Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Sangkar yang bergema
Dinding-dinding kamar utama di kediaman Bramasta kini terasa seperti penjara yang sangat mewah namun mematikan. Sejak kejadian di taman kota semalam, Aluna tidak lagi diperbolehkan menginjakkan kakinya di luar ambang pintu kamar. Bram telah mengubah seluruh protokol keamanan rumah secara radikal; sidik jari Aluna telah dihapus dari sistem akses pintu mana pun, dan semua jendela kaca setinggi langit-langit itu kini terkunci dengan sensor otomatis yang terhubung langsung ke ponsel pribadi Bram. Jika Aluna mencoba membukanya meski hanya satu sentimeter, alarm sunyi akan langsung berdering di saku Daddy-nya.
Aluna duduk meringkuk di sudut jendela besar yang menghadap ke arah gerbang depan. Ia memeluk lututnya erat, dagunya bertumpu pada tulang keringnya yang terasa semakin menonjol. Matanya yang sembap dan merah menatap kosong ke arah jalanan aspal di kejauhan yang mulai basah oleh rintik hujan. Tidak ada lagi seragam kampus yang ia banggakan, tidak ada lagi tas sekolah berisi buku-buku manajemen. Yang ada hanyalah gaun tidur sutra berwarna putih pucat yang mahal dan kesunyian yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan.
Bram benar-benar menepati janjinya: Isolasi total. Tidak ada internet, tidak ada televisi, bahkan semua majalah di kamarnya telah disingkirkan. Bram ingin Aluna hanya memiliki satu hal untuk dipikirkan: kesalahannya.
"Nona, silakan sarapannya dimakan. Tuan Besar memesan menu khusus ini langsung dari koki utama," ujar seorang pelayan yang masuk dengan kawalan Anwar yang berdiri tegap di depan pintu yang terbuka sedikit.
Aluna tidak menoleh. Ia tetap terpaku pada tetesan air hujan di kaca. "Bawa pergi. Aku tidak lapar. Katakan pada majikanmu, aku lebih baik mati kelaparan daripada harus menghirup udara yang sama dengannya."
Anwar berdeham, suaranya berat dan penuh peringatan. "Nona Aluna, Tuan Besar berpesan... jika Nona menolak makan, maka jadwal makan malam beliau dengan 'tamu spesial' malam ini akan dipercepat. Beliau akan menjamu tamu itu di ruang makan bawah, tepat di bawah balkon kamar Nona. Beliau ingin Nona mendengarkan setiap percakapan mereka."
Aluna tersentak. Kepalanya menoleh cepat dengan mata yang berkilat marah. Tamu spesial? Jantungnya berdenyut nyeri. Firasatnya langsung tertuju pada satu nama yang paling ia benci di dunia ini: Clara.
Pukul tujuh malam, suasana rumah yang biasanya tenang dan berwibawa berubah menjadi sibuk dengan cara yang sangat menyiksa bagi Aluna. Dari balkon kamarnya yang dibatasi pagar besi tempa yang dingin, Aluna bisa mendengar suara langkah kaki yang beradu dengan lantai marmer di lantai bawah. Ia berdiri di sana, tersembunyi di balik bayangan gorden sutra yang tebal, mengintip ke arah ruang makan terbuka yang terletak di lantai satu.
Sebuah mobil sedan mewah—bukan mobil kantor, melainkan mobil pribadi yang sangat elegan—berhenti di lobi depan. Pintu terbuka, dan jantung Aluna seolah berhenti berdetak saat melihat sosok yang turun dari sana.
Itu Clara.
Gadis itu tidak lagi mengenakan setelan kantor yang kaku. Malam ini, ia mengenakan gaun malam berwarna hitam yang sangat elegan, menonjolkan lekuk tubuhnya yang dewasa dan berkelas. Rambutnya disanggul modern yang sedikit longgar, memancarkan aura wanita karier yang sukses sekaligus cantik secara alami. Ia tampak sangat kontras dengan Aluna yang kini merasa seperti bocah lusuh yang dikurung.
Bram keluar menyambutnya di lobi. Aluna mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih dan melukai telapak tangannya sendiri saat melihat Bram memberikan senyum tipis—senyum yang sangat jarang ia berikan pada orang asing, senyum yang biasanya hanya menjadi milik Aluna. Bram mempersilakan Clara masuk dengan gerakan tangan yang sangat gentleman.
"Terima kasih sudah bersedia datang larut malam begini ke rumahku, Clara. Laporan dari Singapura ini benar-benar mendesak dan aku butuh perspektif tajammu untuk menganalisis risikonya," suara bariton Bram bergema di ruang tengah yang luas, terdengar sangat jelas sampai ke telinga Aluna karena sistem akustik rumah yang memang didesain sempurna.
"Sama-sama, Pak Bramasta. Ayah saya juga berpesan agar saya memastikan semua detailnya sempurna sebelum rapat dewan komisaris besok pagi. Lagipula, saya sangat menyukai atmosfer kerja yang tenang seperti di rumah Anda," jawab Clara dengan suaranya yang tenang, merdu, dan penuh percaya diri.
Mereka duduk di meja makan panjang yang diterangi cahaya lilin. Pelayan mulai menghidangkan makanan mewah satu per satu. Dari posisinya di atas, Aluna bisa melihat segalanya dengan jelas. Ia melihat bagaimana Clara duduk dengan punggung tegak yang anggun, bagaimana ia berbicara dengan cerdas tentang perputaran saham dan audit bisnis, dan bagaimana Bram mendengarkannya dengan intensitas yang biasanya hanya ia berikan saat sedang menginterogasi Aluna.
"Ini penghinaan... ini penyiksaan," bisik Aluna, air matanya mulai mengalir lagi, panas dan perih. "Dia sengaja melakukannya. Dia ingin aku melihat bahwa dia bisa menggantikan tempatku dengan wanita yang lebih 'berguna' bagi kerajaan bisnisnya."
Rasa cemburu itu bukan lagi sekadar panas, tapi membakar habis sisa-sisa kewarasan Aluna. Ia merasa benar-benar tidak berdaya, seperti penonton di teater yang dilarang bersuara saat melihat adegan favoritnya dicuri orang lain. Ia ingin berteriak, ingin melempar vas bunga porselen di kamarnya ke arah mereka, tapi ia tahu Anwar berdiri tepat di balik pintunya, siap mengunci setiap pergerakannya.
Di bawah, Bram menyesap wiskinya dengan gerakan lambat. Sambil sesekali mengangguk pada penjelasan Clara, matanya melirik ke arah pantulan cermin besar yang menghadap ke balkon lantai dua. Ia tahu Aluna ada di sana, bersembunyi di balik gorden. Ia bisa merasakan energi kemarahan dan luka yang memancar dari atas sana.
Inilah rencana besarnya. Ia ingin Aluna menyadari bahwa dunia di luar sangkarnya itu kejam dan penuh dengan kompetisi. Jika Aluna mencoba "bermain-main" dengan pria rendahan seperti Rio, maka Bram juga bisa menunjukkan bahwa ia memiliki akses ke wanita-wanita sempurna seperti Clara. Ia ingin menghancurkan ego Aluna hingga gadis itu merangkak memohon ampun, menyerah sepenuhnya, dan berjanji tidak akan pernah berpaling lagi.
"Pak Bramasta? Apakah ada bagian dari laporan audit ini yang menurut Anda kurang akurat?" tanya Clara, menyadari perhatian Bram yang sempat teralihkan selama beberapa detik.
Bram kembali menatap Clara, memberikan tatapan yang dalam. "Tidak, Clara. Analisis-mu sangat tajam. Lanjutkan. Bagian restrukturisasi ini sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut."
Clara tersenyum, sebuah senyuman yang penuh rahasia. Sebagai wanita yang cerdas dan penuh intrik, Clara tahu betul ada pasang mata yang sedang mengawasinya dari lantai atas dengan penuh dendam. Ia sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Bram saat menunjukkan dokumen di tablet, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat, membiarkan aroma parfum mahalnya tercium oleh Bram.
PRANGG!
Suara benda pecah terdengar nyaring dari arah balkon atas. Aluna sudah mencapai batasnya. Ia baru saja menyapu pajangan keramik berbentuk angsa dari meja balkon ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Suasana di ruang makan bawah mendadak sunyi. Clara mendongak ke atas, menatap gorden yang kini bergoyang hebat.
"Sepertinya ada gangguan di lantai atas, Pak? Apakah ada pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan sesuatu?" tanya Clara dengan nada prihatin yang dibuat-buat, meski matanya berkilat karena tahu ia telah berhasil memprovokasi Aluna.
Bram meletakkan gelas wiskinya dengan suara denting yang tegas. Rahangnya mengeras. "Hanya angin kencang yang menjatuhkan dekorasi. Jangan pedulikan. Mari kita selesaikan diskusi ini di ruang kerja pribadiku saja, di sana lebih tenang dan tidak akan ada 'gangguan' lagi."
Bram membawa Clara masuk ke ruang kerjanya yang berada di sayap kanan rumah dan mengunci pintu dari dalam. Di dalam kamarnya, Aluna meledak dalam tangis histeris. Ia berlari menuju pintu dan memukul-mukul kayu jati tebal itu dengan kedua tangannya.
"DADDY! BUKA! AKU TAHU KAU DI SANA BERSAMANYA! BUKA PINTUNYA!" teriak Aluna dengan suara serak yang memilukan.
Namun, tidak ada jawaban. Dari arah koridor luar, ia sempat mendengar suara tawa kecil Clara yang seolah sengaja diperkeras saat mereka melewati depan kamar Aluna menuju ruang kerja. Suara itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Aluna perlahan-lahan.
Aluna jatuh terduduk di balik pintu, napasnya tersengal-sengal karena serangan panik. Ia merasa benar-benar kalah. Rio tidak bisa menjangkaunya, dan Bram kini tampak sangat jauh meskipun mereka berada di bawah atap yang sama.
Tiba-tiba, sebuah getaran terasa di bawah kakinya. Ponsel darurat yang ia sembunyikan di bawah karpet tebal—ponsel lama yang ia temukan di gudang minggu lalu—bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan: "Jangan lakukan hal konyol, Luna. Aku sedang mencari celah melalui orang dalam. Tetaplah hidup dan jangan menyerah pada permainannya. - R"
Rio. Pemuda itu ternyata belum menyerah meski nyawanya terancam. Namun, saat Aluna baru saja selesai membaca pesan itu dengan tangan gemetar, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan sentakan kasar.
Bram berdiri di sana, masih mengenakan kemeja dari makan malam tadi yang kini kancing atasnya terbuka. Wajahnya gelap dan menakutkan. Di tangannya, ia memegang sebuah alat pendeteksi sinyal elektronik yang lampunya sedang berkedip merah terang.
Bram berjalan mendekat dengan langkah predator, merebut ponsel tua itu dari tangan Aluna sebelum gadis itu sempat menyembunyikannya. Tanpa berkata apa-apa, Bram menghancurkan ponsel itu dalam satu remasan tangannya yang sangat kuat, lalu melempar bangkainya ke tempat sampah.
"Masih mencoba berkomunikasi dengan serangga itu di saat aku sedang menjamu tamu penting di bawah?" desis Bram. Ia mencengkeram rahang Aluna dengan satu tangan, memaksa gadis itu menatap matanya yang penuh dengan kegilaan posesif.
"KAU JAHAT! KAU MEMBAWANYA KE SINI HANYA UNTUK MENYAKITIKU!" teriak Aluna tepat di depan wajah Bram.
"Aku membawanya untuk menunjukkan padamu seperti apa wanita yang memiliki nilai, Aluna. Bukan anak kecil yang hobinya merengek dan lari ke pelukan pria rendahan saat merasa kesal," balas Bram dengan suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan darah Aluna.
Bram kemudian menarik Aluna berdiri secara paksa dan menyeretnya menuju balkon. "Lihat ke bawah. Lihat mobilnya yang masih terparkir di sana. Dia akan berada di sini sampai pagi di dalam ruang kerjaku untuk membantuku bekerja. Dan kau... kau akan tetap di sini, dalam kegelapan, mendengarkan setiap suara kami dari kejauhan, sampai kau sadar bahwa kau tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain aku. Tidak ada Rio, tidak ada siapa pun."
Bram keluar dari kamar dan mengunci pintu lagi dengan bunyi klik yang final. Kali ini, ia mematikan semua lampu di kamar Aluna melalui panel kontrol pusat, membiarkan Aluna tenggelam dalam kegelapan total dan suara sayup-sayup percakapan dari lantai bawah yang terasa seperti duri yang menusuk jiwanya.
Malam itu, sangkar emas Aluna benar-benar berubah menjadi ruang penyiksaan mental yang sempurna. Dan di ruang kerja bawah, Clara menyesap kopinya dengan elegan sambil menatap Bram dengan binar kemenangan, tahu bahwa ia baru saja memenangkan babak pertama dalam menghancurkan ikatan "Daddy-Daughter" yang obsesif itu untuk kepentingannya sendiri.