Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Digandeng
Squad Ceriwis
(Chika_ika) Adittt! Baca grup, lo dimana, 5 menit ngga sampe ruang OSIS Naka keluarin golok dari sarungnya.
(Jemima Mima) 😱 serem banget.
(Pandu_winata) Dit rapat Dit, sekalian gue titip keripik singkong yang pake daun jeruk itu loh.
(Frizka freeze) Coba cari Adit di rumah bang Jarwo.
(Mala Shanum) Rapat bulanan ya? Gue titip pesen dong sama Airani atau Jeevika. Ini proposal sumpah pemuda kenapa ngga ada tanda tangan pak Bowonya, kelewat apa gimana?
(Chika_ika) Wokeh, bentar gue bilangin dulu.
(Aditya Jegrek) Absenin aja dulu gue, tanggung banget gue lagi di wesee.
(Jemima mima) Adit jorok!
(Pandu_winata) boker lu? 😂 udah dibilangin jangan makanin ta i, mencret kan lu.
(Chika_ika) lu berdua ihhh!
(Frizka freeze) Makanin yang bukan hak sih, jadinya sakit perut kan lu 🙃
(Mala Shanum) dibilangin sajen di jalan jangan dimakan, jadinya keluar seusus-usus.
(Aditya Jegrek) 😭🫵🫵
(Chika_ika) udah gue absenin, tapi buruan...muka Naka lagi ngga bersahabat banget, kayanya lagi punya masalah.
(Pandu_winata) tiap hari kayanya deh ada masalahnya. Mukanya tiap hari begitu begitu aja.
(Frizka freeze) kebanyakan makan garem kaliii...
(Mala Shanum)🤣
(Pandu_winata) mana ada! Kebanyakan nelen dosa bawahan...jadi begitoo.
(Jemima Mima) ah masa, kalo kebanyakan makan dosa, kok Naka tetep kurus?
(Aditya Jegrek) an jengg😭 lu semua bikin gue susah ngeden.
(Chika_ika) Adiiittt!
(Mala Shanum) sembelit lu?
(Frizka freeze) astaga masih aja dibahas ih, jijikkkk!
(Chika_ika) Num, @Mala Shanum. Lo disuruh Naka ke ruang OSIS aja buat ngasiin revisian proposal.
Shanum berjalan dari kelas bahasa bersama Jemima dan Frizka sambil membawa map berisi proposal.
"Num!" ada lambaian tangan dari arah lapangan, dengan lengan yang menyeka keringat. Arjuna, ia telah melepas seragam batik miliknya dan menyisakan t shirt putih yang telah basah di sebagian areanya.
"Balik sekolah nanti rapat bentar ya..."
Jemima mendorong kecil kacamata bingkai bulat di pangkal hidungnya, "Shanum doang nih, Jun?" tanya nya. Arjuna menggeleng, "semua MPK."
"Oh, kirain Shanum doang sama Lo. soalnya yang dipanggil Shanum doang..." kikik Frizka menggoda memancing tawa renyah Arjuna. Memang seramah ini ketua MPK Budi Pekerti X berbeda dengan ketosnya. Air mukanya bersahabat, menenangkan setenang air danau----di mata bawahannya.
Jemima mengedarkan pandangan ke arah sudut lain dari lapangan dengan cat sponsor produk snack ternama di belakang badan Arjuna, dimana satu banjar anak-anak berperawakan tegap, dan memiliki tinggi hampir seragam kini sedang berlatih diantara teriknya sinar mentari, diantara mereka ada Canza yang bersuara lantang.
Mereka biasa melakukan itu di hari rabu sampai Jum'at. Agenda senin adalah tugas mingguan mereka sebagai paskibra. Beberapa kali tatap pemuda hitam manis itu melihat gerombolan kecil MPK ini yang kemudian tak lama, Arjuna berseru pada Canza, "Za! Rapat balik sekolah!"
"Sip!" jawabnya lalu mengedip pada Jemima. Bukan Mima, tapi Frizka yang tertawa seraya mendorong punggung temannya itu, "kamu yang ireng, yang paling gula aren..." tawanya meledak membuat Jemima mendorong kepala Frizka, "cacingan dia tuh!"
Lalu kembali pada Shanum yang rupanya Arjuna notice dengan apa yang dibawa Shanum, "mau kemana?" merasa perlu tau jika Shanum membawa map begitu, Arjuna refleks saja bertanya.
"Oh ini, anak OSIS kayanya lupa minta tanda tangan pak Bowo. Makanya mau dikembalikan buat direvisi." Shanum menunjukan itu memancing Arjuna untuk meraihnya lalu melihat-melihat, alisnya mengkerut kritis, "Naka gimana sih, kerjanya grasak grusuk. Sampe hal penting lupa begini...rapat saban waktu tapi miss hal sepenting ini." omel Arjuna.
"Mau ke ruang MPK?" tanya Juna, kepergian Arjuna ini mengundang Navvaro dan Altair menyusulnya dari arah lapangan, "lah, pada ngeronyok dimari, lagi pada ngapain?"
Tak menjawab, Arjuna justru mengambil langkah berlalu sambil menenteng proposal, membuat Shanum ikut menyusul dengan cepat, "Jun, biar gue aja!"
"Lah, kenapa?" tanya Navvaro.
"Proposal OSIS kurang tanda tangan pak Bowo," jawab Jemima ikut menyusul.
/
Tidak menjadikan dirinya center, ruangan dengan karpet beludru dan dibuat senyaman mungkin ini membuat para anak OSIS duduk melingkar dengan Naka duduk di bagian dekat dengan meja komputer di pojok. Sementara, Airani dan Dhisti sedang memaparkan kondisi bagan tugas masing-masing dan keuangan.
Lalu ada Pandu yang menjadi divisi organisasi dan kaderisasi yang ikut bicara. Sementara Jeevika selalu mencatat poin penting dan hasil diskusi.
Adit yang baru kembali dari kamar mandi sudah ada disana untuk mendokumentasikan hasil rapat.
Naka, wajahnya begitu serius mengkritik dan menyanggah, tidak hanya menurunkan titah semena-mena saja, ia bahkan membimbing teman-temannya memberikan ruang dan kesempatan, hingga akhirnya ucapan menggantung Pandu yang tengah memaparkan rundown dan evaluasi terjeda oleh kedatangan dua orang di gawang pintu, diantara puluhan pasang sepatu anak-anak OSIS yang berjajar sedikit berantakan.
Beda halnya dengan Shanum yang merasakan vibes berbeda, mendadak diam dan sopan bahkan tak enak hati sebab sudah berhasil membuyarkan atensi sebagian dari anak-anak OSIS, Arjuna justru terlihat semakin keruh, tatapnya tertuju pada satu, Mainaka.
"Sorry ganggu. Gue mau ngasihin ini balik..." ia menunjukan map proposal dan menembus gawang pintu masuk ke dalam ruangan.
Suasana mendadak tegang jika Arjuna sudah berhadapan dengan Mainaka. Bak kubu bersebrangan, yang akan membuat perang dunia keempat terjadi, sebab pertemuan mereka tak pernah menghasilkan pelukan Teletubbies justru adu argumen dengan urat wajah yang keluar dan nada saling sindir berujung perpecahan.
Arjuna memasang tampang meremehkan menatap Mainaka yang berdiri dari duduknya.
"Lain kali anak OSIS lebih teliti lagi. Hal penting begini sampe kelewat, sering rapat tapi kerja masih grasak grusuk..." *heh*! Begitu dengusan Arjuna menatap Naka.
Airani langsung menunduk, "sorry Ka...gue yang salah. Lain kali gue lebih teliti lagi...sorry Jun...gue yang salah." Airani buka suara hendak mengambil map proposal.
Namun, Naka yang merebut itu dari tangan Arjuna.
"It's oke Ran, namanya juga manusia...mungkin lagi hectic, siapa juga yang ngga hectic, jiper duluan sih liat ketuanya..." tatap matanya tentu beralih pada Naka dengan wajah tenangnya.
"Thanks tapi rasanya berlebihan sampai ketua MPK ikut turun tangan juga. Lagipula itu baru mentahan yang MPK minta cepet-cepet, sementara gue udah bilang dari tempo hari kalo pak Bowo cuti masuk sebab beliau lagi sakit. Bukan begitu?" sorot menuduh Naka pada Arjuna.
Naka melirik Shanum yang kemudian disusul Jemima, Frizka dan Navvaro serta Altair di belakangnya, ada lambaian dari mereka untuk anggota OSIS kawan-kawannya meski kemudian saat melihat kedua ketua yang tengah bersiteru mereka langsung undur diri keluar lagi. Sangat paham jika antara Naka dan Arjuna selalu ada persaingan, perdebatan yang tak kunjung usai, entah apa alasannya mereka susah sekali terlihat akur selain daripada di hadapan guru.
"Gue cuma minta deadline aja, bukan berarti minta cepet-cepet tanpa cek ricek terlebih dahulu. Soalnya OSIS udah duluan bikin list anggaran...ngga salah kan, gue minta proposal dan bayangan rundownnya?" tak mau kalah Arjuna beralibi.
Naka menghela nafasnya, ia tak mau banyak debat hari ini, mengganggu waktu OSIS, "list anggaran dibuat sebagai bayangan berapa besar budget yang dibutuhkan dan bagian mana yang bisa ditekan, darimana kemungkinan sumber anggaran. Tapi it's oke...untuk kesalahan teknis ini mungkin kita kurang teliti tanpa minta pengesahan pak Bowo selaku pembina OSIS terlebih dahulu. Ada lagi?" Naka memberikan itu pada Airani.
Arjuna, wajahnya terlihat puas sudah membuat seorang Mainaka mengakui kesalahan di depan orang lain.
"Ada lagi Num, hal yang kurang atau salah dari proposal OSIS?" kini Arjuna balik bertanya pada Shanum yang justru membuat Naka mendengus sumbang, nyatanya ketua MPK ini hanya bisa mengomel tak jelas tanpa tau apapun, "gue kira Lo baca semuanya, tapi tetep mesti nanya sekertaris juga."
"Sha?" kini lirik Naka pada Shanum yang ikut ikutan ditatap yang lain, Shanum mengangguk, "tanggal pengajuan proposalnya, coba cek lagi ya Ran...Jee..selebihnya proposal kalian rapi."
"Oke." Kedua gadis itu mengangguk, "thanks ya, Num."
"Oke, kalau ngga ada lagi kepentingan MPK, bisa tolong keluar? Kita lagi rapat?"
Shanum tak pernah menduga jika Arjuna bisa seberani itu meraih tangannya dan mengajaknya keluar dari ruangan OSIS, "oke, sorry ganggu rapat anak OSIS. Num yuk..." angguknya mematikan Shanum di depan Naka.
Ekhem...ekhemmm! Begitupun Pandu dan Adit yang justru menggoda bersama Chika, *oh my gooodd, digandeng dong*!
.
.
.
.
.
klo keblabasan ya bablas num,,😄
bablas angin e trz kembung,,🤣🤣