"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
"kak.."
Mahiya menyentuh bahu kael, mengoyang-goyangkannya. Aplikasi azan di ponselnya, sudah berbunyi dari tadi. Gadis itu sedang kebingungan, gimana mau salat nih,mahiya lupa membawa mukenahnya.
"kak kael.."
Kael menggeliatkan tubuhnya, dia baru saja terpejam, kepalanya terasa berdenyut.
"ada apa mahi?"
"aku mau salat subuh kak, tapi aku lupa bawa mukenah"
Kael menegakkan tubuhnya, menyambar ponsel dan melihat ternyata baru pukul 5 subuh.
"di rumah ini yang salat subuh cuma mbak rina.."
Mahiya terkejut, apakah keluarga kael tidak melaksanakan salat, kerutan di keningnya jelas penasaran. Tapi gadis itu segan menanyakannya.
"aku nggak tahu kamar mbak rina kak!"
Kael menarik selimutnya kembali, kepalanya yang pusing semakin pusing rasanya.
"cari sendirilah mahi, aku pusing!"
Mahiya menghembuskan nafasnya kesal, dia menyambar jilbabnya dan menyampirkan seadanya di kepala.
Memang jika ketemu tuan adrian di luar tidak masalah, pria tua itu mertuanya, tapi gimana kalau kak gerard, bagaimanapun gerard hanya ipar, mereka tetap bukan mahram.
Mahiya keluar dengan hati-hati, suasana rumah memang terasa sepi, mahiya celingukan seperti maling, mencari arah dapur.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya, mahiya berbalik dengan memegang dadanya yang berdetak kencang, abangnya kael itu berdiri sembari memegang botol air mineral.
"ya Allah kak gerard.."
"kamu cari apa?"
Mata pria tampan pendiam itu, menatap mahiya penuh tanya.
"aku mau cari mbak rina, kak. Mau pinjam mukenah untuk salat subuh"
Gerard, pria tampan itu terlihat sedikit tersentak. Dia mengamati istri kael itu, ternyata kael menemukan sebuah berlian. Gerard kagum, mereka memang muslim, tapi di rumah ini tak ada satupun penghuninya yang salat kecuali art mereka.
Hati pria itu berdetak, mahiya ternyata tidak hanya cantik, tapi gadis ini ternyata muslimah yang taat.
"kamu bisa ke dapur, biasanya jam segini para art sudah mulai berberes"
Mahiya mengangguk sopan, sebelum berbalik tak lupa gadis itu mengucapkan terima kasih.
Mata gerard masih mengikuti mahiya, sampai gadis itu hilang di balik tembok dapur. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa berdebar, sebenarnya dari awal gerard melihat istri kael itu, dia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.
"gadis itu mengingatkanku pada arumi" gumamnya pelan, gerard masih berdiri menatap arah mahiya hilang tadi.
"siapa?"
Gerard tersentak kaget berbalik, kael dengan wajah bantalnya masih terlihat mengantuk.
"siapa yang mengingatkanmu akan mantanmu?"
Gerard menggeleng cepat, dia hendak melangkah.
"tumben kamu bangun pagi?" tanyanya mengalihkan perhatian kael, matanya menatap kael yang menguap berulangkali.
"aku mencari istriku, katanya tadi mau cari mbak rina"
"ohh.." sahut gerard singkat.
Pria itu tak lagi bertanya, meninggalkan kael yang sudah berjalan menuju dapur.
Mahiya salat langsung di kamar mbak rina, gadis itu ikut duduk di dapur ngobrol dengan para art yang sudah ramai berceloteh.
Kael berdiri di ambang pintu dapur, mencari mahiya, ia tertegun melihat mahiya yang terlihat akrab dengan mereka, minum kopi sembari tertawa bareng.
"sayang..." panggil kael, semua kepala menoleh, menatap kael yang berdiri di ambang pintu.
"sudah salatnya?"
Mahiya berdiri sambil mengangguk, senyumnya segar banget, cerah kek cahaya matahari pagi. Kael sampai terpana.
"kakak mau ngopi?"
Kael menggeleng cepat, tangannya melambai memanggil gadis itu.
"kalau sudah salat, kenapa nggak balik ke kamar?"
Mahiya cengengesan, melangkah mendekati kael.
"tadi aku mau balik ke kamar.." bisiknya sambil melangkah menyejajari langkah kaki kael.
"tapi mbak rina tiba-tiba nawarin kopi pahit, hehehe, jadinya nyangkut, ikut ngobrol bareng mbak-mbak di dapur"
Kael terpana lagi, kenapa sih nih cewek ketawanya indah banget, kael melirik sekilas, mata indah mahiya terlihat sangat bercahaya.
"kak.." panggil mahiya, menyentakkan kael dari keterpesonaannya.
"selesai sarapan, aku jemput pakaian dan buku-buku kuliah aku yah?"
"loh..emangnya pakaian kamu belum di antar kemari?" kael mengernyitkan keningnya heran,
"semalam aku sudah minta pak danu, supir rumah ini untuk menjemput semua barangmu, tapi buku-buku kuliahmu langsung diantar ke apartemenku"
Mahiya menatap kael, gadis itu merasa takjub, ternyata kael gercep sekali. Mahiya sebenarnya bingung melihat sikap kael, di bilang dingin, nggak dingin-dingin amat, di bilang hangat juga nggak.
"coba nanti aku tanya, kamu siap-siap aja, sebentar lagi oma dan mama akan membawamu ke salon, hari ini resepsi kita mahi, di hotel jangan lupa"
Mahiya meringis lagi, betapa hal yang paling menyebalkan baginya adalah ke salon.
"hhhhhh" mahiya mendesah kasar, bahunya jatuh berjalan gontai di belakang kael yang tersenyum lucu.
Kael tahu yang dinikahinya ini bukan perempuan biasa, perempuan out of the boks. Kael belum pernah bertemu dengan perempuan seperti mahi, yang semua tentang perempuan tak ada di diri gadis itu. Tidak jaim, tidak anggun, tidak materialistis, dan yang terpenting apa adanya.
Kael membalikkan tubuh, berhenti tiba-tiba. Mahiya yang menunduk nggak sadar kalau kael berhenti.
"aduhh..." mahiya memegang kepalanya yang kejedot dada bidang pria tinggi itu, mahiya cengengesan, mendongak malu mengelus kepalanya.
"maaf kak"
Kael terdiam sesaat, aroma harum shampo yang samar dari balik jilbab mahi, meresap bebas ke hidungnya, menghasilkan sensasi yang mengelitik.
Kael terpaku sesaat tetapi dengan cepat dia menjaga ekspresi wajahnya,
"kalau jalan jangan menunduk, untung yang kamu tabrak aku, gimana kalau kamu nabrak dinding, benjol tuh kepala"
Walau kael tetap berekspresi datar, tapi suaranya parau, jelas pria itu sempat terganggu.
"kamu beberes saja, biar aku turun kebawah, mungkin pak danu lupa mengantar ke mari"
"iya kak"
Mahiya mengangguk patuh, tak lupa dia masih sempat menunjukkan cengiran indahnya, meminta maaf. nyengirnya mahiya itu, membuat wajah datar kael tersenyum, sembari jalan dia geleng-geleng kepala. Mahiya memang gadis yang aneh, nggak ada jaim-jaimnya di depan siapapun.
Benar, ternyata koper mahiya masih berada di dalam mobil, pak danu sampai nunduk-nunduk minta maaf, pria tua itu ngasih alasan yang cukup masuk akal, kael cuman menghela nafasnya kasar, nggak jadi marah.
Kael menyeret koper warna hijau elektrik itu, kepalanya menggeleng nggak habis pikir, segitu noraknya ternyata selera mahiya. Bisa-bisanya pilih koper dengan warna sengejreng itu, padahal banyak warna indah lainnya yang bisa dipilih.
Kael menyodorkan koper itu, begitu ia masuk. Senyum mahiya langsung mengembang lebar, menunjukkan gigi kelincinya.
Gadis itu sepertinya sudah mandi, anak rambutnya yang tidak ikut terjepit jedai, basah menempel di pipinya.
"makasih kak, aku salin baju dulu"
mahiya menuju folding screen yang ada di sudut kamar besar itu, dari baliknya gadis itu masih sempat bertanya dengan suara sedikit berteriak.
"kak kael nggak mandi, bentar lagi sarapan loh"
"heumm" sahut kael singkat dan padat, pria itu melangkah menuju kamar mandinya, menyambar handuk yang terlipat di atas tempat tidur yang ternyata sudah rapi, sekilas kael mengerutkan keningnya.
"heumm gadis yang rajin" gumamnya sembari menunjuk ranjangnya dengan senyum manisnya.
Bersambung..