NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Rencana

Terharu bgt, kemaren ada yg 'minta up' jadi gk usah ba-bi-bu ^^

Happy Reading~

---

Oxford – Kafe Tersembunyi, Sore Hari

Hujan gerimis mengguyur Oxford sejak siang, mengubah jalanan berbatu menjadi cermin buram yang memantulkan lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Di sebuah gang sempit di belakang perpustakaan pusat, tersembunyi di antara toko buku bekas dan kedai kopi tua, ada sebuah kafe kecil yang tidak terdaftar di peta wisata mana pun.

Di dalam, di meja paling pojok yang terlindung dari jendela, Sabrina dan Emilia duduk berhadapan dengan seorang pria yang wajahnya lebih sering menghiasi majalah fashion daripada sudut kafe gelap seperti ini.

Armor Keytlon Gardermoen melepas kacamata hitamnya, menghela napas panjang seolah sedang membuang topeng yang selama ini ia kenakan.

"Kalian tahu," ucapnya pelan, suaranya tanpa nada ceria seperti biasanya, "aku sudah berusaha mati-matian untuk tidak terlibat. Tapi kalian berdua... benar-benar payah dalam urusan sembunyi-sembunyi."

Sabrina menatapnya tajam. "Kau tahu tentang Gaby?"

"Setiap orang yang dekat dengan Emrys tahu ada yang tidak beres setahun lalu," jawab Keytlon. "Tapi tidak semua orang tahu sejauh apa."

"Dan kau?" Emilia menyela. "Kau tahu sejauh apa?"

Keytlon menatap keponakannya. Matanya yang biasanya penuh canda kini tampak lelah. "Aku tahu sejak bulan ketiga."

Keheningan mencekam menyelimuti meja itu.

"Tiga bulan?" suara Sabrina naik, berusaha tetap pelan. "Kau tahu selama sembilan bulan bahwa Gaby dikurung di suatu tempat, dan kau diam?"

"Apa yang harus aku katakan?" Keytlon membalas, nadanya tidak defensif, tapi datar. "Bahwa sahabatku sendiri, Emrys, sedang menghancurkan dirinya sendiri mencari adiknya? Bahwa aku punya bukti siapa dalangnya? Lalu apa? Emrys akan membakar mansion Blackwood dan berakhir di penjara karena pembunuhan. Dan Gaby? Gaby akan tetap hilang karena tidak ada yang tahu di mana Melvin menyembunyikannya."

"Tapi kau bisa memberitahu polisi-"

"Polisi?" Keytlon nyaris tertawa getir. "Keluarga Blackwood adalah polisi di setengah wilayah Inggris, Lia. Kau pikir aku tidak mencoba? Setiap jalur hukum yang aku coba, selalu buntu. Selalu ada 'kekurangan bukti'. Selalu ada 'alibi' untuk Lord Alistair."

Emilia terdiam. Sabrina menunduk.

"Aku tidak diam karena takut," lanjut Keytlon. "Aku diam karena aku butuh bukti yang tidak bisa dibantah. Bukti yang akan menghancurkan mereka sekaligus. Bukan hanya Melvin. Tapi seluruh jaringan yang memungkinkan ini terjadi."

Ia mengeluarkan sebuah USB drive dari saku jaketnya. Sama seperti yang diberikan Ghost. Tapi warnanya hitam dengan aksen emas.

"Ini adalah salinan dari rekaman yang aku kumpulkan selama setahun," ucap Keytlon. "Termasuk percakapan Lord Alistair dengan seseorang di pemerintahan tentang 'imunitas hukum' untuk Melvin. Juga bukti transfer dana ke rekening luar negeri yang digunakan untuk membiayai operasi pulau itu."

Sabrina menatap USB itu seolah ia adalah ular kobra yang siap mematuk.

"Kau... kau punya ini sejak kapan?"

"Empat bulan lalu."

"Empat bulan?" Emilia nyaris berteriak. "Empat bulan kau menyimpan ini dan tidak melakukan apa pun?"

"Aku melakukan sesuatu," balas Keytlon. "Aku menunggu. Karena jika aku memberikan ini terlalu cepat, mereka akan punya waktu untuk menghancurkan bukti. Aku harus menunggu sampai Gaby aman. Sampai dia di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Blackwood. Dan itu terjadi seminggu lalu."

Sabrina menarik napas panjang. Kepalanya pusing. Terlalu banyak informasi, terlalu banyak pengkhianatan.

"Kau bilang aku payah dalam urusan sembunyi-sembunyi," bisiknya akhirnya. "Tapi kau... kau lebih buruk dari kami, Key. Kau berpura-pura tidak tahu, padahal kau tahu segalanya."

"Karena aku harus memilih antara kesetiaan pada Emrys dan keselamatan Gaby," jawab Keytlon. "Dan aku memilih keselamatan Gaby. Karena Emrys yang sedang berduka masih bisa pulih. Tapi Gaby yang mati... tidak akan pernah."

Keheningan lagi.

"Aku akan menemui Emrys," kata Keytlon. "Besok. Aku akan membawa semua bukti ini. Tapi aku tidak akan melakukannya sendirian."

Ia menatap Sabrina.

"Kau harus ikut."

Sabrina terkesiap. "Aku? Kau yakin dia tidak akan membunuhku begitu melihat wajah Blackwood?"

"Dia mungkin ingin," ucap Keytlon jujur. "Tapi kau adalah kunci, Sabrina. Kau adalah bukti hidup bahwa tidak semua Blackwood adalah monster. Dan kau memiliki sesuatu yang tidak aku miliki."

"Apa?"

"Hati nurani yang bersih," kata Keytlon. "Aku diam selama setahun. Kau baru tahu seminggu dan kau sudah berusaha mati-matian mencari Gaby. Itu perbedaan yang akan dilihat Emrys."

Sabrina menggigit bibirnya. Ia menoleh pada Emilia, yang mengangguk pelan.

"Baik," ucap Sabrina akhirnya. "Aku akan ikut."

.

.

Penthouse Emrys – Malam yang SSam

Pintu kamar diketuk pelan.

"Gaby?" suara Emrys dari balik pintu.

"Masuk, Kak."

Emrys melangkah masuk, mengenakan kemeja rumah berwarna abu-abu gelap. Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih tajam seperti biasa.

"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu," ucapnya sambil duduk di kursi dekat jendela.

Gaby duduk tegak. "Apa? Apakah Mama dan Papa baik-baik saja?"

"Mereka baik-baik saja. Ini tentang... hal lain."

Emrys menghela napas.

"Keytlon menghubungiku tadi sore. Dia bilang dia punya bukti tentang... tentang siapa yang bertanggung jawab atas penculikanmu."

Gaby membeku.

"Bukti?"

"Rekaman percakapan. Transfer dana. Dokumentasi properti." Emrys mengepalkan tangannya di pangkuan. "Dia mengaku sudah mengumpulkannya selama setahun. Dan dia bilang... besok dia akan datang ke sini. Bukan sendirian."

"Siapa lagi?"

"Sabrina Jabulani-Blackwood."

Nama itu seperti pukulan di dada Gaby.

Sabrina. Temannya. Sahabat yang dulu selalu membuatnya tertawa di studio desain. Gadis yang sama yang ternyata... adalah adik dari pria yang mengurungnya selama setahun.

"Kenapa Sabrina?" bisik Gaby.

"Keytlon bilang dia ingin membantu. Bahwa dia punya bukti juga dari sumber internal. Dan bahwa dia..." Emrys berhenti sejenak, "...bahwa dia menyesal."

Gaby terdiam.

Ia membayangkan wajah Sabrina. Senyumnya yang lebar. Tawanya yang keras saat mereka mendiskusikan desain di studio. Pelukannya yang hangat saat Gaby merasa kesepian di Oxford.

"Apakah dia tahu?" tanya Gaby. "Dari awal? Apakah dia tahu bahwa kakaknya...?"

"Tidak," jawab Emrys cepat. "Keytlon bilang Sabrina baru tahu setelah Melvin pulang tanpa kamu. Bahwa dia marah pada ayahnya sendiri. Bahwa dia ingin memperbaiki kesalahan."

Gaby menunduk. Jari-jarinya memilin ujung selimut.

"Aku... aku tidak tahu harus merasa apa, Kak. Aku marah pada semua orang yang punya nama Blackwood. Tapi Sabrina... dia berbeda. Aku merasakannya."

Emrys bangkit, duduk di tepi kasur di samping Gaby.

"Kau tidak harus memutuskan sekarang. Tapi besok, aku akan bertemu mereka di ruang tengah. Kau bisa memilih: ikut atau tidak. Tidak ada yang memaksamu."

Gaby mengangguk pelan.

"Kak," bisiknya. "Apa yang akan kau lakukan pada mereka jika bukti itu benar? Pada Lord Alistair?"

Emrys tidak menjawab segera. Matanya menatap kosong ke dinding seberang.

"Apa yang seharusnya aku lakukan?" balasnya. "Secara hukum, aku bisa menghancurkan mereka. Tapi itu berarti perpanjangan waktu, pengadilan, publisitas... dan kamu akan terus menjadi bahan pembicaraan. Nama kamu akan muncul di koran. Foto kamu akan tersebar."

"Aku tidak peduli-"

"Tapi aku peduli," potong Emrys. "Aku tidak akan membiarkan dunia melihatmu sebagai korban, Gaby. Kau lebih dari itu."

Gaby menatap kakaknya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kerutan di dahi Emrys yang bukan karena marah, tapi karena kelelahan.

"Kau sudah cukup berjuang, Kak," bisiknya. "Sekarang giliranku."

.

.

Mansion Blackwood – Malam yang Sama

Sabrina mengemasi tasnya dengan gerakan cepat dan tidak sabar.

Ia tidak akan kembali ke mansion ini untuk sementara waktu. Atau mungkin selamanya.

Dari balik pintu kamarnya yang tertutup, ia bisa mendengar suara ayahnya berdebat dengan seseorang di ruang kerja. Mungkin Melvin. Mungkin pengacara keluarga.

Ia tidak peduli.

"Bri."

Sabrina menoleh. Melvin berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan tangan di saku celana. Wajahnya tenang, terlalu tenang.

"Keluar," ucap Sabrina dingin.

"Aku hanya ingin bicara."

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan."

Melvin tidak bergeming. "Kau akan pergi menemui Emrys besok, kan?"

Sabrina berhenti melipat bajunya. Ia menatap kakaknya dengan mata penuh kebencian yang baru ia kenali dalam dirinya sendiri.

"Kau tahu?"

"Aku tahu segalanya, Bri. Itu masalahnya." Melvin tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tapi sebelum kau pergi, aku ingin kau tahu satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak menyesal."

Sabrina mengepalkan tangannya.

"Aku tidak menyesal menculik Gaby. Aku tidak menyesal mengurungnya di pulau itu. Aku tidak menyesal mencintainya dengan cara yang salah." Suara Melvin datar, tanpa emosi. "Satu-satunya yang aku sesali adalah... aku membiarkannya pergi."

"Kau gila," bisik Sabrina.

"Mungkin," kata Melvin. "Tapi cinta memang gila, bukan?"

Ia berbalik, bersiap pergi.

"Tunggu," panggil Sabrina. Melvin berhenti, tidak menoleh. "Apa kau akan berusaha merebutnya lagi?"

Keheningan.

"Biarkan itu menjadi kejutan," jawab Melvin akhirnya.

Ia melangkah pergi, meninggalkan Sabrina dengan jantung berdebar kencang dan ketakutan yang tidak bisa ia ucapkan.

.

.

Penthouse Emrys – Pagi Berikutnya

Keytlon tiba lebih awal dari yang dijadwalkan.

Ia datang bersama Sabrina dan Emilia. Wajah ketiganya tegang, seperti pasukan yang hendak berperang.

Emrys menyambut mereka di pintu. Tatapannya dingin saat melihat Sabrina, tapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memberi isyarat agar mereka masuk.

Di ruang tengah, Gaby sudah duduk di sofa. Ia memilih untuk ikut. Ia butuh melihat Sabrina dengan matanya sendiri. Butuh mendengar kebenaran dari mulut orang yang dulu ia anggap sahabat.

Begitu Sabrina melihat Gaby, langkahnya terhenti.

Matanya langsung berkaca-kaca.

"Gaby..." bisiknya, suaranya hancur.

Gaby tidak menjawab. Ia hanya menatap.

Sabrina berjalan mendekat, perlahan, seperti mendekati hewan liar yang siap melarikan diri kapan saja.

"Aku... aku tidak tahu," ucap Sabrina, air mata mulai jatuh. "Aku tidak tahu, Gaby. Aku bersumpah demi apa pun. Aku tidak tahu kakakku... aku tidak tahu Daddy..."

"Kau tidak tahu," ulang Gaby, suaranya datar. "Tapi mereka keluargamu."

"Dan aku akan membenci mereka selamanya karena itu," potong Sabrina. "Tapi aku tidak bisa memilih darahku, Gaby. Aku hanya bisa memilih apa yang aku lakukan dengan darah itu. Dan aku memilih untuk ada di sini. Untuk membantumu. Untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi."

Gaby menunduk. Tangannya gemetar.

"Aku marah," bisiknya. "Aku sangat marah pada semua orang yang punya nama Blackwood. Tapi saat aku melihatmu... yang aku ingat bukanlah kakakmu atau ayahmu. Yang aku ingat adalah... kau memelukku saat aku menangis karena nilai desainku jelek. Kau membuatku tertawa di studio saat aku hampir menyerah. Kau..."

Gaby tidak bisa melanjutkan.

Sabrina berlutut di hadapannya, meraih kedua tangan Gaby.

"Aku tidak akan meminta maaf atas nama mereka," ucap Sabrina. "Karena maafku tidak bisa mewakili mereka. Tapi aku akan meminta maaf atas namaku sendiri. Karena aku seharusnya lebih curiga. Aku seharusnya lebih peka. Aku seharusnya..."

"Cukup," potong Gaby.

Semua orang di ruangan itu terdiam.

Gaby menatap Sabrina. Matanya basah, tapi tidak lagi kosong.

"Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang," ucapnya. "Mungkin tidak akan pernah. Tapi... aku bisa mencoba untuk tidak membencimu."

Sabrina terisak. Ia memeluk Gaby, dan untuk beberapa detik, Gaby tidak melepaskan.

Di sudut ruangan, Emrys dan Keytlon saling bertukar pandang.

"Kita masih punya urusan lain," kata Keytlon pelan.

Emrys mengangguk. Ia berjalan mendekati meja, mengambil laptop yang sudah ia siapkan.

"Ayo kita lihat bukti kalian," ucapnya. "Dan setelah itu... kita bicarakan bagaimana cara menghancurkan Lord Alistair Blackwood."

Sabrina melepaskan pelukannya, menatap Emrys dengan mata sembab.

"Dia ayahku," bisiknya.

"Dia juga dalang di balik penderitaan adikku," balas Emrys dingin. "Kau bisa memilih sisi, Sabrina. Tapi aku sudah memilih."

Sabrina menunduk, lalu mengangguk.

"Aku juga sudah memilih."

Di Tempat Lain – Sore yang Sama

Melvin duduk di ruang kerjanya, dikelilingi oleh layar-layar yang menampilkan peta, data keuangan, dan profil beberapa orang.

Salah satu layar menunjukkan foto Gaby. Foto lama, saat ia masih tersenyum lepas di studio desain, sebelum semuanya hancur.

Ia menatap foto itu lama.

"Kau pikir kau aman di sana, Gaby girl?" bisiknya. "Kau pikir kakakmu bisa melindungimu selamanya?"

Ia mengambil ponselnya, menekan nomor yang sama seperti semalam.

Setelah dua kali dering, seseorang menjawab.

"Ya?"

"Mereka sudah bertemu," kata Melvin. "Sabrina ada di pihak mereka sekarang."

"Kita sudah menduga itu."

"Jadi?"

"Jadi... kita jalankan Rencana B."

Melvin tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak hangat.

"Aku suka Rencana B."

Panggilan berakhir.

Melvin menutup matanya, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan.

"Aku akan menunggumu, Gaby. Sampai kau sadar bahwa hanya aku yang bisa memberimu apa yang kau butuhkan."

Di luar jendela, hujan mulai turun lagi.

1
Jj^
Thor kasih visualnya Melvin yg rambut putih itu pasti cakep bgtt dah😁
Jj^: ok thor
total 3 replies
Jj^
terimakasih Thor😍
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^
yg banyak update nya thor aku makin penasaran maaf ngelunjak 😁
Jj^
makin seru nih Thor🤩
Thinker Bully ><: aku juga😄👍
total 4 replies
Jj^
terimakasih Thor 🤗
lanjut update lagi thor
🤗
Jj^: siapp thor🤗
total 2 replies
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^: semangat Thor aku selalu menunggu 🤗
total 2 replies
Thinker Bully ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!