NovelToon NovelToon
Sang Sopir Penakluk

Sang Sopir Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Bad Boy
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
​Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
​Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

“Bos terlalu memuji,” jawab Bima sambil tertawa. “Tanpa Anda, saya tidak akan berada di posisi ini. Harapan terbesar saya adalah… bisa ‘melakukannya’ bersama Anda.”

Ia sengaja menekankan kata terakhir, membuat wajah Sari langsung memerah. Ingatan tentang kejadian malam itu kembali terlintas. Sari menatap Bima tajam, lalu buru-buru meneguk air putih.

Tiba-tiba ponsel Dewi berdering. Setelah menjawab panggilan, wajahnya langsung pucat. Tubuhnya bahkan sedikit gemetar.

“Ibu Sari… semuanya… maaf. Ada urusan mendesak di rumah. Saya harus segera kembali.”

“Apakah darurat, Dewi?” tanya Sari khawatir.

“Iya… sangat mendesak.” Mata Dewi tampak berkaca-kaca.

“Mobilku ada di depan. Biarkan Bima mengantarmu, lalu dia kembali menjemputku. Aku akan menunggumu, Bima.”

Di luar dugaan Bima, Dewi—yang punya jabatan mentereng di Garuda Group—ternyata tinggal di kawasan pemukiman padat yang agak kumuh, tak jauh dari kontrakan Bima sendiri.

Ini adalah daerah yang seolah terlupakan. Bangunan tua dua lantai yang lapuk disewakan kepada para perantau. Kotor, semrawut, dan rawan. Preman, penjudi, dan buruh kasar bercampur di sini.

“Bang Bima, terima kasih. Saya sudah sampai. Abang bisa kembali menjemput Bu Sari,” kata Dewi setelah turun di mulut gang yang remang-remang.

Bima menatap gang gelap itu. “Ada apa sebenarnya? Perlu bantuanku?”

Dewi segera menggeleng. “Tidak perlu. Hanya urusan kecil di rumah. Jangan sampai Bu Sari menunggu lama.”

Setelah Dewi berlari memasuki gang, Bima tidak langsung pergi. Ia merasa ada yang tidak beres.

Di depan sebuah rumah petak yang reyot, tujuh atau delapan pria bertato berkumpul sambil bertelanjang dada. Di tengah mereka, seorang remaja sekitar enam belas tahun tergeletak di tanah. Kepalanya diinjak oleh seorang pria gempal dengan tato ular cobra di dadanya.

“Bocah, cepat telepon kakakmu! Kalau dalam lima menit dia tidak datang, kepalamu pecah!”

“Bang Tigor… saya sudah telepon kakak saya. Dia segera datang. Tolong jangan pukul lagi…” Hidung bocah itu berdarah, air matanya mengalir deras.

“Brengsek kau, Rino! Kalau bukan karena kakakmu yang cantik itu, sudah lama kau kuhabisi!” pria yang dipanggil Bang Tigor itu meludah. “Ingat apa yang kukatakan? Bujuk kakakmu supaya mau ikut aku! Kalau tidak, kau mati!”

Tak lama kemudian, sosok Dewi muncul sambil berlari terengah-engah. Begitu melihat adiknya diinjak, matanya langsung merah. Ia menerjang maju seperti singa betina yang marah.

“Lepaskan dia! Siapa pun yang berani sentuh adikku, aku akan lawan mati-matian!” Ia mendorong pria-pria itu dan melindungi adiknya.

“Wah, Neng Dewi akhirnya pulang juga?”

Bang Tigor menatap Dewi dari atas ke bawah, menelan ludah dengan rakus.

“Bapakmu yang sudah almarhum itu punya utang ke saya dua ratus juta. Sudah siap bayar?” Ia menyeringai. “Belum lagi adikmu ini! Beberapa hari terakhir dia main judi di lapak saya dan kalah delapan puluh juta lagi. Jadi totalnya dua ratus delapan puluh juta! Tapi saya lagi baik hati, saya diskon saja—genap dua ratus lima puluh juta!”

“Apa?!” Dewi menoleh dengan marah pada adiknya. “Rino! Bukankah kau sudah janji akan berhenti judi dan balik sekolah?!”

Air mata Rino kembali mengalir. “Maaf, Kak… aku cuma ingin menangin balik uang yang dulu hilang. Tapi malah jadi begini…”

Dewi langsung lemas. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. “Bang Tigor… kami memang berutang. Saya pasti bayar. Saya sudah tabung seratus juta, saya bisa kasih sekarang. Sisanya saya cicil secepatnya.”

“Seratus juta?” Bang Tigor mencibir. “Nggak bisa! Hari ini saya mau semuanya! Dua ratus lima puluh juta. Kurang seribu perak pun nggak boleh!” Ia tersenyum licik. “Tapi saya tahu kalian hidup susah. Sulit cari uang segitu sekaligus.”

Ia melirik Rino yang menunduk di belakang kakaknya. Rino kemudian berkata dengan suara gemetar, “Kak… Bang Tigor sudah bilang. Asal Kakak bersedia jadi 'istrinya', utang kita lunas. Bahkan… aku bisa diajak gabung ke Geng Cobra…”

Plak!

Tamparan keras Dewi mendarat di pipi adiknya. “Rino! Kau benar-benar keterlaluan! Kau mau jual kakakmu sendiri demi nyawamu?!”

“Kak!” Rino tiba-tiba berlutut sambil menangis. “Ikuti saja kemauan Bang Tigor! Kalau tidak, mereka akan bunuh aku! Kalau Kakak nggak setuju… aku mati saja sekarang! Orang tua kita sudah nggak ada! Nggak ada yang peduli padaku lagi!”

“Rino…” Air mata mengalir di pipi Dewi. Rasa sakit di matanya perlahan berubah menjadi kehampaan. Mungkin ini memang nasibnya. Haruskah ia melihat satu-satunya keluarga yang tersisa mati di depan matanya?

Di belakangnya, Bang Tigor hampir tak bisa menahan kegembiraan. Ia sudah membayangkan akan menyeret Dewi ke ranjang malam ini.

“Neng Dewi, kalau dia memang mau mati, biarkan saja dia mati. Mau tabrak tembok atau minum baygon, silakan.”

Tiba-tiba sebuah suara pria yang santai terdengar dari belakang. Dewi menoleh. Bima berdiri di sana dengan kedua tangan di saku, berjalan perlahan mendekat.

“Bima! Pergi dari sini!” teriak Dewi panik. Orang-orang seperti Bang Tigor adalah penguasa jalanan yang kejam. Ia tidak ingin Bima ikut celaka.

“Kau siapa?” Bang Tigor menatap tajam. Enam atau tujuh anak buahnya langsung mengepung Bima.

Bima tersenyum ramah. “Bang Tigor, jangan marah. Nama saya Bima. Sopirnya Dewi. Saya juga tinggal di sekitar sini.” Ia berjalan mendekat sambil mengulurkan tangan. “Nama besar Abang sudah sering saya dengar. Ke depannya, saya masih harus banyak belajar dari Abang.”

“Huh! Lumayan juga kau tahu diri!” Melihat sikap Bima yang merendah, Bang Tigor merasa jemawa. Ia mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Namun saat tangan mereka bersentuhan, wajah Bang Tigor langsung berubah pucat. Telapak tangannya terasa seperti dijepit oleh cakram besi! Keringat dingin mengucur. Wajahnya melintir menahan sakit.

“Menurut saya… mungkin ada sedikit salah paham hari ini,” kata Bima dengan senyum santai, sambil makin menekan genggamannya. “Apa nggak sebaiknya mereka pulang dulu? Kita berdua bisa duduk sambil ngopi dan bicara baik-baik. Bagaimana?”

Bang Tigor merasa tulang tangannya hampir remuk. “Baik! Baik!” katanya cepat sambil meringis. “Lepaskan mereka!”

Anak buahnya segera mundur. Dewi masih bingung melihat perubahan sikap mendadak itu.

“Kalian pulang dulu. Saya dan Bang Tigor ini sudah kayak saudara!” Bima tertawa. “Kami mau ngobrol sebentar.”

Meski ragu, Dewi akhirnya membawa adiknya pergi. Begitu mereka menghilang di kegelapan gang, Bima melepaskan tangan Bang Tigor.

“Bang Tigor, gimana rasanya?”

“Rasanya nenek moyangmu!” Bang Tigor langsung mengamuk. “Berani merusak urusan saya? Kau cari mati! Saudara-saudara! Hajar dia! Bunuh bocah ini!”

1
Sastra Aksara
Terimakasih kak 😍🙏
Rio Armi Candra
kopi dah meluncur Thor 👍👍👍💪
Rio Armi Candra
jiahahaha 🤣🤣🤣🤣.. kereeeen bima👍👍👍
Jack Strom
Ihhh... Seram!!! 😁
Jack Strom
Mantap. 😁
Jack Strom
Hadeh, jadi kacau... 😔
Jack Strom
MC nya konyol namun asik!!! 😁
Jack Strom
Eh... Chapternya dah habis... 😭😭😭
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Hahaha... sudah 5 orang... 👍👍👍👍😁
Jack Strom
Eh, muncul satu lagi!!! 😁
Jack Strom
Ayo, hajar premannya!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Mantap!!!
Jack Strom
Hahaha... Nyosor masuk parit loe, mampooos!!! 😁
Jack Strom
Ia ia, makan teruuus!!! 😁
Jack Strom
Keren!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... 😁
Jack Strom
Hahaha... Sangat konyol!!!
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Dasar tukang onar!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!