Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran Aneh
Siang hari di Hoshikawa Elite Senior high school terasa berbeda tiga hari setelah seleksi basket. Koridor dipenuhi langkah kaki yang lebih cepat dari biasanya, suara percakapan berlapis-lapis seperti arus yang saling bertabrakan.
Semua mengarah ke satu titik: mading digital raksasa di aula tengah. Layar transparan itu melayang setinggi dada orang dewasa, memancarkan cahaya lembut biru keperakan. Nama-nama peserta seleksi berputar perlahan, disertai statistik pertandingan mereka — akurasi tembakan, assist, stamina, bahkan grafik pergerakan di lapangan.
Douma berdiri agak di belakang kerumunan, tangan dimasukkan ke saku, wajahnya tenang seperti biasa. Rei sudah lebih dulu menempel di barisan depan, hampir menindih bahu orang lain.
“Eh geser dikit! Aku nggak bisa lihat!” keluh Rei.
Kuroda Shin berdiri di samping Douma, menatap layar dengan fokus yang rapi, seperti sedang membaca laporan.
“Algoritma penilaiannya cukup adil,” katanya santai. “Bobot performa individu dan kerja sama tim hampir seimbang.”
Rei menoleh cepat. “Ah kau benar. Hitunganmu selalu benar!! Tapi sekarang aku cuma mau lihat nama kita muncul!”
Layar berhenti berputar. Aula mendadak hening.
Nama pertama muncul.
Sorak kecil terdengar.
Nama kedua.
Tepuk tangan.
Nama ketiga…
Dan akhirnya—
Douma.
Suara aula pecah. Bukan teriakan histeris, tapi gelombang bisik kagum yang merambat cepat.
“Itu dia…”
“Anak baru itu?”
“Mainnya gila kemarin…”
Rei langsung menepuk bahu Douma keras. “Kena kau! Sudah kuduga!”
Douma hanya mengangguk kecil. Tidak ada senyum lebar, tidak ada selebrasi. Tatapannya sekilas menyapu layar, lalu kembali netral.
Shin menghela napas puas. “Data tidak pernah bohong.”
Beberapa siswa lain maju memberi selamat. Ada yang tulus, ada yang terlihat menilai. Douma menerima semuanya dengan anggukan singkat. Tidak berlebihan. Tidak dingin. Hanya… cukup.
Ketika kerumunan mulai mencair, suara notifikasi sekolah menggema di udara — sistem komunikasi holografik menyala di seluruh aula.
“Perhatian seluruh siswa,” suara sintetis namun halus itu berbicara. “Hari ini akademi menerima kunjungan investor utama untuk rapat koordinasi penyelenggaraan dan pembiayaan Turnamen Basket Nasional mendatang. Diharapkan seluruh aktivitas berjalan tertib.”
Bisik-bisik baru langsung muncul.
“Investor utama?”
“Yang sponsor nasional itu?”
“Katanya orangnya… aneh.”
Rei menyeringai. “Investor besar datang pas hari pengumuman? Timing-nya dramatis juga.”
Shin mengangkat bahu. “Momentum publik.”
Douma tidak menanggapi. Namun entah kenapa, kata investor terasa berat di telinganya.
—
Beberapa jam kemudian, halaman depan akademi berubah seperti panggung penyambutan kenegaraan. Kendaraan hitam mengilap meluncur tanpa suara, berhenti presisi. Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria turun dengan langkah tenang. Jasnya sederhana tapi mahal, ekspresinya datar namun menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. Tatapan matanya tajam — bukan seperti orang yang menikmati perhatian, melainkan orang yang mengukur segala sesuatu.
Siswa yang melihat dari kejauhan otomatis diam.
“Itu dia…”
“Auranya Serem juga…”
“Katanya dia investor terbesar turnamen…”
Pria itu berjalan didampingi staf sekolah. Senyumnya tipis, profesional. Tapi ada kesan dingin yang membuat udara terasa sedikit lebih berat.
Douma kebetulan melihatnya dari balkon lantai dua. Hanya sekilas. Namun tubuhnya memberi respons kecil — bukan takut, bukan kagum… lebih seperti naluri yang mengenali sesuatu yang tidak biasa.
Shin ikut menoleh. “Aura dominan,” gumamnya. “Biasa terlihat pada orang yang terbiasa memegang kendali.”
Rei mengusap tengkuk. “Aku cuma tahu… orang itu selalu bikin merinding. Sepertii... Hantu” Rei cekikikan .
Douma tetap diam.
—
Di tempat lain, jauh dari suasana akademi yang rapi, ketegangan jauh lebih nyata sedang berlangsung.
Di sebuah ruang kerja pribadi, Amatsuki Hiroshi berdiri di depan meja kerjanya. Ponselnya masih menyala — panggilan yang baru saja berakhir meninggalkan gema ancaman yang tak terlihat.
Tangannya mengepal perlahan.
“Tidak,” katanya pelan pada ruang kosong. “Aku tidak ikut.”
Beberapa menit sebelumnya, suara misterius di seberang telepon menawarkan kerja sama — produksi teknologi yang disamarkan sebagai proyek resmi. Tapi Hiroshi bukan orang bodoh. Ada celah. Ada manipulasi. Dan yang paling mengganggunya: aliran dana yang tidak bersih.
Ancaman datang cepat.
Reputasi dihancurkan. Karier tamat. Keluarga diseret.
Namun Hiroshi menutup telepon.
Napasnya berat. Keringat tipis di pelipis.
Amatsuki Keiko masuk tanpa suara, matanya langsung menangkap ketegangan suaminya.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Hiroshi menatapnya lama sebelum menjawab. “Aku hampir masuk ke sesuatu yang salah.”
Keiko mendekat, menggenggam tangannya. Tidak panik. Tidak bertanya berlebihan. Hanya hadir.
“Kau sudah memilih?” katanya.
Hiroshi mengangguk. “Aku menolak kerja sama.”
Keiko tersenyum kecil. “Kalau itu keputusanmu … selesai.”
Tapi mereka berdua tahu — ini belum selesai.
—
Sementara itu, keluarga Kazehaya berada dalam pusaran berbeda.
Kazehaya Haruto— ayah Aurelia — duduk di ruang interogasi informal bersama penasihat hukum. Wajahnya pucat, bukan karena takut tertangkap, tapi karena sadar ia sedang dijadikan kambing hitam.
“Aku tidak tahu dana itu ilegal,” katanya tegas. “Semua dokumen terlihat sah.”
Pengacaranya menghela napas. “Itulah masalahnya. Seseorang ingin kau terlihat bersalah.”
Di luar ruangan, rumor sudah menyebar. Nama Kazehaya mulai dikaitkan dengan pencucian uang dan izin produksi palsu.
Aurelia berdiri di lorong, tangan gemetar. Dunia yang selama ini stabil terasa retak.
“Ayah tidak mungkin…” bisiknya.
Namun sistem tidak peduli pada keyakinan. Hanya pada bukti — bahkan jika bukti itu direkayasa.
—
Hari di akademi berjalan seperti biasa di permukaan, tapi arus bawahnya penuh ketegangan. Douma, Shin, dan Rei duduk di kelas saat berita samar mulai beredar lewat bisik-bisik siswa.
“Keluarga Kazehaya kena kasus…”
“Serius?”
Rei menoleh ke Douma. “Kau dengar?”
Douma hanya mengangguk kecil. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya bergerak cepat.
Shin bersandar. “Timing-nya mencurigakan.”
“Kenapa?” tanya Rei.
“Investor misterius. Kasus besar muncul. Pola kekuasaan biasanya tidak acak.”
Rei mengerutkan kening. “Kedengarannya kayak konspirasi.”
Shin menjawab ringan, “Kadang memang begitu.”
Douma berdiri pelan. “Aku keluar sebentar.”
Keduanya tidak menahan.
Di koridor, Douma berhenti di depan jendela besar. Matahari sore menyinari halaman tempat investor itu tadi berjalan. Dunia terlihat normal.
Terlalu normal.
Ia menutup mata sebentar.
Permainan besar sedang bergerak.
Dan entah kenapa… semua garis mulai mengarah ke titik yang sama.
Douma membuka mata.
Tatapannya tenang.