NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:329
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Malam itu

Malam sudah terlalu larut untuk sebuah rumah sebesar itu tetap terasa hidup. Lampu-lampu utama tampak sudah meredup, menyisakan cahaya temaram di lorong dan sudut-sudut yang jarang dilewati. Semua pelayan telah kembali ke kamar mereka di lantai satu, meninggalkan lantai dua dalam keheningan yang nyaris menekan. Tidak ada suara langkah, tidak ada bisikan, hanya suara dengung pendingin udara yang memenuhi keheningan malam.

Rachel tengah berada di dalam kamarnya—kamar tamu di lantai dua yang cukup besar, rapi, dan terlalu sempurna untuk seorang pelayan sepertinya. Ia sudah berbaring cukup lama di atas ranjang besar yang seharusnya terasa nyaman, seraya memejamkan mata dan mencoba memaksa tubuhnya beristirahat. Namun pikirannya terus bekerja—ia berputar pada hal-hal yang tidak ingin ia ingat. Nyatanya, lelah tidak selalu bisa diselesaikan dengan beristirahat.

Ia akhirnya duduk di tepi ranjang, lalu menghembuskan napasnya pelan. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur. Tanpa banyak ragu, ia membuka daftar kontak dan menekan satu nomor yang ia simpan di sana—nomor telepon apartemen tempat Mrs. Portman dan Anna tinggal.

Panggilan telepon itu terhubung, lalu dijawab setelah dering kedua berbunyi.

"Halo!" seru Rachel dengan perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar, karena memikirkan senyuman Anna dan Mrs. Portman.

“Rachel?” suara Mrs. Portman terdengar sedikit terkejut, tapi jelas senang. “Ada apa, Rachel?”

“Maaf mengganggu, Mrs. Portman.” jawab Rachel pelan. “Aku hanya… ingin tahu kabar Anda dan juga Anna,”

Ada jeda singkat di seberang sana. Rachel pun menahan napas, lalu tanpa sadar tubuhnya menegang.

“Aku dan Anna baik-baik saja,” kata Mrs. Portman akhirnya. “Bahkan Anna jauh lebih baik dari beberapa minggu yang lalu,”

Rachel mengerjap. “Benarkah?”

“Iya. Beberapa minggu terakhir ini ada dokter yang datang rutin ke sini, untuk memeriksa kondisi Anna dan memberinya obat. Dan akhir-akhir ini, Anna lebih jarang mengeluh sakit. Bahkan nafsu makannya juga membaik.”

Rachel terdiam, seraya jari-jarinya mencengkeram ponsel lebih erat. “Dokter?” ulangnya lirih, seolah memastikan ia tidak salah dengar.

“Iya,” jawab Mrs. Portman ringan. “Kami juga sempat heran, tapi katanya semua memang sudah diatur untuk Anna.”

"Baiklah kalau begitu, Mrs. Portman. Syukurlah, aku merasa lebih tenang mendengar kabar Anna. Kurasa ini sudah malam, sebaiknya Anda segera beristirahat."

"Kau juga, Rachel. Jaga kesehatan, dan jangan lupa makan teratur. Jangan terlalu lelah bekerja."

"Terima kasih, Mrs. Portman."

Setelah panggilan telepon itu berakhir, Rachel tetap duduk di tempatnya. Layar ponsel tampak sudah gelap di tangannya, namun pikirannya belum kembali ke tempatnya seharusnya berada. Ia tahu pasti, bahwa ia tidak pernah meminta Liam melakukan semua itu. Ia bahkan tidak pernah secara langsung membicarakan soal pengobatan Anna secara detail padanya. Namun, nyatanya Liam telah memperhatikannya, secara diam-diam, dan melakukan semua ini untuk Anna.

Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya. Bukan perasaan lega semata, melainkan juga kehangatan yang aneh, yang langsung bertabrakan dengan ingatan lain—tentang malam ketika ia memergoki Liam bersama perempuan bayaran, juga tentang rasa tidak nyaman, risih, dan jarak yang sengaja diciptakan. Dua gambaran itu tidak seharusnya berada pada sosok yang sama. Tapi nyatanya, keduanya ada di sana.

Rachel berdiri dan berjalan ke arah jendela besar kamarnya. Ia membuka sedikit tirai yang menjuntai tinggi di sana, lalu memperlihatkan halaman depan rumah Liam yang luas. Saat itulah ia melihat sebuah mobil berhenti. Pintu mobil itu terbuka, lalu tampak sosok Liam yang turun, dan dipapah oleh dua anak buahnya.

Napas Rachel mendadak tersendat, menyaksikan pemandangan di luar sana dari balik jendela kamarnya. Dari kejauhan, kemeja abu-abu muda Liam tampak basah oleh sesuatu yang menyerupai darah, terutama di bagian perutnya. Warna merah gelap dari noda darah itu tampak kontras dengan pakaiannya yang terang, dan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Jantung Rachel berdegup keras, lalu kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya.

Pekerjaan apa yang sebenarnya dijalani Liam—hingga tubuhnya sesering itu mendapatkan luka?

Dan mengapa, meski ia tahu seharusnya tidak peduli, tapi kakinya terasa lemas hanya dengan melihatnya terluka seperti itu?

Rachel membuka pintu kamarnya hanya sedikit. Celah sempit itu cukup untuk memberinya pandangan ke sepanjang lorong lantai dua yang remang. Cahaya lampu dinding jatuh pucat di lantai marmer. Di ujung lorong, ia melihat dua anak buah Liam memapah tubuh pria itu menuju kamarnya. Langkah mereka cepat, terkoordinasi, dan tanpa banyak bicara. Pintu kamar Liam terbuka, lalu tertutup kembali setelah mereka masuk ke dalamnya.

Beberapa menit kemudian, anak buah Liam itu keluar. Wajah mereka tampak tetap datar, seolah apa yang baru saja terjadi adalah hal yang biasa terjadi. Dua penjaga yang sebelumnya berjaga di depan kamar bahkan ikut berbalik arah dan pergi, menyisakan lorong lantai atas yang kembali sunyi.

Sejujurnya, yang mengganggu Rachel saat ini bukan hanya darah yang tadi ia lihat, tapi juga apa yang tidak ia lihat sekarang. Tidak ada dokter yang datang dengan langkah tergesa untuk mengobati lukanya. Tidak ada pelayan yang dipanggil untuk membantunya. Tidak ada siapa pun yang tinggal di depan kamar itu dan menjaganya. Liam, dengan luka di perutnya ditinggalkan sendirian begitu saja di dalam kamarnya.

Rachel menutup pintu kamarnya perlahan dan kembali ke ranjang. Ia berbaring telentang, sembari menatap langit-langit dengan perasaan yang kacau. Bahkan, detak jantungnya kini masih belum kembali normal. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul bukan bayangan kamar ini, melainkan kemeja abu-abu muda milik Liam yang berlumuran darah, juga cara tubuh Liam tampak ditopang agar tidak terjatuh hingga ke kamarnya.

Ia mencoba membalikkan badan, menarik selimut, dan memaksa dirinya untuk tidak peduli. Namun semua itu gagal.

Ada rasa tidak nyaman yang menekan dadanya—bukan kepanikan, tapi kegelisahan yang tampak tidak mau pergi. Rachel sadar ia seharusnya menjaga jarak dengan Liam. Saat ini, ia sudah memilih posisi yang aman, dengan bekerja dan tidak perlu mencampuri urusan pribadi pria itu. Tapi luka di tubuh Liam itu terasa nyata. Dan Rachel telah melihatnya sendiri.

Akhirnya, Rachel pun memutuskan untuk duduk dan menghela napas panjang. Keputusan itu datang bukan sebagai keberanian, melainkan kelelahan karena terus menahan diri.

Rachel bangkit dan melangkah ke lorong. Di depan pintu kamar Liam, langkahnya melambat. Tangannya terangkat, tampak ragu untuk mengetuk. Ia mencondongkan tubuh sedikit, lalu menempelkan telinganya ke daun pintu. Awalnya yang terdengar dari dalam sana hanya sunyi. Lalu, suara itu perlahan terdengar—suara rintihan pelan dan tertahan, seperti seseorang yang berusaha keras agar tidak terdengar lemah.

Rachel tidak berpikir lebih jauh, ia pun sontak membuka pintu dan masuk. Di dalam sana, lampu kamar tampak menyala redup. Liam tergeletak di lantai, tubuhnya setengah bersandar pada sisi tempat tidurnya. Kemejanya masih sama—basah, lengket dan dipenuhi noda darah. Wajahnya tampak pucat, rahangnya mengeras, dan keringat yang cukup banyak tampak membasahi pelipisnya. Bahkan, napasnya terdengar pendek-pendek dan tidak teratur.

“Tuan Smith,” panggil Rachel, suaranya refleks meninggi.

Ia berlutut di samping pria itu, panik yang sejak tadi ia tekan akhirnya muncul ke permukaan. Dengan usaha yang tidak kecil, ia memapah Liam ke atas tempat tidurnya. Tubuh Liam berat, tapi ia membantu sebisanya, dan menahan diri agar tidak mengeluh.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Liam terdengar serak, hampir seperti bisikan. Matanya setengah terbuka dan fokusnya goyah.

Rachel menelan ludah. “Aku melihatmu dari jendela,” jawabnya jujur. “Kau terluka. Tidak ada siapa pun yang masuk setelah itu. Aku tidak bisa… tidak bisa berpura-pura tidak tahu.”

Liam tidak membantah ucapan Rachel. Ia juga tampak terlalu lelah untuk menolak kehadirannya.

Rachel pun lalu bergerak cepat. Ia mengambil kotak P3K di tempat ia pernah mengambilnya dulu—saat ia diminta Liam mengobati luka di lengannya. Tangannya gemetar saat ia membuka kemeja Liam. Namun, kain itu terlepas dengan mudah, hingga menyingkap luka tusuk di perutnya. Di sana, darah masih merembes, terlihat merah gelap dan lengket.

Rachel menarik napas panjang, lalu memaksa dirinya tenang. Ia membersihkan luka itu dengan hati-hati, dengan menahan setiap gerakan agar tidak memperparah rasa sakitnya. Sementara itu, Liam tampak mendesis pelan, tapi tidak menghentikan aktivitas Rachel. Ia hanya menutup mata dengan rahangnya yang tampak mengeras.

“Minum ini,” kata Rachel kemudian, menyodorkan obat pereda nyeri dan segelas air.

Liam menuruti perkataan Rachel, tanpa komentar apapun, juga tanpa perlawanan. Saat itulah Rachel menyadari panas yang tidak wajar dari kulitnya. Dahi Liam terasa terlalu panas di bawah sentuhannya. Ia demam—suhu tubuhnya cukup tinggi.

Hati Rachel pun akhirnya mencelos. Ia baru saja menyadari satu hal yang membuatnya semakin sulit pergi, bahwa pria ini bukan hanya terluka—ia mungkin sedang menahan lebih banyak dari yang ia perlihatkan.

Rachel merapikan perban terakhir dengan gerakan pelan. Setelah memastikan luka itu tertutup rapat dan napas Liam sedikit lebih stabil, ia akhirnya menarik napas panjang. Pekerjaannya sudah selesai—setidaknya, itu adalah bagian yang bisa ia lakukan malam ini.

Ia bangkit dari sisi ranjang, berniat pergi sebelum situasi ini melampaui batas yang sudah ia tetapkan sendiri. Namun baru dua langkah menjauh, jari-jarinya tertahan. Pegangan itu terasa lemah, bahkan hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuatnya berhenti.

“Jangan… pergi,” suara Liam rendah dan serak. Bukan terdengar seperti perintah. Tapi lebih seperti permintaan yang keluar terlalu jujur.

Rachel sontak menoleh. Liam menatapnya dengan mata setengah terbuka—wajahnya tampak pucat, dan keringat masih membasahi pelipisnya. Pegangannya tidak kuat, tapi terasa jelas bahwa ia tidak ingin ditinggalkan sendirian malam ini.

Ini sudah melampaui perannya, Rachel jelas tahu itu. Ia bukan dokter, juga bukan keluarga Liam, bahkan ia bukan seseorang yang seharusnya berada di kamar ini. Namun melihat kondisi Liam, dengan demamnya yang tinggi, tubuh yang tampak lemah, dan luka yang baru saja ia obati—Rachel tahu meninggalkannya sekarang akan terasa seperti pengkhianatan terhadap nuraninya sendiri.

Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan tetap di sini sebentar,” katanya akhirnya.

Rachel duduk di tepi ranjang, bersandar pada kepala ranjang dengan jarak yang masih ia jaga. Liam bergeser sedikit, berbaring di sampingnya. Tangannya kembali mencari, lalu menggenggam tangan Rachel—kali ini lebih mantap, seolah takut kehilangan jangkar terakhir yang ia punya malam itu.

Tubuh Rachel menegang sejenak, lalu membiarkannya. Ia menatap wajah Liam yang beberapa saat kemudian akhirnya tertidur. Garis-garis tegas di wajahnya itu tampak melembut dalam tidur— pertahanan yang biasanya selalu terpasang kini runtuh sementara. Jantung Rachel pun tiba-tiba berdegup lebih cepat dari seharusnya. Ia segera memalingkan pandangan, lalu menegur dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya lancang seperti itu.

Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Hingga Liam terdengar merintih lagi. Napasnya terdengar memburuk, bahkan dahi dan lehernya terasa semakin panas. Rachel bergerak cepat—ia bangkit dan menuju kamar mandi untuk membasahi handuk kecil dengan air dingin, memerasnya, lalu kembali ke sisi ranjang.

Ia mengompres dahi Liam, dan mengulanginya berkali-kali. Sesekali tangannya menyentuh pipi atau lehernya untuk mengecek suhu tubuhnya. Ia bekerja tanpa kata-kata dan hanya fokus, seperti seseorang yang menolak memberi ruang pada rasa panik. Perlahan, reaksi Liam pun mereda. Rintihannya berubah menjadi napas yang lebih teratur, dan demamnya turun sedikit demi sedikit.

Rachel tetap di sana. Ia duduk, menunggu, dan menjaga Liam. Entah berapa lama waktu berlalu, hingga tubuh Rachel akhirnya terasa lelah. Tanpa ia sadari, kepalanya bersandar ringan dan matanya terpejam. Sementara itu, tangannya masih berada dalam genggaman Liam.

Malam itu berakhir dengan jarak yang akhirnya berhasil dipangkas, dan dinding yang akhirnya tampak sedikit runtuh. Di dalam sebuah kamar yang besar dan hangat, dua orang sedang tertidur dalam keheningan—terlalu dekat secara fisik, tapi terlalu jauh untuk memahami apa yang mulai bergeser di antara mereka.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!