Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minor Auction
Malam minor auction datang bersama kabut tipis dan lampu-lampu yang lebih terang dari biasanya.
Di sekitar Reed Hall, arus orang jelas bertambah. Jalan papan yang biasanya hanya dipenuhi pedagang sungai, pembawa barang, dan rogue cultivators kelas rendah kini terasa sedikit lebih rapat, sedikit lebih tajam. Orang-orang berpakaian lebih rapi. Senjata dibawa lebih dekat ke tubuh. Percakapan dilakukan lebih pelan. Bahkan tawa terdengar lebih hemat.
Shou Wei berdiri beberapa saat di seberang aula, di bawah bayang-bayang tiang tambatan tua, mengamati.
Ia tidak datang dengan tangan kosong.
Di balik bajunya, tersimpan:
beberapa koin perak yang sudah dipisah ke dua tempatdua lembar bukti transaksi Reed Halltoken gudang timur dari Jin Pelsatu utility mark cadangan yang dibungkus kaindan namanya yang baru untuk dunia luarKalau malam ini seseorang bertanya nama lengkapnya, ia tahu jawaban yang akan keluar.
Wei Shou.
Namun sebelum melangkah, ia tetap menenangkan napasnya lebih dulu.
Tarik.
Tahan.
Turunkan.
Putar.
Lepaskan.
Kabut sungai yang tipis bercampur dengan qi malam. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat pikirannya jernih. Darah naga di dalam dadanya tetap tenang, tidak liar, hanya mengalir dalam diam seperti sungai yang menunggu musim hujan.
Bagus.
Ia lalu berjalan menyeberang jalan menuju Reed Hall.
Pintu depan aula malam itu dijaga dua orang. Salah satunya pria berwajah keras dengan bekas luka panjang di leher. Yang lain perempuan bertubuh ramping dengan pedang lurus di pinggang. Keduanya tidak tampak seperti penjaga biasa. Setidaknya Qi Gathering akhir, pikir Shou Wei. Mungkin salah satunya sudah menyentuh Foundation Establishment awal.
Di meja kecil dekat pintu, seorang juru catat menerima uang masuk, mencatat nama, dan memberi keping nomor kayu.
Saat gilirannya tiba, juru catat itu mengangkat kepala sekilas. “Nama.”
Shou Wei menjawab tenang, “Wei Shou.”
“Barang atau uang?”
“Uang.”
“Tempat duduk pinggir. Dua puluh tembaga.”
Shou Wei membayar tanpa ragu. Juru catat memberinya keping kayu bernomor 27, lalu menunjuk ke pintu dalam.
“Kalau tak punya niat beli, jangan berteriak menawar. Kalau tak punya uang cukup, jangan berpura-pura punya. Kalau bikin masalah, nomor itu akan dipakai untuk mengenali mayatmu nanti.”
Nada bicaranya datar, seolah hanya mengucapkan aturan harian.
Shou Wei menyimpan keping itu dan masuk.
Aula minor auction tidak sebesar yang ia bayangkan, tapi jauh lebih padat daripada back-table exchange. Kursi-kursi kayu disusun menghadap panggung rendah di depan. Di atas panggung berdiri satu meja panjang dan tiga nampan tertutup kain hitam. Lampu minyak dipasang di empat sudut ruangan, membuat seluruh aula terang namun tetap menyisakan banyak bayangan.
Di sini hadir lebih banyak tipe orang.
Ada pedagang sungai kaya dengan jari penuh cincin. Ada rogue cultivators bersenjata berat. Ada penjual obat, pembeli beast material, tukang tempa, pemburu beast, dan beberapa sosok yang jelas bukan warga Stone Reed Town. Salah satunya pria berjubah hijau gelap dengan lencana buluh emas di lengan. Yang lain wanita tua berpakaian indah, tapi tatapannya dingin seperti ular rawa.
Shou Wei memilih kursi di sisi kiri belakang—cukup jauh untuk tak terlihat menonjol, cukup dekat untuk melihat barang di panggung.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki kurus berjanggut rapi naik ke panggung. Umurnya sulit ditebak. Wajahnya ramah, tapi matanya sangat berhitung. Ia membungkuk sedikit ke seluruh ruangan.
“Selamat malam. Saya Peng Min, pembawa acara minor auction Reed Hall malam ini. Aturan sederhana: tawaran jujur, pembayaran cepat, dan jika kalian ingin saling bunuh, tunggu sampai di luar pintu.”
Tawa kecil terdengar di beberapa sudut.
Peng Min mengangkat satu jari. “Malam ini kita punya barang-barang biasa, beberapa barang setengah berguna, dan mungkin... satu dua hal yang cukup menarik untuk membuat kalian pulang dengan penyesalan.”
Kalimat itu disambut gumam tipis.
Auction pun dimulai.
Barang pertama tidak terlalu menarik: pil pemulihan qi tingkat rendah, laku untuk tiga perak. Kedua: kantong serbuk pengusir beast kecil, laku dua perak lima puluh. Ketiga: tombak pendek dengan sedikit tambahan ketajaman qi, laku satu batu roh rendah dan beberapa tembaga. Semua berjalan cepat, praktis, dan sangat berbau pasar kecil.
Shou Wei tidak menawar.
Ia memperhatikan pola.
Siapa yang suka menawar cepat. Siapa yang menunggu akhir. Siapa yang hanya menekan harga. Siapa yang benar-benar butuh barang.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Wei Kuan.
Pria itu duduk di sisi kanan tengah, tidak terlalu depan, tapi jelas cukup dekat untuk diakui orang. Ia sudah menawar dua barang:
satu set jarum simpul bekassatu pelat segel rusakKeduanya bukan barang mewah, tapi sangat cocok untuk orang jalur formasi. Caranya menawar juga licin—tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelit, dan selalu berhenti tepat sebelum orang mulai menganggapnya agresif.
Ia seperti ular yang menelan tanpa bunyi.
Shou Wei menyimpan itu dalam kepala.
Barang keenam menarik sedikit perhatian lebih: satu kotak kayu berisi serpihan array plates rusak dari kapal karam tua. Banyak orang tertawa kecil karena isinya tampak seperti sampah logam tak berguna. Namun tiga orang langsung menawar, termasuk Wei Kuan.
Shou Wei memperhatikan serpihan itu dengan teliti.
Beberapa benar-benar sampah.
Tapi ada dua potong yang masih menyisakan simpul utuh. Kalau dipelajari, itu sudah bernilai. Sayangnya harga cepat naik sampai dua batu roh rendah setara belasan perak. Terlalu tinggi untuknya malam ini.
Ia menahan diri.
Jangan kejar semua. Pilih satu atau dua tipe barang saja.
Nasihat Gao Sen tetap benar.
Auction berlanjut.
Lalu barang kesembilan dibawa naik.
Itu hanya nampan kecil berisi beberapa benda campur aduk:
satu cincin logam patahdua tulang beast kecilsepotong batu hitam bergaris perakdan satu cakram kayu gelap seukuran telapak tangan, sebagian pinggirnya terbakarPeng Min tersenyum tipis. “Lot sembilan. Barang campur dari satu peti warisan sungai tua yang tak utuh. Dijual bersama. Bagi yang suka berjudi dengan sampah, ini kesempatan kalian.”
Beberapa orang langsung kehilangan minat.
Namun saat lampu panggung mengenai cakram kayu gelap itu, tubuh Shou Wei menegang nyaris tak terlihat.
Bukan karena ia langsung mengenal benda itu.
Melainkan karena darah naga di dadanya bergerak.
Sangat halus.
Bukan ledakan.
Hanya denyut kecil, seperti sesuatu di dalam dirinya mengenali arah aliran yang samar keluar dari cakram itu.
Shou Wei menatap lebih fokus.
Cakram kayu itu tampak mati. Pinggirnya hangus. Separuh pola di permukaan rusak. Tetapi di bawah bekas terbakar itu, masih ada jalur ukiran melingkar. Sangat halus. Sangat tua. Tidak seperti utility marks pasar kecil. Jauh lebih tua. Jauh lebih dalam.
Formasi kuno, pikirnya.
Atau bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Peng Min menyebut harga awal yang rendah. “Tiga puluh tembaga.”
Tidak ada yang menawar.
Pria di belakang malah tertawa, “Tulang dan kayu gosong untuk tiga puluh? Reed Hall mulai miskin.”
Beberapa orang ikut tertawa.
Shou Wei tidak.
Ia menunggu dua napas.
Lalu mengangkat keping nomornya sedikit. “Tiga puluh.”
Beberapa kepala menoleh sebentar ke belakang, lalu hilang minat saat melihat hanya bocah kurus di kursi pinggir.
Peng Min mengangguk. “Nomor dua puluh tujuh, tiga puluh tembaga.”
Hening.
Lalu suara lain masuk, malas dan lembut. “Empat puluh.”
Wei Kuan.
Shou Wei tidak menoleh ke arahnya, tapi ia tak perlu. Suara itu jelas. Terlalu jelas.
Apakah pria itu juga melihat nilai pada cakram kayu itu? Atau hanya menguji siapa yang tertarik?
Shou Wei mengangkat lagi kepingnya. “Lima puluh.”
Wei Kuan langsung, “Enam puluh.”
Ruangan mulai memberi sedikit perhatian. Bukan karena nilai barangnya besar, tapi karena dua orang sedang menawar lot sampah dengan cukup mantap.
Peng Min tersenyum seperti kucing.
Shou Wei menatap panggung tanpa berkedip.
Jika ia terus menawar terlalu cepat, Wei Kuan akan tahu ia benar-benar menginginkannya. Kalau ia berhenti sekarang, ia mungkin kehilangan sesuatu yang membuat darah naganya bereaksi.
Ia memilih irama lebih dingin.
“Hm.” Peng Min melihat ke belakang. “Nomor dua puluh tujuh?”
Shou Wei baru mengangkat kepingnya. “Tujuh puluh.”
Wei Kuan tidak langsung bicara kali ini.
Bagus, pikir Shou Wei.
Berarti pria itu sedang mengukur: apakah lot ini benar-benar bernilai, atau apakah bocah ini hanya keras kepala.
Beberapa napas berlalu.
Lalu Wei Kuan berkata, “Satu perak.”
Mata beberapa orang benar-benar mulai tertarik sekarang.
Satu perak untuk tumpukan campuran sampah bukan nilai kecil, tapi juga belum cukup besar untuk disebut gila.
Shou Wei menghitung cepat. Ia bisa membayar itu. Bahkan lebih. Tapi tidak boleh terlalu jauh.
Satu hal yang ia pelajari dari Wei Kuan: pria itu tidak suka kejutan. Maka berikan dia satu yang tidak terlalu besar tapi cukup membuatnya bertanya.
“Satu perak, tiga puluh.”
Wei Kuan menoleh sedikit kali ini. Tidak penuh, tapi cukup bagi Shou Wei untuk menangkap garis rahangnya mengeras sangat tipis.
Peng Min mengulang, “Satu perak tiga puluh, nomor dua puluh tujuh.”
Hening.
Wei Kuan akhirnya mengangkat satu jari. “Satu perak lima puluh.”
Tawaran itu datang terlalu mudah.
Shou Wei langsung sadar sesuatu:
Wei Kuan tidak sedang mengejar nilai barang semata.
Ia sedang menilai berapa jauh bocah di kursi pinggir ini berani melangkah.
Maka Shou Wei berhenti.
Ia menurunkan keping kayunya dan tetap diam.
Peng Min menunggu satu, dua, tiga napas, lalu mengetuk meja. “Satu perak lima puluh. Terjual.”
Cakram kayu gelap itu jatuh ke tangan Wei Kuan.
Shou Wei tidak menunjukkan apa pun di wajahnya.
Tapi di dalam kepala, pikirannya bergerak cepat.
Apakah ia baru kehilangan barang penting? Mungkin.
Apakah menawar lebih jauh akan menguntungkannya? Belum tentu.
Apakah kini Wei Kuan tahu ia tertarik pada formasi tua? Ya.
Tapi pria itu mungkin belum tahu bagian mana dari lot itu yang menariknya.
Dan itu masih bisa dipakai.
Auction terus berjalan.
Beberapa lot berikutnya Shou Wei lewati tanpa minat besar. Sampai akhirnya lot kedua belas naik ke panggung: satu gulungan kecil kusam, diikat tali hitam, dengan label kertas tipis yang hampir lepas.
Peng Min mengangkatnya dengan dua jari. “Manual tua. Tidak lengkap. Bagian awal hilang, bagian akhir rusak. Dari pemeriksaan Reed Hall, ini tampaknya bukan teknik tempur, melainkan catatan dasar tentang array anchoring and node balance. Bagi yang bukan jalur formasi, mungkin hanya bahan bakar lampu.”
Jantung Shou Wei berdegup lagi.
Array anchoring and node balance.
Bukan kitab besar. Bukan warisan dewa. Tapi itu justru bagus. Barang seperti ini sering diremehkan oleh orang yang hanya mencari teknik membunuh.
Ia tidak bergerak terlalu cepat.
Peng Min membuka harga awal. “Lima puluh tembaga.”
Satu tangan langsung terangkat dari sisi depan. “Lima puluh.”
Orang lain, “Enam puluh.”
Shou Wei mengangkat kepingnya. “Tujuh puluh.”
Tiga orang menawar untuk gulungan itu. Salah satunya pria tua beralis putih yang jelas bukan ahli formasi, mungkin hanya suka menimbun barang. Yang lain wanita berjubah kuning dengan jari-jari penuh noda tinta. Yang ketiga... bukan Wei Kuan.
Bagus.
Harga naik pelan sampai satu perak dua puluh.
Wanita berjubah kuning keluar.
Pria tua beralis putih menambah sedikit lagi. “Satu perak tiga puluh.”
Shou Wei menatap gulungan itu.
Nilainya jelas tak akan setinggi manual lengkap, tapi bahkan potongan teori seperti itu cukup berharga baginya. Ia belum punya guru. Belum punya dasar formasi sungguhan. Segala sesuatu yang menjelaskan simpul, jangkar, dan keseimbangan node adalah batu loncatan.
“Satu perak lima puluh,” katanya.
Pria tua itu mendecak lidah. “Bocah sekarang kaya-kaya rupanya.”
Tawa kecil terdengar.
Shou Wei tidak peduli.
Pria tua itu akhirnya mengangkat tangannya lagi. “Satu perak enam puluh.”
Shou Wei diam dua napas.
Lalu, “Satu perak delapan puluh.”
Pria tua itu mengangkat alis. Ia menilai, mungkin bukan barangnya, tapi bocah yang berani menawar hampir dua perak untuk gulungan rusak. Setelah beberapa detik, ia mengibaskan lengan bajunya. “Ambil saja. Aku tak butuh kertas busuk.”
Peng Min mengetuk meja. “Satu perak delapan puluh. Terjual kepada nomor dua puluh tujuh.”
Kali ini Shou Wei benar-benar membeli.
Saat gulungan kusam itu dibawa ke meja pembayaran samping, ia berdiri, menyerahkan koin-koinnya dengan tangan stabil, dan menerima gulungan tersebut tanpa membukanya di tempat. Ada beberapa tatapan ke arahnya sekarang—sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Tidak berbahaya belum. Tapi cukup untuk mengingatkan bahwa malam ini namanya mulai tercatat di lebih banyak kepala.
Saat kembali ke kursinya, ia menangkap satu tatapan yang tidak asing.
Wei Kuan.
Pria itu duduk dengan santai, lot campuran yang ia menangkan tadi sudah disimpan di sampingnya. Tatapannya hanya singkat, tapi ada pertanyaan tipis di sana.
Kau pilih gulungan itu, bukan lot kayu gosong tadi?
Bagus, pikir Shou Wei.
Biarkan dia berpikir begitu.
Auction berlanjut lagi, tapi Shou Wei tidak menawar apa pun setelah itu. Uangnya berkurang cukup banyak. Ia masih punya cadangan tersembunyi, tapi tidak cukup untuk berjudi lebih jauh malam ini. Lebih penting lagi, ia sudah mendapat sesuatu yang benar-benar berguna.
Menjelang akhir, satu lot besar berupa kotak beast material laku mahal, dan seorang kultivator berjubah hijau tua memenangkan sepotong pedang setengah rusak dengan harga yang membuat banyak orang menggeleng. Setelah itu Peng Min menutup auction dengan salam sopan yang sama licinnya seperti saat membuka.
Orang-orang mulai bubar.
Shou Wei tidak ikut buru-buru keluar. Ia tetap duduk beberapa napas, menunggu arus orang mengalir dulu. Orang yang keluar paling cepat sering kali juga paling mudah diikuti.
Saat akhirnya ia berdiri dan melangkah ke lorong samping, suara pelan memanggil dari samping pilar.
“Wei Shou.”
Itu Gao Sen.
Lelaki tua itu bersandar pada tiang, wajahnya tampak hampir puas. “Kau tidak buruk.”
“Aku kalah satu lot.”
“Lebih baik kalah satu lot daripada menang satu masalah.” Gao Sen melirik gulungan di tangan Shou Wei. “Dan barang yang kau bawa pulang malam ini jauh lebih cocok untukmu.”
Shou Wei menatapnya. “Kau tahu isi lot sembilan?”
“Aku tahu cukup untuk tidak menawar,” jawab Gao Sen. “Dan aku juga tahu orang seperti Wei Kuan suka barang yang ia belum tentu pahami, selama orang lain terlihat menginginkannya.”
Jadi memang begitu.
Shou Wei menyimpan informasi itu.
Gao Sen lalu menurunkan suaranya sedikit. “Jangan buka gulungan itu di penginapan depan lampu terbuka. Dan jangan terlalu lama berjalan sendiri malam ini.”
“Karena Wei Kuan?”
“Karena malam setelah auction selalu membuat orang merasa lebih miskin atau lebih serakah daripada sebelumnya.” Gao Sen tersenyum tipis. “Kadang keduanya.”
Shou Wei mengangguk.
Ia lalu keluar dari Reed Hall melalui pintu samping, menyusuri jalan papan yang lebih sepi, dan memutar lewat tepi sungai sebelum kembali ke Mud Heron Inn. Dua kali ia berhenti di bayangan untuk memastikan tak ada yang mengikuti. Sekali ia mendengar langkah, tapi ternyata hanya pasangan mabuk yang berdebat soal harga pill palsu.
Saat akhirnya menutup pintu gudang belakang dari dalam, ia baru mengeluarkan gulungan kusam itu.
Tali hitamnya dibuka perlahan.
Kertas di dalamnya rapuh, tapi masih utuh. Tulisan tangannya kecil, miring, dan tidak indah. Sebagian halaman awal memang hilang, tapi bagian yang tersisa cukup jelas:
penjelasan dasar tentang titik jangkar formasicara menjaga simpul luar agar tidak memakan qi terlalu banyakkeseimbangan node utama dan node gantungcatatan tentang kesalahan umum yang membuat array rusak meski pola terlihat benarMata Shou Wei bergerak cepat dari satu baris ke baris berikutnya.
Setelah beberapa halaman, ia berhenti.
Di sudut bawah salah satu lembar, ada satu diagram kecil. Sederhana. Tiga simpul luar, satu jangkar dalam, dan jalur sirkulasi miring.
Itu bukan formasi baru.
Itu penjelasan mengapa pola yang ia buat sebelumnya kadang retak.
Ia menatap diagram itu cukup lama, lalu perlahan menghembuskan napas.
Malam ini ia memang kalah satu lot.
Tapi ia pulang dengan sesuatu yang lebih berguna:
alasan di balik garis.
Dan bagi Shou Wei, orang yang memahami alasan di balik pola akan selalu tumbuh lebih jauh daripada orang yang hanya membeli barang jadi.