Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Hadiah untuk Istri dan Anakku
Sarapan pagi ini terasa seperti pemakaman.
Hari kedua sejak skandal meledak. Ardi duduk di kursi sebelah kanan ujung meja—tempat yang sama setiap hari—tapi pagi ini tubuhnya terasa asing di kursi itu. Seperti pakaian yang dulu pas, kini sesak di bahu.
Dua puluh empat jam sejak artikel itu muncul. Sejak Sari mengirim pesan terakhir: Selamat menikmati apa yang kau tabur.
Delapan belas jam sejak Maya berkata: Aku tidak yakin apakah yang kurasakan adalah cinta, atau hanya takut sendirian.
Ardi memutar cangkir kopi di tangannya. Kopi sudah dingin sejak setengah jam lalu. Piring di depannya nyaris kosong—hanya nasi yang dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain.
Bu Lastri mondar-mandir dari dapur. Matanya berkali-kali melirik Ardi.
Kursi di sebelah kiri Ardi kosong. Maya belum turun.
---
Malam tadi Ardi tidak tidur. Dia hanya berbaring di kamar tamu—kamar yang sama sejak dua malam lalu—menatap langit-langit, mendengar rumah berderit, detak jantungnya sendiri yang terlalu keras di telinga.
Sekitar pukul tiga pagi, langkah kaki di lorong.
Langkah Maya. Sengaja dibuat pelan. Langkah yang berhenti tepat di depan pintu kamar tamunya. Berhenti di sana. Lama.
Ardi menahan napas. Jari-jari menggenggam selimut.
Dorongan untuk membuka pintu. Bertanya, Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita?
Tapi dia tidak bergerak.
Setelah beberapa menit—atau mungkin satu jam—langkah itu menjauh. Kembali ke kamar Maya. Pintu tertutup pelan.
---
Suara langkah kaki di tangga. Kaki yang lebih berat, lebih lambat.
Bram.
Ayahnya turun dengan tangan kanan memegang pagar, kiri menggenggam map cokelat tipis. Wajah pucat, kantung mata menggantung. Dokter bilang serangan jantung ringan dua minggu lalu, tapi Bram tetap memaksakan diri bekerja. Perusahaan tidak bisa berhenti hanya karena aku sakit.
Dan sekarang perusahaan itu berdarah-darah karena skandal yang dimulai dari anaknya sendiri.
Ardi menunduk. Jari-jarinya kembali memutar cangkir kopi.
Bram duduk di kursi kepala. Tidak menyapa. Tidak menatap Ardi. Dia membuka map cokelat itu, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di samping piring. Tangannya berhenti di atas dokumen itu.
Hening. Suara sendok Bu Lastri dari dapur terdengar terlalu keras.
“Apa Bapak sudah sarapan?” Ardi bertanya. Suaranya serak.
Bram tidak menjawab. Dia meraih teko teh, menuang sendiri. Tangannya sedikit gemetar. Teh tumpah ke piring, membentuk genangan kecil.
Bu Lastri muncul dengan handuk, membersihkannya tanpa berkata.
Ardi membuka mulut—Maaf, atau Aku akan mundur—tapi semua kata terasa palsu. Sebenarnya dia ingin berteriak. Ini tidak adil. Aku bukan satu-satunya yang salah. Bapak juga.
Tapi dia tahu itu hanya alasan.
Karena dia tahu dari awal. Setiap kali tangannya menyentuh Maya, setiap kali bibirnya bertemu bibir Maya, dia tahu sedang mempertaruhkan segalanya.
Dan dia tetap melakukannya.
Itu pilihan. Disadari. Berulang.
---
Langkah kaki di tangga. Lebih ringan, lebih pelan.
Maya.
Ardi menegakkan punggung. Dadanya berdegup lebih cepat.
Maya masuk. Rambut diikat sederhana, wajah tanpa riasan. Blus putih lengan panjang, rok kain cokelat—terlalu sopan untuk seorang istri yang sarapan dengan suami dan anak tiri.
Matanya beralih ke Ardi sebentar. Hanya sebentar. Lalu ke Bram. Dia mengambil kursi di sebelah kiri Ardi.
Tidak ada selamat pagi. Tidak ada senyum.
Dia duduk, merapikan rok, lalu diam.
Tiga orang di meja makan. Keluarga yang sah. Tapi tidak satu pun tahu harus mulai dari mana.
---
Bram akhirnya bicara.
Suaranya berat. Ada jeda sebelum dia mulai—jeda yang cukup lama untuk membuat Ardi menyadari bahwa ayahnya juga tidak sekuat yang dia tampilkan.
“Aku tidak akan menanyakan apakah berita itu benar atau tidak.”
Ardi menegang. Jari-jarinya berhenti memutar cangkir.
“Karena aku sudah tahu.” Mata Bram masih tertuju pada dokumen di depannya. “Dewan komisaris mengirimkan salinan bukti-bukti yang mereka terima. Foto. Rekaman. Semua.”
Maya tidak bergerak. Tangannya di pangkuan, tenang. Tapi ujung jarinya memutih, menggenggam rok.
“Bapak...” Ardi mulai. Dorongan menyangkal—tapi kata-kata itu mati di tenggorokan.
“Aku sudah bicara dengan dewan komisaris tadi malam.” Bram mengangkat tangan. Napasnya tersengal. “Mereka... mempertanyakan banyak hal.”
Ardi menunggu kelanjutan. Bram tidak melanjutkan. Hanya diam.
“Aku akan bicara dengan mereka,” kata Ardi.
Bram mengangguk pelan. Tidak menambahkan apa pun.
Hening. Jam dinding di ruang keluarga terdengar jelas.
---
Bu Lastri muncul dengan teh hangat untuk Maya. Meletakkannya di depan wanita itu, lalu pergi.
Maya mengambil cangkir tehnya. Menghirup pelan. Tangannya tidak gemetar.
Tapi ketika dia menurunkan cangkir, jari-jarinya bergerak cepat, seperti mencari pegangan. Ardi melihatnya. Hanya sesaat. Lalu wajah itu kembali tenang.
Bram menutup map cokelat itu. Tangannya yang gemetar tadi kini lebih stabil.
“Ada satu hal lagi.” Suaranya berbeda. Lebih ringan. “Aku punya hadiah untuk kalian berdua.”
Ardi mengerutkan kening. Maya menurunkan cangkir.
Bram mengeluarkan kunci dari saku jas. Dua gantungan kunci. Satu perak, satu hitam. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di antara piring Ardi dan Maya.
“Mobil baru. Mercedes. Aku sudah pesan dari minggu lalu. Sebelum... semua ini.”
Ardi menatap kunci itu. Perak dan hitam. Mengilap di bawah lampu gantung.
Perutnya mual. Seandainya ada yang bisa dia lempar saat itu, mungkin dia sudah melakukannya—bukan ke meja, tapi ke dirinya sendiri.
Hadiah dari ayah. Untuk anak dan istrinya.
“Apa Bapak...” Ardi tidak bisa menyelesaikan kalimat.
Bram mengangkat alis. “Ada yang salah?”
Ardi menatap ayahnya. Mencari kemarahan. Mencari luka. Mencari sesuatu yang normal.
Tapi yang dia lihat hanya mata lelah.
“Terima kasih, Pak.”
Suara Maya memotong lamunan.
Maya sudah berdiri, tangannya mengambil kunci perak. Dia tersenyum—senyum yang Ardi kenal, senyum yang Maya pakai saat berada di ruangan bersama Bram. Tapi ada sekejap, saat jari-jarinya menyentuh kunci itu, ragu. Mengambang sesaat. Lalu menggenggam.
“Apa Bapak sudah sarapan?” tanya Maya lembut. “Aku bisa minta Bu Lastri menyiapkan bubur.”
Bram menggeleng. “Tidak perlu. Aku harus ke kantor.”
“Tapi dokter bilang—”
“Perusahaan sedang tidak stabil.” Bram berdiri. Suaranya datar, tapi tatapannya menikam Ardi. “Aku harus memastikan semuanya tetap berjalan.”
Dia mengambil map cokelat itu, berjalan ke ruang keluarga. Di ambang pintu, Bram berhenti. Tidak menoleh. Ardi melihat bahu ayahnya naik turun cepat—seperti orang yang mencoba mengingat cara bernapas.
“Kalian berdua, gunakan mobil itu untuk apa pun yang kalian butuhkan. Pergi. Menjauh untuk sementara.”
Kalimat itu menggantung. Pintu tertutup.
---
Ardi dan Maya sendirian.
Ardi menatap kunci hitam di meja. Hadiah dari ayah untuk anak yang meniduri istrinya.
Maya masih berdiri. Kunci perak tergenggam di tangannya.
“Apa kau tahu?” Ardi bertanya. Suaranya parau.
Maya menatapnya. Tidak menjawab.
“Apa yang ingin kau dengar?” Suara Maya keluar. Lembut. Tapi ada nada dingin di sana. “Bahwa aku tahu? Bahwa aku tidak tahu? Apakah itu akan mengubah apa pun?”
Tidak.
Hening.
“Aku tidak tahu.” Suara Maya pelan. “Aku tidak tahu Bapak akan memberi mobil.”
Ardi menatapnya, mencari sesuatu. Tapi wajah Maya sudah kembali menjadi topeng.
“Aku akan naik dulu,” kata Maya. Kunci perak di tangannya bergerak maju mundur di sela jari—ritme kecil yang mungkin tidak disadarinya.
Dia berbalik, melangkah ke pintu. Di ambang, dia berhenti.
“Ardi.”
“Ya?”
“Kita tidak bisa terus begini. Bersembunyi, berbohong.” Suaranya pelan. “Tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana.”
Dia pergi, meninggalkan Ardi sendirian di ruang makan.
Ardi sendirian. Piring tidak disentuh. Kopi dingin. Kunci hitam tergeletak.
Dia mengambil ponsel. Membuka chat dengan Maya.
Pesan terakhir: stiker bunga. Dari dua hari lalu.
Jari berhenti di atas kolom balasan. Lalu dia menutup chat.
Dia mengambil kunci hitam dari meja. Merasakan dinginnya logam di telapak tangan.
Dua kunci. Bentuk sama. Satu perak di tangan Maya, satu hitam di tangannya.
Dan dia tidak tahu beban mana yang lebih berat.