NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Privasi

Pintu apartemen terbanting menutup dengan suara yang menggelegar, memicu gema panjang di lorong yang sunyi. Morgan melangkah masuk dengan aura yang begitu pekat dan berat, seolah ia membawa awan badai bersamanya. Ia melempar tas kulitnya ke atas meja konsol tanpa menoleh, lalu terus berjalan menuju ruang tengah, melepaskan jasnya dengan satu sentakan kasar.

Liana mengekor di belakang, langkahnya terhenti di ambang karpet ruang tamu. Ia masih mengenakan blus tipis yang tadi ia pakai untuk memprovokasi Morgan di kampus, namun keberaniannya kini telah menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada.

Morgan berbalik secara tiba-tiba. Ia berdiri dengan kaki yang kokoh, menatap Liana dengan mata yang tidak lagi dingin, melainkan menyala-nyala oleh api yang selama ini ia kunci di ruang bawah tanah jiwanya.

"Duduk, Liana," perintah Morgan. Suaranya rendah, hampir menyerupai geraman yang tertahan di tenggorokan.

"Aku tidak mau—"

"DUDUK!"

Suara Morgan menggelegar, meruntuhkan seluruh keberanian Liana. Dengan kaki gemetar, Liana menghempaskan tubuhnya ke sofa. Morgan tidak ikut duduk; ia justru berdiri di hadapannya, menjulang seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis mati. Pria itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan ponsel yang menampilkan foto-foto kiriman Derby tadi siang, lalu meletakkannya di atas meja kopi dengan suara 'brak' yang tajam.

"Jelaskan padaku," ucap Morgan, suaranya kini kembali tenang, namun ketenangan itu justru jauh lebih menakutkan daripada teriakan sebelumnya. Ia menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja, sedikit membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Liana. "Berapa banyak momen seperti ini yang kau habiskan bersamanya? Dan yang paling penting ... sejauh apa kalian melangkah?"

Liana membuang muka, tidak sanggup menatap kilatan luka di mata suaminya. "Itu foto lama, Morgan. Itu sebelum ada kontrak ini. Kau tidak berhak menanyakannya."

"Aku berhak!" Morgan memukul meja dengan kepalan tangannya yang terbalut perban, membuat vas bunga di atasnya bergetar hebat. "Aku suamimu, Liana! Sumpah itu mungkin kontrak di matamu, tapi itu adalah tanggung jawab mutlak di mataku! Kemarin malam, kau hampir membuatku kehilangan seluruh akal sehatku hanya dengan mengenakan kemejaku. Jika kau bisa melakukan hal itu padaku yang kau benci, sejauh apa kau melakukannya pada pria yang kau sebut kekasih itu?!"

Liana mendongak, matanya berkaca-kaca karena rasa malu yang bercampur dengan kekesalan. "Kami hanya melakukannya sebatas muda-mudi pacaran saja! Kami bersenang-senang, kami berciuman, kami pergi ke klub! Itu normal, Morgan! Tidak semua orang hidup dalam kotak statistik yang membosankan seperti dirimu!"

Morgan tertawa getir, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Ia mengusap rambutnya dengan kasar, menghancurkan tatanan rambutnya yang biasanya selalu rapi. "Bersenang-senang? Kau menyebut dirimu yang hampir tidak sadar di bawah pengaruh alkohol dalam pelukan pria rendahan itu sebagai 'bersenang-senang'? Liana, dia mengirimkan foto-foto ini padaku untuk menunjukkan bahwa dia telah memilikimu sepenuhnya!"

"Karena dia memang mencintaiku!" teriak Liana, bangkit dari sofa dan berdiri menantang Morgan. Ia mendorong dada Morgan dengan kedua tangannya, meskipun pria itu tidak bergerak sedikit pun. "Derby mencintaiku dengan caranya sendiri! Dia menerimaku apa adanya, bukan mencoba mengubahku menjadi boneka akademis sepertimu! Dia mencintaiku, tidak seperti kau yang hanya mencintai aturanmu dan kontrak konyol dengan Kak Liam!"

Kata-kata itu menghantam Morgan lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Pupil matanya membesar, dan rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol tajam. Pembelaan Liana terhadap Derby adalah penghinaan terakhir bagi harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping sejak pagi tadi.

"Kau membela pria yang hampir menjualmu untuk hutang judinya?" tanya Morgan, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Kau memuja pria yang melecehkan martabatmu di depan umum hanya untuk memprovokasi aku?"

"Setidaknya dia nyata!" sahut Liana dengan air mata yang mulai mengalir deras. "Dia punya perasaan! Dia tidak kaku! Dia tidak menggunakan kontrak untuk menjaga seseorang!"

Morgan kehilangan kendali sepenuhnya.

Rasa cemburu yang membara, rasa bersalah karena lalai menjaga amanah Liam, dan rasa sakit karena cintanya yang tersembunyi diremehkan, meledak menjadi satu. Morgan berbalik dan dengan satu gerakan tangan yang penuh amarah, ia menyapu seluruh buku dan dokumen di atas meja kerjanya hingga berserakan di lantai.

BRAKK!

Ia tidak berhenti di situ. Morgan menendang kursi kerjanya hingga menghantam rak buku, membuat beberapa piala dan hiasan kristal jatuh dan hancur berkeping-keping. Suara barang pecah bergema di seluruh apartemen, menciptakan atmosfer horor yang belum pernah Liana saksikan sebelumnya.

Liana mundur hingga punggungnya membentur dinding, matanya membelalak ketakutan melihat sang 'Dewa Ekonomi' berubah menjadi monster yang mengamuk. Morgan menghampiri sebuah lukisan abstrak di dinding dan merenggutnya hingga lepas, lalu membantingnya ke lantai.

"ATURAN?!" teriak Morgan sambil berbalik menghadap Liana, napasnya tersengal-sengal seperti binatang buruan. Ia berjalan mendekati Liana dengan langkah predator, mengurung gadis itu di sudut ruangan. "Kau pikir aku mempertahankan aturan ini karena aku mencintainya? Aku melakukan ini untuk menahan diriku sendiri agar tidak menghancurkan pria itu dan membawamu lari dari dunia ini, Liana!"

Morgan menumpukan kedua tangannya di dinding, tepat di samping kepala Liana. Wajahnya memerah, dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

"Kau bilang aku hanya mencintai kontrak?" Morgan berbisik tepat di depan bibir Liana, suaranya pecah oleh kepedihan. "Jika aku hanya mencintai kontrak, aku tidak akan merasa ingin mati setiap kali melihat foto itu. Jika aku hanya mencintai kontrak, aku tidak akan menghancurkan ruangan ini karena cemburu!"

Liana terisak, tubuhnya gemetar hebat. Ia bisa melihat luka di tangan Morgan kembali mengeluarkan darah, menetes perlahan ke lantai porselen. Morgan menatap Liana dengan tatapan yang sangat rapuh, sebelum akhirnya ia menyandarkan keningnya di bahu Liana, membiarkan seluruh berat tubuhnya bertumpu pada gadis itu.

"Kenapa kau harus membelanya ..." bisik Morgan, suaranya kini terdengar sangat lelah, kehilangan seluruh kekuatan amarahnya. "Kenapa kau harus membuatku merasa tidak berarti di matamu sendiri ...."

Liana terpaku. Ia merasakan napas Morgan yang panas di lehernya. Amarah yang tadi menyelimutinya kini berganti dengan rasa bersalah yang amat sangat. Ia menyadari bahwa pembelaannya terhadap Derby tadi hanyalah senjata untuk menyakiti Morgan karena ia sendiri merasa bingung dengan perasaannya.

Morgan perlahan menjauhkan tubuhnya. Ia menatap ruangan yang kini berantakan karena amukannya—buku-buku yang robek, kaca yang hancur, dan kehormatannya yang ikut berserakan. Morgan kembali memasang wajah datarnya, namun kali ini topeng itu terlihat retak dan sangat rapuh.

"Berangkatlah ke kamarmu," ucap Morgan pelan tanpa menatap mata Liana. Ia berjalan menuju meja yang hancur, memunguti ponselnya dengan tangan yang bergetar. "Besok aku akan meminta orang untuk merapikan ini. Jangan keluar sampai aku memintamu."

Liana ingin mengatakan sesuatu, ingin meminta maaf, atau setidaknya menyentuh tangan Morgan yang terluka. Namun, Morgan memberikan isyarat dengan tangannya agar Liana segera pergi. Morgan berdiri di tengah kehancuran itu, sendirian dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Liana berlari menuju kamarnya dan mengunci pintu. Di ruang tengah, Morgan jatuh terduduk di lantai di antara serpihan kaca dan foto-foto polaroid yang tadi ia benci. Pria yang paling bijak di universitas itu kini menyadari satu kebenaran pahit: ia telah melanggar aturannya sendiri. Ia telah membiarkan hatinya terlibat, dan kini ia harus menanggung rasa sakit dari sebuah pernikahan kontrak yang mulai terasa seperti hukuman seumur hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!