanita paruh baya itu langsung berjongkok dan menaburkan bunga di atas sebuah makam.
"Dia sangat mirip denganmu. Sangat, apalagi bola matanya. Indah seperti punyamu. Dia merupakan gadis yang baik, cantik, pintar. Hanya anakmu saja yang kelakuannya menyebalkan," ucap Oma Atira.
"Aku sudah memenuhi janji kita dulu. Dara sudah menikah dengan Rafa. Hanya saja mungkin di sini aku terkesan memanfaatkan Dara. Aku berharap besar pada Dara, dia pasti bisa membuat Rafa kembali seperti dulu."
"Ada kabar dari rumah?" tanya Oma Atira.
"Tadi Bi Inem ngasih tau saya, kalau keadaan di rumah baik-baik saja. Rafa dan Dara juga masih seperti kemarin, sama-sama cuek. Tapi, Dara sepertinya tidak takut dengan sifat Rafa yang dingin dan jutek. Dia bahkan berani melawan ucapan Rafa," jawab Suster Tiara.
Oma Atira tersenyum tipis mendengarnya. Memang gadis seperti itulah yang sepertinya dibutuhkan oleh Rafa.
"Lalu?"
"Emm ... Kata Bi Inem, Dara juga bawa bekal makanan ke sekolah."
"Bekal?" Oma Atira mengernyitkan keningnya bingung.
"Iya, Oma. Sepertinya ... Rafa benar-benar tidak memberinya nafkah."
Oma Atira menghembuskan napas berat. "Sore ini kita pulang," putusnya.
Di sekolah, Dara yang baru saja keluar dari toilet terkesiap namun tidak bisa berteriak saat seseorang dengan tiba-tiba menarik tangannya dan menutup mulutnya.
"Lepas!" Dara memberontak.
"Sssst. Diem. Gue cuman mau bicara sama lo."
Meski Dara tidak bisa melihat siapa orang yang sudah menariknya, tapi dengan mendengar suaranya saja dia sudah tahu, kalau itu adalah Braden.
Dara menyentak kasar tangan Braden yang masih memegang pergelangan tangannya. Dia berbalik dan menatap nyalang pada sosok pria yang pernah mengisi relung hatinya.
"Mau apa lo?!"
Braden menghembuskan napas berat dan menadahkan tangan kanannya. "Mana hape lo?"
Dara jelas bingung. Untuk apa Braden menanyakan ponselnya?
"Ck. Buruan! Mana hape lo?" Braden tidak sabaran. Dia takut ada murid lain yang melihatnya bicara dengan Dara dan mengatakannya pada Monica.
"Buat apa?" tanya Dara sambil membenarkan letak kacamata nya.
"Foto kita berdua, masih ada, kan di hape lo?" tanya Braden.
Dara tersenyum tipis saat dia sudah menyadari maksud dari Braden. "Kalo ada, emangnya kenapa?"
"CEPET hapus semuanya sekarang juga. Gue gak mau ada foto atau video gue bareng lo di hape lo," ucap Braden.
"Lah, ini kan hape gue. Lo gak berhak ngatur-ngatur gue!" Ucapan Dara terdengar sangat menyebalkan di telinga Braden.
Braden memejamkan matanya erat. Mencoba menahan emosi yang tiba-tiba menguasai tubuhnya.
"Hapus atau-"
"Atau apa?!" sela Dara dengan berani. "Lo takut kalau gue ngasih liat bukti kita bener-bener pernah deket ke cewek lo itu?"
"Lo masih cinta sama gue?"
Braden bertanya balik.
"Apa?" Dara ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar.
Braden tertawa pelan dan menyugar rambutnya. "Gue tau lo masih cinta banget sama gue. Makanya lo gak mau hapus foto atau video kita berdua, kan?"
Dara tersenyum miring penuh ejekan mendengar ucapan Braden yang kelewat percaya diri.
"Dulu iya, kemarin-kemarin juga mungkin iya. Tapi sekarang, yang ada gue benci sama lo," ucap Dara.
"Dah lah. Gue mau masuk ke kelas. Males banget ngomong sama cowok pengecut kayak lo." Dara berbalik dan pergi meninggalkan Braden yang hanya mampu mengepalkan kedua tangan lalu berakhir meninju udara dengan kesal.
"Kenapa lo jadi berani kayak gini, Dara?" gumam Braden.
Dara berlari menuju kelasnya, gara-gara Braden, sepertinya dia akan terlambat masuk ke kelas yang gurunya adalah suaminya sendiri.
Padahal tadi dia hanya ingin ke toilet saja, tapi sialnya Braden malah mengajaknya bicara dulu. Emm ... Lebih tepatnya memaksa.
"Aish, sial. Pintunya udah ditutup," gerutu Dara.
Pasalnya, kalau guru belum masuk, pasti pintu kelasnya masih terbuka. Kalau sudah ditutup begitu, dia yakin kalau Rafa sudah ada di kelasnya.
Dara berdiri dengan gelisah di depan pintu kelas. Sejak dulu dia adalah sosok murid teladan, selalu ada di kelas sebelum guru masuk. Lah sekarang? Mana gurunya adalah suaminya sendiri pula.
Sedangkan di kelas, pandangan Rafa tertuju pada bangku milik Dara yang kosong. Tas dan bukunya ada, tapi orangnya tidak ada.
"Aduh, Dara kemana sih? Kok ke toilet lama banget. Gak mungkin, kan kalo dia nyasar," batin Bebi.
"Kemana temanmu?" tanya Rafa pada Bebi.
"Emm ... tadi izin ke toilet, Pak."
Rafa berdecak dalam hatinya. "Ini bisa jadi perhatian untuk semuanya. Di jam pelajaran saya, saya tidak akan memberikan toleransi kepada murid yang
ada juga yang kasihan, termasuk Bebi.
Dara fokus menatap ke arah Rafa. "Maaf, Pak. Saya terlambat masuk," ucapnya lirih.
Rafa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hm. Kamu terlambat masuk lima menit."
"Maaf, Pak. Cuman lima menit, kan?"
Rafa memasukkan sebelah tangan ke saku celananya dan berjalan mendekati Dara.
"Cuman lima menit kamu bilang?" tanya Rafa yang kini sudah berdiri di depan Dara.
Dara sendiri hanya mampu
terlambat. Apalagi ini sudah masuk jam terakhir pelajaran. Gak mungkin kalian gak denger bel tanda masuk kelas bunyi, kan?" ucapnya tegas.
"Siapapun yang terlambat, saya akan memberikan hukuman kepada mereka. Kalian mengerti?"
"Mengerti, Pak!"
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu disusul dengan pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah Dara.
Semua mata tertuju pada Dara yang baru masuk. Ada yang tersenyum miring karena puas dan yakin kalau Dara akan dihukum,
menunduk seraya memaki bibirnya sendiri yang malah berucap seperti itu.
"Tadi saya sudah memberitahu yang lain kalau saya tidak akan memberikan toleransi kepada siapa saja yang terlambat masuk ke kelas saya!" ucap Rafa tegas. "Dan yang terlambat akan menerima hukuman dari saya."
Dara mengangguk lemah, dia siap menerima hukuman apa saja yang akan diberikan padanya. Dalam hati, dia terus merutuki Braden yang menjadi penyebab dia jadi terlambat seperti ini.
"Hukumannya adalah ...."